Aksa

Aksa
part 66


__ADS_3

Sebelumnya...


Baru saja Junot menutup pintu kamar inap Nana, sebuah panggilan masuk, yang bertuliskan Akram.


"Halo, Jun sorry gua gak bisa cegah Aqila untuk gak ke Jakarta".


"Heh? Okay, thanks yah udah bantu gua".


"Hem. Oiya Selamat atas status baru lu, sekarang udah jadi Ayah aja".


"Hem, thanks". Dan panggilan pun segera di matikan.


***


14:30


Zain sudah stand by di bandara Sukarno-Hatta sementara Bagaskara di bandara Halim Perdanakusuma. Kedua matanya tak henti mencari keberadaan Aqila dan benar saja Aqila berhasil lolos dari pantauan Zain ataupun Bagas.


***


Langkah kakinya tertatih-tatih menuju ruang inkubator niat hati ingin melihat sang buah hati, tetapi pemandangan yang tak terduga kini tengah terjadi. Seorang wanita yang terlihat masih muda tidak begitu tinggi berkulit putih tengah memeluk Junot dari arah belakang. Entah apa yang harus Nana lakukan di situasi yang tidak pernah ia duga ini, akhirnya ia memilih untuk bersembunyi di balik tembok rumah sakit dan mendengarkan apa yang sedang di ributkan.


"Aku sudah menikah, dan kamu lihat? anak yang baru lahir itu, ia adalah anakku".


"Tapi kamu gak bisa pergi gitu aja, setelah apa yang udah aku kasih ke kamu". Seketika air mataku menetes mendengar perkataan wanita itu, sembari menutup mulut dengan kedua tanganku sendiri.


"Aku mohon jangan ganggu kehidupan ku! apalagi istri dan anakku".


"Kamu gak bisa seenaknya kek gini Jun, aku gak mau kehilangan kamu, dan seharusnya... perempuan itu yang pergi bukan aku". Ucap gadis itu sembari menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Aku bisa mengerti perasaan gadis itu bagaimana, kini hatinya pasti tengah hancur berkeping-keping, tidak tahu harus berapa kali memohon sembari berlutut, keadaan tidak akan bisa berubah. Gadis itu masih terlalu muda untuk merasakan luka aku merasa iba, pada saat seperti ini aku berpikir untuk pergi, sebab aku tidak tahu siapa yang seharusnya di salahkan, entah Junot atau gadis itu atau barangkali aku.


***


Hari-hari berjalan dengan semestinya, setiap hari aku berkunjung menemui anakku di ruang inkubator, dan di waktu yang bersamaan Junot tengah berdalih sibuk dengan permasalah di perusahannya padahal permasalahan pribadinya, ia hingga sampai saat ini Junot masih merahasiakannya dari kita semua.


Ibu, Bapak dan Nadim sudah pulang ke Bandung, aku tahu mereka sangat ingin lebih lama berada disini, akan tetapi kesibukannya di Bandung tidak bisa tinggalkan terlalu lama.


Ayah dan Bunda selalu ada menemaniku, bergantian menunggu aku atau baby Aksa, tapi karena usia yang sudah tidak lagi muda angin malam menyebabkan kondisi kesehatan Bunda menurun, akhirnya aku meminta Bunda dan Ayah untuk pulang, dengan susah payah aku merayu akhirnya mereka setuju.


Dan tinggallah aku sendiri disini.


***


Hari berganti begitu cepat, tanpa aku sadari, hari ini Dokter sudah mengizinkan aku dan baby Aksa untuk pulang ke rumah, dan inilah awal mula keretakan rumah tanggaku di uji.


Hari-hariku begitu bahagia karena ada baby Aksa tapi juga penuh dengan luka. Bagaimana tidak, sosok suami yang aku bayangkan akan selalu ada sigap bergantian menjaga anak pertama kita tidak pernah ada, tempatnya kosong tidak terisi.


Beruntungnya baby Aksa tidak pernah rewel, paling-paling bangun subuh, hal yang sudah menjadi kebiasaan aku sendiri, selebihnya mungkin Aksa hanya kekurangan belaian dari seorang Ayah.


