
"Dan satu hal lagi yang mesti lu tahu, gua sama Junot udah nikah siri, haha". Ucap Aqila sembari tertawa jahat...
***
Akram tidak terkejut jika hal itu terjadi, tingkah-laku Junot memang mencurigakan, terakhir kali bertemu, wajah nya terlihat lelah dan terkesan menghindar untuk sekedar berbincang-bincang ringan dengan sahabatnya.
Akram segera pergi dan mulai memberi informasi kepada kedua sahabatnya.
"Gua udah di kantor nya dan gak ada siapapun, kecuali satpam sama OB". Jawab Bagaskara.
"Gua juga lagi di club biasa, tapi gak ada, bentar bro di sini berisik, gua keluar dulu". Timpal Zain dengan suara teriakannya.
"Yaudah kita ketemu di rumahnya Junot aja". Ucap Akram, kemudian mematikan sambungan telpon nya.
***
Perjalanan dari rumah hutan ke rumah memerlukan waktu kurang lebih 4 jam dengan pemandangan yang luar biasa indah, ini kali pertama aku, Aksa dan Junot bepergian hanya bertiga.
Meskipun dalam suasana hati yang kurang baik, tetapi kehadiran Aksa selalu menjadi penengah di antara diam nya aku, dan selalu menjadi obat ampuh untuk Junot berprilaku lebih baik terhadapku.
"Yah yah lapel". Ucap Aksa gemas
"Heh? Ahh... iyah kita sarapan dulu yah". Ucapnya dengan senyuman hangat di akhir kalimat.
"Kamu mau sarapan apa?". Tanyanya padaku.
"Apa aja". Jawabku seadanya.
"Kalau sarapan bubur ayam di pinggir jalan it's okay?". Tanyanya lagi.
"Hm, okay". jawabku lagi dengan singkat.
"Yaudah, itu di depan ada gerobak bubur kayanya". Ucapnya tanpa memperdulikan ku.
Aku bersiap untuk keluar dari dalam mobil, tetapi seperti biasa Junot akan lebih dulu keluar dan mengambil alih Aksa dari pangkuanku.
Detik berikutnya dia mengisyaratkan untuk aku memakai Jaket yang telah ia pinjamkan sebelumnya, namun telah aku lepaskan.
Aku tidak berkata apapun, dan segera melakukan apa yang Junot perintahkan.
__ADS_1
Selesai sarapan kita kembali melanjutkan perjalanan yang masih butuh waktu kurang lebih satu jam.
Aksa kembali tertidur di dalam pangkuanku, sementara itu Junot kembali angkuh, arogan, dan membisu sampai tiba di rumah.
Aku tidak tahu sejak kapan handphoneku kehabisan baterai yang pasti saat aku tiba di pekarangan rumah semua orang telah berkumpul menyambut kedatangan ku dan Aksa, atau mungkin semua orang tengah mencurigai aku di culik oleh suamiku sendiri.
"Nareta, Aksa?! kamu dari mana aja?" Tanya Bunda sembari memeluk kami dengan erat.
Air mata kekhawatiran Bunda kembali pecah dalam seketika, dan ia marah terhadap Junot. Tidak. Maksudku Bunda murka.
Mas Marsel memberi penjelasan kepada pihak kepolisan mengenai kekacauan yang tengah terjadi, aku dan Junot pun dimintai penjelasan.
Dan lagi... aku harus kembali berbohong dengan mengatakan semuanya baik-baik saja, aku, Junot dan Aksa tengah berlibur ke tempat terpencil yang tidak ada sinyal.
Dan tak lupa Bunda pun memeriksa sekujur tubuhku, barangkali aku menjadi korban KDRT oleh Junot.
Sedangkan Kak Juwita, dia bungkam seribu bahasa dia tak sudi melihat Junot, bahkan oleh ekor matanya saja.
Hanya sahabat-sahabat Junot lah yang menyambut kehadiran nya, dan meyakinkan kepada pihak polisi bahwa Junot tidak mungkin melakukan KDRT kepadaku dengan begitu pak polisi pun akhirnya segera pulang.
Masalah ini tidak sampai di situ, Aku dan Junot tidak bebas dari cercaan dan pertanyaan-pertanyaan beruntun bergiliran dari mereka.
Tetapi itu sama sekali tidak membantu, tidak membantu memecahkan masalah aku dengan Junot.
