Aksa

Aksa
part 36


__ADS_3

Ayah baru saja selesai menunaikan sholat Isya, dan setibanya di ruangan bunda, ayah terus menerus memaksaku untuk segera pulang.


"Jun, segeralah pulang istrimu pasti menunggu!".


"Enggak, Yah, Nareta pasti mengerti jika aku tidak pulang sekarang". Jawabku


"Jun, kasihan Nareta dia harus menikah tanpa di hadiri orang-orang terdekatnya, belum lagi malam pertamanya harus tertunda, pulanglah Bunda biar Ayah yang jaga".


"Tapi, Yah...".


"Sudahlah Jun, jangan buat ayah marah". Baiklah, lagi pula aku lelah jika harus berdebat dengan ayah.


"Tapi kalau ada apa-apa dengan Bunda segera hubungi Junot ya?!".


"Iyah, hati-hati di jalannya, jangan ngebut!".


"Em, Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam".


***


Jujur saja sampai detik ini, aku masih merasa belum percaya kalau aku telah menikah dengan Nareta, tapi realitasnya kini aku telah menyandang status suami dari Nareta, sungguh tidak dapat di percaya.


Sesampainya di kediamanku, kulihat rumah sudah terlihat sepi, lampu-lampu di kamar terlihat sudah padam, mungkinkah para penghuni rumah telah terlelap tidur? jika memang iya, maka untuk apa aku pulang, hah... ku tarik nafas berat dan menghembuskannya ke udara secara perlahan.


Aku putuskan keluar dari dalam mobil, baru saja beberapa langkah menuju pintu rumah, aku melihat seorang wanita dengan rambut hitam terurai membukakan pintu untukku.


Senyuman hangat terpancar dari bibirnya, apa dia memang menungguku pulang? seperti apa yang di katakan ayah.


Aku berjalan semakin mendekat, lalu ia mengambil alih tas yang sebelumnya ku pegang, seperti kebanyakan istri berbakti, ia pun menyalami tanganku.


"Keadaan Bunda bagaimana?". Tanyanya.


"Hem? masih belum ada perkembangan yang signifikan, kamu kenapa belum tidur?". Tanyaku pada akhirnya, ingin memastikan bahwa perkataan ayah itu salah.

__ADS_1


"Em, aku baru saja mau tidur, tapi aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, karena aku penasaran makanya aku lihat, ehh... ternyata itu kamu".


"Ohh, syukurlah". Apa yang di katakan ayah, tidak benar sama sekali.


"Apa?".


"Hem, syukurlah kamu masih bangun, kalau enggak aku pasti tidur di luar".


"Em, kamu mau mandi? atau makan terlebih dahulu? biar aku siapkan".


"Enggak usah, aku udah makan, aku mau langsung masuk kamar saja".


"Hem, baiklah". Kita berjalan menaiki anak tangga, aku berada satu langkah di belakangnya.


Sesampainya kita di lantai dua, Nareta berbelok ke sebelah kiri, masih dengan memegangi tas kerjaku.


"Mau kemana?". Tanyaku, ia segera berbalik dan dengan wajah polosnya dia menjawab...


"Ke kamar".


"Kamarku ada di sebelah kanan". Apa jangan-jangan selama aku tidak ada, dia masih menempati kamar untuk tamu?


"Heh? I i iyah...". Dia terlihat canggung, aku segera berjalan lebih dulu dan pada akhirnya dia mengikuti langkahku.


"Aku mau mandi dulu, kamu tidur saja duluan!". Dia masih terlihat kebingungan dengan wajah tertunduk ia akhirnya mengangguk.


***


08:30 aku baru saja mematikan lampu, tak lama dari itu aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku yang penasaran akhirnya turun kebawah, hanya untuk memastikan kalau pendengaran ku salah.


Karena aku takut, akhirnya kulihat terlebih dahulu dari kaca jendela, Junot? aku segera membuka pintu untuknya, wajahnya terlihat terkejut melihatku. Setelah keberadaannya semakin dekat, aku meraih tas yang ia pegang, tanpa penolakan ia memberikannya padaku, tak lupa ku salami juga tangannya. Semoga lelah mu menjadi ibadah, ucapku dalam hati.