Satu tahun aku membesarkan Aksa seorang diri, Junot terlihat lelah dengan kegiatan yang terus-menerus menguras energinya, terlintas di benakku mungkin karena Junot menikahi wanita muda itu atau mungkin Junot benar-benar tengah sibuk akan pekerjaannya di kantor.


Bukan aku tidak mempunyai keberanian untuk bertanya, tapi... aku hanya tidak ingin menambah beban pikirannya. Luka yang aku terima rasanya tidak sebanding dengan luka yang wanita itu rasakan atau dengan beban pikiran yang tengah Junot rasakan.


Terlebih aku tidak ingin Aksa benar-benar tidak memiliki sosok Ayah, karena bagaimanapun Junot adalah Ayah Aksa, dan suamiku.


Terlepas dari siapa yang salah, aku hanya tidak ingin Aksa menjadi korban atas keegoisan kita yang katanya "orang dewasa".


***

__ADS_1


Pada akhirnya aku menyerah dengan keadaan yang sangat memojokkan diriku. Aku tidak ingin menyakiti wanita baik-baik atau menyeretnya ke jurang kehancuran, terlebih wanita itu adalah Ibu dari anakku. Wanita yang rela kehilangan nyawanya demi melahirkan anak kita.


Bodohnya aku terjebak di masa lalu, cinta yang aku punya untuk Aqila masih bersemayam kuat di dalam sana, atau mungkin ini hanya rasa iba karena dia memohon untuk aku tidak meninggalkannya.


Akhirnya aku menikah siri dengan Aqila, aku membelikan dia sebuah Apartemen dan memenuhi segala kebutuhannya. Satu hal yang tidak bisa aku berikan, aku tidak bisa 24 jam berada di sampingnya, terlebih di hari weekend.


Dosa besar yang ku tutupi dengan kata khilaf telah terjadi, aku melakukan kesalahan yang rasanya tidak bisa termaafkan oleh siapapun termasuk oleh diriku sendiri.


Dengan berat hari aku memilih untuk terus berbohong, menutupi satu kesalahan dengan kesalahan yang lainnya, aku teramat takut apabila Nareta mengetahuinya dia akan meminta cerai dan membawa Baby Aksa bersamanya.


Satu tahun pertama aku merasa sangat bersalah, Aku tidak pernah berani menatap kedua matanya Nareta, tapi dia masih setia menjadi istri dan Ibu yang baik untuk aku dan Aksa.


Entah kenapa aku merasa sebenarnya Nareta tahu bahwa aku telah berbohong padanya, tapi entah apa yang membuatnya masih bertahan hidup bersamaku tanpa pernah bertanya apapun.


Aku tak bisa melepaskan salah satunya, katakanlah aku serakah. Aku tidak akan memungkirinya, aku tidak akan membela diri, aku memang salah.


Tapi siapa yang mau berada di posisi ini? aku rasa tidak ada. Aku sendiri tidak ingin berada di posisi ini. Jika aku bisa memilih aku ingin menikah dengan wanita yang aku cintai dan memiliki keluarga yang harmonis. tanpa harus ada wanita yang tersakiti.


Mungkinkah ini takdir? I don't *k**now*.


Akan tetapi jika ini memang Takdirku, takdir Nareta dan Aqila maka aku meminta sehatkan jasmani dan rohani kami. Jika saatnya tiba Nareta tahu akan kebohonganku sekama ini, Aku berharap Nareta tidak akan meminta pisah dariku, atau pun meminta aku untuk pisah dengan Aqila, apabila bisa rukunkan mereka berdua itu akan terlihat sangat indah.


Aku tahu ini hal yang sangat berat untuk di jalani oleh semua orang, tapi kumohon jangan menghujat atau menghakimi kami. Kami hanya ingin hidup damai tanpa merugikan siapapun.


Tapi jika memang kalian merasa di rugikan aku mohon maaf.


-Junot-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2