Iyah, pada detik ini aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Junot, entah aku atau Aqila yang akan ia pilih.
Yang pasti sahabat-sahabatnya pun tidak luput memberitahu akan kelakukan Aqila yang sebenarnya, yang salah, jahat dan hanya memanfaatkan kebaikan Junot saja, dan tidak sepatutnya Junot membela Aqila apalagi sampai mengorbankan aku dan Aksa hanya demi wanita itu.
Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur, keputusan Junot sudah bulat dan tidak dapat di ganggu gugat. Iyah Junot tidak memilih Aqila sebagai seorang istri, tetapi tidak juga memilih aku, ia lebih memilih menceraikan ku.
Seketika semua orang syok tidak percaya dengan keputusan Junot.
Perkataan Bunda sudah tidak lagi mempan, tidak ada seorang pun yang bisa merubah keputusannya.
Dan kalian tahu apa yang terjadi denganku? Aku bagaikan mayat hidup. Tidak ada kalimat yang mampu menggambarkan rasa sakit yang saat ini tengah aku rasakan.
***
Aku mencintaimu, amat sangat mencintaimu. Maka aku tidak ingin kehilanganmu Nareta.
__ADS_1
*Tetapi beberapa menit yang lalu aku baru menyadarinya, mungkinkah kamu tidak memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasa?
Ditambah dengan kehadiran Ayden saat ini, aku semakin merasa bahwa aku tidak pantas berada di sampingmu, aku tidak bisa menjaga dan membahagiakanmu.
Aku telah gagal bukan? aku bukan suami dan Ayah yang baik untuk kamu dan Aksa.
Aku tidak ingin membuat kamu menderita, maka inilah jalan yang aku pilih untuk menebus semua kesalahanku, aku ingin membuat kamu bahagia meskipun aku harus mempertaruhkan kebahagiaanku*.
***
Setelah hari itu aku tidak lagi tinggal di rumah Junot tidak pula tinggal di rumah Bunda atau Kak Juwita. Aku memilih kembali ketempat awal saat aku datang ke Jakarta.
Iyah, aku kembali ke kosan kecil berukuran 3x3 saat aku tinggalkan kosan ini beberapa barang memang sengaja aku tinggalkan maka saat aku pergi dari rumah Junot tidak banyak barang yang harus aku bawa.
Saat aku pergi di bawa oleh Junot aku tetap membayar sewa kosan selama aku tidak ada, ia memang terkesan mubajir karena kosan itu tidak pernah aku pakai juga, tetapi tidak juga sebab banyak barang-barangku yang tidak seberapa itu ku simpan di sana, takut-takut barang yang ku punya tidak layak menempati rumah mewah Junot. Dan... Heh... benar saja entah kenapa suatu hari aku berpikir mungkin saja aku harus pergi, maka aku tidak perlu repot-repot mencari tempat tinggal lagi.
Aku hanya membawa kembali pakaian yang aku miliki, dan cincin yang selama ini melingkar di jari manisku, ku tinggalkan di tempatnya dengan rapi.
Sebelum aku benar-benar pergi, kusempatan untuk melihat-lihat kembali ruangan yang menjadi saksi bisu antara aku dan Junot.
Tidak ku pungkiri hari-hari itu terasa begitu indah, namun sayang kini harus menjaga sejarah.
Selamat tinggal... ucapku dalam hati.
"Na, Bunda mohon pikirkan kembali!? yah apa gak sebaiknya kamu tinggal aja sama Bunda".
Aku tahu, Bunda sangat menyayangi aku dengan tulus tetapi aku pun tahu Bunda begitu karena ada Aksa di antara pernikahan aku dan Junot.
"Maaf Bun, Nareta gak bisa". Ucapku dengan tegas.
Terlihat jelas Bunda begitu nelangsa, dan air mata sudah tidak dapat ia kendalikan.
"Nareta... maaf, tetapi mungkin Bunda akan melakukan itu...". Ucap Bunda berbarengan dengan Isak tangis.
Aku mengerti apa yang dimaksudkan Bunda. Aku tidak menjawab apapun, hanya mengangguk dan tersenyum, setelah itu segera pergi bersama Aksa.
Menuju tempat yang tidak seberapa atau mungkin jauh dari kesan layak untuk Aksa tempati.
Bersambung...
__ADS_1