
Junot
Jakarta, Maret 2017.
Beberapa hari setelah pesta ulang tahun ku, semua keadaan baik-baik saja, meskipun pada malam itu Bunda mengumumkan wanita yang akan menjadi calon Istriku.
Tapi yah jujur saja hingga detik ini, aku masih menjadi kekasih dari Aqila, wanita yang membuat aku tergila-gila. Yah, memang benar aku dan wanita yang bernama Nareta itu di jodohkan, tapi ku pikir semua butuh proses untuk saling mengenal, tidak serta-merta kita menikah begitu saja.
Akan tetapi tiba-tiba saja subuh tadi Bunda jatuh dari toilet. Setengah mati aku panik, belum lagi apa yang Bunda minta belum aku penuhi. Nazar ku dalam hati, aku akan melakukan apapun permintaan Bunda asalkan Bunda kembali siuman.
Meskipun aku dan Bunda lebih sering cek-cok, dan berdebat dalam segala hal, tetapi dia adalah wanita yang telah melahirkan ku. Jika pun harus di tukar dengan nyawa ku, aku pun rela.
aku tak ingin beranjak dari ruang tunggu, dan setelah menjalani pemeriksaan Dokter bilang Bunda mendadak mengalami serangan jantung ringan, meskipun kata nya ringan tapi tetap saja aku takut.. sebab Bunda bisa pergi kapan saja, bahkan sampai detik ini Bunda belum juga siuman.
Tak henti-henti nya aku merapalkan doa-doa. Ya Allah jangan sekarang, aku tidak mampu kehilangan Bunda.
Aku, Juwita dan suami nya silih berganti menjaga Bunda, karena Ayah sedang di luar kota. Dan sampai sekarang salah satu di antara kita masih belum berani mengabari bahwa Bunda masuk rumah sakit, karena Ayah pun memiliki penyakit jantung.
Setelah Adzan Ashar berkumandang Aku dan Mas Marsel memutuskan untuk solat di mushola, sementara Bunda di tunggu oleh Juwita.
Selesai solat aku mendapati beberapa panggilan dari Ka Juwita begitupun dengan Mas Marsel, aku benar-benar panik, tanpa ku sadari aku berlari menuju kamar inap Bunda tanpa alas kaki.
"Bunda?Bunda kenapa?" Aku melihat Juwita berdiri di depan kamar sembari menangis terisak-isak.
"Tadi Bunda kejang-kejang" Tak lama kemudian Mas Marsel datang setengah berlari sembari menenteng sepatuku. Kemudian dia memeluk Juwita.
"Mas aku takut" dengan intensitas tangisan yang semakin menjadi-jadi.
"Hey, kamu gak boleh nangis, lebih baik kamu doain Bunda, InsyaAllah Bunda akan baik-baik aja" Tak lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah seorang suster.
"Mbak Nana, Ibu anda ingin berbicara" kita semua saling melirik, kenapa Nana yang di cari Bunda, bukan salah satu dari anak nya? ada rasa kecewa, tapi baiklah aku akan mengenyampingkan dulu egoku.
"Maaf Sus, saya bukan Nana". Tutur Juwita melemah.
__ADS_1
"Oh, baiklah kalau begitu tolong segera hubungi mbak Nana". Suster itu kembali menutup pintu kamar inap.
"yaudah sebaik nya kamu jemput Nana?!" ucap Mas Marsel sembari menepuk bahuku.
"Iya Mas, aku titip Bunda yah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku!"
"iyah, kamu juga harus hati-hati" tanpa memikirkan apapun lagi aku segera berlari secepat mungkin.
***
Di perjalanan pun aku mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Beruntung nya aku tahu Nareta kerja di mana, sebab saat di pesta ulang tahun ku. Iyah, aku melihat dan mendengar semua percakapan nya dengan Ayden, aku sedikit mengenal nya saat SMA Aku dan Ayden satu sekolah.
