
Selesai breakfast kita semua pergi ke rumah sakit, masih dengan pakaian yang sama, hanya di tambahkan dengan cardigan putih bermotif bunga berwarna pink peach Nareta duduk di sebelahku.
penghulu menuntunku untuk beristigfar sebanyak tiga kali, serta melafalkan kalimat syahadat dan untuk pertama kalinya aku menjabat tangan bapak dengan rasa yang berbeda, entah kenapa tiba-tiba saja degup jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya, saat aku menelaah bapak mengucapkan kalimat Ijab qobul sebagai tugas terakhirnya yaitu menikahkan putrinya Nareta kepadaku.
"Saya nikahkan engkau ananda Junot Abraham dengan anak saya Nareta Subagja dengan mas kawin cincin berlian sebesar tiga karat dibayar tunai."
Kalimat itu terdengar sederhana namun memiliki makna yang luar biasa, yang terdengar di pendengaranku seperti "Junot saya percayakan kamu untuk menjaga putriku, lahir maupun batin, jangan engkau sakiti terutama hatinya". Ucap bapak tegas dan berwibawa namun berhasil membuat bapak berkaca-kaca. Dan setelah itu giliran ku untuk menerima atau menjawab dengan mengucapkan kalimat sakral itu juga.
"Saya terima nikahnya Nareta Subagja binti Subagja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
penghulu menanyakan kepada para saksi, apakah pernikahan ini sah? dan para saksi serentak mengucapkan kalimat "sah".
Benarkah kini aku dan Nareta telah menjadi suami istri? rasanya masih tak dapat dipercaya, ini semua terasa mimpi mungkin karena terjadi terlalu tiba-tiba.
***
Tidak ada gaun pengantin hanya pakaian santai, tidak ada acara adat istiadat hanya sebuah ikrar singkat ijab qobul yang sakral, namun mengharukan.
Meskipun kalimat itu terkesan sederhana tapi makna dari kalimat itu sungguh luar biasa, bisa menyatukan dua manusia bahkan dua keluarga tanpa ikatan darah atau apapun, menjadi satu.
Kalimat yang di ucapkan oleh Junot terdengar seperti "Saya akan menanggung segala dosa yang di perbuat oleh Nareta yang sebelumnya merupakan tugas dan tanggung jawab bapak, kini berpindah menjadi tugasku. Belum cukup disitu, memberi nafkah, membimbing agama, memanjakannya, menjaganya baik di dunia maupun akhirat dan menjadi pelindung utama baginya kini berpindah pula menjadi tanggung jawabku". Aku sungguh merinding mendengar kalimat singkat nan sakral itu, terucap dengan tegas tanpa terburu-buru dalam satu kali tarikan nafas tanpa pengulangan, hingga para saksi mengucapkan kalimat sah, serta setelahnya Pak Dewo membacakan doa.
Selain tidak adanya orang-orang yang kita undang, maka hal terberat buatku adalah tidak adanya buku nikah, karena itu aku sempat menolak tapi sekali lagi ini demi bunda, maka pada akhirnya kini aku telah resmi secara agama menjadi istri dari Junot dan menantu dari bunda.
__ADS_1
Setelah pembacaan doa selesai, Junot menyematkan cincin berlian itu di jari manis ku, dan untuk pertama kalinya aku mencium telapak tangan Junot, dan kita silih berganti sungkeman kepada kedua belah pihak keluarga.
Satu-satu memberikan wejangan kepada kita selayaknya ibu dan bapak kepada anaknya, begitupun mertua kepada menantunya.
Tak lupa untuk mengabadikan momen ini mas Marsel merecord semua prosesi yang terjadi dari awal hingga akhir dan juga membuat sesi foto.
Meskipun begitu ayah dan bunda menjanjikan akan membuat pernikahan ini secara hukum dengan meriah tapi yah menunggu waktu yang tepat, entah kapan tapi aku sangat yakin hari itu pasti akan terjadi.
