Aksa

Aksa
part 47


__ADS_3

"lu kenapa sih datang-datang uring-uringan". Tanya Zain.


"Hem, gua abis ketemu cewe itu dengan gak sengaja"


"Hah? yah bagus dong, mungkin itu yang namanya jodoh". Jawab Zain dengan antusias.


"Heh, bagus apa nya? lu salah, gua nyesel kenapa baru ketemu itu cewe sekarang".


"Maksud lu apa? gua gak ngerti".


"Yah, untuk pertama kalinya gua ngerasa jatuh cinta, tapi diwaktu yang bersamaan gua harus ngerasain juga apa itu yang namanya kecewa dan sakit hati".


"Jangan bilang kalau cewe itu udah punya pacar?".


"Masih mending kalau pacar, lah ini, dia udah punya suami".


"What, gimana ceritanya?".


Flashback


"Hai"


"Heh? maaf siapa yah?".


"Aku yang di mol, em kamu juga gak sengaja nabrak aku kaya barusan".


"Hem, Ohh aku inget, yang bawa kamera? sorry yah, apa kemera nya ada yang rusak?".


"Hem, enggak ko gak ada kerusakan".


"Oh, syukurlah kalau gitu".


"Bagaskara Nama kamu siapa?". Tanyaku sembari menjulurkan tangan.


"Oh, Nareta". Jawabnya dengan senyuman yang menawan.


"Baru belanja keperluan bulanan yah?".


"Hah? Iyah... nih".


"Aku juga mau beli beberapa cemilan".


"Heh, iyah, selamat berbelanja". Aduh bego ngapain juga ngomong gitu.


"Euh... maaf yah aku buru-buru".


"Heh? oh oke". Jawabku sembari memberikan jalan dan dia pun segera berjalan melewati ku.


"Nareta?".


"Iyah?"


"Hem, boleh minta kartu namanya? soalnya yang kemarin hilang".


"Heh? bukannya kameranya baik-baik aja yah?".


"Iyah, kameranya baik-baik aja kok, cuma aku mau kenal kamu lebih dekat aja, boleh kan?".


"Hah? eee... maaf, tapi aku udah punya suami". Jawabnya dengan senyuman yang lagi-lagi membuat aku terpesona sekaligus terluka.


"Hemm, heh? suami? hehe... kamu becanda yah?".


"Enggak, enggak sama sekali". Jawabnya dengan tatapan serius.


"Oh, oke kalau gitu, see you!". Jawabku tersipu malu, sembari menggaruk kepala yang tak gatal.


flashback off


"gitu ceritanya".


"Oh, ya udah yang sabar aja! masa iyah lu mau jadi pebinor (perebut bini orang) kan gak lucu?".


"Lu gila, ya kali, emang nya cewe cuma dia doang".


"Nah gitu dong, ini baru Bagaskara yang gua kenal, tapi seriusan deh gua jadi penasaran sama itu cewe, secantik apa sih dia? bisa-bisanya buat lu jatuh cinta pada pandangan pertama pula".

__ADS_1


"Aish, berisik deh lu, gua udah mau ngelupain juga".


"Ehehehe... yah sorry".


***


"Kamu beli apa aja sih? lama banget, ada kali aku nunggu kamu satu jam?". Protes Junot.


"Hem, Iyah maaf tadi aku temu orang".


"Siapa? cewe apa cowok?".


"Namanya? siapa yah tadi... aku lupa, cowok".


"Baru kenalan?" kali ini nyangka kamu apalagi?".


"Hem, gak nyangka aku apa-apa, kita udah dua kali ketemu gak sengaja gitu".


"Masa sih? beneran gak sengaja?".


"Iyah kali aku janjian ketemu, ajak kamu".


"Apa? sekali lagi ngomong apa?".


"Hehe, yah enggak cuma bercanda kok, dengan kamu atau tanpa kamu, aku gak pernah dekat sama cowok selain kamu kok".


"Heh, beneran?".


"Yah menurut kamu? aku bohong?".


"Hem, awas aja kamu dekat-dekat cowok lain selain aku".


"Cie, ada yang cemburu?! hehe".


"Siapa yang cemburu? gak tuh".


"Hem, kebanyakan gengsi nih kamu". Ucapku sembari tersenyum, sementara Junot kembali dengan ekspresi dinginnya.


Kita sampai di pekarangan rumah, di waktu yang bersamaan seorang wanita muda berhijab menyapa kita.


"Assalamualaikum Bang?". Sapa wanita itu, yang ku perkirakan dia masih kuliah.


"Heh? sama siapa Bang?". Tanya wanita itu saat aku turun dari mobil.


"Oh, kenalin ini Nareta sepupu saya dari Bandung". Aku terperangah mendengar jawaban Junot.


"Hah? Euh... halo?".


"Halo, Najwa".


