Aksa

Aksa
part 54


__ADS_3

Aku tinggal sebentar Nareta ke minimarket, ku pikir selama aku tinggalkan dia di rumah itu adalah tempat paling aman, sebab beberapa kali aku dan Nareta pergi ke tempat ramai, tempat perbelanjaan salah satunya, pastilah akan ada pria dengan mata keranjang yang menikmati kecantikan dari istriku, tapi ternyata aku salah, justru rumah adalah tempat yang sangat berbahaya untuk aku tinggalkan saat istriku masih ada di dalamnya.


Aku masih ingat betul betapa luar biasanya Nareta saat di dalam rumah, meskipun dia adalah wanita karir tetapi dia tidak pernah lupa akan kodratnya sebagai wanita, Nareta tidak hanya pandai bersih-bersih, dia juga pandai memasak, bersosialisasi, ramah kepada siap saja, baik kesana-kemari pandai menyenangkan hati orang lain, humble dan selalu menunaikan kewajiban sebagai seorang istri lahir maupun batin, satu kata yang bisa menggambarkannya yah perfact bak malaikat.


Aku merupakan pria beruntung yang mendapatkan istri seperti Nareta, seiring berjalannya waktu aku mulai merasakan rasa takut akan kehilangannya, takut menyakiti hati dan perasaannya, tapi... tanpa aku sadari aku telah membuat kesalahan fatal yang mungkin tidak akan pernah dapat termaafkan olehnya.


Tidak berkata jujur dan telah menduakan nya, rasa-rasanya wanita manapun tidak akan pernah mau memaafkan kesalahan fatal itu, jikapun kini keadaan di balik, aku pun tidak akan mau dan tidak akan pernah mau memaafkan kesalahan itu.


tetapi nasi telah menjadi bubur, aku tak bisa mengulang waktu akan keadaan yang telah terjadi saat ini, setiap hari pria yang mencintainya semakin bertambah tidak hanya untuk kaum pria tapi juga wanita. Dan salah satunya adalah kawanku sendiri, Bagaskara. Entah Nareta menyadarinya atau tidak yang pasti aku sebagai lelaki tahu betul gerak-gerik pria yang menaruh hati pada istriku ini.


Hari demi hari terus berlalu aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus menerus membohonginya, entah Nareta akan tahu lebih dulu atau semua akan berjalan sesuai rencana, yang pasti hatiku selalu bimbang, ada rasa penyesalan juga rasa bersalah yang tak dapat aku jelaskan.


***


Aku berdiri mematung tak jauh dari Bagaskara, kupikir Junot akan kembali salah paham, ternyata aku salah Junot berjalan dengan santai menghampiriku, menyimpan barang yang baru saja ia beli di meja, kemudian merangkul pinggangku dengan posesif, acara buka puasa ini berjalan sesuai rencana, setelah selesai menyelesaikan sholat tarawih barulah mereka bertiga pulang.


"Apa yang kamu lihat?" Tanyaku pada Junot.


"Harus berapa kali aku bilang? bahwa aku tidak suka jika kamu lebih perhatian kepada orang lain dibanding padaku? Hah"


"Aku tidak lebih perhatian kepada yang lain kok Jun". Bantahku.


"Benarkah? aku harap memang begitu".


"Kamu cemburu?".


"Untuk? untuk apa aku cemburu?".


"Heh? lalu, jika bukan cemburu, lalu apa?".


"Aku sedang menjagamu dari fitnah".


"Hem?".


"Lain kali, jika tidak ada aku di rumah, jangan biarkan pria lain masuk!".


"Hem, baiklah". sedari tadi wajah Junot memang sudah terlihat kesal tapi kali ini lebih-lebih lagi.


Junot menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam kamar, dan mendorongku jatuh di atas ranjang, rasanya berbeda meskipun gaya bercinta Junot memang sedikit kasar tapi aku menerimanya tanpa rasa takut apalagi tertekan.


Malam yang indah itu terasa panjang, Junot tidak sedetikpun membiarkan aku untuk beristirahat, hingga menjelang waktu sahur, pikirku dari pada menunda-nunda lebih baik aku segera mandi besar dan menyiapkan hidangan sahur.


Setelah kejadian malam itu Junot bersikap lebih manja padaku, tapi juga lebih perhatian dengan tulus tanpa mengurangi ruang gerakku, tapi tetap saja dia harus ikut jika kebetulan jadwalnya kosong, tetapi kalau tidak yah minimal aku harus izin dan satu jam sekali mengabarinya.


Mungkin bagi kalian hal itu terasa berat, sebenarnya untukku juga, di awal-awal rasanya memang berat, tapi jika sudah di jalani dengan tulus dan ikhlas rasanya mudah kok.


***


Malam-malam terasa indah meskipun tanpa bintang karena di sampingku sudah terlalu terang, malam berganti malam, bohong kalau aku tidak cemburu, bohong kalau aku tidak jatuh cinta, pada akhirnya aku memang telah di miliki oleh Nareta.


Aku telah memberikan seluruh hidupku untuknya pun dengan dia, tanpa dia hidupku terasa hampa kata-kata yang sungguh mustahil keluar dari mulutku karena kalimat itu terasa lebay tapi memang begitulah adanya.


Tak terasa satu bulan telah usai esok adalah hari raya besar untuk kita, dimana seluruh umat muslim berbondong-bondong menunaikan sholat Idul Fitri kemudian bermaaf-maafan.

