
Empat pekan berlalu. Iyah, untuk sekarang rasanya waktu cepat berlalu, dan setiap akhir pekan hal yang menjadi rutinitas ku adalah bertemu Aksa, di tempat biasa yang sudah kita janjian, Cafe goldstar.
Kita pun jarang berkomunikasi, maksudku antara aku dan Junot. Jujur saja, Aku masih merasa canggung.
Orang-orang mungkin berpikiran bahwa kita adalah pasangan yang harmonis, sayangnya kita bukan lagi pasangan.
Jujur saja aku menyesali hal itu, mengapa tidak dari dulu kita begitu, mungkin perceraian itu tidak akan pernah terjadi. Batinku
"Ahh... tidak-tidak, ini memang sudah jalan ceritanya, atau takdir hidupku". Ucapnya meyakinkan diri sendiri dalam hati, agar tidak berpikir yang tidak-tidak.
Hah, ayolah ini pun sudah menjadi kebiasaan Nareta, menunggu kehadiran Aksa dan Junot, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tapi tanda-tanda kehadiran Aksa masih belum terlihat.
Tiba-tiba seorang pria yang tidak di kenali Nareta datang menghampirinya.
"Permisi, boleh saya ikut duduk disini?".
"Heh? Oh iyah boleh". Padahal sebelum Nareta memperbolehkan, Pria itu sudah lebih dulu duduk di kursi yang berhadapan dengan Nareta.
"Boleh tahu namanya siapa?". Tanya Pria itu lagi.
"Hah? untuk apa?". Tanya Nareta.
Hah, Nareta bukannya tidak tahu akan trik yang sedang di perankan pria yang ada di hadapannya saat ini.
Nareta sangat tahu, bahwa saat ini dia sedang di rayu, oleh pria asing yang sama-sekali tidak ia tahu, tapi sedikitpun tidak ada niatan untuk Nareta tahu.
"Jika lain kali ketika bertemu, aku bisa lebih dulu menyapamu". Tuturnya seakan sudah menjadi habit trik rayuan.
Meskipun Nareta akui pria yang ada di depannya ini berwajah rupawan, tapi... niat Nareta datang ketempat ini bukan untuk mencari jodoh.
Jika dilihat dari wajahnya, pria itu seperti dari luar negeri, tapi bahasa Indonesianya begitu pasih, mungkin sudah sangat lama tinggal di Indonesia.
"Heh, aku tidak keberatan untuk menyapamu terlebih dahulu". Tutur Nareta.
"Heh, baiklah aku kalah, tolong di ingat!! karena mungkin aku akan mengucapkannya satu kali". Ucap pria itu sembari tersenyum, kemudian menarik nafasnya dalam.
"Mario, lalu namamu siapa?". Tanyanya lagi tidak mudah menyerah.
"Heh? Aku berjanji jika kita bertemu dengan kebetulan sekali lagi, maka saat itu aku akan memberi tahu siapa namaku". Tutur Nareta misterius.
Dalam hati Nareta berharap bahwa dirinya tidak akan pernah bertemu lagi.
"Baik". Tutur Mario dengan senyuman yang tidak pernah luput dari bibirnya.
Kemudian tiba-tiba Aksa datang, sudah pasti bersama Junot, Aksa berlari kepadaku dari arah belakang kemudian memelukku dan memanggil ku Mamah, sontak saja hal itu membuat pria yang ada di depanku terkejut.
"Mamah?". Tanyanya dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Heh, Iyah dia anakku". Ucapku dengan santai. lalu datanglah Junot dan duduk di kursi bersampingan dengan Mario.
"Suamimu?". Tanya lagi Mario sembari melihat wajah Junot yang tidak bersahabat.
Hah, aku bisa saja mengenalkan Junot sebagai mantan suamiku kepada Mario, anehnya bibir ini kelu dan jika aku berkata begitu apa yang akan terjadi kepada Aksa?
Mario segera melihat gestur tubuh Junot maupun Nareta, lalu kedua matanya beralih kepada jari-jemari Nareta, ia tidak melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, seketika itu Mario kembali tersenyum seperti awal.
"Tidak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya". Tutur Mario lagi.
"Heh? Iyah syukurlah kalau kamu sudah tahu". Ucap Nareta.
"Aku permisi terlebih dahulu". Ucap Mario kemudian bangkit dari kursinya.
