Aksa

Aksa
part 21


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukan pukul 22:30 dan selama itu juga pikiranku terus berputar, tidak ada sedikitpun rasa kantuk, tidak sampai aku mendengar Junot mengetuk pintu kamarku.


"tok..tok..tok...". Aku tidak bisa menemuinya, tidak bisa, batinku.


"Apa kau sudah tidur?". Aku pun tidak memiliki keberanian untuk menyahutinya, entahlah aku sendiri tidak tahu apa yang tengah terjadi denganku?


"Terima kasih atas makanannya, berkat kamu aku bisa tidur nyenyak, aku harap kamu pun begitu". Perkataannya berhasil membuat aku lebih tenang, dan aku tidak tahu pasti kapan tepatnya aku tertidur.


***


"Na? sudah pagi, subuh belum?". Sayup-sayup aku membuka kedua mataku.


"Hmm, iyah, Bu". Jawabku singkat, kemudian bangkit dari tempat tidur masih dengan rasa kantuk yang melanda.


Selesai solat subuh aku memutuskan kebawah, membuat sarapan atau hanya sekedar melihat apa yang membuat ibu dan bapak sepagi ini sudah tertawa serenyah itu.


Aku tersentak dengan perawakan pria muda yang tak lain adalah Junot yang berhasil membuat bapak yang jarang tersenyum apalagi tertawa. Jujur saja meskipun sebenarnya bapak itu memang baik dan mudah bergaul, tetapi bapak tidak mudah untuk tertawa, apalagi selebar dan sekeras itu dengan orang yang baru ia kenal.


Aku masih berdiri di dekat tangga melihat Junot yang saat ini tengah duduk di kursi yang membelakangiku, dan kupastikan dia tidak menyadari akan kehadiranku, yang tengah memandangi pungguh dengan bahu lebarnya yang sedang asik bercerita.


"Iyah, jadi dulu Junot pernah mau kabur dari rumah". Ibu dan bapak terlihat antusias mendengar cerita Junot.


"Tetapi karena tidak tahu mau pergi kemana, gak ada tujuan, akhirnya Junot ngumpet di bawah tempat tidur saja, tapi belum satu jam Junot udah keluar dari persembunyian"


"Kenapa?". Tanya ibu penasaran


"Ketahuan?". Kata bapak menduga.


"Bukan, tapi... aku gak kuat pengen kencing". Hahaha... semua orang tertawa, termasuk aku.


"Ehem... Bu aku buat sarapan dulu yah". Ibu hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara itu kini giliran bapak yang tengah asik bercerita, lalu Junot yang melihat aku seketika memberikan senyuman, entah itu senyuman atas sapaan selamat pagi, atau arti lain yang tersirat, tidak dapat aku artikan, yang pasti hal itu berhasil membuat aku kembali teringat peristiwa semalam. Peristiwa yang berhasil membuat jantungku berdegub kencang.


Kurasa Junot bukanlah pria humoris atau mudah bergaul, tapi tingkah lakunya benar-benar di luar dugaan, apa mungkin aku keliru menilai seseorang? sama hal nya dengan aku yang selama ini keliru menilai Mas Ayden.


***


Aku sedang asik membuat sarapan sembari mendengar lagu favoritku di earphone sekeras mungkin, sampai aku tidak mendengar sahutan dari ibu.


"Na, atos rengse teu acan?".


(Na, sudah beres belum?)

__ADS_1


"Nana?".


"Nareta?".


"Eh kernaon cenah budak teh?".


(Eh, lagi apa anak ini?)


Ibu ingin bangkit dari tempat duduk nya namun di hentikan oleh Junot.


"Udah Bu, Ibu duduk saja, biar Junot yang lihat". Ibu hanya mengangguk dan kembali duduk.


"Apa yang kamu dengarkan?". Aku terperanjat dan segera bangkit dari duduk tenangku. Bagaimana tidak, seseorang dari arah belakang mengambil satu earphoneku dan memasangkan di telinganya, yah meskipun sebenarnya pergerakanku bisa di katakan sangat lambat.


"Kamu suka juga lagu westlife? lagu apa yang paling kamu suka?". Dia bicara dengan begitu santai, seolah tidak terjadi sesuatu yang salah.