__ADS_1


Tahun ini rasanya berbeda, tentu saja itu semua karena Nareta yang kini telah menjadi Istriku, telah menjadi bagian terpenting dalam segala kegiatanku, dan dia begitu telaten dalam melakukan segala macam kebutuhanku mulai dari pakaian, sarung, peci, makanan dan juga uang THR untuk anak-anak yang berkunjung ke rumah kita.


Iyah aku dan Nareta mengadakan acara open house untuk siapa saja yang berkenan datang, alhasil semua orang-orang berkumpul dalam satu atap yang sama dengan jumlah yang tidak biasa, karena tidak pernah terbayangkan akan seramai ini, di antaranya adalah keluargaku keluarga dari Nareta, temanku teman dari Nareta, sanak-sodaraku yang dari mana-mana belum lagi orang-orang sekitar.


Yah beruntung kedatangannya silih berganti jadi tidak terlalu berdesak-desakan, ku lihat Nareta kelelahan bagaimana tidak sedari subuh tadi hingga kini selepas sholat magrib dia tak henti-hentinya menjamu tamu sampai lupa bahwa dirinya belum makan apa-apa.


"Sudah kamu istirahat di kamar?!" pintaku


"Hem? enggak Jun nanti kalau ada tamu gimana?".


"Kan ada aku, biar aku yang jamu sekarang kamu istirahat".


"Heh, ya sudah". belum sempat Nareta beranjak dari kursinya datanglah seorang pria yang tak di undang dan tak di harapkan kehadirannya olehku.


"Assalamualaikum?".


"Waalaikumsalam".


"Euh... maaf mungkin kehadiran saya kurang di harapkan tapi bolehkan saya masuk?".


"Hem, tentu saja". Jawab Junot setengah ragu.


"Silahkan masuk?!" Jawab Nareta sembari menatap kedua mata Junot.


"Euh... sayang bisa tolong ambilkan air minum?".


"Heh? Iyah". tak berapa lama datanglah tamu yang sama-sama tidak di harapkan kedatangannya oleh Junot.


"Assalamualaikum?"


"Minal Aidzin Walfa Idzin bro, euh... lagi ada tamu nih?". Ucap Bagaskara basa-basi.


"Bagaskara". Ucapnya memperkenalkan diri sendiri.


"Ayden".


"Nareta mana?". Tanya Bagaskara.


"Ada di dapur lagi buat minuman". Tak berapa lama datanglah Nareta.


"Eh ada tamu". Kata Nareta terkesan akrab.


"Minal Aidzin Walfa Idzin yah".


"Iyah, sama-sama, sebentar aku ambil minum dulu yah".


"Silahkan nikmati hidangan yang ada, saya kebelakang dulu".


"Eh, kamu mau ngapain?". Tanya Nareta yang baru saja selesai membuat minuman.


"Aku mau ngomong sebentar sama kamu".


"Heh? mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu seakrab itu dengan Bagaskara?".


"Hah? akrab? kamu kan tahu sendiri kalau aku ketemu sama dia di samping aku pasti ada kamu, kamu kenapa sih?".


"Hem, kalau Ayden? aku gak setiap saat ada di samping kamu kan".


"Maksud kamu?"


"Iyah mana aku tahu, di luaran sana kamu main di belakang aku, kan bisa aja".


"Apa? kamu berpikir aku selingkuh? dengan Ayden, ayolah Jun harus berapa kali sih aku katakan kalau aku gak pernah main di belakang kamu".


"Permisi, maaf... saya lancang masuk".


"Heh? ada apa?".


"Saya boleh ikut ke kamar kecil?".


"Hem, boleh, toiletnya ada di sebelah sana". Tutur Nareta.


"Oke, makasih, permisi". Ayden berlalu pergi.


"Nanti lagi kita bahas". Jawab Junot ketus.


"Jun...". Junot tidak bergeming ia berlalu pergi meninggalkan Nareta sendiri.


"Maaf yah nunggu lama". Ucap Nareta pada Bagaskara sembari menyimpan air minum.


"Heh, enggak ko, makasih".


"Udah ke toiletnya?". Ucap Junot saat Ayden kembali dengan nada ketus.


"Hem, sudah...". Jawab Ayden sembari duduk di tempat semula.


Bagaskara dan Junot asik berbincang-bincang mengenai berbagai hal, sementara Ayden dan Nareta lebih memilih untuk menjadi pendengar, sesekali Ayden menatap Nareta dengan sendu.


"Nareta kamu sakit? wajah kamu pucat". Ucap Ayden di tengah-tengah perbincangan Junot dan Bagaskara.


"Hah? enggak kok Mas, aku baik-baik aja".


"Iyah wajah kamu pucat, gimana kalau kita ke rumah sakit aja". Usul Bagaskara.


"Gak apa-apa, aku baik-baik aja kok". Sanggah Nareta.


"Ayo kita ke rumah sakit!". Ucap Junot tak ingin di bantah.


"Kalau gitu kita pamit pulang yah". Ucap Bagaskara.


"Hem, Iyah". Ucap Junot sembari berdiri dan menjulurkan tangannya kepada Nareta.


Nareta menerima uluran tangan dari Junot, bersamaan dengan Bagaskara yang juga berdiri dari duduknya tapi tidak dengan Ayden.


"Bolehkah aku ikut?!".

__ADS_1


Next ?


__ADS_2