
Perlahan namun pasti gerak langkah ini menghampiri kerumunan Mas Ayden dan Tania, mereka sedang asik minum-minum, sesekali lengan Tania menyentuh bagian yang terkesan intim bagiku.
Dan baru ku sadari, ini kali pertama aku melihat Mas Ayden sumringah seperti tidak memiliki masalah, tidak seperti saat bersama dengan ku, ekspresi yang biasa ia tunjukan adalah kerutan di dahi.
Beban besar di pundaknya memang tidak mudah, maka dari itu aku terkesan sering mengalah, aku tidak ingin menambah beban pikiran Mas Ayden dengan mempermasalahkan hal yang tidak terlalu berarti.
***
Aku dan calon ibu mertua ku sampai di meja Junot, dan sangat jelas terlihat keterkejutan dari Mas Ayden saat melihat ku, hingga ia mencoba melepaskan tangan Tania yang merangkul tangan nya.
"Permisi?!". Calon ibu mertua ku bersuara sembari menenteng sebuah gelas yang di dentumkan dengan sendok, perlahan nan pasti semua tamu terfokus kepada calon mertua ku, bahkan ada yang menghampiri ke kerumunan meja yang saat ini tengah kami tempati.
Menyadari pembuat pesta yang berbicara, seseorang menghampiri sembari memberikan mikrofon, aku yang berada di sebelah calon mertua hanya dapat berdiam diri, tapi fokus ku bukan pada hal itu akan tetapi kepada Mas Ayden, begitupun dengan Mas Ayden tatapan nya seolah meminta penjelasan, yang jika di artikan mungkin, mengapa aku bisa ada di sini?
"Mohon perhatian nya?! oke baik, malam ini adalah malam istimewa untuk saya, terutama untuk anak saya Junot". Saat calon mertua ku menyebut nama anak nya, seorang pria tinggi dengan postur tubuh yang sempurna, berjalan menghampiri dan berdiri di samping ibu nya.
"...yang malam ini berulang tahun :) dan ini..". Tangan ku di tarik secara halus dan di sejajarkan dengan berdirinya pria bernama Junot yang mungkin kelak akan menjadi suami ku.
"...wanita ini adalah hadiah teristimewa untuk Junot". Tentu saja secara tidak langsung perkataan calon mertuaku sedikit menjelaskan kenapa aku ada di sini kepada Mas Ayden, tatapan ku tak pernah beralih sedikitpun, aku ingin memastikan bagaimana reaksi Mas Ayden.
"Dia adalah calon menantu keluarga kami...". Tanpa kusadari ternyata banyak orang yang mengabadikan momen ini dengan kamera smartphone nya masing-masing, acara terkesan ricuh, banyak orang yang kemudian meminta penjelasan lebih rinci kepada calon mertuaku.
Tiba-tiba saja seseorang menarik lengan tangan ku, dia membawa ku ke ruangan yang sunyi sepi hanya ada aku dan dia, pikirku mungkin itu Junot atau calon mertuaku, aku keliru ternyata dia adalah Mas Ayden.
***
"Apa yang sebenarnya terjadi?". Tatapan nya sendu ada rasa bingung dan keterkujutan yang amat sangat terlihat atas apa yang baru saja terjadi.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa aku di jodohkan"
"Tapi..."
"Aku tidak bisa melawan orang tua ku, terlebih orang yang aku perjuangkan ternyata memang salah"
"Apa maksudmu? Mm.. soal Tania... aku"
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun Mas, semuanya sudah jelas"
"Dengar dulu penjelasan ku !"
"Tidak perlu, aku sudah melihat semuanya". Aku pergi meninggalkan nya sendiri, sekali lagi aku membalikan badan ingin memastikan apa Mas Ayden mengejarku atau... aku melihat dia berdiri terdiam membelakangiku, seolah-olah tak peduli.
__ADS_1
Apa memang benar bahwa selama ini Mas Ayden tidak pernah mencitai ku? air mata tak dapat di bendung lagi, aku berjalan dengan lunglai sembari menunduk, dan tiba-tiba saja seseorang dari arah bersebrangan berdiri menghalangi jalanku.
