Aksa

Aksa
part 40


__ADS_3

Aku pria normal, yang jika di hadapkan dengan wanita cantik dan pintar, rasanya tidak ada alasan untukku menolaknya dan semua kriteria itu ada apa Nareta.


Iyah, kapan dan dimana saja hal itu bisa terjadi, maka sebisa mungkin aku berusaha menjaga jarak darinya, alasannya hanya satu, aku tidak ingin menyentuhnya hanya karena nafsu.


Meskipun menurut agama kita sudah sah, aku bisa saja menggaulinya, tapi aku meragukan diriku sendiri, bisakah aku bertahan dengan Nareta? bisakah aku mempercayainya dan memberikan seluruh hidupku padanya? Heh, permasalahannya bukan ada pada Nareta melainkan ada padaku.


Satu minggu ini semua kewajiban yang sudah seharusnya menjadi tugas istri sudah Nareta kerjakan dengan sempurna, sedikitpun tidak ada celah untukku marah.


Selain cantik, pintar, dia juga pandai memasak, mengurus ini itu segala macam keperluan ku, dengan sabar tanpa pernah sedikitpun ia mengeluh, aku semakin penasaran hatinya terbuat dari apa?


Sepulang mengantar ibu dan bapak ke bandara tinggallah aku, Nareta dan Nadim yang kini menjadi adik ipar ku, seperti yang pernah ku bilang, aku tidak bisa terlalu lama hanya berduaan saja dengan Nareta maka ku putuskan mencari alasan untuk pergi.


"Aku masih ada meeting, aku langsung pergi lagi ke kantor yah?". Ucapku pada Nareta yang baru saja menaruh gelas berisi orange jus, sementara Nadim sudah masuk ke kamarnya.


"Hah? emangnya belum beres?".


"Yah belum, masih banyak banget hal yang harus aku kerjain, kenapa? gak percaya".


"Hah? siapa bilang? aku percaya kok, cuma aku heran aja kenapa kamu gak bilang dari tadi, kalau tahu gitukan aku dan Nadim bisa pulang pakai taxi online, biar kamu gak lelah".


"Hah? it's okay"


"Heh, kamu gak mau makan siang dulu?". Wajahnya kembali berseri


"Gak akan keburu, nanti aja di kantor". Dan saat mendengar jawabanku wajahnya menjadi sendu.


"Oh, yasudah kalau gitu, hati-hati di jalannya jangan ngebut".


Lagi dan lagi aku harus berbohong, sebenarnya sedari tadi pagi aku tidak pernah pergi ke kantor tapi ke sebuah apartemen temanku, di sana sudah ada teman-teman terbaikku ada Zain, Akram dan Bagaskara tapi sejauh ini mereka belum tahu bahwa aku telah menikah.


Kalian pikir hanya kaum wanita saja yang suka curhat? tentu saja tidak, kami kaum pria punya cara tersendiri untuk curhat salah satunya adalah makan snack sembari bermain PS.


Kita sudah seperti saudara kandung kembar empat, bagaimana tidak, kita berkawan sejak TK satu sama lain punya kekurangan dan kelebihan tersendiri dan kita semua ada untuk saling melengkapi, akan tetapi satu hal yang menjadi kerugian dari persahabatan ini, sehebat apa pun kita merahasiakan sesuatu salah satu dari mereka pasti tahu, nyaris tidak ada rahasia/privasi di antara kita.


"Cari makanan dari negara sebelah Pak?". Ledek Bagaskara saat aku tiba di apartemen.


"Maklum CEO muda pastinya banyak urusan". Ledek Zain.

__ADS_1


"Hus, lu pada kenapa sih?". Ucap Akram.


"Yah cuma tinggal kita berdua yang gak sibuk, Akram jelas ngebela Junot mereka satu frekuensi". Celetuk Zain.


Zain merupakan seorang Model blasteran Indonesia - India selain wajahnya yang menawan kelebihannya adalah menaklukan hati wanita, yah karena dia terkenal badboy tapi dia selalu menjadi garuda terdepan untuk urusan apapun menyangkut salah satu dari kita, orang tuanya tinggal di India sementara itu sejak kecil Zain di rawat oleh Neneknya.


