
Aku sudah mendengar apa yang terjadi saat ini kepada Aksa, berdasarkan pemantauan Bella sebagai Dokter Psikiater pribadi Aksa.
Ada kabar buruk dan juga baik mengenai Aksa, kabar baiknya Bella melihat Aksa sebagai anak cerdas, di usianya dia cepat memahami situasi yang saat ini tengah terjadi, sedangkan kabar buruknya, dia menuruni sikap angkuh, arogan dan perfeksionis persis seperti yang aku miliki.
Hah... jujur saja aku sedikit kecewa dengan sifat yang dimiliki Aksa, kenapa dia harus menuruni semua sifat jeleknya aku?
Dan berdasarkan pantauan Bella, Aksa tidak perlu sering berkonsultasi dengan nya, cukup sebulan sekali saja, atau apabila Aksa meminta jasanya maka Bella siap datang kapan saja.
Dan dua hari kebelakang ini, ku perhatikan Aksa sedikit murung, apa mungkin dia sedang merasa sendiri? Iyah jujur saja setelah perceraianku dengan Nareta aku tidak pernah absen kerja.
Sebab jika aku merenung sendiri, bayang-bayang Nareta seketika selalu muncul dalam pikiranku, dan lebih parahnya lagi, aku seakan tak dapat bernafas dengan benar,... rasanya sesak, pun dengan hati ini rasanya sakit bagaikan tercabik-cabik.
Apa Nareta merasakan hal yang sama? seperti apa yang saat ini tengah aku rasa? Heh... sepertinya tidak.
Hah, entahlah yang pasti aku merasa dia baik-baik saja, sekantor dengan pria yang setiap hari akan membuatnya tersenyum, tertawa bahagia, kenapa juga dia harus bersedia.
Jika dia memang sangat merindukan Aksa kapan saja dan dimana saja dia boleh datang menemui Aksa, aku sama sekali tidak melarangnya, tapi... satu pekan berlalu hingga detik ini, sekalipun tidak pernah ada, telpon ataupun pesan singkat, hanya sekedar menanyakan kabar keadaan Aksa.
Jujur saja aku marah, dan berpikir... apa mungkin selama ini Nareta memang tidak pernah bahagia hidup bersamaku? keberadaan nya di rumahku hanya semata-mata bertahan, menahan diri untuk tidak kabur dari tanggung jawab.
Argh... entahlah... yang pasti saat ini aku harus fokus dengan pekerjaanku, yang hampir dua pekan terbengkalai sebab aku lebih fokus memproses pengajuan perceraian, yang akhirnya berjalan dengan sangat mulus.
Sebab Nareta sama sekali tidak mendebatkan apapun, hak asuh Aksa ataupun harga gono-gini, dia menerima apa yang aku ajukan kepada pengadilan.
Tidak ada pemikiran apapun saat aku menuliskan akan memberi satu unit apartemen mewah kepada Nareta. Aku hanya ingin fair, karena akupun memberikan satu unit apartemen mewah kepada Aqila, tentunya di tempat yang berbeda.
Ohh yeah soal Aqila... aku sudah menceraikannya terlebih dahulu sebelum proses perceraian ku dengan Nareta.
Proses perceraian ku dengan Aqila hanya
melalui lisan dan di saksikan oleh orang-orang yang saat menikah siri menjadi saksi.
Dan saat ini kulihat dia tengah hidup bahagia bersama pria pilihannya, yah meskipun masih berstatus pacar, tapi kelihatannya mereka sudah hidup berdua di apartemen pemberianku.
Kembali ke Nareta... dan hingga detik ini, dia tidak meminta kode password apartemen itu, mungkinkah dia lebih memilih hidup di kosannya dulu?
Kosan yang menurutku tidak layak untuk di tempati oleh manusia,... Argh... harga diriku benar-benar terluka, bisa-bisa nya dia menolak pemberianku.
Iyah, ku akui selain Nareta cantik dan pintar dia sama sekali bukanlah wanita matre setahuku, dan selain dua hal yang sudah disebutkan tadi, Nareta adalah wanita bertanggung jawab, tangguh, mandiri, dan berambisi.
Hah... kalian tahukan wanita seperti itu di zaman sekarang amat sangat langka, dan beruntung kali pria yang memiliki Nareta.
Ahh... kalian pasti berpikir aku ini aneh, bukannya aku yang memilih untuk bercerai dari Nareta? Iyah, itu memang aku. Tapi bukan semata-mata keinginanku, melainkan kebaikan kita bersama.
Aku tahu cinta di antara kita tidak pernah ada, maka untuk menghindari luka yang terlalu dalam, sebaiknya kita mengakhiri hubungan suami-istri ini dua tahun saja.
__ADS_1
Dan itu sudah menjadi keputusanku yang mutlak tidak dapat di ganggu gugat, kecuali Nareta sendiri yang tidak menyetujuinya. Mungkin akan aku pertimbangkan, tapi kenyataannya tidak, Nareta selalu mengiyakan semua hal yang aku ajukan.
