Aksa

Aksa
part 59


__ADS_3

Delapan jam sebelumnya....


"Nareta?".


"Iyah?". Ucapku tertunduk.


"Hanya untuk kali ini saja, aku sudah tidak bisa menahannya lagi". Ucap Junot sembari mendekatiku.


"Aku mengerjapkan kedua mataku". Apa Maksudnya? aku masih berusaha mencerna apa yang baru saja Junot katakan, dan tiba-tiba saja Junot menggendongku ala bridal style.


"Junot? Apa yang ingin kamu lakukan?". Dia tidak menjawab apapun, tetapi aku di baringkan di atas ranjang yang menjadi saksi bisu atas kehamilanku saat ini.


Perlahan namun pasti satu persatu kain yang menutupi tubuhku hilang dengan sekejap, hanya meninggalkan pakaian dalam tapi detik berikutnya Junot terdiam tidak melanjutkan apa yang sebelumnya sedang ia kerjakan.


"Kenapa?". Tanyaku.


"Aku tahu, mengandung itu sudah sangat merepotkan bukan?". Ucapnya tertunduk sembari menutupi tubuhku dengan selimut.


"Hey... tidak sama sekali, justru aku sangat bersyukur, Allah ngasih kepercayaan untuk kita dengan menitipkan seorang ruh dalam perutku". Ucapku sembari berkaca-kaca.


"Hem, aku juga sangat bersyukur". Ucap Junot sembari mencium kedua telapak tanganku.


"Heh, lalu? mau melanjutkan atau...".


"Kamu gak apa-apa?".


"It's okay, hubungan intim selama masa kehamilan itu gak pernah di larang sama Dokter kok!".


"Oya?".


"He'em... apa jangan-jangan selama ini? kamu menahan itu semua?". Tanyaku tak percaya.


"HM, menurut kamu aku gak tergoda dengan kamu? hey... aku pria normal, aku sangat-sangat tergoda olehmu, makanya aku sering menghilang setiap malam saat kamu terlelap tidur kan"


"Untuk apa?".


"Yah untuk meredam rasa ingin, dengan olahraga dan berendam air dingin".


"Apa? jadi selama ini, kamu?... haha". Aku tertawa terpingkal-pingkal hanya dengan membayangkannya saja berhasil membuat aku merasa bahagia sekaligus bersalah, kenapa aku bodoh sekali tidak peka terhadapnya, aku malah berpikir yang tidak-tidak, dan ternyata selama ini Junot tidak pernah pergi meninggalkan aku sendiri.

__ADS_1



20 menit menjelang subuh kita berdua terbangun dan segera melakukan mandi Junub agar bisa melaksanakan solat subuh tepat waktu dan berjamaah, selepas itu kita kembali tidur.


Seperti apa yang pernah aku bilang aku terbiasa melakukan berbagai kegiatan di banding harus tidur kembali, tetapi pengecualian untuk hari ini aku kembali berbaring di samping Junot kulihat wajahnya yang memang mempesona tiada dua.


Pantas saja wanita lain berkata sangat iri terhadapku dengan terang-terangan, ternyata aku di nikahi oleh pria yang benar-benar luar biasa, tidak hanya persoalan rupa tapi juga InsyaAllah Akhlaknya yang paling utama.


Baru saja lima menit yang lalu kita sama-sama berbaring di atas ranjang, Sepertinya Junot sudah terlelap pergi ke alam mimpi. Sementara itu aku segera bangun, pikirku lebih baik aku menyiapkan sarapan dari pada hanya berbaring dan memikirkan yang tidak-tidak.


Aku menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati dan segera pergi ke dapur, saat aku membuka lemari es untuk mengambil roti tawar, susu dan juga selai kacang kesukaan Junot, ternyata apa yang aku cari habis, alhasil mau tidak mau aku harus pergi keluar untuk membeli semua itu.


aku segera pergi dengan berjalan kaki karena memang tidak begitu jauh hanya 15 menit mini market yang ku tuju, sesampainya di sana aku segera mengambil barang-barang yang inginku beli ke dalam keranjang dan segera membayarnya di kasir, sembari mas-mas mini market men scanner barang-barang, aku melihat ada susu untuk ibu hamil, kupikir ku beli saja untuk stok lagian susu formula ku memang sedikit lagi.