"Hm, maaf tapi kurasa kita tidak seakrab itu". Tukasku. Jujur saja aku tidak suka dengan sikapnya yang terlalu santai dan bersikap seolah kita ini akrab, karena aku yakin 90% kemungkinan, saat ini dia tengah bersandiwara, ini bukan dia yang sesungguhnya.


"Hah, baiklah kalau kamu tidak ingin memberitahuku, dan persoalan keakraban, kita memang belum seakrab itu dan tidak akan pernah akrab, jika kamu terus membatasi seperti ini, aku terdiam sejenak, apa maksudnya aku yang membatasi dia yang ingin bertindak akrab denganku?


"Heh, maaf aku tidak sedikitpun tertarik berkawan dengan anda". Hah, tidak... aku tidak boleh mempercayainya dengan begitu mudah.


"Baiklah, mungkin untuk sekarang belum, apa yang kamu buat? sedari tadi Ibu memanggilmu, tetapi tidak ada juga sahutan, makanya aku kesini menghampirimu, takut-takut kamu pingsan atau...".


"Hah? aku mendekatimu? Iyah, aku memang ingin mendekatimu, tapi tidak kali ini, selain alasan melihat keadaanmu, aku kesini karena lapar". Aku terdiam membisu, rasanya malu tapi mungkin saja dia berdalih, siapa yang tahu.


"Yasudah, aku panggil dulu Ibu dan Bapak". Dia berlalu pergi dengan tampang yang benar-benar membuat aku malu setengah mati, apa memang iyah ibu memanggilku? bukan alasan dia ingin menghampiriku.


"atos, nyien sarapan naon ieu?".


(sudah, buat sarapan apa ini?)


Aku yang penasaran atas apa yang Junot ucapkan tadi pun bertanya langsung kepada ibu.


"Bu, tadi nyauran Nana?".


(Bu, tadi manggil Nana?)


"Nya, tilu kali kernaon ath? di sauran teh teu ngajawab".


(Iya, tiga kali sedang apa? di panggil tidak menjawab)

__ADS_1


"Heh? hehe... maaf Bu, gak denger". Aish... malu banget, kenapa juga aku nanya hal ini di depan Junot.


"Ehm, aku mau selai kacang bisa tolong ambilkan?".


"punya tangankan, ambil sendiri".


"Nana, apanan jauh, tinggal pasihkeun meni hese".


(Nana, kan jauh, tinggal kasih kenapa susah)


"Hmm, nih". Aku memberikannya dengan kasar, tetapi... dia malah tersenyum seolah sedang mengejekku, aku semakin jengkel.


Sementara itu bapak terlihat tidak berselera untuk sarapan, ia hanya melihat tanpa berniat mengambil roti yang sudah aku lumuri selai".


"Kenapa Pak?". Tanya Junot.


"Hem, gak apa-apa". Akhirnya bapak mengambil sehelai roti yang sudah di lumuri selai coklat.


Sudah dapat di pastikan, jika hal ini terjadi di rumah bapak pasti sudah protes karena sarapan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, jangan terlalu berharap lebih dari rumah mewah dua lantai yang memang tidak di huni, sangat wajar jika tidak ada bahan makanan yang dapat di olah, di lemari penyimpanan ataupun di lemari es dua pintu itu.


Akan tetapi, kita masih beruntung bisa sarapan roti yang dua hari lagi expired, dengan selai coklat, kacang ataupun stroberi dan susu murni. Wait ...


"Bukankah rumah ini tidak di huni?"


"Hm, iyah, hanya sesekali aku kunjungi, kenapa?"


"Roti ini dua hari lagi expired, itu artinya baru kemarin di beli".


"Iyah, hmm... Ah, mungkin semua ini Ka Juwita yang beli, karena sebelumnya di rumah ini juga tidak pernah ada mie instan".


"Mie instan? Na, Bapak mau sarapan mie aja, tolong buatin yah?!"


"Hm, bukannya Nana gak mau buatin, tapi masa sarapan mie instan sih Pak?". Bantahku.


"Bapak mau sarapan apa? Biar Junot beliin atau drive-thru". Tawar Junot.


"Gak usah Nak Jun ngerepotin, Bapak ayok di makan rotinya". Seru ibu dengan senyum yang lebih seperti ancaman.


"Hm, Iyah". Akhirnya bapak memakannya juga, tentunya dengan penuh tekanan.


Next?

__ADS_1


Hai? ^^ mau bilang makasih udah mau baca cerita ini, jejak kalian sangat berarti untuk Author.


__ADS_2