
Ketegangan itu akhir nya berakhir, setelah lima menit kemudian mobil yang kita tumpangi berhenti di sebuah pekarangan yang cukup luas, rumah dua lantai bernuansa mewah dengan interior klasik dan elegan, yang memberikan kesan tenang dan terstruktur, berwarna putih dan abu-abu.
Kita akhirnya turun dari dalam mobil, Junot dengan sigap segera membuka pintu rumah. Tetapi sangat di sayangkan rumah semewah ini tidak memiliki sedikitpun pencahayaan. Terlihat Junot tengah sibuk menyalakan lampu-lampu, lalu mempersilahkan kita untuk segera masuk.
"Wah, interior nya bagus yah klasik". Kata bapak sembari melihat sekeliling dengan kagum.
"Ini rumah siapa Nak, Jun? kok sepi seperti tidak pernah di huni". Tanya ibu.
"Iyah, jarang di tempati Bu, kasian Bunda di Pondok Indah sendiri, Ayah kan sering keluar kota". Junot tidak menjawab secara gamblang, hanya menjelaskan alasan kenapa tidak di huni yang kemudian menjawab pertanyaan pertama.
"Oh gitu yah". Tanggapan ibu yang terlihat masih asik melihat-lihat.
"Pondok Indah ke sini kan gak terlalu jauh". Tanyaku.
"Iyah, tapi jalanannya macet, waktu yang seharusnya cuma satu jam bisa lebih". Jawabnya.
"Yaudah aku anterin Bapak sama Ibu ke kamar dulu yah?! kalau mau minum ambil saja sendiri". Dia berlalu pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku sempat melihat-lihat beberapa pigura kebersamaan Junot dan keluarganya. Dia terlihat bahagia, meskipun beberapa kali aku sempat melihat dia tersenyum tapi rasanya berbeda, entah kenapa aku merasa senyum itu bukan senyum tulus penuh kebahagiaan, atau mungkin ini hanya pendapatku yang keliru?
Tak begitu lama Junot kembali, karena memang ibu dan bapak di beri kamar di lantai bawah. Junot berdiri di belakangku, aku masih asik melihat-lihat foto di sebuah album, yang memang sengaja di pajang di lemari tanpa privasi.
satu-satu aku perhatikan, ada bunda, ayah, Ka Juwita juga Mas marsel dan satu orang yang tidak pernah di ceritakan.
"Ini siapa?". Aku menunjukan seorang wanita berambut pendek sebahu, berkulit putih dengan baju casual. Pikirku mungkinkah itu adik perempuannya? Dia terdiam sejenak, entah apa yang di pikirkannya.
"Sudah malam, biar aku antar kamu ke kamar". Aku melihat jarum jam yang menunjukan pukul sembilan malam, akhirnya aku menutup album foto itu dan mengikuti Junot menaiki anak tangga.
"Ini kamar kamu, dan di ujung sana kamarku". Tunjuk Junot, aku hanya mengangguk tanda mengerti.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuan". lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Selamat istirahat". kemudian dia berlalu pergi tanpa sempat aku mengangguk.
__ADS_1
***
Aku segera masuk ke dalam kamar, ada rasa penasaran seberapa mewahnya kamar tamu di rumah ini. Dan benar saja saat aku memasuki kamar tamu ini, aroma maskulin menusuk indra penciumanku, meskipun jarang di huni tak dapat aku pungkiri bahwa rumah ini tetap rapi, bersih dan tentunya wangi.
Aku berjalan memasuki kamar mandi, wah aku sempat tak berkedip melihat kamar mandi yang begitu bersih tanpa ada sedikitpun celah untukku tidak betah berada disini.
Aku segera mencuci muka, menggosok gigi dan berganti baju mengenakan satu setel piyama dengan atasan dan bawahan panjang. Baru saja merebahkan tubuh di atas ranjang, aku mendengar suara bising dari arah dapur, tak ingin membuat ibu dan bapak terganggu akhirnya aku memutuskan melihat apa yang terjadi di sana.
***
"Ada yang bisa di bantu?". Perkataanku yang tiba-tiba, berhasil membuat Junot terkejut.
