Aksa

Aksa
part 87


__ADS_3


Aku di bawa ke suatu tempat yang ... bisa di katakan remang-remang, jujur saja kurang nya pencahayaan membuat aku sedikit takut, apalagi yang aku hadapi ini adalah Junot, pria hot yang seringkali membuat aku selalu ingin melakukan hal lebih dari sebuah hubungan mantan istri.


Jujur saja setelah berpisah denganku, tubuh Junot terlihat semakin berisi yang menambah kesan bahagia tersendiri, penampilannya pun terlihat lebih modis dan modern selalu tertata rapi dan juga wangi khas yang sering kali aku rindukan.


Aku duduk di bangku kosong dengan meja panjang yang tersedia, jarum jam sudah menunjukkan pukul 23:30 menit, Iyah hanya aku dan Junot yang ada di tempat ini.


orang waras mana yang masih berkeliaran di tempat sepi seperti ini? kalau bukan orang-orang yang memiliki modus dan kepentingan di luar nalar seperti aku tentunya.


Pemilik tempat ini kebetulan teman jauh Junot, yang sangat percaya kepada Junot, terbukti saat kami datang dia malah memberikan kunci tempat ini.


Atau barangkali... Junot cukup sering ketempat ini bersama wanita lain selain aku, yah entahlah... toh aku bukan siapa-siapa nya lagi.


"Jadi... apa yang mau di bicarakan?". Ucapku memulai percakapan.


"Hem? gak mau minum dulu?". Ucap Junot dengan santai sembari berjalan memasuki ruangan yang berisikan minuman-minuman.


"Emangnya kamu bisa ?". Tanyaku tapi terkesan menantang.


"Ohh... cuma buat minuman doang gampang". Ucapnya meremehkan.


"Mau apa? es coffe atau ... amiricano?". Tanyanya lagi.


"Tidak keduanya". Jawabku.


"Hah? lalu mau apa?".


"Duduk dan katakan apa yang ingin kamu katakan mengenai Aksa!". Ucapku dengan tegas.


"Hem... yasudah jika begitu". Akhirnya Junot duduk di hadapanku.


lima menit berlalu... aku benar-benar menunggu apa yang sekiranya ingin Junot katakan... tapi...


dia tidak juga mengucapkan kalimat apapun.


"Jadi?". Ucapku dengan penasaran.


"Heh?". gerak-gerik nya terlihat seperti sedang berpikir.


"Apa?". Tanyaku lagi.


"Nothing!". Ucapnya dengan senyuman kikuk.


"What?".


"Tidak ada apapun yang ingin aku katakan, apalagi mengenai Aksa. Aku hanya ingin melihat mu lebih lama dari yang seharusnya! apa itu salah?". Ucap Junot terlihat santai dan jujur.


"Hah, ayolah Mas jangan bercanda".


"Apa raut wajahku terlihat bercanda?". Kulihat wajahnya dengan tegas, 'Tidak sama sekali' batinku.



"Hm, aku rasa tidak".


"Nareta?". Ucapnya sembari menatap wajahku lekat.


"Iyah?". Ucapku singkat, seketika bulu kuduk ku terasa berdiri mendengar suara khas Tenor Junot.


"Aku rasa aku harus menyampaikan sesuatu..."


"Apa itu?". Aku kembali fokus pada apa yang sebenarnya ingin Junot katakan.


"Sesuatu yang sudah lama ingin aku sampaikan, yang membelenggu dalam pikiranku, yang belum sempat aku katakan".


"Tentang?".


"Kamu... Ahhh... bukan, tapi... mungkin tentang perasaanku terhadapmu".


"Heh?". Aku mengernyitkan dahiku, terasa aneh bagiku mendengar pernyataan Junot barusan.


"Aku mau minta maaf! atas segalanya!".


"Hah,... kirain mau ngomong apa Mas, Iyah udah aku maafin kok, aku juga minta maaf kalau ada salah!".


"Kamu seharusnya tidak mengenalku Nareta, tapi... di satu sisi aku juga sangat bersyukur telah di pertemukan dengan mu".

__ADS_1


"Hem... kamu ngomong apa sih Mas". Ku utarakan ketidak pahaman ku terhadap apa yang baru saja ia katakan.


"Heh... kenapa? aneh yah?".


"Hem".


"Aku mau buat adik Aksa tapi mau sama kamu, kira-kira kamu mau gak yah?".


"Mas? kamu ngomong apa sih?". Seketika itu juga netraku seketika melotot kepada Junot.


"Hahaha... gak mau yah?". Ucapnya dengan tawa yang terdengar di buat-buat.


"Mas, kalau emang gak ada yang mau di obrolin mengenai Aksa aku pulang yah?!". Ucapku kemudian untuk mengakhiri sesi malam yang sedikit membuat aku bingung ini.


"Yaudah aku anterin yah?!".


"Hm...". Dehemku tidak menolak.


Percakapan ini terasa anehkan? apa yang di katakan Junot barusa hanya candaankan? atau... seriously? Batinku.


Hah... gak mungkin kan? Ahh... yang benar saja. Ayolah Nareta jangan baper.


