Aksa

Aksa
part 13


__ADS_3

"Assalamualaikum Bunda, ini aku Nana". Ucapku lembut setengah berbisik.


"Kata Ka Juwita, Bunda terus manggil Nana yah? Ada apa Bunda? sekarang Nana ada di sini". Aku sengaja mengajak Bunda berinteraksi walaupun aku tahu, saat ini Bunda tengah sakit. Tapi katanya orang koma bisa denger kok.


"Apa yang mau Bunda ungkapkan?" Tanya ku kembali sembari mengelus punggung tangan Bunda.


"Berhenti, Bunda gak denger dan gak akan jawab juga". Ucap Junot meremehkan dan menatap ku tajam.


Tapi tiba-tiba saja tangan kiri Bunda bergerak, aku dan Junot sangat yakin akan hal itu, Junot yang melihat hal itu segera menekan bel darurat.


"Bunda? Bunda dengar aku kan?". Seru Junot, tak lama kemudian Dokter dan Suster datang memeriksa keadaan Bunda.


Sementara aku dan Junot di persilahkan untuk menunggu di luar, yang kemudian di sambut oleh pertanyaan beruntun dari Ka Juwita.


"Apa yang terjadi? Bunda kenapa? Bunda baik-baik aja kan?". Dengan erat Ka Juwita memegang tangan ku.


"Iyah, Bunda baik-baik aja kok Ka". Aku berusaha menenangkannya dengan memeluk serta mengelus-elus punggung Ka Juwita.


Namun hal itu tak berhasil, tangisan Ka Juwita kembali pecah.


***


Kami semua menunggu dengan perasaan was-was yang terus berkelanjutan, karena sudah lebih dari 20 menit Dokter maupun Suster belum juga keluar.


Sementara Juwita masih terisak-isak, tapi kali ini ia tengah di tenangkan oleh suaminya. Detak jarum jam terus berputar hingga akhirnya Dokter pun keluar, Junot dan aku yang kemudian di susul oleh Ka Juwita dan suami nya, segera berdiri dan menghampiri Dokter.


"Dok, apa yang terjadi?". Ucap Junot dengan cemas, aneh nya wajah Dokter itu terlihat tenang.


"Alhamdulillah, Ibu anda sudah jauh lebih baik, akan tetapi baru saja dia tertidur, setelah di masukan obat ke dalam infus.


"Oh, syukur alhamdulillah, terima kasih Dok". ungkap Junot dengan menghembuskan nafas lega.


"Dok, saya boleh masuk ke dalam?". Ucap Ka Juwita.

__ADS_1


"Hm, sebaiknya jangan dulu, biarkan Ibu anda beristirahat dengan cukup".


"Hmm, Baik Dok". Ka Juwita kembali murung mendengar perkataan Dokter. Entah apa yang sebenar nya terjadi di dalam keluarga ini, yang pasti terlihat ada nya pertengkaran, yang mengakibatkan Bunda terkena serangan jantung.


***


Adzan magrib berkumandang Junot dan Ka Marsel segera pergi ke Masjid, sementara aku dan Ka Juwita bertugas menunggu Bunda, 20 menit kemudian kedua nya kembali, aku yang melihat mereka berjalan ke arah kami, akhirnya refleks mengajak Ka Juwita untuk segera menunaikan sholat.


"Ayo Ka, kita solat dulu". Ungkapku sembari berdiri.


"Kakak lagi ada halangan, kamu gak apa-apa kan sholat sendiri?". Seru Ka Juwita.


"Oh, iyah gak apa-apa kok, yaudah kalau gitu aku pergi dulu yah"


"Iyah, kamu hati-hati yah". Tuturnya kembali. Sejauh ini aku bisa menyimpulkan bahwa Ka Juwita itu orang nya baik, perhatian dan sedikit ke ibuan.


di koridor rumah sakit itu aku, Junot dan Ka Marsel berpapasan, tak pernah ku sangka bahwa aku akan di tegur oleh nya.


"Kamu mau kemana ?"


"Oh, yaudah kita sama-sama". Aku yang mendengar jawabannya itu sedikit mengernyitkan dahi.


