Aksa

Aksa
part 56


__ADS_3

Acara empat bulanan Nareta berlangsung dengan khidmat, meskipun saat acara berlangsung hati ku terasa dongkol, yah penyebabnya hanya satu dan tidak lain adalah Ayden.


Aku heran kenapa dia bisa datang, apa dia menerima undangan? dan siapa yang mengundangnya. Sudah pasti Nareta kan, maka kecurigaan ku terhadapnya semakin bertambah dan rasa-rasanya tidak mungkin salah.


Tamu undangan banyak yang menyalamiku, memberikan ucapan selamat dan juga wejangan untuk ku yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Tak sedikit yang memujiku karena berhasil membuat Nareta hamil, dan yang memuji akan kecantikan Nareta dengan terang-terangan, padahal kini ia tengah berbadan dua.


***


Dua hari setelah acara empat bulanan. Ibu, Bapak dan Nadim pulang ke Bandung, rumah yang tadinya ramai seketika hening belum lagi Bunda dan Ayah yang harus pergi ke Jawa, katanya ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan dan Kak Juwita serta Mas Marsel sedang berlibur ke Sumba untuk menyenangkan hati anak-anaknya.


Yah seperti yang kalian tahu Akbar dan Zahra adalah anak yatim-piatu maka dari itu Mas Marsel dan Kak Juwita berniat mengangkat mereka menjadi anak angkat dengan proses hukum yang tidak mudah, tapi Alhamdulillah semua itu sudah terlewati niat yang baik akan berbuah baik pula bukan.


Sementara itu akhir-akhir ini entah kenapa Junot sering keluar hampir setiap malam saat aku tengah tertidur pulas dan yang lebih menyesakan nya lagi dia tidak pernah bilang, seolah-olah di sini tidak ada aku, seperti pria lajang yang keluar masuk rumah sesuka hatinya tanpa memperdulikan perasaanku.


Apakah aku terlalu berlebihan? aku rasa tidak, toh dia sendiri sering marah jika aku lupa tidak meminta izinnya, padahal hanya pergi ke minimarket, apalagi ini... pria beristri pergi malam-malam tanpa memberi kabar apapun, bagaimana aku tidak marah dan khawatir? coba katakan letak salahku dimana?


Entah apa maunya, akhir-akhir ini Junot malah lebih berani dengan mengatai aku gendut dan tak lagi menarik, apa jangan-jangan selama ini itu alasan ia pergi malam-malam, Ya Allah jagalah suami hamba dari godaan wanita lain.


Karena sampai hal itu terjadi, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, haruskah aku terluka untuk ke dua kalinya? Jika di pikir-pikir Junot memang tidak pernah mengucapkan bahwa ia mencintaiku, jadi... selama ini mungkin hanya aku yang mencintainya, dan rela melakukan apapun untuknya.


Malam ini aku bermaksud ingin tahu jam berapa dia pergi, maka dari itu aku pura-pura tertidur dan saat melihat Junot bangkit dari tempat tidur aku langsung bertanya yang berhasil membuatnya terkejut.


"Jun, kamu mau pergi kemana?". Tanyaku ragu-ragu.


"Hah? Bukan urusanmu, tidur sana!". Jawabnya ketus, menyembunyikan wajah keterkejutannya dari ku.


"Jun, aku boleh minta tolong gak?".


"Apa lagi sih?". Jawabnya sedikit membentak.


"Aku mau buah mangga muda yang langsung kamu petik dari pohonnya".


"Hah? kamu ini ngidam yang gak ngerepotin bisa gak sih?". Ucapnya kesal.


Iyah, memang aku sering ngidam hal yang aneh-aneh, seperti ingin buah kedondong, ingin rujak tengah malam, ingin kue putu menjelang subuh, tapi saat ada Bunda Junot tidak pernah menolak, dia selalu bergegas pergi untuk mencarinya padahal setelah barang yang aku inginkan itu ada aku sudah tidak ingin lagi.


"Hem, ya udah deh gak usah". Ucapku sembari tersenyum.

__ADS_1


"Heh, aku pergi". Ucapnya tanpa menatapku, entah maksudnya pergi untuk mencari atau pergi untuk bersenang-senang seperti malam-malam kemarin, yang pasti kemanapun kamu pergi doa ku akan selalu menyertaimu Jun.