Ku layangkan pertanyaan yang sedari tadi terus- menerus menyelusup dalam pikiranku, tentang keadaan bunda. Belum ada perkembangan yang signifikan, jawabnya dengan wajah yang terlihat lelah.


Hal itu amatlah sangat wajar, bagaimana tidak lelah, selama kurang lebih 24 jam ia terus menerus merawat bunda, tidak tidur, mungkin ia telat untuk makan dan kurang minum juga.

__ADS_1


Tetapi ia menolak untuk makan, saat aku menawarkan ia untuk makan. Iyah, mungkin saat ini hal yang paling Junot butuhkan adalah tidur, aku berjalan lebih dulu menaiki anak tangga, kemudian aku berbelok ke sebelah kiri, Junot memberhentikan langkahku.


"Mau kemana?". Tanyanya, tanpa merasa ada hal yang salah, aku menjawab...


"Ke kamar".


"Kamarku ada di sebelah kanan". Ucapnya kemudian, aku sedikit terkejut, lalu ku lihat pintu besar di sebelah kanan itu... ia itu memang kamar Junot. Dan malam ini aku akan menempati kamar itu juga, rasanya benar-benar terasa seperti mimpi.


tanpa kusadari kini pipiku telah memerah, Ahh... menyebalkan, ku harap Junot tidak menyadarinya, kini Junot berjalan lebih dulu memasuki kamarnya.


Seperti yang sudah ku duga, kamarnya amat sangat rapi dan wangi, tidak perlu di ragukan lagi akan kebersihannya.


Meskipun kamarnya tidak begitu luas tapi rasanya amat sangat nyaman, dindingnya berwarna abu-abu yang di tambahkan sedikit hiasan lampu dan beberapa bingkai foto menambah kesan sederhana namun menawan.


Sebelah kanannya terdapat kaca rias yang cukup besar, dengan beberapa alat-alat untuk menunjang penampilan menawannya selama ini, walaupun kamarnya tidak begitu luas tapi semuanya lengkap ada AC, Tv, dan kamar mandi.


Aku memang tidak bisa meremehkan konsep serta ke unik kan dari rumah yang di buat oleh Junot, dari semua tempat dan beberapa aksesoris rumah ini selalu membuat aku terkagum-kagum.



Lamunanku terhenti saat Junot menyuruhku untuk tidur lebih dulu, sementara itu dia akan mandi terlebih dahulu sebelum akhirnya berbaring di sebelahku. Aku yang kebingungan serta malu, segera tertunduk dan akhirnya mengangguk.


Sementara itu Junot berlalu pergi, selama itu juga aku sudah berbaring di atas ranjang yang benar-benar empuk dan nyaman.


20 menit berlalu aku belum juga dapat memejamkan mata, begitupun dengan Junot yang sampai detik ini belum juga kembali. Aku rasa, dia tertidur di kamar mandi.


Hah, aku menarik nafas gusar belum lagi udara yang terasa lebih panas dari malam-malam sebelumnya, padahal aku sudah mengatur ulang suhu AC sampai 22 derajat celcius, tapi rasanya masih panas teramat panas sampai aku membuka baju luaran ku dan menyisakan sebuah tank top dress berwarna putih, atau mungkin karena lampunya masih menyala? karena biasanya aku selalu mematikan lampu-lampu, baru aku bisa tertidur tanpa ada pencahayaan sedikit pun.


Aku hendak ingin mematikan lampu yang begitu terang benderang, menyilaukan mata, tetapi aku tidak tahu yang mana saklar lampu utamanya, alhasil ku coba satu persatu, yang ini bukan, yang itu juga bukan, aku berjalan memasuki sebuah ruangan yang ternyata itu merupakan walk in closet.


Waw... aku benar-benar tidak menyangka, bahwa kamar yang terlihat tidak begitu luas terdapat sebuah walk in closet, yang begitu menawan.



Aku baru saja ingin kembali keluar, tapi tiba-tiba saja Junot keluar dari toilet hanya dengan mengenakan handuk dari pinggang sampai atas lutut.

__ADS_1


"Kamu ngapain kesini, mau ngintip?"


Next?


__ADS_2