
Sejak kedatanganku ke Indonesia, sekalipun aku tidak pernah merasa bersedih. Berbeda ketika aku di Hongkong, hari-hariku terasa hampa, ada sesuatu yang membuat aku selalu merasa gelisah dan bersalah tak menentu. Iyah, mungkin karena aku telah mengkhianati Junot.
Iyah, aku terperangkap oleh ucapan pria buaya bernama Lucky, dia bilang dia akan mencintaiku sepenuh hatinya tetapi ternyata dia hanya menjadikan aku cadangan, di saat dia dan kekasihnya tengah bertengkar.
Aku sangat kecewa maka dari itu, tanpa pikir panjang aku segera pulang ke Indonesia dan mengetahui kenyataan bahwa kekasihku Junot Abraham begitu sempurna mencintaiku, aku semakin enggan untuk kembali ke Hongkong.
Sekalipun aku tidak pernah menyesali akan ke pulangan ku ini, tapi aku selalu bimbang suatu hari nanti Junot akan tahu bahwa aku tidak setia seperti yang ia lakukan terhadapku. Akankah saat hari itu tiba, Junot akan pergi meninggalkanku?
***
"Sayang kamu lagi di mana?"
"Aku sedang ada acara di luar kota". Untuk kali pertama sejak aku datang ke Indonesia ucapannya terasa dingin.
"OHH. . . sama siapa?".
"Sekretaris Ku Alex, kenapa?".
"Tidak ada apa-apa, kamu hati-hati di jalan yah?! kabarin kalau udah sampai, i miss you!". Hening tidak ada balasan apa-apa.
Aku cukup terganggu dengan perubahan sikap Junot yang mendadak tak lagi cerewet atau balik bertanya akan keadaanku, seketika itu aku takut kehilangannya. Takut kehilangan Junot yang baru aku sadari akan pentingnya dia untuk hidupku.
Jujur saja tiga hari yang lalu aku masih tidak menganggapnya sebagai kekasihku, aku hanya memanfaatkannya yang begitu mencintaiku, ku lampiaskan ke marahan ku yang seharusnya pada Lucky kepada Junot, tapi anehnya Junot sama sekali tidak marah sedikitpun justru dia malah melakukan apa pun yang aku mau, dan kini aku sadar apa yang telah aku lakukan pada Junot itu salah, itu terlalu kekanak-kanakan, tidak seharusnya aku lakukan itu pada pria yang justru sangat tulus mencintaiku.
"Aku sangat menyesal, maafkan aku Junot!"
Untuk menebus semua kesalahanku, aku berniat datang kerumahnya dan menyiapkan sarapan pagi kesukaannya, susu putih dan roti tawar dengan selai kacang, sesederhana itu kesukaannya tapi sekalipun dia tidak pernah meminta apapun dariku pun aku tidak pernah melakukan hal sederhana itu padanya.
Sekalipun Junot tidak pernah bertingkah sok kaya padahal dia amat tajir, dia juga tidak pernah bersikap sok pintar padahal dia amat sangat cerdas, gelar yang ia terima saat kelulusan perguruan tinggi Summa Cum Laude dengan nilai yang nyaris sempurna 3,90. Tingkah lakunya yang rendah hati, santun selalu berhasil membuat orang yang melihatnya terkagum-kagum dan pesonanya yang tidak dapat di pungkiri selalu berhasil membius siapa saja yang melihatnya termasuk aku saat itu.
Bodohnya aku telah menduakan pria sesempurna itu untuk pria yang tidak ada apa-apanya. Menyesal? tentu saja, aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Maka dari itu, sebelum Junot mengetahui semua kesalahan dan keburukan ku, aku ingin memperbaiki ini semua, dengan cara apapun tentunya.
***
"Excuse me?"
"Yeah?". Ucap seorang wanita dengan santai.
"Mbak saya gak bisa bahasa Inggris". Ucap mas kasir menatapku takut.
"AAAH, Can I be of any help?".
"Haha... saya orang Indonesia kok". Ucapku sembari tertawa renyah. Sementara mas kasir itu tengah mengernyitkan keningnya.
"Hah? haha... maaf kalau begitu saya permisi dulu". Ucap wanita itu tersenyum kepadaku.
"Iyah, Mas saya mau roti tawar dengan selai kacang, susu putih yah bisa tolong ambilkan?!".
__ADS_1
"Hah? Aahh boleh, kebetulan pesanan mbak yang barusan seperti apa yang mbak sebutkan hanya saja disini ada susu formula ibu hamil". Ucap mas kasir itu dengan ramah.
"Oh, kenapa gak jadi di beli?". Tanyaku hanya basa basi.
"Mbak itu lupa gak bawa dompet gak bawa handphone juga, tapi sudah saya pinjami handphone untuk menghubungi keluarganya tapi kayanya gak di angkat". Ucap mas kasih itu dengan rinci.