"Loh, bukannya...". Belum sempat aku menyelesaikan perkataan ku dia sudah lebih dulu menimpali.


"Bukan untuk sholat, Aku mau beli makanan di depan, kan searah". Jawab nya sedikit ketus.


"Kamu mau beli makanan, kalau gitu..."


"Mas gak perlu ikut, temenin Juwita aja kasian dia sendirian". Iyah benar apa kata Ka Juwita.


25 menit sebelum nya...


"Na, kamu jangan tertipu akan penampilan nya Junot yah, dia memang terkesan cuek tapi sebenar nya dia itu sangat peduli dan perhatian, jika ada kalimat di atas baik maka kalimat itu pantas di sematkan untuk Junot, yah meskipun kesan yang di tampilkannya selalu terlihat arogan, cuek dan pemarah tapi itu semua hanyalah kamuflase". Iyah aku bisa menyimpulkan bahwa sikap Junot itu sama seperti Ka Juwita hanya saja Junot lebih tertutup dan menutupi kebaikannya dengan sikap dan sifat-sifatnya yang menyebalkan.

__ADS_1


"Ohh, yaudah makasih yah" Mas Marsel segera pergi berjalan menghampiri Ka Juwita yang kini tengah tersenyum menunggu kedatangan suaminya.


Sementara itu Junot juga sudah berjalan beberapa langkah dari titik berdiri nya tadi, yang kemudian kembali membalikkan badan melihat diriku yang masih saja berdiri di tempat.


"Ayo, malah bengong". Dia menatapku tajam, tapi dia masih tetap diam menunggu aku menghampirinya.


"Hah? Iyah...". Dan setelah sejajar aku berjalan satu langkah di belakangnya.


***


30 menit kemudian aku baru saja menyelesaikan sholat dan segera keluar masjid, aku tidak tahu ini kebetulan atau dia memang sengaja menungguku.


Keadaan saat ini persis seperti tadi kami datang, aku berjalan di belakang dan memperhatikan cara berjalan nya dengan kaki jenjang nya itu.


Aku melihat dia kerepotan dengan jinjingan yang ia bawa yang ku yakini itu adalah makanan, kebiasaan ku sejak kecil yang di ajarkan oleh bapak, jika ada orang kesusahan aku selalu ingin membantu.


"Sini, biar aku yang bawa". Tidak ada penolakan saat aku mengambil alih membawa beberapa jinjingan itu, tapi kini aku berjalan di depannya, namun dia segera menyusul ku, dan berkata.


"Sebaik nya kamu berada di belakangku". Aku pernah mendengar akan hal itu, bahwasanya perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim harus menjauhi perbuatan-perbuatan yang membangkitkan syahwat lawan jenis dan hal itu termasuk zina. Mungkinkah maksud dari Junot untuk menghindari hal itu ?


Allah SWT berfirman,


“Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang).” (Q.S Al-Israa: 32)


***


Kita tiba di ruang tunggu depan kamar Bunda, dan syukurlah keadaan Ka Juwita jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Hm, ini Kalian bertiga makan dulu aja, Bunda biar aku yang jaga". Tanpa memperdulikan apapun lagi Junot segera masuk ke ruangan bunda. Sementara itu kita bertiga makan malam.


"Hm, Ayoh dimakan jangan sungkan". Tutur Ka Juwita kepadaku, dan sesekali Ka Juwita memberikan makanan kepadaku.


Ini merupakan kali pertama aku berada di ruangan rumah sakit VIP yang terasa seperti di hotel, kita bisa makan makanan enak di tempat yang sangat nyaman, belum lagi Junot membeli makanan untuk sepuluh porsi dan ini benar-benar enak, kalau gini cara nya aku bisa betah berlama-lama tinggal di sini.

__ADS_1


30 menit kemudian kita semua sudah menyelesaikan makan malam yang menurutku ini layak untuk di beri bintang lima, setahuku rumah sakit ini memang rumah sakit swasta khusus untuk orang berkantong tebal, maka tak heran jika pelayanannya senyaman ini.


Next ?


__ADS_2