"Ohh, dan satu hal lagi, kita pasti bertemu, maka saat itu kau harus menepati janjimu!". Tutur Mario kemudian berlalu pergi.
"Apa maksudnya?". Tanya Junot penasaran.
"Heh? bukan apa-apa, Sayang kamu mau pesan apa?". Tutur Nareta kepada Aksa untuk mengalihkan pembicaraan.
Terlihat jelas Junot marah dan cemburu tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Selain mengucapkan kalimat sumpah serapah kepada pria itu dalam hatinya.
-~-
Iyah, jika hari-hari biasa berlalu terasa cepat maka hari weekend berlalu begitu lebih cepat lagi.
Waktu dan hari yang sangat aku benci adalah saat ini, dan aku harus menahan kerinduan selama enam hari kedepan.
"Mah, Aksa janji setelah dewasa nanti, sekalipun Aksa tidak akan pelnah pergi tanpa seizin Mamah".
"Heh? Iyah sayang, Mamah akan menunggu hari itu tiba". Ucapku dengan terbata-bata.
"Tapi untuk saat ini... maaf Aksa halus pelgi!".
"Hm, Iyah kamu hati-hati di jalan yah, kalau udah sampai di rumah kabarin Mamah?!".
"Siap Mamahku yang cantik, please don't cry!". Ucapnya dengan imut, dan memberikan puppy eyes nya.
"Wait? barusan kamu bilang apa?".
"please don't cry!".
"Hah? kamu bisa bilang huruf 'r' sayang?". Ucap Nareta terkejut.
"Hm, Iyah Aksa akan lebih lajin berlatih untuk mengucap huruf 'r' Mah".
"Haha... Iyah sayang". Ucapku tertawa.
"Aksa pergi yah". Ucap Aksa kemudian mengecup pipi kananku dan berlalu pergi terlebih dahulu menaiki mobil.
__ADS_1
"Mas, terima kasih untuk hari ini". Ucapku canggung kepada Junot.
"Sama-sama, aku pergi dulu yah".
"Iyah, hati-hati yah". Kemudian Junot berjalan memunggungiku perlahan nan pasti ia menjauh dan pergi.
***
Sudah empat pekan berlalu, aku dan Nareta setiap hari Minggu selalu bertemu, Maksudku aku mengantar Aksa untuk bertemu dengan Ibunya, tapi selama itu juga Nareta tidak pernah tahu bahwa aku membawa Aksa ke Psikiater dan Psikolog.
Entah karena mungkin aku menghindari salah paham atau... rasanya tidak pernah ada waktu untuk aku berbicara hal itu.
Aksa terlalu bahagia saat bertemu Mamahnya, ia bahkan lupa akan aku. Iyah aku lebih sering menjadi penonton ketimbang ikut dalam permainan mereka berdua.
Anehnya aku tidak pernah bosan atau kesal, justru aku sangat menikmati hal itu, betapa bahagianya mereka berdua tanpa aku, tapi yah anehnya dengan begitu aku juga malah ikut bahagia.
Hari berlalu begitu cepat aku akui itu, dan setiap kali kita akhirnya harus berpisah, kesedihan yang Nareta rasakan berhasil membuat aku terluka.
Apa tidak sebaiknya aku berikan hak asuh Aksa kepada Nareta? Ahh... tapi Bunda pasti marah dan sedih, Karena hanya Aksa lah satu-satunya harapan keluarga Abraham.
***
"Selamat Pagi Pak?".
"Pagi". Ucap Junot kepada sekretaris nya dengan acuh.
"Hari ini dan satu Minggu kedepan, schedule Bapak sangat padat". Lapor Laura memulai hari Senin ini.
"Ehem, apa saja?".
"Hari ini Bapak harus ke Singapore".
"Apa? untuk apa dan bertemu siapa?". Tanya Junot terkejut.
"Untuk bertemu CEO dari MobailOne".
"Hah, Baiklah semua barang-barang keperluanku sudah kamu siapkan?".
"Oh, Sudah semuanya kok Pak".
"Pukul berapa keberangkatan kita?".
"10:30 WIB".
"Oke, aku punya waktu dua jam untuk memberitahu Aksa, sebisa mungkin aku tidak akan terlambat, kamu bisa pergi terlebih dahulu kebandara bersama Alex". Ucap Junot sedikit panik.
"Baik Pak".
Tanpa pikir panjang lagi, Junot segera pergi hendak menemui Aksa.
__ADS_1
Bersambung...