
"Ingat, nanti di luar kalau ketemu Mamah, Peluk seperti ini juga yah?!". Ucap Ayah tepat di telingaku, yang kemudian, ku angguki.
***
Dari balik pintu kulihat tubuhnya tengah bersandar di dinding rumah sakit, kedua matanya tengah terpejam, kulihat tadi saat datang matanya terlihat sembab, entah seberapa lama ia menangis. Kuperhatikan tindak tanduknya, "Manis". Tak heran jika pada akhirnya Ayah jatuh hati pada Mamah.
"Oma, Opa duluan ke mobil yah?! Aksa mau ngobrol sama Mamah". Ucapku.
"Hm?". Ucap Oma terlihat terkejut kemudian menatap Opa, Kulihat Opa menganggukkan kepalanya.
"Baik, Oma sama Opa tunggu di mobil yah?!". Ucap Oma. Setelah mendapati persetujuan dari Oma dan Opa kuberanikan diri berjalan menghampiri Mamah.
Dengkuran halus kini tengah ku dengar, Aku sempat terperanjat dengan pergerakan tubuhnya yang malah membelakangiku.
Entah kenapa seketika senyum terbit dari bibirku. "Heh... menggemaskan". Kuberanikan diri untuk lebih mendekatinya.
Kulihat raut wajahnya yang cantik, dan entah kenapa, buatku wajahnya selalu mempesona dalam keadaan sesulit apapun. Terdengar lebay memang, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Mamahku sebegitu cantiknya.
Tak heran jika banyak pria yang menggandrunginya. Ibarat Gula yang terbuka, tak mungkin seekor semut tidak mendekatinya, bukan?
Bahkan di saat ini, ia tidak memakai riasan apapun, wajahnya alami tidak memakai polesan bedak atau krim apapun, Aku jamin 100% yah karena mana mungkin Mamah memakan make-up di saat kondisi genting seperti ini.
Pikiran dan tubuhnya pasti sudah terlalu lelah, tubuhnya yang ringkih pasti butuh sandaran yang tepat, tanpa akhinya menimbulkan masalah baru.
Aku?! Tenang aku akan ada untukmu Mah.
Aku duduk perlahan di samping kursi yang tengah Mamah duduki. Entah bisikan apa, yang pasti aku merasa aku seakan terlalu berani.
Kupeluk tubuhnya yang ringkih, seketika ia terperanjat, segera ingin menyingkirkan tangan yang tengah melingkar di perutnya, namun setelah ia sadar bahwa yang melingkar adalah tangan mungilku ini, seketika kudengar isak tangisnya kembali pecah.
"Mom, it's okay". Kulihat ia tengah menahan diri untuk tidak menangis, atau sekedar ingin menangis tetapi berusaha agar tidak menimbulkan suara.
"Aksa kok ada disini?". Ucapnya parau, kemudian memegangi tanganku yang melingkar di perutnya.
"Hm, I Miss You". Ucapku lirih.
"Heh? i miss you too". Jawabnya sembari mencium tangan ku bergantian, kemudian berbalik badan menghadap kearahku.
Ku usap air matanya, dan kembali ku peluk, kemudian ku tepuk bahu sebelah kananku, mengisyaratkan untuk menyandarkan kepalanya di bahu kecilku.
"It's okay Mom".
__ADS_1
"Kenapa kamu sedewasa ini sayang?". Ucapnya, kurasa air mata kembali berderai.
"Mm, mungkin karena aku anaknya Mamah". Ucapku apa adanya, dan berharap bisa sedikit menghibur hatinya.
"Heh... aduh Mamah jadi malu deh".
"Enggak usah malu, sama Aksa kok malu sih?".
"Mah, kalau Mamah butuh pundak untuk bersandar, jangan sungkan minta Aksa untuk datang?!".
"Hm, Iyah". Hening... beberapa detik suasana terasa benar-benar sunyi, karena mungkin ini terlalu pagi, tidak banyak orang berlalu lalang, kunikmati hangatnya nafas Mamah yang menerpa leherku.
Detik berikutnya suara yang terdengar lebih tenang berusaha mencairkan suasana yang terjadi saat ini.
"Persiapan kamu udah berapa persen sayang? kalau kamu butuh apa-apa, jangan ragu untuk minta bantuan Mamah?!". Ucapnya kini sembari menghapus air matanya.
"Hm 70 atau 80%". Ucapku dengan ragu. Karena sebenarnya persiapan ku sudah 99%. 1% yang belum dapat aku penuhi adalah keraguan untuk meninggalkan Mamah. Keraguan itu terus menerus menjadi-jadi, di tambah lagi dengan kejadian ini, yang tadinya cuma 1% kini menjadi 100%.
"Maaf yah". Ucapnya sendu.
"Heh? kenapa?... kenapa minta maaf?". Tanyaku heran, kearah mana maksud perbincangkan ini.
"Karena Mamah udah bikin kamu malu". Ucapnya kembali berkaca-kaca, Kemudian menundukkan wajahnya yang ayu.
"Aksa gak pernah sedikitpun merasa malu!".
