Aksa

Aksa
part 16


__ADS_3

Pukul 07:00 WIB. Aku sudah selesai dengan persiapanku tinggal berangkat ke kantor, Aku segera mengambil handphone di atas nakas televisi niat hati ingin memesan ojol namun belum sempat membuka aplikasi ojol, terdengar suara mesin mobil berhenti tepat di depan kosan ku. Aku yang penasaran siapa gerangan yang datang sepagi ini pun akhir nya mencoba melihat di balik jendela.


Junot ? apa yang dia lakukan sepagi ini? apa mungkin hal buruk telah terjadi pada Bunda, aku yang panik segera membuka pintu begitupun dengan nya yang baru saja turun dari mobil ferrari berwarna merah maroon.


"Apa yang terjadi pada Bunda?". Ucapku pada Junot yang mendapati kerutan di dahi nya.


"Bunda baik-baik saja". Ucapnya dengan santai. Baik-baik saja katanya, lalu apa yang di lakukan nya sepagi ini?


"Masih pagi, udah ngelamun". Ucapnya mencibir, aku yang tidak terima atas cibiran nya segera membuang muka dan meninggalkan nya, tidak pernah tahu jika dia akan mengekori ku sampai masuk ke dalam kosan.


"Heh, apa yang kamu lakukan?". Tak dapat di elak lagi, ekspresi keterkejutan ku melihat Junot yang saat ini sudah duduk di sofa kayu milik ku.


"Duduk". Jawab nya tanpa sedikitpun merasa bersalah.


" I know, Mmm... maksudku untuk apa kamu datang kesini ? sepagi ini jika Bunda baik-baik saja?". Jawabku dengan sedikit kesal, Namun Junot malah berbalik menatap ku tajam.


"Kamu mengharapkan Bunda kenapa-kenapa? Hah". Aish bukan itu maksudku, ternyata dia benar-benar perasa.


"bukan begitu, tapi yh... lalu, apa maksud kedatangan mu ?". Aku benar-benar tidak ingin berdebat, akhirnya aku mencoba mengalah.


"Hm, apa tidak lebih baik memberiku minum terlebih dulu, baru bertanya, aku ini tamu". Tukas nya.


"Hah, lebih tepat nya tamu yang tidak di harapkan". Ucapku pelan yang sepertinya terdengar oleh nya.


"Jangan minta yang lebih, aku hanya punya air putih". Aku segera menaruh nya di atas meja kecil.


"Terima Kasih". Dia segera meminum nya.


"jadi, apa maksud dari kedatangan mu?"


"Menjemput mu, kamu bilang berangkat pukul 07:30 bukan? sudah siap?". Apa? menjemput ku? apa aku tidak salah dengar, siapa yang menyuruh atau meminta nya menjemput ku, sepertinya...


"10 menit lagi menuju 07:30 jangan kebanyakan ngelamun, kalau udah siap lebih baik kita langsung berangkat". Aku masih terdiam memperhatikan nya, apa mungkin dia sedang berusaha meyakinkanku, bahwasanya dia benar-benar serius?


"Ehem... lebih baik aku tunggu di mobil, jangan lama!". Dia segera pergi, terlihat dia tidak begitu nyaman di perhatikan.

__ADS_1


Tanpa banyak berpikir, akhir nya aku segera mengambil tas kecil dan tas berisikan laptop, aku melihat Junot tengah berbincang dengan seseorang melalui telpon namun saat mendapati ku dia segera mematikan sambungan telpon itu, Hem.. mencurigakan? siapa yang berbicara dengan nya?


"sudah siap?". Entahlah aku merasa cemburu pada hal yang tidak seharusnya, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


***


Di sepanjang perjalanan kita sama-sama diam, tidak ada yang berani memulai percakapan, tapi... sebuah nada notifikasi pesan masuk di handphone ku memecahkan keheningan di antara kita berdua.


Aku segera melihat pesan itu, bertuliskan Bapak.


"Assalamu'alaikum, Na, Bapak dan Ibu sedang di perjalanan menuju Jakarta". Aku membelalakkan mata tidak percaya atas apa yang baru saja aku baca.