Bodoh nya gua masih aja patuh dengan peraturan, sesampai nya di area kantor gua malah memarkir mobil di basement, alhasil gua harus kembali berlari menuju lobi.
dari kejauhan aku sudah melihat beberapa orang sedang berjalan sebab gedung kantor ini menggunakan dinding-dinding kaca, termasuk wanita itu, ia tengah tertawa bahagia bersama Ayden, yang ku tahu Ayden adalah CEO dari perusahaan ini.
Entah kenapa ada rasa kesal melihat interaksi mereka berdua, tanpa ku sadari aku memanggil nama nya.
Dan entah kenapa aku merasa marah, kedua mata ku terasa panas seperti ada Api, deru nafas ku memburu tak menentu, aku berjalan menghampiri kedua nya, aku tak mengeluarkan kalimat apa pun, tapi lagi-lagi tanpa ku sadari tangan ku memegang pergelangan tangan nya sedikit kasar dan membawa nya pergi dengan intensitas jalan setengah berlari menuju basemen.
Sementara saat aku membawa pergi Nana, Ayden tidak bergeming sedikit pun, yang ia lakukan hanya melihat ku menggiring pergi wanita yang jelas terlihat masih sangat ia cintai.
***
Aku tahu saat ini dia tengah kebingungan dengan apa yang saat ini tengah aku lakukan, tapi aku enggan menjelaskan apa pun mengenai tujuan ku datang menjemput nya, justru yang ada di pikiran ku saat ini, aku ingin mempertanyakan apa yang tengah ia bincangkan bersama Ayden, sehingga menghasilkan euforia seperti tadi.
"Aw, sakit.. lepas!". rengek nya, namun aku hiraukan.
"Apa sih yang kamu mau ?". Aku masih menghiraukan nya. Sesampainya kita di basemen, aku segera melepaskan genggaman dari tangan nya.
"Masuk !" perintahku. Terlihat ia kesal dan ketakutan. Namun dia tak menuruti apa mau ku, dia malah terdiam sembari berpikir dan terlihat menimbang-nimbang.
"apa kamu tuli? aku bilang Masuk!". Ucapku kembali.
__ADS_1
"Heh. Apa? apa baru saja kamu bilang aku tuli?". Terlihat jelas dia tidak terima dengan penuturan ku, tapi aku tak peduli.
"Syukurlah kalau kamu tidak tuli, maka seharus nya kamu segera masuk mobil !". Aku segera meninggalkan nya, yang masih saja mematung di tempat nya tak sedikitpun beranjak.
***
Aku putuskan untuk menekan klakson beberapa kali, hingga akhirnya dia tersadar dari lamunan nya dan segera masuk ke dalam mobil. Tapi bukan nya duduk di samping ku, dia malah duduk di belakang.
"Apa lu pikir gua supir, Hah? duduk di depan!" ucapku dengan kesal.
"ribet banget sih, bukan nya tadi.."
"pindah ke depan!" potong ku, aku tidak suka bantahan, apalagi dari wanita seperti dia.
"Hm.. iya-iya" akhir nya dia berpindah duduk menjadi di sebelahku.
Aku segera memakai seatbelt dan menancap pedal mobil, aku mengemudi dengan lihai di kilometer tidak normal, dan terlihat jelas dia ketakutan.
"Hey, kamu bisa sedikit pelankan ?!"
"Tidak" jawabku singkat.
"Kamu mau mati? mati sendiri jangan bawa-bawa aku"
"ini semua menyangkut nyawa seseorang, kamu bisa diam?!"
"Apa? nyawa seseorang, siapa?" dia sedikit terkejut tatapi juga terlihat tertarik dengan apa yang baru saja ku ucapkan.
"Nanti juga kamu tahu" dia memberikan ekspresi kesal dan juga penasaran, tapi dia tidak lagi menjawab ucapanku.
Sesekali ku perhatikan gerak-gerik nya, tangan nya berpegangan kuat, sesekali ia bersenandung tidak begitu jelas. Tapi berhasil membuat ku penasaran, apa yang saat ini ada di pikiran nya?
Next?
__ADS_1