Aksa

Aksa
part 72


__ADS_3

Seketika aku berpikir, keberadaan kita disini tidak terlihat buruk juga, dua pria yang aku sayangi, saat ini ada di hidupku.


***


Tetapi tidak bagi Bunda dan keluarga yang lainnya, semua panik saat mengetahui Junot pergi membawa Nareta dan Aksa dari kediaman Bunda secara diam-diam.


Bunda yang panik segera menghubungi Juwita, namun tindakan Bunda yang menghubungi Juwita bukanlah pilihan yang tepat. Terbukti dengan tindakan Juwita yang justru memperburuk suasana dengan menghubungi Polisi, keadaan amat kacau dan tidak terkendali.


Ayah pun ikut andil dalam pencarian Nareta dan Aksa, saat mengetahui kabar buruk itu Ayah segera pulang dan meninggalkan kliennya yang datang jauh-jauh dari Australia.


Tidak hanya Ayah, akan tetapi Sahabat-sahabat dari Junot pun mau tidak mau harus di beri tahu untuk mencari informasi, tetapi hasilnya nihil sebab beberapa bulan setelah Aksa lahir hubungan persahabatan mereka terpecah belah, ada yang sibuk dengan bisnisnya, Zain sibuk dengan acara fashion show yang akan di adakan di New Zealand, dan Bagaskara yang saat ini sudah mulai tercorot oleh layar kamera televisi.


Tidak hanya mereka bertiga, akan tetapi Ayden pun ikut dicurigai, mungkin mengetahui akan keberadaan Nareta.


Sekaligus ikut serta dalam daftar orang yang di beri informasi, bahwa keadaan rumah tangga Junot dan Nareta tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Sedangkan Aqila tidak tahu menahu tentang hal penting ini, justru saat ini ia tengah berpesta menyulap Apartemen mewah yang di belikan oleh Junot untuk dirinya menjadi mini clubing.


***


"Ibu mohon bersabar, karena laporan ibu belum bisa kami proses, sebab belum 1x24jam". Ucap polisi.


"Tapi Pak, ini kali pertama Nareta beserta Aksa di bawa pergi oleh Junot tetapi mereka sama sekali tidak dapat kami hubungi". Ucap Juwita dengan nada bicara yang mulai meninggi, sementara itu Bunda sudah menangis sedari tadi tidak henti-henti.


Sementara Mas Marsel masih berusaha menghubungi orang yang mungkin Nareta mintai pertolongan semisal sahabatnya ketika masih bekerja di kantor Ayden.


"Kamu mungkin tahu siapa saja sahabat terdekat Nareta saat masih bekerja?". Ucap Marsel pada Ayden.


"Hem... setahuku Nareta bukanlah wanita yang senang bergerombol tapi...". Ayden berusaha mengingat-ingat siapa orang yang biasanya dekat dengan Nareta saat di kantor.


"Tapi... mungkin kita bisa hubungi Lisda"


"Oke, kamu tahukan nomor handphone nya? tolong segera hubungi!".


"Maaf Mas tapi Aku gak tahu". Ucap Ayden menyesal kenapa tidak memiliki nomor handphone karyawannya sendiri.


"Tapi bentar Mas aku coba minta tolong ke staf bagian pendataan pribadi karyawan ?!". Ucap Ayden.


"Oke, segera!".


***


"Kita udah cukup lama gak ketemu, tapi sekalinya ketemu karena ada masalah dari salah satu sahabat kita". Ucap Zain memulai percakapan setelah sekian lama tidak bertemu.


"Hem, ngomong-ngomong bukannya kemarin kita baru aja ketemu di acara birthday nya Aksa, anaknya Junot sama Nareta". Ucap Bagaskara pada Akram.

__ADS_1


"Iyah, tapi saat itu Junot dengan Nareta terlihat baik-baik aja, seperti tidak ada masalah". Ucap Akram sembari terlihat bingung dengan kabar yang baru saja mereka dapat dari Kak Juwita.


"Wah parah banget sih, lu tahu sendirikan kalau Junot itu orang nya nekat". Celoteh Zain kepada ke dua sahabatnya. Kemudian mereka bertiga bergantian saling menatap.


"Kita gak bisa diam gini aja, kita harus mulai bertindak". Ucap Bagaskara sembari berdiri dari posisi duduknya.


"Gua coba cek ke apartemennya". Ucap Akram.