"kenapa?". Junot terlihat penasaran akan apa yang baru saja aku baca.


"Hem? bukan apa-apa". Aku mengabaikan pertanyaan Junot, dan segera membalas pesan singkat dari Bapak.


"Waalaikum'salam, Ada apa Pak tidak biasanya?". Iyah, pasalnya Bapak dan Ibu mendengar aku sakit saja tidak pernah di tengok, tapi kali ini tanpa di minta dan keadaan ku yang baik-baik saja Ibu dan Bapak datang.


"Nanti kamu juga tahu". Bapak tidak mau menjawab, tapi aku sangat yakin kalau ini semua pasti ada hubungan nya dengan pertanyaan Bunda kemarin.


"Siapa?


"Heh, Bukan siapa-siapa". Tatapan Junot terlihat kesal, atas jawaban yang ku lontarkan.


Setelah itu kita kembali saling diam, sampai tiba di kantor ku.


***


"Pulang pukul berapa?". Junot menatap ku dengan penuh selidik.


"Aku bisa pulang sendiri, gak usah jemput". Tukas ku, sebab rasanya risih meskipun ini bukan kali pertama aku duduk satu mobil dengan nya.


"Hm, Baiklah. Cepat turun!". Aku segera mengikuti perintah nya.


"Gak usah nyuruh turun, aku juga pasti turun". Cibirku dengan tatapan kesal.

__ADS_1


Belum sempat Junot pergi, di lobi aku bertemu dengan Mas Ayden, terlihat jelas di tatapan nya rasa penasaran.


Dan tak pernah ku sangka Junot akan turun dari mobil dan menghampiriku. Tatapan keduanya beradu, apa mungkin kini Mas Ayden tengah cemburu?


"Morning, sorry kemarin gue gak sempat menyapa lo". Hah mengapa Junot malah menyapa Mas Ayden dengan bahasa non formal ? apa mungkin...


"Hem, it's okay".


"Oiya, ini calon istri gue, Ahh... mungkin lo udah tahu juga, cuma mau bilang, jagain dia buat gue!". Lagi Junot berkata dengan suara khas nya di akhir kalimat, yang berhasil membuat aku merinding.


"Iya, gak perlu lo suruh juga udah pasti gue jagain!". Aku merasa momen ini terasa tak asing, layak nya adegan di drama korea.


"Dan kamu, kerja yang bener! jangan banyak ngelamun :)". Dan untuk kali pertama, Junot tersenyum padaku.


"Ehem, aku tunggu kamu di ruang kerja". Suara serak Mas Ayden berhasil menghentikan pemikiran drama ku, dan beralih dari tatapan Junot.


"Ah, Baik Pak". Mas Ayden segera pergi dengan tatapan yang tidak biasa. Sementara itu Junot masih menatapku tanpa memperdulikan orang-orang sekitar yang kini tengah memperhatikan kita.


Tangan Junot terulur di depan wajah ku. "Apa lagi?". Lontar ku.


"Handphone!". Aku yang tidak mengerti maksud dari ucapan nya, hanya mampu mengerutkan dahi.


"Hah?". Dia menatap ku dengan tajam, dan menggerakkan telapak tangan nya dengan pelan, hingga akhir nya aku mengeri apa yang dia mau.


"Maaf, dengan segala hormat, aku tidak dapat memberikan nomor handphone ku ke sembarang orang"


"Sembarang orang kamu bilang? Kamu lupa aku calon suami mu!". Dia berucap penuh dengan penekanan. Sementara itu orang-orang semakin banyak bergerombol untuk melihat Junot.


"Tidak semudah itu, lagi pula kamu baru calon". Ku jawab dengan nada yang tak ingin kalah garang dari nya.


Dia terlihat geram dengan ku yang tidak mau menurut, sementara itu aku segera pergi tanpa memperdulikan dia yang kini sudah bertanduk iblis.


"Kamu mau main-main dengan ku? Baiklah kita lihat nanti siapa yang akan lebih dulu menghubungi". Dia berbicara setengah berteriak karena aku akan memasuki lift, sementara itu dia tidak dapat masuk karena tidak memiliki akses.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2