"Enak aja, gua juga sibuk kali". Protes Bagaskara.


"Hah? gak salah denger nih gue?". Jawab Zain.


Bagaskara baru saja merintis karir sebagai selebgram dan Youtuber yang ia yakini untuk lima tahun ke depan hal itu bisa menjadi sebuah profesi yang akan sangat di minati. Asli Indonesia, orang tuanya merupakan seorang pengajar tapi anaknya tumbuh menjadi anak kurang ajar, haha... tidak-tidak itu hanya joke kita bertiga, yah meskipun dia tampan dan banyak di sukai oleh kaum hawa, tapi dia amat sangat pemilih yah sampai saat ini dia masih setia sendiri.


"Sorry bro, bukan maksud gua kek gitu, tapi...". Ucap Akram.


"Iyah-iya kita ngerti kok, gak perlu lu jelasin". Potong Zain.


Akram di antara yang lain mungkin Akram lah yang paling mengerti akan gua, kita tumbuh dari keluarga pebisnis dan orang tua kita menginginkan anaknya menjadi penerus dari bisnis itu. Akram juga merupakan blasteran, Indonesia - Thailand, selain dia memang smart dan rupawan dia orang yang paling berpengaruh dalam setiap langkah besar yang pernah gua ambil, salah satunya Akram lah yang mengenalkan Aqila ke gua, karena Aqila merupakan keponakan dari pacarnya.


"Makanan buat lu pada, gua mau numpang tidur please jangan berisik!". Ucapku.


"Ada yang bisa gua bantu?". Tutur Akram di belakangku.


"Hm, untuk sekarang gua rasa belum ada". Jawabku.


"Tentang Aqila? yang gak bisa balik Jakarta". Ucap Akram.


"Hm? kayanya lu tahu banget tentang Aqila ketimbang gua?!".


"Hah? ya Aqila sempet cerita sama gua kalau dia ngambil banyak kegiatan di semester awalnya, jadi kemungkinan besar gak bisa balik".


"Ohh... well".


"Jadi ini bukan tentang Aqila? lalu tentang apa?"


"Gua pasti bakal ceritain semuanya, tapi gak sekarang!"


"Oke, gua bisa nunggu, kapan pun lu mau cerita gua pasti bakalan ada saat itu juga".

__ADS_1


"Thanks".


Gua baru aja selesai sholat Isya di kamar, suara panggilan dari handphone ku yang tertinggal di ruang tamu sedari tadi terus berbunyi, ia kita tidak punya privasi mereka bertiga tahu pola/password handphone gua, karena kita berempat sudah sangat dekat maka kita tidak sungkan untuk mengangkat panggilan dari handphone orang lain.


"Halo?".


"Ya?"


"Maaf, ini benar handphone Junot kan?".


"Iyah, ada yang bisa di bantu? pemilik handphone ini lagi sholat". Aku benar-benar terkejut saat mendapati Bagaskara mengangkat panggilan itu, dengan cepat aku segera mengambil alih handphone itu dan pergi ke balkon.


"Halo? ada apa?".


"Um, udah pukul 20:40 kamu masih di kantor?". Tanya Nareta hati-hati.


"Iyah, kayanya aku gak bisa pulang, aku mau lembur gak apa-apakan?"


"Hah? kamu ngerjain apa sih sebenernya? sampai gak bisa pulang".


"Yah kerjaan kantor, kamu pikir ...".


"Oke-oke, aku akan berusaha untuk ngerti dan percaya, kamu jangan lupa makan yah?!"


"Hem". Aku yang kesal segera mematikan panggilan.


"Siapa Nareta?". Tanya Bagaskara mengejutkanku.


"Hah? Ah... itu"


"cuma kenalan baru dari aplikasi". Jawabku berbohong, lagi.


"Ohoho, gua ngerti kalau lu kesepian bro, tapi gak gini caranya, selingkuh dari Aqila wanita yang nyaris sempurna".


"Siapa yang selingkuh?". Tanya Zain yang kebetulan baru saja keluar dari toilet dan mungkin tak sengaja mendengar percakapan kita.


Next?

__ADS_1


__ADS_2