
Jangan di tanya bagaimana perasaanku. Hati ku sakit, benar-benar sakit. Harus banget yah senyum kepada Tania di depan ku? Inginnya berkata demikian, tapi nyali ku menciut hanya dengan melihat tatapan matanya.
Jelas aku cemburu, tapi bukan lagi hak ku. Tapi rasa sakit ini nyata dan tidak dapat aku pungkiri. Sama seperti saat ini, kamu menatap ku dengan dingin dan meninggalkan ku tanpa sepatah kata.
Tentu saja, aku berharap ini mimpi. Mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi, tapi lagi-lagi ini nyata.
"Permisi Mbak :)". Ucap Tania mengekor di belakang Mas Ayden.
"Tania, kalian mau kemana?". Tanya ku, sementara itu Mas Ayden sudah lebih dulu berjalan tanpa tahu bahwa aku tengah memberhentikan Tania.
"Hm, Pak Ayden memita saya untuk menggantikan tugas mbak Nareta"
"Apa?". Aku terkejut atas apa yang baru saja di tuturkan oleh Tania. Sebenci itukah kamu pada ku Mas? sehingga tak ingin berdekatan dengan ku.
"Oh, okey. Hati-hati :)". Pikiranku kembali kacau, apa mungkin, kali ini hubungan ku dengan Mas Ayden benar-benar akan berakhir. Tidak ada lagi ikatan apapun yang melebihi dari ikatan karyawan dan Bos nya.
***
Semua kejadian pagi ini menggagu pikiranku, belum lagi dengan ke datangan Bapak dan Ibu. Kenapa semua masalah terjadi dalam waktu yang bersamaan? aku cuma satu! dan tak mungkin dapat menyelesaikan semua masalah secepat itu.
Jika terus menerus di pikirkan rasa nya kepala ku ingin meledak. Beruntung nya dulu Bapak selalu mengingatkan akan lima hal yang harus di lakukan saat kita merasa stres menurut Islam, diantara nya :
Satu, sholat. Dua, berdzikir. Tiga, berdoa. Jika di pikirkan dengan logika memang tidak ada gunanya juga mengeluh apalagi marah-marah. Dan terbukti dengan melakukan tiga hal itu, tiba-tiba saja pikiran ku kini jauh lebih tenang.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 13:30 WIB. Aku penasaran dengan keadaan Bapak dan Ibu, kira-kira sudah sampai di mana sekarang? bertanya pada diri sendiri jelas-jelas tidak akan pernah ada jawaban, lebih baik aku bertanya langsung kepada Ibu atau Bapak.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bu sudah sampai di mana ?". Tidak lama kemudian centang dua pesan ku berubah warna menjadi biru.
"Waalaikum'salam, Ibu dan Bapak sudah sampai di Rumah Sakit, tadi Junot yang jemput". Ahh, sudah ku duga ini semua pasti ada hubungan nya dengan perjodohan itu.
"Alhamdulillah, kalau gitu nanti sepulang kerja Nana ke RS jemput Ibu dan Bapak yh!". Ibu hanya melihat pesan ku tanpa membalas.
***
Jujur saja aku memang lebih dekat dengan Bapak di bandingkan dengan Ibu, meskipun sikap Bapak yang keras dan diktator, tapi buat ku Bapak orang yang paling mengerti akan aku. Sementara Ibu lebih dekat dengan Nadim adik laki-laki ku yang saat ini masih kuliah.
Kata orang sih memang begitu, anak perempuan akan lebih dekat dengan Bapak nya dan sebalik nya anak laki-laki akan lebih dekat dengan Ibu nya. Apa kalian juga merasakan hal yang sama ?
***
Meskipun pagi tadi di awali dengan kesan yang tidak begitu menyenangkan, tapi aku cukup berhasil melewati nya. Sebab seharian ini ke khawatiran di hati ku akan Mas Ayden tidak dapat aku elakkan. Akan tetapi aku masih harus menjalankan apa yang menjadi tugas ku sampai jam kantor selesai. Jangan dikira apa yang aku jalani itu mudah.
Iyah aku memang harus banyak-banyak mengalah, mengenyampingkan semua hal mengenai diri ku sendiri, semua ini aku lakukan demi Mas Ayden. Demi perusahaan yang ia kelola agar tidak mengalami masalah.