"Dari mana saja ? kita semua mencarimu?!". Suaranya terdengar khawatir dengan tulus, aku mengadahkan wajahku dan ternyata orang itu adalah Junot. Aku segera menghapus air mata ku, dan senyum simpul ku tunjukkan.
"Maaf, aku tidak suka keramaian"
"Setidaknya bicara dulu, jangan main pergi aja". Kami berdua sama-sama saling menatap tanpa ada rasa, lalu kita berjalan bersebelahan melewati pintu demi pintu, salah satu di antara kita tak ada yang berani memulai percakapan hingga akhirnya kita kembali bertemu dengan wanita yang Junot panggil Bunda.
"Kalian pergi kemana saja?"
"Mm... maaf tante aku dari toilet". Kembli aku berbohong.
Sepintas ku lihat alis kanan Junot terangkat, mungkin ia tidak menyangka bahwa aku akan berbohong, alih-alih memberitahu kebenaran nya justru dia menjawab sebalik nya.
"Iyah... tadi aku menemukan dia di toilet". Tak di sangka dia akan mengikuti alur cerita yang ku buat, meskipun ini kali pertama aku melihat nya, tapi bisa ku simpulkan dia bukanlah tipekal pria penurut.
"Mm, tante aku pamit pulang dulu yah?!"
"Hm pulang?"
"iyah, ini sudah larut malam"
"larut? baru jam 21:30 kok"
"Hm, baiklah kalau begitu malam ini kamu nginep sini saja? kan sudah larut"
"Hah? eng.. gak bisa, maaf tante besok aku harus kerja"
"Mm... sangat di sayangkan, oke Bunda gak bisa memaksa. Tapi untuk yang satu ini kamu gak bisa nolak"
"Hm? apa tante?"
"Kamu pulang harus di antar Junot?!"
"Hah? ta...". Belum sempat aku menolak, Junot sudah lebih dulu menjawab, itu artinya aku tidak dapat beralasan apa pun lagi.
"Aku ambil kunci mobil nya dulu"
"Iyah, Bunda dan Nareta tunggu di meja depan ya?!"
"Hem"
__ADS_1
***
Di sepanjang perjalanan pikiranku berkelana, rasa sakit kembali menerpa, dan sedari tadi aku mengacuhkan pria yang ada di sebelahku, ia mencoba mengajak ku berbicara.
"Kamu tidak menyukai pesta?"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Hm, mungkin karena aku adalah wanita dari Desa"
"Hmm...". Jujur saja sebenarnya aku tidak begitu mendengarkan apa yang baru saja ia tanyakan, juga karena suasana hati ku yang kacau maka aku menjawab singkat dan terkesan asal-asalan.
"Ehm... maaf sebelumnya aku lancang, tapi jika boleh aku tahu apa kamu menyetujui perjodohan ini?"
"Iyah"
"Hm, apa kamu tidak memiliki pacar?"
"Tidak"
"Ahh. Baiklah, lalu apa yang membuat mu menyetujui akan perjodohan ini"
"Aku ingin berbakti kepada orang tua"
"Hanya itu?"
"Iyah". Tak lama kemudian kita sampai di kosan ku, aku segera turun dan berpamitan.
"Terima kasih, aku masuk dulu"
"sama-sama"
***
Aku segera memasuki kosan yang tidak terlalu besar itu, menyimpan tas jing-jing di meja rias dan menjatuhkan tubuh di atas kasur.
Air mata kembali berderai tanpa ku minta, rasanya aku ingin berhenti di jarum jam ini, tak sanggup untuk menatap hari esok dengan kenyataan yang telah terjadi malam ini.
Bagaimana besok aku harus bersikap, terlebih aku harus tetap tersenyum di depan nya, belum lagi harus bertatap muka dengan Tania, dan yang lebih menyakitkan nya lagi... aku harus menghadapi ini semua seorang diri, tak ada tempat untuk ku berkeluh kesah.
__ADS_1
Next?