Aksa

Aksa
part 67


__ADS_3

Aku tahu, aku telah mengusik rumah tangga seseorang, tapi bukan salahku jika aku dan Junot akhirnya bersatu, hal ini terjadi karena aku sangat mencintai Junot begitupun sebaliknya.


Aku tidak peduli jika tindakanku salah, yang pasti aku tidak akan pernah pergi, justru aku ingin sepenuhnya memiliki Junot, menjadi satu-satunya wanita yang dicintainya.


Lagipula aku lebih dulu ada, ketimbang Nareta. Justru Naretalah yang telah merebut Junot dari ku dan sudah seharusnya dia pergi.


-Aqila-


***


Tak terasa kini Aksa sudah semakin pintar dalam segala hal tepat di hari ini Aksa telah berusia Dua Tahun, waktu yang terasa mustahil untuk aku lalui, dan entah sampai kapan aku akan terus berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja.


Padahal rumah tangga ini sudah tidak sehat, tidak pernah ada komunikasi bahkan lebih parah dari pada itu, karena kehadiran Junot di rumah ini nyaris tidak pernah ada.


Tak kupungkiri kadang kala di saat hatiku terasa benar-benar sangat sunyi sepi, aku berpikir apa lebih baik aku menjadi single Mom's saja? toh selama ini pun segala sesuatu yang Aksa butuhkan ku kerja kan sendiri, tapi aku takut... takut mengecewakan Aksa, terutama Bunda.


Pasalnya selama ini Bunda selalu ada untukku, tak peduli siang ataupun malam, Bunda akan menjadi orang pertama yang aku hubungi jikalau ada apa-apa dengan Aksa.


Begitupun dengan hari ini, pagi sekali Kak Juwi dan Bunda telah tiba di rumahku membawa balon-balon dan Kue.



Meskipun katanya ini pesta alakadarnya, tapi tidak bagiku, hal ini sangat istimewa, hatiku begitu tersentuh.


"Ya ampun Kak, Bun, makasih". Ucapku sembari mengusap cairan bening yang hampir ingin keluar dari kelopak mataku.


"Hem? kamu kenapa ? Junot mana?". Tanya Kak Juwi.


"Cucu Bunda masih tidur? Bunda langsung ke kamar yah?". Ucap bunda yang tidak memperdulikan akan keberadaan Junot.


"Oiya Bun, masuk aja!". Ucapku singkat.


"Ehem, kamu belum menjawab pertanyaan Kakak loh". Sindir Kak Juwi.


"Heh? Ahh Junot belum pulang katanya lagi banyak kerjaan, makanya lembur". Jawabku apa adanya.


"Kamu yakin?". Tanya Kak Juwi dengan nada mengintimidasi.


"I i iyah". Ucapku terbata-bata.


"Heh, jawaban kamu aja udah gak yakin gitu kok, kenapa kamu gak nanya sih? kamu takut? kalau kamu gak berani biar Kakak yang nanya, sebenarnya dia lagi dimana". Tanpa pikir panjang akhirnya Kak Juwita mengambil handphone genggamnya.


"Tuutt... Tuutt...Tut". Tak berapa lama Panggilan itupun di jawab.


"Halo? kamu lagi dimana?". Tanya Kak Juwi santai.


"Aku lagi di rumah lah Kak, baru jam segini masa iyah aku di kantor".


"Ohh, iyah kalau...".


"Sayang kamu mau sarapan apa?". Sutt... refleks telunjuk Junot menyentuh bibirnya sendiri, memberi tanda kepada Aqila untuk tidak berkata apa-apa lagi.


"Itu siapa?". Tanya Kak Juwi dengan nada terkejut.


"Heh, itu... Nareta". Jawab Junot dengan ke bohongan lainnya.


"Ohh, Kakak mau bicara dong sama Nana". Ucap Juwita berusaha tenang.

__ADS_1


"Heh? kenapa gak telpon langsung aja ke no handphonenya Nana sih Kak". Jawab Junot sedikit kesal.


"Kamu mau bohong sampai kapan? Hah?". Cukup, bagi Juwita itu sudah lebih dari cukup, untuk membuktikan bahwa di keluarga ini ada sesuatu yang tidak beres.


"Heh? Maksud Kakak apa?".


"Kakak tunggu kamu di rumah! bersikaplah seolah-olah kamu ada di rumah sepanjang malam, Karena Kakak tidak sendiri, Kakak bersama Bunda".


Tubuhku lemas seketika, aku tidak tahu apa yang telah Junot lakukan selama ini kepada Nareta.


"Kak? Kakak gak apa-apa?".


"Na, selama ini kamu sudah tahu bukan?".


"Heh? tahu? tahu apa Kak?".