Pukul 17:00 WIB. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan semua tugas ku hingga tuntas. Aku memutuskan untuk segera pulang, maksudku menjemput Ibu dan Bapak.
Aku sedang menunggu pintu lift itu terbuka, dan saat pintu lift itu terbuka orang pertama yang kulihat adalah Mas Ayden dengan wanita yang berdiri satu langkah di belakang nya, siapa lagi kalau bukan Tania, kedua nya terlihat serasi dengan warna outfit yang sama, entah itu di sengaja atau hanya kebetulan, yang pasti hal itu berhasil membuat aku iri.
Bagaiman tidak, selama tiga tahun aku menjadi sekretaris nya Mas Ayden, aku tidak pernah merasa bahwa aku ini wanita special.
Apalagi untuk orang awam, mereka selalu beranggapan bahwa aku ini bukanlah sekretaris dari Mas Ayden, mereka selalu memperlakukan ku dengan kurang baik.
Tapi rasa nya Tania tidak akan pernah mengalami kesulitan yang sama seperti yang aku alami, beruntung nya dia.
__ADS_1
Dengan berat hati aku berusaha tersenyum pada Mas Ayden dan Tania, menunggu kedua nya keluar dari dalam lift dan tidak ingin ku pungkiri, ada secercah harapan bahwa Mas Ayden akan menegur ku.
Akan tetapi harapan itu pudar, saat aku mendengar suara khas tenor yang di miliki Mas Ayden berkata "Mau pulang?". Dengan cepat aku segera berbalik badan.
Beruntung nya aku tidak secepat itu untuk menjawab, jika lebih cepat satu menit saja aku akan menanggung malu setengah mati dan tidak akan pernah berani lagi menatap wajah Mas Ayden ataupun Tania.
Heh, apa yang kamu harapkan sih Na? jelas-jelas Mas Ayden sedang berjalan bersampingan dengan wanita cantik bernama Tania.
Sekuat tenaga aku menahan, kumohon jangan menangis sekarang! aku yakin kamu bisa, kutarik nafas dalam-dalam dan menatap langit-langit lift, kemudian aku berharap di lobi nanti tidak begitu banyak orang.
Aku sampai di lobi dan kembali di hadapkan dengan pria yang tidak asing lagi di mata ku, siapa lagi jika bukan Junot dan wanita-wanita yang seketika menjadi fans nya. Junot melihat keberadaan ku dan berjalan dengan cepat menghampiri.
***
"Hm, aku kan sudah bilang tidak usah jemput". Aku tahu, tidak seharusnya aku marah pada Junot, tapi karena kesal melihat momen tadi mungkin kini aku tengah melampiaskan amarahku pada nya.
"Ah, bukan ingin ku juga menjemput mu, tapi... keharusan!". Aku tidak begitu menghiraukan apa yang baru saja di ucapkan nya, begitu pun saat dia ingin mengambil alih tas leptopku, ku berikan dengan suka rela. Andai saja Mas Ayden yang memperlakukan ku seperti ini, ku pastikan kini aku sudah terbang.
Tidak ingin banyak berdebat maka aku turuti semua perintah nya, bukan apa-apa aku hanya tidak ingin membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak penting.
***
"Gimana tadi di kantor lancar?". Junot bertanya yang ku jawab dengan singkat dan cuek.
"Lancar!". Dia menatap ku sejenak, seperti nya dia tahu, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Dia tidak bertanya apapun lagi, hingga satu jam kemudian kita sampai di rumah sakit. Waktu berlalu dengan cepat, tidak begitu terasa. Karena di sepanjang perjalanan tadi aku menutup mata dan tertidur.
__ADS_1
Aku segera turun dari mobil berjalan memasuki koridor-koridor Rumah Sakit yang sangat bersih dengan cat tembok berwarna putih layak nya rumah sakit pada umum nya. Kita sampai di depan ruangan bunda, sebelum memasuki ruangan itu ku sempatkan untuk menarik nafas dalam-dalam, sebab aku merasa ini kesempatan terakhir untuk ku menghirup udara segar.
Next ?