Apa mungkin karena Nareta benar-benar sebenci itu terhadapku?
"Ayah, aku lapel?!". Ucap Aksa menghampiri Junot yang tengah melamun.
"Ayah?!". Ucap Aksa lagi.
"Heh? Iyah my son, kenapa?". Jawab Junot, akhirnya ia sadar juga.
"Aksa lapel". Ucap Aksa dengan kesal.
"Ohh, Iyah ayo kita makan siang". Ucap Junot.
Baru saja Junot beranjak dari kursi kebesaran nya, tiba-tiba Bagaskara datang.
"Bro, laperrr...". Teriaknya membuka pintu tanpa salam.
"Heh, lu bukan anak gua, lagian lu udah gede". Jawab Junot acuh, kemudian melanjutkan apa yang ingin ia lakukan, yaitu memakai jasnya.
"Hai, my son". Ucap Bagaskara sembari mensejajarkan tingginya dengan tinggi Aksa.
"Dia anak gua!". Ucap Junot lagi sembari memangku Aksa.
"Aish... anak lu berarti anak gua juga". Ucap Bagaskara kesal, sembari bangkit berdiri.
"Hei... ayolah bilang 'iyah' aja, apa susahnya".
"Gua bilang gak ada, yah gak ada". Ucap Junot dengan tegas.
"Heh... pelit banget sih lu". Ucap Bagaskara menyerah dengan ketegasan Junot.
Sedari tadi mereka berjalan melewati beberapa kerumunan wanita-wanita cantik yang ada di kantor Junot.
Jika Nareta mendapati tatapan diskriminasi oleh kaumnya sendiri, lain hal nya dengan Junot, tentu saja semua wanita itu bergembira mendengar Junot atasannya yang tampan kini berubah status menjadi seorang Duren.
Tak sedikit yang berharap bisa menggantikan posisi Nareta sebagai Istri dan Ibu dari Aksa.
Tak terkecuali Sekretaris nya sendiri Laura, kebetulan mereka bertemu di lobi kantor.
"Selamat siang Pak".Ucap Laura pada Junot.
"Hm, siang... Laura saya mau makan siang keluar sama anak saya, jadi kemungkinan saya kembali agak telat, tolong di reschedule yah".
__ADS_1
"Oh, baik Pak".
"Okay thanks". Ucap Junot kemudian berlalu pergi.
"Ehem.." Dehem Bagaskara, lalu menyusul Junot.
-~-
"Bro tungguin gua?!". Teriak Bagaskara tanpa malu.
"Bro, lu perhatiin gak sih, sekretaris lu sekarang agak-agak berbeda yah?".
"Hm, beda gimana?". Jawab Junot acuh.
"Heh? dia sedikit agak menggoda". Ucap Bagaskara dengan gaya bicaranya yang di desah-desahkan.
"Hm, gak tahu deh, gua gak perhatiin, gua ke kantor buat kerja bukan buat cari cewek". Ucap Junot dengan santai.
"Masa? seorang Junot gak tergoda dengan wanita secantik dia dengan desahannya?!". Ucap Bagaskara menahan tawa.
"Kampret... bisa diem gak lu, gak liat disini ada anak gua, jangan mancing-mancing keributan bisa?!". Ucap Junot penuh penekanan.
"Hehe,... iyah-iyah sorry, Aksa yang barusan uncle cuma bercanda kok". Ucapnya kepada Aksa dengan lembut.
"Hem, Iyah gak apa-apa, tapi benelan yah, Yah jangan telgoda sama wanita lain, selain Mamah?!". Ucap Aksa dengan gemas.
"Heh? Iyah... gak akan". Bagaskara yang mendengar kalimat itu sejenak terdiam mencerna apa yang baru saja ia dengar dari anak berusia dua tahun.
-~-
Junot dan Aksa segera menaiki mobil, kali ini Junot memakai salah satu mobil sport berwarna merah yang ia miliki.
"Wait... gua gak di ajak?" Tanya Bagaskara.
"Menurut lu? kapan gua bilang mau makan siang bareng lu, heh?".
"Ahh, Ayolah Jun, gua tahu gua nyebelin, tapi gak gini juga, gua kan dah bilang gua laperrr". Ucap Bagaskara dengan wajah memelasnya.
"Heh, kalau lu mau ikut tanya dulu Aksa, mau gak dia di pangku ama lu".
"Yah pastinya Aksa mau lah, iyahkan?". Ucap Bagaskara sembari memberikan puppy eyes nya kepada Aksa.
"Aduh... najiss banget sih lu". Ujar Junot saat melihat tingkah Bagaskara sahabatnya itu.
__ADS_1
Dan tak lama kemungkinan Aksa pun mengangguk sebagai tanda "Iyah".
bersambung...