"Enggak pernah". Ucapku lagi penuh penekanan, namun masih dengan intonasi lembut.
"Hm, Makasih yah?!".
"Heh? Makasih untuk apa?". Ucapku dengan senyuman yang mengartikan tidak perlu berucap terima kadih Mah.
"Karena Aksa gak pernah merasa malu punya Mamah, kaya Mamah".
"Emm, Mamah gak perlu minta maaf ataupun bilang makasih". Ucapku sembari mengelus-elus punggung tangannya.
"Hemm... kamu dewasa tidak pada waktunya". Ucapnya lirih, namun terlihat ada senyuman disana.
"Hem... enggak apa dong?".
"Heh? Iyah gak apa-apa, cuma... beban kamu pasti berat banget yah?". Tanyanya sembari menatapku kembali sendu.
"Heh? enggak juga... Aksa cuma mau ngertiin Mamah, apa itu salah?". Ucapku dengan santai.
__ADS_1
"Hem... anak lain seusia kamu... sekarang lagi asik main, lagi... fokus untuk belajar aja, tapi kamu... terpaksa harus ngertiin Mamah nya, selalu ada untuk menghibur Mamah, dan buat Mamah... itu semua luar biasa".
"Mamah bersyukur banget punya anak seperti kamu, Mamah...".
"Stop". Ucapku sembari Jari-jemariku menyentuh mulut Mamah, agar tidak berucap apapun lagi.
"Aksa yang seharusnya bilang makasih sama Mamah, udah mengandung, melahirkan dan merawat Aksa, tanpa Mamah mungkin Aksa gak akan pernah ada di dunia ini". Ucapnya dengan sorot mata tajam, namun suaranya terdengar lemah lembut.
***
Sedewasa itulah Aksa, ia mampu membuat luka sembuh dalam seketika, tidak perlu banyak berkata, cukup ada di saat kita sedang terluka, itu sudah membuktikan betapa dewasanya ia. Tapi... saat ini, setiap kata yang keluar dari mulut dan pikiran seorang anak lelaki berusia tujuh tahun, buatku itu sungguh sangat luar biasa.
Semenjak hari itu semuanya berubah, Aku dan Aksa semakin dekat tidak ada jarak. Meskipun... dengan Junot, aku masih belum bisa seutuhnya berdamai. Luka di masa lalu, benar-benar sulit untuk aku obati. Beruntungnya Junot mengerti atas keputusanku, tidak lagi bersama bukan berarti aku tidak peduli atau tidak lagi cinta.
Bukankah aku pernah berkata, cintaku utuh masih di milikinya, bedanya... kini kita tidak lagi tinggal serumah, tidak bisa 24jam sama-sama. Tapi ku jamin... Doa serta cintaku akan selalu ada dalam setiap hembusan nafasnya.
Apa itu tidaklah cukup?
***
Sementara perkara aku dan Ayden, aku tidak ingin ada pertikaian apapun itu bentuknya, fisik, ataupun peradilan. Jika Tuhan bisa memaafkan setiap kesalan hambanya, kenapa tidak dengan kita? yang derajatnya hanya seorang hamba? tidak lebih baik dan tidak lebih berkuasa.
Aku tahu... aku memang tidak lebih baik dan lebih suci, tapi... tidak bisakah kita memaafkannya saja? Aku hanya tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang sama, dan pertikaian yang tidak akan pernah selesai dan mendapatkan apa-apa.
Toh... Ayden sudah mengakui kesalahannya, sudah menyesalinya dan meminta maaf,
secara langsung kepadaku, pada Bapak dan Ibuku, Junot, serta Aksa dan tak lupa kepada keluarga dari mantan suamiku.
Kulihat ucapan maafnya benar-benar tulus, bukan meminta maaf karena tidak ingin masalah ini di tindak lanjuti ke ranah hukum.
Lagi pula, sekali seseorang berbuat salah dan khilaf itu wajar bukan, toh itu kodrat kita sebagai seorang manusia, membuat kesalahan. Yang tidak boleh itu berulang-ulang membuat kesalahan yang sama.
Tapi memang benar karena kejadian itu aku memutuskan untuk berhenti dari kantor Ayden. Benar aku menjaga jarak dengannya dan benar aku tidak mempunyai alasan apapun lagi untuk bertemu dengannya.
Tapi aku tidak ingin memutuskan silaturahmi, akan tetapi bersilaturahmi banyak caranya, tidak harus bertatap muka.
***
Satu Minggu setelah kejadian ini, aku dan Aksa benar-benar intens melakukan banyak hal hanya berdua, aku semakin tahu bahwa Aksa benar-benar copy paste Junot. Bedanya Aksa lebih sweet sementara Junot versi cuek dan kakunya.
Jika begini aku semakin berat melepaskan Aksa untuk pergi... tapi itu untuk kebaikannya. Maka mau tidak mau aku harus rela melepaskannya. Aku hanya bisa mendoakan dan mendukung setiap langkah yang ingin ia lalui, itu sudah menjadi hal mutlak yang bisa seorang Ibu lakukan bukan?
Next?
__ADS_1