"Heh? tidak usah". Jelas dia tengah berbohong, sebab detik berikutnya dia terdiam tidak tahu harus berbuat apa.
"Tidak usah sungkan, meskipun ini rumahmu, tapi aku sangat yakin kamu tidak pernah menginjakan kaki ke dapur". Aku segera mengambil alih panci yang tengah ia genggam.
"Aku hanya perlu waktu lima menit untuk memasak mie instan ini, kamu boleh pergi ke kamar jika sudah selesai nanti aku panggil". Dia terdiam tak bergeming
"Oke, jika tidak ingin pergi, boleh sedikit memberi jalan? aku ingin mengambil air". Tidak ada jawaban, tapi jelas dia mendengar dengan sedikit menyamping, benar apa kata bunda, dia memang sangat irit bicara.
"Kenapa? apa kamu grogi?". Hah? aku benar-benar terkejut dengan jawabannya, meskipun sebenar nya memang iyah.
"Hehh, tidak... tidak sama sekali". Aku segera mengalihkan pandangan darinya, takut ketahuan kalau aku memang tengah berbohong.
"Yasudah kalau tidak grogi, aku ingin selalu di sampingmu". Heh... bagaimana bisa seorang Junot berkata demikian? Aish... kenapa dengan jantungku? rasanya ingin copot.
"Aku butuh ketenangan jangan banyak bicara?!". Seruku kemudian, takut-takut Junot akan berkata yang lebih membuat aku tidak karuan.
***
"Ini mie instannya". Aku segera menaruh mie instan itu di atas meja makan ukuran kecil berbentuk bundar dengan kursi untuk empat orang saja.
"Terima kasih". Jawabnya acuh tak acuh, lalu segera duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
"kamu bisa cuci piring sendiri? kalau tidak, simpan saja di wastafel besok pagi aku cuci". Aku segera pergi tanpa menunggu jawaban darinya.
"Mau kemana?". Langkahku yang belum begitu jauh terhenti karena pertanyaannya.
"Ke kamar". jawabku singkat.
"Tidak, sini temani aku makan?!". Aku merasa nada bicaranya seperti memerintah bukan meminta atau menawarkan dengan baik-baik.
"Tidak, aku sudah kenyang". Aku segera berbalik badan.
"Temani aku makan!". Lagi-lagi dia bersuara dengan nada ini, nada bicara yang membuat aku segan sama persis dengan yang dimiliki bapak. Akhirnya aku duduk di kursi samping kanan Junot, ia makan dengan begitu lahap.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu". Ucapku memberanikan.
"Apa?"
"Kamukan tampan memang sama sekali gak punya pacar?". Seketika dia tersedak mendengar pertanyaanku, aku yang juga ikut terkejut segera mengambil air minum untuknya.
"Ini minum dulu?!". Junot segera meminumnya.
"Kamu kenapa bertanya seperti itu?". Mata kita saling bertemu, dan ada aura tidak suka dari Junot.
"Aku cuma mau tahu saja, rasanya tidak mungkin pria setampan kamu tidak memiliki kekasih". Detik berikutnya dia menatapku dengan hangat.
"Terima kasih atas pengakuannya, ia aku memang memiliki kekasih". Seketika aku terdiam mendengar pengakuannya.
"Lalu? kenapa kamu tidak....". Kalimatku di potong oleh Junot.
"Itu pun kalau kamu menjawab mau menjadi kekasihku". Aku mengernyitkan dahi, mengulang kembali apa yang baru saja Junot katakan di dalam hati.
"Aku ngantuk, mau tidur!". Tanpa memperdulikannya, aku segera berlari menuju kamarku.
Aku berdiri di balik pintu kamar, perlahan tubuhku ambruk, jantungku berdegub kencang tak menentu, apa yang baru saja Junot katakan? aku mencoba mencerna dengan logis, menolak apa yang baru saja aku dengar, tapi hati kecilku tak bisa berbohong, apa mungkin Junot telah berhasil menelusup masuk ke dalam hatiku?
__ADS_1
Next?