"Na, kamu gak usah bohong, kamu gak salah apa-apa, Kakak tahu kamu wanita yang baik, tapi gak gini caranya, Kakak tahu kamu berusaha menutupi aib suami kamu tapi ini sudah keterlaluan".


"Lalu aku harus bagaimana Kak? Aku tidak keberatan sama sekali jika harus..."


"Kalian kenapa? duduk di lantai?". Tanya bunda membuyarkan konsentrasi.


"Heh? gerah Bun, enak duduk di lantai kek gini dingin". Jawab Nareta dengan santai.


"Bunda mau mandiin Aksa dimana yah handuknya?".


"Memang nya Aksa udah bangun Bun?".


"Udah, dimana?" Menjawab pertanyaan Nareta, sembari bertanya kembali.


"enggak-enggak, biar Bunda aja ya!". Pinta bunda sedikit memohon.


"Hem, yaudah, nanti handuknya Nareta ambil dulu yah Bun".


"Iyah". Jawab bunda sumringah.


"Kamu kenapa sih, kaya kesel gitu". Tanya Bunda sembari menyikut lengan Juwita.


"Hah? Oh iyah ini Mas Marsel kok belum juga datang sama anak-anak, makanya aku jadi kesel". Jawab Juwi berbohong.


"Ohh, yah coba kamu telpon mungkin kena macet".


"Heh, iyah Bun".


"Bun ini handuknya".


"Oh, iyah Bunda mandiin dulu Aksa yah, kalian beresin ini sebelum yang lain pada datang".


"Hem, iyah Bun". Jawab Juwi.


"Iyah Bun". Jawab Nareta.


***


Sementara di Apartemen, di kediaman Junot dan Aqila tengah bertengkar hebat.


"Kan udah pernah aku bilang kalau mau masuk kamar itu ketuk dulu pintunya".

__ADS_1


"Apa? ini kan kamar kita? kenapa aku harus ketuk pintu ke kamar aku sendiri".


"Karena aku takut kejadian seperti tadi, dan sekarang ketakutanku terjadi, kamu ngerti itu?". Jawab Junot dengan nada yang meninggi.


"Ya sudahlah". ucap Junot sedikit lebih tenang kemudian berlalu pergi keluar kamar.


"Kamu mau kemana? kita belum selesai".


"Kamu mau apalagi sih? kamu gak denger tadi? Kak Juwi nyuruh aku pulang".


"Terus aku gimana?".


"Yah kamu, diam saja di sini, jangan pergi kemanapun, apalagi punya pikiran untuk ngikutin aku!". Ucap Junot penuh dengan penekanan kemudian berlalu pergi.


***


"Sayang, kamu ganteng banget sih?". Ucap bunda setelah memakaikan kemeja putih dan celana cream kepada Aksa.


"Bun, Aku keluar dulu yah?!". Ucap Nareta setelah mendengarkan suara mobil yang berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.


"Iyah". Ucap Bunda tak memperdulikan hal-hal sekitar.


"Assalamualaikum". Ucap Junot yang sudah di sambut oleh tatapan tajam Juwita.


"Waalaikumsalam". Ucap Nareta tepat di anak tangga terakhir.


Seperti biasa Nareta menyalami tangan yang baru saja tiba, sembari mengambil tas kerjanya.


"Kamu mau minum apa?". Tanya nya lagi dengan lemah lembut.


"Gak usah". Jawab Junot singkat.


"Aku masuk dulu Kak". Ucap Junot sembari pergi tanpa sedikitpun menatap Nareta.


"Heh, Nana? kamu serius hanya bersikap seperti ini? Gak marah? atau mungkin kamu sedang menahan amarah?". Tanya Juwita sedikit prustasi dengan tingkat Nana yang jauh di luar ekspektasi nya.


"Kak, aku tahu Kakak kesel, kakak kecewa, tapi aku gak mau membuat acara Aksa hari ini berantakan". Ucap Nana dengan tenang.


"Aku mohon sama Kakak sebentar saja untuk bersabar".


"Kakak gak tahu harus berkata apa, kamu kayak bukan manusia normal pada umumnya yang akan bersikap marah saat di selingkuhi".


"Mungkin karena aku mati rasa Kak". Ucap Nareta nyaris tak terdengar.


"Ya ampun Nareta". Ucap Kak Juwita tak percaya sembari memeluk tubuh Nareta.


"Kak, aku mohon jangan ikut campur urusan rumah tangga aku bersama Junot yah!".


"Kenapa?".


"Paling tidak sampai Aksa berusia lima tahun, setelah itu aku akan berkata yang sebenarnya kepada Bunda".


"Heh, hati kamu terbuat dari apa sih Na?". Ucap Juwita sembari terus menghela nafas berat.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2