Iyah, meskipun pernikahan ini jauh dari ekspektasi, dan hal-hal yang menyenangkan tetapi aku sudah resmi menjadi istri dari Junot dan mulai sekarang apa-apa yang dibutuhkan Junot lahir maupun batin sudah menjadi tugasku, begitupun sebaliknya.
20:00 WIB. Kita berdua sedang di dalam kamar, sebelum pada akhirnya bunda akan di bawa ke ruang operasi, bunda memberikan sebuah pesan untukku katanya. Aku adalah menantu yang bunda ridhoi untuk menjaga anak lelakinya, dan sebenarnya Junot itu memiliki sifat pemalu dan kaku untuk mengungkapkan rasa sayangnya, maka dari itu bunda memintaku untuk banyak-banyak bersabar, selain itu bunda memberikan aku sebuah buku kecil, seperti buku harian.
"Apa ini Bunda?". Ucapku dengan air mata yang sudah menetes entah untuk ke berapa kalinya.
"Itu untuk kamu! semua hal tentang Junot, nanti di baca yah?!" Ucap bunda dengan senyuman yang tidak pernah sekalipun pudar di bibirnya, sembari menghapus air mata yang terus menerus mengalir di pipiku. Sementara itu aku tidak bisa berucap apapun lagi, bahkan hanya untuk berucap kata "Iyah", aku hanya mampu mengangguk sebagai jawaban.
Sedari tadi ayah sudah menyuruh Junot dan aku untuk pulang, tetapi Junot maupun aku tidak mau pergi meninggalkan ayah seorang diri dan meninggalkan bunda yang sedang bertarung menjalankan operasi.
Sejak kepegian bunda pikiran dan hatiku rasanya kacau, air mataku terus menerus mengalir tanpa henti, sementara ayah terus menerus berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi, dan Junot dia tengah duduk tak jauh dariku sembari melipat kedua tangannya di atas dada sedikit menyenderkan punggungnya ke dinding dan menutup mata. Meskipun posisinya begitu tapi aku sangat yakin dia tidak sama sekali sedang tidur.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12:30 seorang suster keluar dari ruang operasi dengan terburu-buru, dan entah sejak kapan Junot sudah berdiri, dia sudah ada di hadapan suster itu.
"Apa yang terjadi?". Ucap Junot dengan panik.
__ADS_1
"Ibu anda banyak mengeluarkan darah". Tanpa menunggu apa-apa lagi suster itu segera pergi berlari menuju persediaan darah.
Aku, Junot dan ayah semakin gelisah, selang beberapa lama suster kembali datang membawa dua kantung darah. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan di dalam sana, buatku melihat jarum suntik saja rasanya sudah ngeri apalagi dengan benda tajam yang lainnya.
03:00 seorang suster kembali keluar ruang operasi.
"Apa lagi yang terjadi Sus?". Ucap ayah dengan resah. Suster itu terlihat sangat lelah, ia tidak menjawab apa-apa, hanya menggelengkan kepala dan segera berlari entah kemana. Kita semua sudah sangat pasrah, dan tak berapa lama seorang Dokter keluar.
"Dok, apa yang terjadi?". Ucap Junot.
"Kondisi Ibu sangat lemah, ia sedang bertarung melawan masa kritisnya". Kita semua terdiam tidak tahu harus berkata apa.
"Tolong bantu doa!". Kita semua mengangguk bersamaan, dan suster tadi kembali masuk dengan dua kantung darah di tangannya. Ayah sudah sangat kacau, begitupun dengan Junot.
"Jun, Na, Ayah pergi dulu, tolong jaga Bunda!".
"Iyah, Yah". Jawabku, entah akan pergi kemana yang pasti ayah sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya.
Tidak begitu lama, Junot yang menunduk menahan tangisnya bangkit.
"Aku harus susul Ayah, takut terjadi apa-apa". Junot pergi setengah berlari sembari melirik kiri-kanan ke setiap ruangan, mencari keberadaan Ayah.
***
__ADS_1
"Junot, anakku tolong jaga Nareta menantu Bunda! jangan sakiti hatinya! dia anak baik dan akan selalu begitu, dia yang akan memberikan kamu ke terunan unggul dalam berbagai hal".
Next?