
Malam yang kau ciptakan begitu hangat, mimpi yang kau tawarkan begitu menggiurkan, tetapi aku tak mampu bangun dan kembali menatap kenyataan.
Dua hari sepulang dari pantai, tanpa sepengetahuanku maupun Junot, Bunda dan Kak Juwita telah menyiapkan acara resepsi pernikahan kita. Penghulu yang menikahkan kita berdua merupakan seorang pegawai resmi dari sebuah KUA di Jakarta.
Pernikahan kita sudah terdaftar hanya tinggal menerima dan kedua belah pihak mendatangani di buku nikah dan yang lainnya. Seketika itu juga aku merasa bahagia, tetapi entah kenapa aku merasa tidak dengan Junot. Wajahnya terlihat gusar dan panik, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku, meskipun begitu aku tak berani bertanya.
***
Setelah seharian membolos dari kantor, aku mendapat SP1 yah memang salahku juga tidak memberi kabar apa pun ke pihak kantor, karena handphoneku mati begitupun dengan handphone Junot, tetapi aku tidak menyesal, sebab hari itu aku benar-benar merasa bahagia yang luar biasa.
Untuk pertma kalinya, ada seseorang yang mau mendengarkan semua cerita masa laluku, yang sama sekali tidak menyenangkan, tetapi tidak membuat ia merasa bosan untuk terus mendengarkan, dan beruntungnya aku bisa menangis sejadi-jadinya tanpa rasa takut dia akan merasa ilfil, justru sebaliknya dia ada untuk menenangkan ku, untuk menguatkan ku dalam suka maupun duka karena luka di masa lalu, dan dia adalah suamiku Junot Abraham.
Pesta akan di gelar dengan konsep super mewah sudah di persiapkan oleh Bunda dan Kak uwita, aku dan Junot hanya terima beres mulai dari gedung, busana gaun, makeup, catering, suvenir, dan lain sebagainya sudah siap, tinggal menunggu hari H dan seharusnya hari ini aku dan Junot ke KUA mengurus surat-surat nikah kemudian di ambil, tapi tanpa ada paksaan dari bunda sepertinya Junot enggan untuk mengurus-urus itu semua.
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu tiba, mulai dari sahabat, kerabat, kolega, dan yang lainnya berkumpul menjadi satu dalam sebuah acara resepsi ku. Banyak orang yang tidak menyangka termasuk aku, ibu dan bapak serta Nadim sudah ada di Jakarta satu ada sejak dua hari yang lalu, dan selama itu juga senyum kebahagiaan terpancar dari mereka semua, aku benar-benar bersyukur memiliki kedua keluarga yang begitu kompak, mereka sangat bersemangat mengurus ini itu untuk kelancaran acara hari ini.
Junot tidak lagi mengucapkan janji suci pernikahan, akan tetapi Mas Marsel dengan tim sudah mempersiapkan video acara sakral itu, yang kemudian di putarkan.
banyak orang yang tiba-tiba menangis, suasana bahagia seketika berubah menjadi haru, entah apa yang mereka pikirkan yang pasti buatku tangisan mereka adalah tangisan kebahagiaan yang luar biasa, yang tidak dapat di utarakan oleh kata-kata.
setelah pemutaran video akad nikah dengan durasi 20 menit itu selesai, barulah surat yang aku tunggu-tunggu itu datang, karena kemarin setelah mendatangani buku itu aku belum sempat membukanya karena Bunda lah yang menyimpan katanya takut rusak.
__ADS_1
Setelah penyerahan buku nikah dengan pembacaan segala isi peraturannya, kita melakukan sesi pemotretan, dengan gaun yang mewah, riasan super cantik dan keluarga inti orang-orang terkasih, rasanya semua ini sudah lebih dari cukup, terima kasih Tuhan.
kemudian satu persatu tamu undangan berdatangan, menyalami aku dan Junot dengan ucapan manis, doa yang selalu aku panjatkan, pemotretan dengan gaya yang super gokil, dan tibalah pada deretan orang-orang yang aku kenal dia adalah Mas Ayden, Tania, Lisda dan teman kerja lainnya.
"Selamat atas pernikahannya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah". Ucap Mas Ayden singkat padat menatap mataku tanpa sedikitpun berpaling ke arah yang lain.
Entah Junot menyadari atau tidak, yang pasti gerakan tangan Junot padaku terasa posesif sejak kedatangan Mas Ayden.
"Terima Kasih". Ucapku, begitupun dengan Tania, dia mengucapkan kalimat yang sama.
"Wah, jadi ini suami yang lu rahasiakan dari gua dan orang-orang kantor, cowok yang selalu jadi bahan tontonan, yang sering antar jemput lu? kenapa gak bilang".
"Heh? enggak kok, gua gak merahasiakan, cuma waktunya aja yang selalu gak tepat untuk gua kenalin ke kalian". Bantahku, meskipun pada akhirnya mereka tahu aku tengah berbohong.
Banyak wanita-wanita yang histeris, merasa kesal dan patah hati, pria yang mereka agung-agung kan telah menikah dengan wanita yang jauh dari kesan cantik.
"Ah, siap laksanakan". Ucap Lisda dengan tingkah guyon menghormat seperti perintah dari atasannya, semua orang tertawa dengan tingkah Lisda termasuk aku.
Setelah semua orang-orang yang aku kenal menyalami, kemudian tibalah pada sesi pemotretan, dengan urutan teman-teman kantor, Lisda, Junot, Aku, Mas Ayden, Tania kemudian pegawai Kantor bagian eksekutif.
Jujur saja aku merasa risih dengan kehadiran Mas Ayden, apalagi sekarang aku berdiri antara mereka, meskipun dulu aku sempat mendambakan Mas Ayden lah yang berdiri bersamaku di pelaminan, akan tetapi kenyataannya sudah berbeda sekarang.
Belum lagi pakaian yang di kenakan Mas Ayden tidak ada bedanya dengan pakaian yang di kenakan Junot, tuxedo berwarna putih. Kemudian di sesi pemotretan itu Mas Ayden sengaja berbicara setengah berbisik di telingaku.
__ADS_1
"Heh, aku nyaris tidak percaya ternyata kamu bermuka dua". Ucap Mas Ayden penuh dengan tekanan di setiap katanya, aku yang tidak terima berbalik menatapnya begitupun dengan Mas Ayden yang memang sedari tadi selalu menatapku, kemudian siluet putih efek dari kamera menyala.
~Cekrekk....
Merela semua turun dari panggung kemudian menyantap makanan yang sudah di hidangkan. Ada perasaan lega saat mereka akhirnya berangsur-angsur turun, tetapi kalimat terakhir yang Mas Ayden ucapkan berhasil membuat konsentrasi ku menurun. Apa maksudnya? Jelas-jelas hubungan kita berdua berakhir karena dia sendiri yang ketahuan berselingkuh.
"Kamu kenapa?". Tanya Junot, karena sedari tadi aku memang tidak fokus.
"Heh? gak apa-apa".
"Kalau kamu lelah, duduk saja!".
"Gak usah, aku baik-baik aja kok".
"Yakin?"
"Iyah".
Tak lama kemudian tiga pria tampan datang, hal itu membuat para tamu undangan terutama kaum wanita terpesona, ada yang menjerit, ada juga yang berteriak, tentu saja orang-orang yang melakukan itu semua adalah teman kerjaku.
"Heh, kenapa sih teman kerjamu norak semua?! apa gak pernah lihat pria tampan sebelumnya? apa gak ada pria tampan di tempat kerja kalian, Hah?". Ucap Junot terlihat kesal.
Next?
__ADS_1