
Pukul 07:30 Infusan di tanganku sudah boleh di lepas, aku di beri vitamin, dan beberapa obat penghilang rasa nyeri juga pusing. Tak berapa lama datanglah seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan juga berisi.
Namanya Alex, ia mengaku di tugaskan oleh Junot untuk mengantar aku, ibu dan bapak untuk pulang, karena aku ragu akhirnya aku putuskan untuk menghubungi Junot terlebih dahulu.
"Assalamualaikum?".
"Waalaikumsalam, ada apa?"
"Kamu nyuruh seseorang untuk antar aku pulang?".
"Oh itu... iyah, namanya Alex".
"Hm, yasudah kalau begitu, aku pulang dulu".
"Iyah, hati-hati! pastikan sesampainya di rumah kamu istirahat". Belum sempat aku menjawab, panggilan telpon ia matikan secara sepihak.
Aku bertanya-tanya sebenarnya Junot itu benar-benar peduli denganku atau hanya pura-pura sih, jangan buat hatiku bingung dengan berbagai macam tingkah-laku yang sering berubah-rubah.
***
"Sudah siap?". Tanya Alex padaku
"Sudah". Jawabku singkat, aku duduk di kursi belakang sejajar dengan kursi pengemudi, entah itu salah satu perintah dari Junot juga, sebab beberapa kali ia kegep tengah memperhatikanku dari kaca spion depan, aku merasa jengah dengan sikapnya Alex, akhirnya ku alihkan wajahku pada ibu.
"Ibu lagi apa sih?"
"Ini lagi coba hubungi Nadim tapi henteu di angkat-angkat wae". Seperti itulah ibu, selalu paranoid tentang apa-apa mengenai Nadim.
"Paling Nadim masih tidur Bu". Ucapku.
Tidak ada percakapan apa-apa lagi sebab selama perjalanan aku tertidur, sesampainya di rumah Junot aku di bangunkan oleh Ibu, tadinya sih mau di gendong oleh bapak tapi karena usia yang sudah tidak lagi muda dan aku yang bulan lagi anak-anak membuat bapak tak kuat lagi menggendongku.
"Nana, bangun udah sampe!". Perintah ibu sembari menggoyang-goyangkan tanganku,
"Emmm... iyah". Aku segera masuk ke dalam rumah menaiki anak tangga dengan perlahan menuju kamar untuk melanjutkan tidurku yang sempat terganggu, padahal tadi aku sedang bermimpi, di dalam mimpi itu Junot tengah mencari-cari ke beradaan ku sementara itu aku tengah menggendong seorang bayi, dan aku di bangunkan oleh ibu.
***
Aku merasa khawatir jika membiarkan Nareta dan mertuaku pulang begitu saja, akhirnya ku putusan meminta tolong pada Alex untuk mengantarnya pulang.
Saat aku tengah berkirim pesan dengan Aqila, tiba-tiba saja panggilan masuk dari Nareta, aku segera mengangkatnya dengan cepat, kupikir ada apa, ternyata dia hanya bertanya apa benar aku tengah mengirimkan seseorang.
setelah mendapatkan konfirmasi dariku tiba-tiba saja Aqila melakukan panggilan, aku panik dan segera memutuskan sambungan telpon dengan Nareta.
__ADS_1
"Halo, Junot kamu kenapa sih, akhir-akhir ini sering menghilang, apa kamu gak kangen aku?". Ucapnya merengek.
"Enggak gitu, aku kangen kok, cuma akhir-akhir ini aku bener-bener sibuk". Sebenarnya beberapa hari terakhir ini, tepatnya setelah Nareta hadir di kehidupanku, aku tidak pernah lagi memikirkan Aqila.
"Seriously? bukan karena ada wanita lain kan?". Pertanyaannya berhasil membuat aku tersedak, ada sedikit rasa menyesal karena telah membohonginya, dan ini kali pertama aku tidak jujur pada Aqila.
"Ah, enggak kok... sekarang aku udah jadi CEO di perusahaan Ayah jadi tugasku banyak dan gak bisa lagi santai-santai kaya dulu, aku harap kamu ngerti!".
"Apa? CEO... waw, Congretulation!!!".
"Iyah, makasih".
"Tapi kok suara kamu kaya gak seneng gitu? ada apa? are you okay?".
"Em, I fine, I'm okay". Tidak, aku tidak sedang baik-baik saja Aqila, saat ini hatiku tidak baik-baik saja, hatiku tengah gundah gulana.
