
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Nareta ketakutan dengan tatapan tajam nan gelap Junot.
***
"Aku tahu cara buat kamu gak bisa lepas dari aku". Ucap Junot dengan seringaian di bibirnya.
"Maksud kamu ?".
"Buat kamu hamil lagi, dengan begitu kamu gak bisa minta pisah dari aku".
"Heh? apa hanya ada itu yang ada di pikiran kamu". Jujur saja Nareta memang ingin hamil lagi, tapi untuk kali ini Nareta tidak ingin berhubungan tanpa cinta.
"Aku tidak peduli jika kamu tidak ingin hamil lagi dari aku. Aku tidak akan memaksa"Ucap Junot nelangsa.
"Tapi... satu hal yang harus kamu tahu, aku pun tidak akan pernah melepaskan kamu". Pikirku saat itu kata-kata yang keluar dari mulut Junot benar-benar egois dia tidak ingin membebaskan aku pergi, akan tetapi tidak ingin pula mengistimewakan ke beradaanku, terbukti dengan dia ingin berpoligami.
Apa kurangnya aku? Apa salahnya aku? sampai-sampai kamu melirik wanita lain selain aku?!
"Kenapa kamu diam saja?".
"Biar bangku pengadilan yang menjawab". Kataku tanpa pikir panjang.
"Okey". Ucap Junot lalu pergi meninggalkan aku sendiri.
Di kegelapan ini aku terdiam, terpaku oleh kata-kata yang baru saja keluar dari mulutku. Lagi ? lagi-lagi aku bertindak gegabah, lagi-lagi aku membuat kesalahan.
Aku amat sanang bersyukur memiliki Aksa, yang artinya aku bersyukur pula telah dinikahi oleh Junot.
Pria lain mungkin tidak akan berprilaku baik terhadap wanita yang tidak ia cintai. Oh Tuhan mengapa rasanya seperti The Javu, yah kejadian beberapa tahun yang lalu antara aku dan Ayden lagi-lagi harus terulang.
Aku yang memutuskan untuk berpisah, dari laki-laki yang aku cintai karena kesalah pahaman, yang tidak sempat Ayden jelaskan.
Flashback...
Segelas teh hangat, yang terlihat masih mengeluarkan asap, sudah tersaji di meja kerjaku, hampir setiap hari begitu.
Aku tidak pernah tahu dari siapa dan maksudnya apa? hingga beberapa hari setelah aku putus dari Ayden, aku baru menyadarinya, bahwa teh itu di buatkan oleh Ayden sebagai bentuk cintanya terhadap ku.
Dan hal-hal yang aku pikirkan mengenai Ayden ada main dengan Tania di belakang ku perlahan aku mulai tahu, bahwa saat itu Ayden berencana ingin melamar ku dan ia meminta bantuan Tania.
Kau tahu perasaanku saat mengetahui semua hal itu? aku merasa bodoh. Aku merasa aku adalah wanita paling bodoh yang ada di dunia ini.
Rasa sesal sudah pasti aku tanggung sendiri, rasanya seperti ada tali yang membelenggu tepat di leherku dengan kencang hingga aku hampir mati, tetapi tidak. Dan saat ini pun hal serupa tengah aku rasa.
__ADS_1
flashback ON
Aku teramat takut telah mengambil keputusan yang salah, dan kali ini jika keputusan ku salah tidak hanya aku yang mendapatkan kerugiannya melainkan Aksa.
Aksa akan menjadi korban atas perpisahannya aku dan Junot, terlebih aku teramat takut jika aku akan kalah mendapatkan hak asuh atas Aksa.
Aku segera pergi menyusul Junot dan memohon untuk tidak mendengarkan apa yang baru saja aku ucapkan.
"Heh? kali ini apa maksudmu?". Tanya Junot dengan kernyitan di dahinya.
"Aku tidak ingin berpisah dari mu, tapi... aku rasa, Aku tidak sanggup untuk di madu". Ucapku sedikit takut atas keinginanku.
"Baiklah, jika itu mau mu". Ucap Junot acuh lalu pergi meninggalkan ku.
Aku tidak mengerti dengan jawaban yang di berikan oleh Junot, hal itu terkesan ambigu bukan? tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk meminta jawaban yang pasti. Alhasil aku hanya dapat berjalan di belakangnya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun lagi.
"Aksa? kamu sedang apa?". Tanyaku sembari berlari menghampiri Aksa, yang saat ini tengah berdiri di depan pintu.
"Aksa takut mah". Ucapnya sendu.