"Nareta". Jawabku dengan senyuman agak terpaksa.


"Oh, nanti sehabis magrib Abi mau ngadain syukuran kalau gak sibuk datang yah Bang".


"Oh, Iyah, Insyaallah Abang datang".


"Aku boleh ikut datang juga kan?". Tanyaku


"Heh? oh tentu boleh".


"Hem, makasih". Jawabku dengan senyum tulus.


"Iyah, sama-sama, kalau gitu saya permisi dulu, Assalamualaikum".


"Waalaikum'salam". Jawab kita bersamaan.


Setelah wanita berhijab bermana Najwa itu pergi, aku segera masuk ke dalam sembari membawa beberapa kantong balanjaanku tadi.


"Hey, berat yah? sini biar aku aja?!".


"Gak usah". Jawabku ketus.


"Kamu kenapa? kok tiba-tiba jadi berubah?".


"Aku gak ngerti dengan sikap kamu yang mau kita merahasiakan hubungan suami istri kita ini dari semua orang, kecuali semua orang yang udah tahu".

__ADS_1


"Bukannya aku udah bilang? ini semua demi perusahaan".


"apa hubungannya? kayanya gak ada deh".


"Aku gak mau terganggu dengan isu-isu yang gak semestinya ada".


"Loh, bukannya tamu 1x24 jam wajib lapor yah? bukannya dengan kamu merahasiakan kebenaran dari semua orang, orang lain yang tinggal di komplek ini akan curiga, siapa aku ini sebenarnya? kenapa gak pulang-pulang, tamu itu ada batas waktunya, gak bisa selamanya tinggal satu rumah dalam jangka waktu yang lama". Ucapku dengan kesal.


"Kamu gak usah khawatir, RW sama RT udah aku kasih tahu kok, dan aku udah minta izin juga".


"Apa? aku benar-benar gak ngerti apa maksud dari ini semua, yang perlu kamu tahu, saat ini aku merasa kecewa". Setelah itu aku pergi dari ruang tamu menuju kamar tamu, sampai malam tiba aku masih tidak mau keluar.


"Na, Nareta? kamu mau sampai kapan sih ngambeknya?".


"Bukannya kamu mau ikut pengajian?".


"Cepetan ganti baju, aku tunggu di bawah, jangan lama! kalau enggak aku tinggalin". Belum sempat Junot turun aku segera membuka pintu.


"Kamu pergi sendiri aja, aku gak ikut".


"Kenapa? masih ngambek?".


"Enggak".


"Terus?".


"Aku gak punya kerudung, dan lagi aku gak sanggup denger kamu ngenalin aku ke orang-orang sebagai sepupu". Ucapku dan segera kembali mengunci diri di kamar tamu.


"Heh, jangan kaya anak kecil deh, ini kan udah jadi perjanjian kita, kamu lupa?".


"Aku gak lupa, tapi aku kecewa apa alasan di balik ini semua, apa memang hanya karena perusahaan atau ada alasan lainnya?".


~Heh, aku takut! aku takut membuat hati kamu terluka, jika kamu tahu alasan yang sebenarnya, masih bisakah esok hari kamu tertawa oleh ku seperti hari ini?


#Junot


"Nareta, apa pun alasannya kamu tahu kan, semua itu demi ke baik kan kita bersama". Perlahan pintu kamar itu terbuka.


"Maaf, mungkin sikapku terlalu ke kanank-kanak kan". Ucapnya sembari berkaca-kaca.


"It's okay".


Malam itu Junot tidak jadi datang ke pengajian, dia lebih memilih aku yang saat itu menangis tersedu-sedu menyesali tindakan bodohku sendiri sampai aku tertidur dipelukan Junot.


~Suatu hari nanti rintangan seberat apa pun, aku akan selalu mengingat ke jadian hari ini.


#Nareta


Flashback


Satu Minggu yang lalu...


*kejadian di meja makan


Kedekatan Bunda dan Nareta begitu erat, aku rasa itu tidak baik untuk ke depannya, bagaimana pun aku dan Nareta tidak akan pernah bisa menjadi suami istri selamanya, lambat-laun Aqila akan tahu dan sebelum semua ini terbongkar aku harus segera mengakhirinya, tanpa menimbulkan bekas apa pun atau luka di hati siapa pun.


flashback off


"Halo?".


"Jadi, siapa wanita yang bersama Junot itu?".


"Nama nya Nareta dia seorang pegawai di perusahaan Astra Lestari".


"Hubungan nya dengan Junot?"


"Menurut wanita bernama Najwa, mereka hanya sepupu".


"Kamu yakin?".


"Sangat yakin 100%".


"Baiklah kalah begitu, pantau terus!".


"Baik".

__ADS_1


~Apa pun yang kau miliki, sebentar lagi akan menjadi milikku.


Next?


__ADS_2