Aku tidak tahu Junot pergi kemana, sudah ku coba untuk menghubunginya berpuluh-puluh kali, tetapi tetap saja tidak ada satu pun jawaban, aku lelah menunggu dan entah sejak kapan aku tertidur di sofa ruang tamu, dan seperti adegan-adegan di sebuah drama, hal serupa kini tengah aku rasakan.


Seseorang telah menutupi tubuhku dengan selimut dan orang yang melakukan hal itu, siapa lagi jika bukan Junot. Aku segera beranjak dari tidurku masih dengan wajah sayu bercampur dengan wajah lesu, aku menaiki tangga satu persatu.


Karena aku tahu sebenarnya Junot itu sangat peduli padaku, tapi mungkin karena ia adalah pria kaku kalau kata bunda sih manusia es batu, tidak tahu harus memperlakukan wanita seperti apa, dan aku bersedih karena mengetahui akan hal itu.


Sementara di sisi lain... bagaimana aku tidak lesu menghadapi sikap Junot yang terus menerus seperti ini, karena kuncinya memang hanya ada satu, yah apa lagi kalau bukan bersabar.


"Jun?"


"Junot?"


"Kamu dimana sih?"


"Jun?"


"Berisik tahu gak". Ucapnya masih dengan raut kesal dan ketus baru saja keluar dari toilet.


"Hem, Iyah maaf... kamu habis dari mana sih?". Tanyaku dengan lembut.


"Heh? aku... kamu nyari buah mangga". Ucapku dengan senyum menggelitik.


"Hem, udah yah ini pertama dan terakhir kamu nyuruh aku nyolong buah mangga muda".


"Apa? nyolong? aku gak nyuruh kamu nyolong yah". Jawabku protes.


"Kamu bilang kamu mau buah mangga muda yang aku petik sendiri dari pohonnya, apa namanya kalau bukan nyolong, hah?". Ucap Junot kesal.


"Iyah, tapi kan kamu harus minta izin dulu sama yang punya pohon, bukannya main petik".


"Jam 22.00 orang-orang udah pada tidur".


"Hem... yah paling enggak kamu teriak aja meskipun gak ada orang yang tahu atau denger".


"Kaya gini maksud kamu... Permisi saya mau nyolong, gitu maksud kamu?". Ucap Junot mempraktekan dengan nada meledek.

__ADS_1


"Hahaha... yah gak gitu dong tapi gini, permisi maaf siapapun yang punya pohon mangga ini, saya minta satu yah buat istri saya yang lagi ngidam, makasih. Gitu!".


"Heh, ya udah lain kali kamu aja yang nyari, aku nunggu kamu diam di rumah". Ucap Junot dengan kesal sembari membalikkan tubuhnya.


"Heh? makasih yah". Ucapku dengan lembut kemudian memeluknya dari belakang.


"Ya udah sih lagian gak kamu makan juga kan, kamu itu cuma mau doang". Ucapnya kini lebih tenang.


"Siapa bilang? aku makan kok yah walaupun gak habis semua".


"Hah? kamu makan?".


"Iyah, tadi pas aku bangun tidur hal yang pertama aku lihat adalah buah mangga, dan yang kedua adalah selimut yang ada di tubuhku, dan aku udah yakin banget itu pasti kamu".


"Seyakin itu?".


"Heh? He'em, orang di rumah ini kan cuma ada kita berdua". Ucapku sembari tertawa kecil yang membuat Junot kembali kesal.


"Heh, ya udah deh aku mau tidur!". Ucapnya segera melepaskan tanganku yang melingkar di perutnya.


Ya ampun Junot aku kan cuma bercanda, baru aja baikan eh udah ngambek lagi :(


"Jun, aku cuma bercanda kok".


"Aku yakin itu kamu karena...".


"Udah deh aku mau tidur, ngantuk". Ucapnya kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Mau aku pijitin gak?". Tanyaku merayu.


"Gak usah".


"Jun? Junot?". Rengek Ku.


"Berisik". Jawabnya ketus.


"I Love You".

__ADS_1


Next?


__ADS_2