"Hey? kenapa diem aja?".


"Heh? enggak apa-apa kok".


"Pasti lagi mikirin ucapan aku tadi yah?".


"Hah? enggak!".


"Iyah juga gak apa-apa".


"Justru aku seneng kalau kamu kepikiran, apalagi kalau sampai mau mempertimbangkan apa yang tadi aku katakan". Ucapnya lagi dengan penuh harapan.


"Hah? kamu ngomong apa sih Mas". Hanya itu yang mampu aku katakan, mengenai hal aneh yang terdengar candaan di telingaku.


"Hem, maaf yah, ternyata... aku masih sama, laki-laki yang jahat dan egois".


"Kamu jauh lebih baik kok". Ucapku dengan tulus. Dan bener adanya.


"Hmm".


"Yah meskipun kamu jahat dan egois untuk aku, tapi kamu selalu menjadi Ayah yang baik, jujur, perhatian, penyayang dan juga sabar untuk Aksa dan aku ucapkan terima kasih untuk semua itu".


"Heh? masa sih aku kaya gitu?".


"Iyah". Jawabku tanpa ragu.


"Apa enggak berlebihan atau kamu nge lebih-lebihin kali, mentang-mentang di depan aku?".


"Heh... yah hanya untuk Aksa aja ! aku rasa kamu itu Ayah idaman semua anak deh, serius! beda lagi yah kalau untuk suami, kamu itu suami yang gak semua wanita inginkan". Ucapku lagi dengan jujur.


Ekspresi Junot saat di puji



ekspresi saat di jatuhkan



"Hehe..". Kekeh Nareta.


"Seneng?". Ucap Junot sinis


"Hem, tapi aku suka kamu yang apa ada nya ini kok, biarpun wanita lain melihat kamu seperti malaikat, tapi aku bisa melihat kamu seperti manusia pada umumnya, yang bisa marah, seneng, kecewa dan nangis".


"Idih, kapan aku pernah nangis?".


"Aku pernah liat kamu nangis kok!".


"kapan? dimana?".


"Pernah tiga kali kok".


"Hah? ngarang, orang aku gak pernah nangis kok".


"Pernah!".

__ADS_1


"Yah kapan?".


"Iyah bukan nangis yang keluar air mata banyak gitu sih, yah cuma berkaca-kaca gitu".


"Yang pertama saat Aksa lahir kamu Adzan dan Komat sembari gemetaran dan berkaca-kaca kan?".


Junot terdiam tidak membantah...


"Yang kedua?". Tanya Junot sembari berbalik melihat kearah Nareta.


"Saat ketukan palu, kita resmi bercerai". Ucap Nareta sembari menatap mata Junot lekat.


Sementara Junot sendiri kembali terdiam membisu, seolah-olah dia malu tapi benar adanya.


"Dan yang ketiga?". Tanya Junot.


"Hm... tadi, saat Aksa di wisuda sebagai murid teladan dan naik ke podium untuk menyampaikan pesan dan kesannya".


"Heh, kamu... ternyata selalu merhatiin aku yah? dari sekian banyak hal yang bisa kamu lihat, kamu memilih melihat aku? why?".


"Hm, karena kamu Ayah dari anakku Aksa!".


"Gak ada alasan lain untuk aku melihat pria lain, selain kamu". Ucap Nareta lagi dengan jujur.


"Hm... Jadi?".


"Jadi apa?".


"Kamu mau gak buat adik untuk Aksa?".


"Mas...". Ucapku dengan nada bicara yang cukup tinggi.


"Hehe... yah siapa tahu kamu mau bilang iyah atau mau gitu".


"Hem... aku masih takut untuk memulai sebuah hubungan yang kompleks".


"Mmm... Okey, Aku ngerti". Ucapnya sembari tersenyum tulus kepadaku.


"Udah sampai, makasih yah udah nganterin?!".


"Hm, udah jadi kewajiban aku kan, gak usah ngomong kek gitulah!". Ucap Junot.


"Iyah, yaudah oke, kamu pulangnya hati-hati yah, jangan ngebut-ngebut!".


"Hm, padahal aku udah ngantuk banget loh".


"Hah? terus gimana dong?".


"Hehe... yaudah itu artinya aku tetap harus pulangkan?". Raut wajah Nareta terlihat kikuk.


"Yah masa iyah aku tidur disini". Ucap lagi Junot.


"Yah kalau mau... boleh kok".


"Heh? seriusan?". Tanya Junot dengan sumringah.


"Hm... cuma yah kamu kan tahu sendiri di dalem ada Bapak, Ibu sama Nadim jadi kamu tidur di ....".


Belum selesai Nareta berucap, Junot sudah lebih dulu menjawab.


"Enggak apa-apa, tidur di sofa juga gak masalah".


"Heh? serius?".


"Iyah, yuk masuk?!".


"Heh? Ahh... iyah-iyah".


"Assalamualaikum?". Ucap Nareta dan Junot bersamaan.


"Waalaikum'salam". Jawab seorang anak kecil yang tak asing di telinga.


"Aksa".



bersambung...

__ADS_1


__ADS_2