Aksa

Aksa
part 77


__ADS_3

Seperti apa yang aku katakan kemarin kepada Ibu dan Bapak, mulai hari ini aku kembali bekerja.


Tidak ada yang membuat aku bersemangat, kecuali satu hal, aku tidak ingin kalah dengan dunia yang kejam ini, dan ... aku ingin melihat Aksa tumbuh menjadi seorang remaja, dewasa dan orang tua, salahkah dengan keinginan ku itu?


Pukul 08:00 tepat aku sampai di kantor, Oh... ayolah jangan menatapku dengan begitu... apa salahku jika kini aku berstatus Janda? apa ini mauku? tentu saja tidak.


Hah... mulai hari ini, aku akan di pandang rendah oleh kaum ku sendiri "wanita", meskipun aku tidak berbuat salah maka akan ada saja omongan yang tidak mengenakan, itu sudah pasti, heh...karena sangat jelas terlihat.


"Nareta? Aaa ... kangen". Ucap Lisda tanpa perduli dengan tatapan wanita lain.


Iyah, mungkin hanya Lisda yang tidak berubah dari tempat ini, dia tetap baik dan tetap berada di pihakku, Iyah... hanya dia yang menyambut kedatanganku.


"Are you okay?". Tanya Lisda padaku.


"Hm? Ah.. i'm okay". dan... yah hanya dia yang peduli dengan keadaanku.


"Udah gak usah di tanggepin". Ucap lagi Lisda saat melihat orang-orang tengah berbisik-bisik.


"Hm..". Aku dan Lisda segera naik lift khusus untuk karyawan. Iyah, aku dan Lisda kini berada di jajaran yang sama, aku tidak lagi menjadi sekretaris Ayden, posisiku telah di gantikan oleh Tania setelah aku resign karena hamil.


Kini aku hanyalah karyawan biasa yang mungkin akan sering di gosipkan karena masa lalu ku bersama Ayden, Ahh... atau karena sikap Ayden akhir-akhir ini yang terkesan berbeda terhadapku.


Hah... beredar rumor bahwa aku selingkuh dengan Ayden, maka dari itu Junot menggugat aku untuk bercerai, dan karena banyak orang yang tidak tahu bahwa aku dulu memiliki hubungi dengan Ayden, maka orang-orang beranggapan akulah yang menggoda Ayden.


Jujur saja inilah yang aku khawatirkan, maka aku sempat menolak tawaran Ayden untuk kembali bekerja di kantor ini, dan... ke khawatiranku kembali terjadi.


"Na, Lo bisa banget cerita apapun ke gua?!". Tawar Lisda.


"Heh? gak ada yang mau gua ceritain kok, gua baik-baik aja".


"Iyah, tapi gua ada".


"Heh? yaudah mau cerita apa?".


"Heh... kejadian nya udah cukup lama sih cuma karena lu sibuk, gua jadi mengurungkan untuk cerita".


"Haha... oke sekarang gua gak sibuk, jd kapanpun mau cerita yah cerita aja". Kataku


"Yakin? gua tahu lu lagi sedih gak apa-apa gua cerita?". Tanyanya lagi meyakinkan.


"Yakinlah, yah... anggap aja lu lagi ngehibur gua yang lagi sedih ini". Ucapku


"Mmmm.. thanks you".


"Iyah, jadi mau cerita apa?".

__ADS_1


"Hm, gua bingung mesti cerita mulai dari mana?". Ucapnya sembari berpikir.


"Dari awal?!". Jawabku tanpa ragu.


"Heh, gak akan cukup, butuh sebulan kali buat gua ceritain semuanya kalau dari awal dengan rinci".


"Iyah, gak apa-apa gua luang kok".


"Heh? serius Lo mau dengerin cerita gua? semuanya?"


"Iyahhh".


"Hm, yaudah deh, tapi gak sekarang sepulang kerja aja yah?".


"Hm okey".


"Heh, mungkin cuma gua yang senang, kalau lo balik lagi kerja, hehe sorry yah".


"Hm, iyah gua ngerti kok, mungkin lu seneng karena sekarang lu punya temen untuk cerita, tapi enggak berarti lu seneng atas apa yang terjadi ke gua kan?".


"Yes, Ahhh... Nareta emang paling the best, hehe". Ucapnya sembari berlari kecil menghampiriku, kemudian segera memelukku.