"Syukurlah kalau gitu, sayang?".
"Em, why?".
"Ahh, gak jadi deh".
"Kenapa? ayo ngomong!" .
"Mau ngomong apa sih? kenapa gak enak, jangan buat aku penasaran". Meskipun dia terbilang anak berada tapi dia tidak manja, dan selalu tidak ingin membebani orang tuannya.
"Satu bulan yang lalu kan kamu udah transfer uang yang cukup banyak buat aku, tapi uang itu sudah habis sayang, aku pake buat keperluan kuliah". Iyah, aku cukup sering mentransfer dia uang, seandainya jarak kita dekat mungkin satu minggu sekali, aku akan traktir dia makan di restoran enak dan mewah. Karena hal itu tidak bisa kulakukan maka pikirku berikan saja uangnya.
"Oh iya gak apa-apa dong, nanti aku transfer lagi yah".
"Em, gak usah sayang aku ngomong gitu bukan mau minta uang lagi kok".
"Iyah, lagi pula kamu gak pernah minta juga kan, pokonya nanti aku TF yah kalau ada waktu senggang".
"Em, makasih yah sayang, kamu paling ngerti dan selalu buat aku happy".
"Iyah, sama-sama aku tutup dulu yah telponnya".
"Oke, bye sayang".
"bye".
Setelah sambungan telpon aku dan Aqila berakhir, Aku benar-benar merasa bersalah bukan pada Aqila justru rasa bersalah itu tertuju untuk Nareta.
__ADS_1
Bagaimana bisa, aku menodai pernikahan ini, Janjiku sehidup semati dengan Nareta kepada Tuhan, kepada Bapak selaku wali dari Nareta, Ibu wanita yang telah melahirkan Nareta, Bunda, Ayah, Penghulu serta para saksi, jika mereka tahu akan kelakuanku ini, pastilah mereka akan amat sangat kecewa.
Tidak ada pilihan lain, selain aku harus memutuskan hubunganku dengan Aqila, lambat laun dia pun akan tahu, sebelum ia tahu dari orang lain maka aku akan menceritakannya dengan mulutku sendiri.
Meskipun begitu aku akan mencari waktu yang tepat agar Aqila tidak terlalu shock saat mendengarnya. Ini semua salahku maka sebisa mungkin aku tidak ingin melukai hatinya.
Aku tidak ingin membuatnya kecewa atau sampai mengganggu pemikirannya yang sedang menuntut ilmu di Negeri tetangga.
***
Aku terbangun pukul 13:30 karena perutku terasa lapar, aku turun kebawah hendak ingin memakan sesuatu, tapi sesampainya aku di dapur kulihat makanan sudah tersaji dengan rapi, entah siapa yang menyediakannya.
kulihat sekitar terasa sepi apa bapak dan ibu ada di kamarnya yah, tiba-tiba saja datang seorang wanita yang sudah berumur dengan senyuman yang khas.
"Siang Non, saya Mbok Ijah pembantu di rumah Nyonya Maharani".
"Hah, Ohh... Iyah ada apa Mbok kok ada di sini?". Tanyaku sedikit heran.
"Mbok di perintahkan oleh Tuan Junot untuk menyiapkan makanan". Aku terdiam sejenak, apa maksud dari Junot memerintahkan anak buahnya untuk melayaniku yah?
"Junot?".
"Iyah Non, kenapa?".
"Ahh, enggak apa-apa, yasudah aku makan dulu yah Mbok, makasih".
"Iyah, Non silahkan, sama-sama".
"Eh, Mbok udah ketemu dengan Ibu dan Bapak belum?". Tanyaku.
"Sudah Non, tadi Ibu dan Bapak juga sudah makan lebih dulu". Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau Mbok sendiri, udah makan belum?".
"Belum Non, Mbok makan setelah Non selesai saja".
"Belum? kebetulan kalau begitu ayok makan di sini Mbok, temani saya!". Aku memang tidak suka membeda-bedakan orang, terlebih aku tidak biasa memiliki pekerja rumah, dan aku juga tidak suka makan sendirian.
"Gak udah Non, Mbok makan di dapur saja itu pun setelah Non selesai makan".
"Enggak Mbok, ayo duduk sini, ini permintaan saya!". Dengan sedikit paksaan akhirnya IRT bunda yang bernama mbok Ijah akhirnya mau makan bersamaku.
Next?
__ADS_1