
Aku terdiam membeku saat mendengar Nareta berkata "I Love You", bagiku... itu adalah ungkapan yang menyakitkan. Kumohon jangan! jangan mencintai pria brengsek sepertiku.
3 jam yang lalu
Seperti malam-malam sebelumnya, saat aku melihat Nareta tertidur pulas rasa ingin menyentuhnya dan membelainya kembali muncul, rasa yang tak dapat aku kendalikan dengan mudah ini harus aku redam dengan olahraga malam.
Salah satunya berlari di sekitaran komplek atau push up dan sit up di teras belakang rumah sembari menghirup udara segar tengah malam, itu pun tidak seutuhnya menghilang aku harus berendam air dingin berjam-jam barulah sepenuhnya hilang.
Aku tidak ingin menyakiti Nareta, tidak ingin. Mengandung anak dari ku rasanya sudah sangat menyengsarakan, ia tak lagi dapat tidur pulas dengan berbagai gaya bebas, belum lagi dia masih sangat aktif untuk beraktifitas.
Bukannya aku tak ingin melarang dia untuk tidak bekerja, tetapi aku hanya tidak ingin di anggap mengatur akan kesenangan dan kebahagiaannya, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan hal itu.
Satu hal yang dapat aku lakukan, hanyalah mengantar dan menjemputnya dari kantor, itu pun jika aku tidak sibuk, sering kali aku membuat ia menunggu. Sebenarnya aku kasihan, tapi... aku tidak lagi punya pilihan. Karena kecemburuanku yang teramat besar, hingga aku tak rela memberikan Nareta hanya berduaan dengan pria lain, meskipun itu hanyalah seorang driver.
Selain itu aku hanya mampu memberikan apa yang ia inginkan, yah namanya mengidam, di awal-awal aku sangat bersemangat saat Nareta menginginkan ini itu, tidak kenal waktu ku turuti apa pun mau nya, tetapi seiring berjalannya waktu aku cepat bosan, belum lagi apa yang telah aku perjuangkan dengan mati-matian sering kali tidak pernah Nareta hargai.
Tetapi malam ini apa yang ingin aku lakukan seperti malam-malam sebelumnya tidak berjalan dengan seharusnya. Tiba-tiba saja Nareta terbangun dari tidurnya, kemudian menginginkan buah mangga muda yang harus ku petik langsung dari pohonnya.
Seperti biasanya aku turuti apa maunya itu, meskipun kali ini kesabaran ku rasanya sudah habis, karena aku telah membentaknya, aku lakukan itu dengan penuh kesadaran tapi kuharap Nareta akan memakluminya.
Aku pergi dengan perasaan bersalah karena telah membentaknya, di sepanjang jalan ku lihat satu persatu pohon mangga tanpa buah, rasanya ingin menyerah karena saat ini bukanlah waktunya musim buah mangga, tapi lagi-lagi aku tidak ingin mengecewakan Nareta, meskipun ku tahu nanti saat aku sudah mendapatkan buah mangga itu, Nareta tidak akan memakannya.
Entah sudah berapa lama dan seberapa jauh aku pergi dari rumah, meninggalkan Nareta seorang diri untuk pertama kalinya, yang pasti pencarian buah mangga muda untuk malam ini, kurasa harus di hentikan sampai di sini, karena rasanya mustahil ada.
Aku segera berputar arah kembali pulang ke rumah, meskipun begitu dua mataku masih saja aktif melirik kanan-kiri di sepanjang perjalanan menuju pulang, siapa tahu memang ada keajaiban. Dan benar saja, ku lihat rumah dua tingkat yang terlihat tak berpenghuni itu memiliki pohon mangga yang sudah memiliki buah, yah meskipun ukurannya masih kecil-kecil.
Aku segera memanjat pohon mangga itu, ku petik satu buah mangga muda untuk istriku Nareta, dalam hati... ku meminta izin dan halal kan lah buah mangga ini ya Allah, dan sepertinya doa yang baru saja ku panjatkan langsung Allah kabulkan. Terbukti dengan seorang wanita muda membawa sebuah koper baru saja tiba di depan rumahnya.