"Oh, gitu".
"Ini mbak pesanannya".
"Oh, Iyah jadi berapa totalnya?"
"187.500 rupiah mbak".
"Oke ini, kembaliannya untuk Mas aja".
"Hah? jangan mbak ini kebanyakan".
"Udah gak apa-apa".
~Tut...tut....
"Halo, sayang kamu di rumahkan? aku lagi di depan mini market dekat komplek rumah kamu nih".
"Hem... apa? ngapain? aku lagi gak ada di rumah".
"HM".
"Ya udah deh aku pulang lagi aja, kalau udah di Jakarta kabarin yah? ada sesuatu yang ingin aku bicarain".
"HM". kemudian sambungan telpon ia matikan dengan sepihak.
Lagi, Junot bersikap dingin padaku, sebenarnya apa salahku? apa Junot sudah tahu bahwa ke pulanganku bukan karena merindukannya.
"Kak? tunggu?!" Ucapku melihat wanita yang tadi.
"Yeah?". Ucapnya sembari berbalik.
"Tolong di terima?!". Ucapku sembari tersenyum kemudian segera pergi tanpa sempat mendengar dengan jelas apa yang wanita itu ucapkan.
***
Aku berniat pergi menemui Ibu, yah semenjak aku bekerja di kantor menggantikan posisi Ayah mau tidak mau aku harus tinggal di apartemen untuk lebih dekat dengan kantor.
Belum sempat menancap pedal gas mobil, tiba-tiba suara bunyi dering handphone yang tak ku kenal berbunyi, dan bertuliskan "my husband". Heh... tidak perlu di ragukan lagi, itu pasti handphone Nareta.
~Tut...tut....
__ADS_1
"Halo? kamu lagi di mana sih? aku bangun kok kamu udah gak ada? Heh". Ucap pria di sebrang sana masih dengan suara bantal khas bangun tidur.
"Hem. . . Sorry ini gua bukan Nareta ". Ucapku dengan santai.
"Hah? Lalu kenapa handphonenya bisa ada di lu? gua yakin banget ini nomor handphone istri gua". Ucap Junot dengan nada heran tapi juga terdengar menahan emosi.
"Oh, Iyah maaf sebelumnya gua lancang mengangkat handphone Nareta, sepertinya handphone Nareta tertinggal saat semalam gua mengantarnya pulang".
"Semalam?". Ucap Junot dengan nada yang lebih meninggi.
"Ehe, tapi gak ada hal lain, gua cuma ngasih tumpangan sampai depan rumah lu aja gak lebih". Ucapku mencoba menjelaskan dan tidak salah paham, sebab terakhir kali aku mengantar Nareta pulang keesokan harinya dia berusaha menghindari ku.
"Okay, thank you!". Ucap Junot dengan nada kesal dan segera mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
***
~Cekrekk...
"Assalamualaikum". Ucapku dengan senyuman yang mengembang di kedua pipi.
"Dari mana saja kamu?". Hah? kenapa Junot kembali bersikap dingin? batinku.
"Heh? aku habis dari mini market depan". Jawabku bingung dengan perubahan sikap Junot.
"Harus berapa kali sih aku bilang, kalau aku gak suka kamu deket-deket dengan pria lain terutama Ayden". Ucap Junot dengan nada meninggi dan emosi yang meluap-luap.
Ayden? Aah pastinya Junot sudah tahu bahwa aku pulang bersama Ayden semalam dan handphoneku tertinggal di mobilnya.
"Hah? Maaf... tapi aku gak punya pilihan lain Jun". Ucapku dengan hati-hati.
"Gak punya pilihan lain? lalu kamu anggap aku apa? Hah". Heh? apa jawabanku salah? Oh Tuhan...
"Handphoneku mati Jun, lalu Mas Ayden menawariku tumpangan, kupikir itu lebih aman ketimbang aku naik taxi, ataupun taxi online". Jawabku kembali dengan penjelasan.
"Aku gak terima alasan apapun itu". Ucap Junot masih terlihat kesal tetapi emosinya sudah agak mereda dari sebelumnya.
"Iyah aku janji gak akan mengulanginya lagi!". Ucapku tulus dan sungguh-sungguh.
"Bagus, dan satu hal lagi, mulai sekarang kamu harus panggil aku suami!".
"Hah? suami?".
"Kenapa kamu gak suka?".
"Ah, tidak... Heh, maksudku Iyah". Kau tahu Jun, sebelum kamu perintah aku memang selalu memanggilmu suami hanya saja kamu tidak pernah dengar.
Tanpa ku sadari sabutir air bening menetes di pipiku, hey jangan salah paham, tentu saja ini air mata kebahagiaan.
__ADS_1
Next?