"Gua ke Bar tempat biasa kita hangout". Ucap Zain.


"Dan gua ke kantornya". Ucap Bagaskara sembari berlari menuju mobilnya.


Mereka tidak mencari ke rumah Junot, karena sudah dapat di pastikan mereka tidak ada di sana.


***


"Gimana? Ada?". Ucap Marsel pada Ayden.


"Ada Mas, Aku coba dulu hubungan Lisda".


"Mm, silahkan".


"Tut.....tutt... tutt". (tanda panggilan berdering)


"Waalaikumsalam, Pak Ayden ? Ada apa Pak?". Jawab Lisda dengan suara serak khas bangun tidur.


(*Lisda sudah tahu bahwa yang menghubungi adalah atasannya sebab Lisda memang menyimpan nomor handphone Ayden).


"Maaf malam-malam mengganggu, kamu baru-baru ini di hubungi Nareta tidak?".


"Heh? Oh, iyah tentu saja".


"Apa, lalu?"


"Mm, Iyah aku di hubungi dua hari yang lalu, karena anaknya Aksa mau berulang tahun".


"Hm, selain itu? apa Nareta bercerita tentang rumah tangga nya?".


"Oh, selain itu tidak ada, Nareta bukan orang yang suka menceritakan hal pribadi, memang nya ada apa yah Pak ?".


"Oh, Nareta dan Aksa di bawa pergi oleh Junot entah kemana".


"Apa? yah mereka di bawa pergikan oleh suami sekaligus Ayahnya, kenapa harus sepanik itu?". Dalam hatinya tertawa, apa mungkin Pak Ayden masih belum bisa move on dari Nareta yah? batinnya.


"Hm, bukan begitu... tetapi selain hal itu maaf saya tidak dapat berbicara lebih lanjut, kalau begitu terima kasih atas informasinya, maaf malam-malam mengganggu waktu tidurmu, tapi... kalau Nareta ada menghubungi mu lagi, tolong kabari saya?! Assalamu'allaikum".

__ADS_1


"Heh? baik Pak, Waalaikum'salam". Ucap Lisda seketika bingung menyelimuti pikirannya saat ini. Lalu panggilan pun di matikan secara sepihak oleh Ayden.


"Gimana?" Tanya Marsel tidak sabaran.


"Hem, gak ada informasi apapun". Jawab Ayden lesu.


"Hem, selain orang yang barusan, ada lagi sahabat Nareta yang lain?".


"Mm, setahuku hanya Lisda teman Nareta saat di kantor Mas".


"Hem, Yasudah tidak apa, maaf sudah mengganggu waktumu yah, dan satu hal lagi, Mas harap kamu bisa jaga rahasia! seperti barusan saat Lisda menanyakan apa yang sebenarnya terjadi lebih dalam".


"Mm". geming Ayden mengerti dengan apa yang di maksudkan Marsel.


"Sekali lagi Makasih, Mas pamit pulang dulu".


"Iyah, hati-hati Mas".


Bohong kalau Ayden tidak penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nareta dan Junot, bohong kalau saat ini Ayden tidak panik, dan bohong kalau Ayden saat ini tidak bahagia.


Iyah, di balik kepanikannya ada secercah rasa bahagia menyelimuti hatinya sebab jika rumah tangga Nareta dan Junot tidak baik-baik saja, ada kemungkinan Ayden bisa kembali mengisi hati Nareta yang sedang terluka.


***


"Apa yang sedang kamu lakukan?". Ucap Junot tiba-tiba mengagetkan Nareta.


"Heh? tidak ada".


"Kamu sedang mencari sinyal? mau menghubungi siapa, Hah?.


"Enggak, aku lagi...". Ucap Nareta terbata-bata.


"Jangan Bohong". Ucap Junot penuh penekanan.


"I iyah, aku cuma mau hubungi Bunda".


"Mau apa ? mau ngadu kalau kamu di bawa ke tempat menyeramkan, tolong selamatkan aku Bunda?!". Ejek Junot dengan nada suara yang di buat-buat.


"Aku takut Bunda khawatir, kita pergi tanpa pamitkan". Jawab Nareta ketus.


"Heh, jangan beralasan deh kamu". Ucap Junot sembari menatap Nareta dari bawah kaki sampai ke atas kepala.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Nareta ketakutan dengan tatapan tajam nan gelap Junot.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2