Aku bergegas turun dan berniat akan meminta izin meskipun buah mangga nya sudah di tangan. Tetapi si pemilik rumah terlihat ketakutan dengan suara yang ku timbulkan.
"Siapa di sana?". Aku berjalan mendekati sumber suara.
__ADS_1
"Halo, apa di sana ada orang?". Aku baru saja keluar dari kegelapan dan ternyata.
"Junot?". Suara itu terasa tak asing di telingaku.
"Kamu ngapain di sini?". Dan benar saja... wanita itu adalah....
"Sayang, kok kamu bisa ada di sini?". Dengan refleks aku segera menyembunyikan buah mangga yang baru saja aku petik.
"Sayang, kamu kenapa? kamu gak kangen aku?". Tanyanya beruntun dan satupun pertanyaan nya tak mampu ku jawab.
"I Miss You". Ucapnya berkaca-kaca sembari berlari mendekat padaku dan melingkarkan kedua tangannya di punggungku.
"I Miss You..." Ucapnya lagi, sembari mempererat pelukannya padaku.
"Too..." Ucapku.
"Kamu kok tahu aku ada di sini?". Jika aku tahu kamu ada di sini sudah pasti aku tidak akan datang kesini, batinku.
"Ah so sweet". Ucap nya manja sembari melepaskan pelukan.
"HM, kamu sendiri kenapa ada di sini?". Tanyaku bukan basa-basi tetapi memang benar-benar penasaran.
"Oh, ini rumah Nenek aku, memang sudah lama kosong".
"Maksudku kenapa kamu pulang? bukannya kamu sedang sibuk kuliah di Hongkong".
"Aku udah gak bisa nahan rasa rindu ini Jun, tadinya aku mau kasih kamu kejutan, eh malah aku yang di kasih kejutan, makasih yah sayang". Ucapnya lagi.
"Oh, kalau gitu masuk sana! udah malam". Karena aku benar-benar ingin segera pergi.
"Heh? kamu yakin suruh aku masuk ke dalam? aku takut". Ucapnya dengan manja.
__ADS_1
"Hah? kalau memang takut kenapa datang ke sini?".
"Ibu lagi keluar kota, gak ada kunci cadangan, terus aku di suruh kesini deh katanya kunci rumah ini ada di bawah pot bunga, gak tahu kalau ternyata rumahnya akan seseram ini".
"Oh, ya sudah kamu nginap di hotel aja?!". Ucapku dengan santai.
"Heh? aku gak salah denger nih? kenapa aku gak ikut kamu aja, di rumah kamu kan gak ada siapa-siapa". Ucapnya sedikit menggoda, tetapi tidak berhasil membuat aku tergoda.
"Heh? maksud kamu? mau aku tinggal atau mau cari penginapan?". Ucapku dengan tegas, setahuku Aqila wanita yang aku cintai tidak nakal dan tidak suka menggoda seperti saat ini.
"Hem, ya udah deh aku cari penginapan". Ucapnya kemudian menunduk malu.
Kita akhirnya menemukan penginapan yang masih buka di jarum jam yang menunjukkan pukul 23:30 WIB. Aku segera turun dari mobil membawa koper yang tadi Aqila bawa dan segera memesan satu kamar untuknya.
"Makasih yah". Ucapnya manja
"Sama-sama, kamu hati-hati di sini, kalau ada apa-apa segera hubungi aku". Aqila hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Besok pagi kamu kesini kan?". Tanyanya saat aku ingin pergi.
"Heh? untuk apa?".
"Aku di sini gak lama, jadi seharusnya kamu perlakukan aku dengan baik, dan aku akan memberikan apa pun yang kamu mau". Ucapnya... lagi-lagi dengan nada bicara yang terdengar nakal dan juga tiba-tiba sebuah kecupan singkat mendarat di pipiku, kemudian ia berlalu pergi.
***
Aku masih sangat syok akan kejadian tadi dan sekarang aku di kejutkan lagi dengan ungkapan yang baru saja keluar dari mulut Nareta.
"I Love You". Ucap Nareta terdengar tulus.
Next ?
__ADS_1