Iyah kehadiran Lisda sedikit membuat aku tertawa dan melupakan luka untuk sementara.


Aku dan Lisda sedang asik tertawa, hingga akhinya seseorang datang dan memberhentikan tawa kita, kita sama-sama terkejut sebab orang itu amat sangat tidak kita harapkan ke hadirannya.


"Pagi". Jawabku singkat dan beberapa orang lainnya.


"Pagi Pak". Jawab Lisda ceria.


"Tumben Pak kesini? ada apa?".


"Heh? ini kantor saya, harus yah saya minta izin kamu kalau mau kesini?". Jawabnya sedikit angkuh namun tetapi tersenyum tak lepas dari bibirnya.


"Hehe,... Iyah juga sih Pak, Maaf". Ucap Lisda kemudian menundukkan kepalanya.


"It's okay, Saya cuma mau mastiin aja kalau hari ini kamu masuk kerja". Ucapnya sembari menatapku.


"Heh? Mmm...". Jawabku sembari mengangguk.


"Kalau gitu saya pergi dulu, selamat bekerja". Ucapnya lagi dengan gigi putih yang terus-menerus ia pamerkan, maksudku senyuman yang memperlihatkan giginya tapi tatapannya hanya tertuju kepadaku.


Iyah, bagaimana orang-orang tidak salah sangka atau berasumsi begitu, jika melihat tingkah laku Ayden yang berlebihan dan seperti mensepesialkan aku, Maka setiap orang pun akan berpikiran begitu bukan? aku dan Ayden ada hubungan, dan itu bukan salah pikiran mereka.


"Hem, siap Pak". Jawab Lisda

__ADS_1


"Baik Pak". Ucapku dan yang lainnya.


Dalam ruangan ini tidak hanya ada aku dan Lisda tetapi terdapat enam orang, dan kalian tahu tempatku termasuk tempat yang paling bagus di antara karyawan Ayden yang lainnya, dengan pemandangan yang memperlihatkan keramaian Ibu Kota maka tak heran orang-orang selain Lisda membenci keberadaan ku.



"Ehem, fokus banget ngerjain apa sih?". Tanya Lisda.


"Heh? yah nih gua lagi baca salinan proposal pengajuan pengiriman produk makanan".


"Hem, stop dulu, udah siang nih kita makan siang dulu yuk? gua udah laper nih". Ucap Lisda sembari mengambil buku yang tengah aku baca.


"Heh? udah waktunya jam makan siang yah?".


"Hm... makanya sesekali lu lihat terik matahari dari jendela yang Pak Ayden siapin buat lu".


"Heh,... apaan sih, yaudah yuk kita ke kantin". Ucapku untuk menghentikan ocehan aneh-aneh Lisda.


"Let's go". Ucapnya antusias.


Mungkin dengan menyibukkan diri seperti ini, aku bisa bertahan untuk tidak memikirkan terus Aksa.


Ayolah Nareta, Aksa pasti baik-baik aja, dia berada di tangan yang tepat, tidak hanya finansial yang tercukupi tetapi apa-apa yang harus Aksa lakukan sebagai seorang anak laki-laki.


"Woy, Lo kenapa malah ngelamun?". Tanya Lisda.


"Heh, gua baik-baik aja kok, yah cuma gua gak laper jd males aja gitu".


"Hem, sabar yah gua ngerti lu pasti ke inget Aksa kan?". Tebak nya.


"Hem...". Ucapku sembari mengangguk kemudian menundukkan kepala.


"Iyah, nangis aja Na?! gak apa-apa, gak usah di tahan".


Lagi... aku tak sanggup membendung air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.


Aku kembali menangis dan setiap pasang mata pengunjung kantin, tertuju kepadaku.


Heh, aku tak peduli dengan anggapan mereka, yang pasti... saat ini, aku ingin sekali melihat Aksa, tidak apa walaupun hanya dalam bentuk foto saja.


dan tiba-tiba saja, Bagaskara dalam akun media sosialnya membagikan sebuah foto Aksa saat ini yang tengah asik makan bersama Junot di salah satu restoran ternama di Ibu Kota.


"Heh, Aksa...". Ucapku tak menghiraukan lagi orang-orang sekitar, fokus ku hanya pada satu titik, yaitu foto yang di unggah Bagaskara.


Barulah aku bisa kembali menjalani hari ini, aku segera mengambil sendok dan menghabiskan makanan yang ada di depan mataku sembari melihat foto Aksa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2