"Aah, tenang sayang ada mamah, ada Ayah juga". Ucapku sembari memeluk Aksa.
"Ayo kita pulang, sudah jangan menangis!" Ucap Junot sembari menghampiri, kemudian menggendong Aksa berjalan menuju mobil.
***
"Sampai 1x24 jam Bu, baru kita bisa mengatakan bahwa itu penculikan". Ucap Pak polisi.
"Tapi gimana kalau sebelum 1x24 jam ponakan saya terancam, apa Bapak bisa tanggung jawab, hah?". Ucap Juwita lagi dengan emosional.
"Sutt, udah gak ada gunanya kamu marah-marah ke Pak polisi, itu memang sudah menjadi tugas dari Pak polisi". Ucap Marsel menenangkan Juwita.
"Tapi... Mas".
"Sebaiknya kita pulang". Ucap Bunda.
"Bun? gak bisa, kita harus cari Aksa dan Nareta".
"Udah sebaiknya kamu bawa Bunda pulang, biar aku yang cari Nareta dan Aksa".
"Tapi... Mas..." Ucap Juwita memelas.
"Untuk kali ini aja! kamu nurut yah sama kata-kataku?!". Ucap Marsel tak kalah memohon.
__ADS_1
"Yaudah, tapi kalau ada apa-apa segera hubungi aku?! ngerti?". Ucapnya penuh penekanan.
"Iyah". Bunda dan Juwita pun akhirnya pasrah, dan memutuskan untuk pulang akan tetapi bukan rumah Bunda melainkan ke rumah Junot.
Sementara Marsel melanjutkan pencarian Nareta dan Aksa serta Junot ke entah berantah...
***
Akram tiba di area apartemen yang ia ketahui salah satunya di miliki oleh Junot, tetapi belum apa-apa ia melihat cahaya kelap-kelip dari apartemen itu, dan seiring ia mendekat,, Akram mendengar suara musik dengan amat sangat keras dari balik pintu apartemen itu.
"Apa mungkin Junot ada di dalam apartemen tengah berpesta beserta Nareta dan Aksa?". Batinya
"Ahh, mana mungkin... Aksa kan masih kecil, gendang telinganya bisa pecah dengar suara musik yang amat keras seperti itu". Tepisnya.
Belum sempat Akram menekan bel apartemen itu, seorang wanita yang sangat ia kenali keluar dari apartemen itu beserta laki-laki yang juga rasa-rasanya pernah ia temui.
"Aqila? sedang apa kamu disini?". Pertanyaan yang kelisi bukan? tapi begitulah adanya, Akram sama-sekali tidak mengetahui bahwa Junot dan Aqila ternyata telah menikah siri.
Tidak seorangpun dari sahabatnya mengetahui akan hal itu, terlebih mereka berempat memang sudah sangat jarang kumpul-kumpul.
"Aku? ini apartemen ku, kamu yang ngapain datang kesini?". Ucap Aqila dengan lingkungan, setengah sadar.
Akram yang geram dengan tingkah Aqila akhirnya menerobos masuk kedalam apartemen dan membubarkan orang-orang yang tengah asik berpesta.
"Bubar! semuanya keluar!" Ucap Akram kesal
"GUA bilang KELUAR!!! lu pada Budeg apa?". Ucapnya lagi murka.
Teriakan Akram tidak sia-sia, terbukti dengan satu persatu orang-orang itu berjalan keluar apartemen.
"Apaan sih lu? ngerecokin pesta gua? temen-temen gua jadi pada pulangkan gara-gara lo". Ucap Aqila balik marah.
"Heh, sadar dong lo, ini apartemen Junot dan lu yang numpang gak punya hak untuk buat pesta dan meresahkan orang-orang sekitar, paham Lo?".
"Heh, numpang? apa gua gak salah dengar? gua numpang? asal Lo tahu yah ini apartemen milik gua, Junot udah ngasih apartemen ini ke gua".
"APA? gak mungkin". Ucap Akram tak percaya.
"Kalau lu gak percaya, tanya aja sendiri". Akram yang kesal dengan tingkah laku Aqila dan pernyataannya barusan pun segera pergi meninggalkan Aqila dengan pria yang terlihat predator itu.
Namun belum sempat Akram benar-benar pergi Aqila berteriak dan berkata...
"Dan satu hal lagi yang mesti lu tahu, gua sama Junot udah nikah siri, heh...haha". Ucap Aqila sembari tertawa jahat.
__ADS_1
Bersambung...