"Mas ini satu lagi". Ucapku setengah berlari saat mas-mas kasir mencari akan keberadaan ku.


"Oh, Iyah... ada lagi?".


"Hem? gak, sudah".


"Baik, totalnya 255,500 rupiah". Aku segera meraba-raba kantong celana yang tengah aku pakai dan tiba-tiba saja.... aku teringat bahwa aku lupa tidak membawa dompet.


"OHH, kalau gitu Mbak mau pinjam handphone saya untuk menghubungi keluarga Mbak?".


"Hah?". Sebenarnya aku tidak memiliki keinginan atau keberanian untuk menghubungi Junot, tapi mas kasir itu sudah menyodorkan handphonenya.


"Ahhh, boleh?"


"Iyah, silahkan di pakai saja Mbak". Ucap mas kasih itu dengan ramah.


"Oke, makasih sebelumnya". Ucapku tak kalah ramah dan sopan.


Aku terdiam sejenak, berpikir siapa kira-kira yang bisa aku hubungi, tentu saja selain Junot. Aku tidak punya keberanian untuk itu lagi pula dia tengah tidur aku tak tega mengusiknya.


Alhasil tidak ada satu nama yang bisa aku hubungi Nadim adikku kan tinggal di Bandung, temanku Lisda sepertinya masih tidur, tidak ada lagi yang bisa ku hubungi selain mereka berdua, aku tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali mas Ayden. Aah... tidak-tidak, aku tidak boleh bergantung padanya.


"Maaf Mas keluarga saya gak bisa di hubungi, ini handphonenya makasih banyak". Ucapku dengan senyuman malu.


"Oh gitu, ya udah ini barang belanjaannya?!".

__ADS_1


"Hah? tapi...".


"Gak apa-apa biar saya yang bayar".


"Heh, gak usah rumah saya dekat kok, saya pulang dulu aja nanti saya balik lagi kesini".


"Hem, gak apa-apa saya ikhlas kok".


"Saya tahu Mas nya ikhlas kok, tapi saya jadi gak enak, gak usah yah saya pulang dulu aja".


"Excuse me?". Ucap seorang wanita muda cantik yang tiba-tiba saja datang melerai perdebatan yang tengah terjadi.


"Yeah?". Ucapku dengan santai.


"Mbak saya gak bisa bahasa Inggris". Ucap mas kasir itu minta perlindungan.


"AAAH, Can I be of any help?".


"Haha... saya orang Indonesia kok". Ucapnya sembari tertawa renyah. Sementara mas kasir itu tengah mengernyitkan keningnya.


"Hah? haha... maaf kalau begitu saya permisi dulu". Ucapku sembari tersenyum kepada dua orang yang baru saja aku kenal tapi berhasil membuat aku tertawa.


Ini merupakan prestasi untukku. Yeah karena aku tidak mudah bergaul, tidak mudah untuk percaya apalagi tersenyum sampai tertawa di depan orang yang baru saja aku kenal, ini terasa mustahil untukku tapi tentu saja ini nyata.


Aku kembali pulang dengan berjalan kaki tanpa membawa apa-apa, tapi anehnya aku merasa bahagia, dan tidak tahu setelah ini apa yang akan terjadi.


"Kak? tunggu?!"


"Yeah?". Ucapku sembari berbalik.


"Tolong di terima?!". Ucapnya sembari tersenyum.


"Hah? Tapi...?". Wanita itu lebih dulu pergi tanpa sempat aku mengucapkan terima kasih atau menanyakan siapa namanya.


Hari yang benar-benar aneh tapi tentu saja aku sangat bersyukur. terlepas dari itu semua, mungkinkah ini rezeki anak yang tengah aku kandung? Wallahu A'lam Bishawab.


***


Hai? Wah bentar lagi akan memasuki bulan puasa nih, Author ucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa yah untuk yang melaksanakan :)

__ADS_1


Next?


__ADS_2