
"Gak kebalik? harus nya Bunda yang tanya, kenapa kamu gak datang ke pesta adik kamu, heh? wajar dong Bunda marah "
"Oh, itu... aku lagi sibuk ngurusin kepindahan rumah Bun, Mas Marsel juga lagi sibuk ngurusin Restoran". Mendengar alasan Bunda marah karena hal itu, Juwita sedikit lega dan segera menyeka air matanya.
"Oh bagus yah, sibuk ngurusin diri sendiri, gak usah kesini-sini lagi aja sekalian"
"Loh, kok gitu? Lagian Junot kan udah gede, gak perlu di buatin pesta Bun". Juwita sedikit mengernyitkan dahi nya atas jawaban Bunda yang menohok.
"Yah gak bisa dong, Junot itu penerus dari keluarga kita, seharus nya kamu bantuin Bunda bujuk Junot supaya mau menikah dengan anak dari teman Ayah"
"Iyah, Aku pasti...". Belum sempat Juwita menjawab, Bunda sudah lebih dulu bicara.
"Nah itu tahu, kamu gak bisa kasih penerus".
"Apa? Bunda nyalahin aku, karena aku mandul? Bunda aku juga gak mau mandul, apa ini semua salah aku? kalau aku bisa milih, aku pasti gak akan pernah mau terlahir jadi wanita mandul Bun". Hati Juwita kembali terluka oleh perkataan Bunda, dan ini bukan kali pertama, begitu pun dengan air mata yang sudah kembali menggenang di pelupuk mata nya.
"Dan asal Bunda tahu, jika aku bisa milih, aku pun gak akan pernah mau terlahir dari rahim Bunda". Air Mata Juwita pecah, kata-kata itu keluar dari mulut nya tanpa ia sadari.
"Apa? kamu bener-bener anak kurang ajar, anak gak tahu terima kasih". Sama halnya dengan Juwita, kini hati Bunda pun terluka, Bunda hendak pergi ke toilet untuk mengeluarkan air mata nya, dan tiba-tiba saja Bunda merasa pusing, lemas, dadanya sakit, napas nya terasa sesak, jantung nya memompa dengan lebih keras, dan Bunda pingsan di depan bath up.
Beruntung nya Juwita belum pergi meninggalkan kamar Bunda, Juwita yang mendengar suara terjatuh nya Bunda segera berteriak memanggil nama ku.
"JUNOT?! JUN ? tolongin Bunda!"
Seperti itulah Bunda, pada dasar nya Bunda itu baik, penyayang, tapi Bunda gampang tersulut emosi, dan saat emosi itu datang Bunda suka asal bicara tanpa di pikir terlebih dahulu, yang berakhir mengeluarkan kalimat fatal, dan semua sifat bunda menurun kepada Juwita.
Flashback OFF
Maka pantas saja, saat ini Juwita merasa Frustasi. Rasa bersalah sedang menggerogoti pikirannya, dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada bunda.
***
"Hehh, Mas andai saja aku bisa sedikit lebih mengalah dan gak ngomong hal fatal itu, mungkin saat ini Bunda gak akan kek gini, hik hik hik... ini semua salah aku Mas". Air mata kembali mengalir tanpa henti.
"Sutt, kamu gak boleh ngomong gitu!". Marsel berusaha menenangkan Juwita sembari menyeka air mata nya.
__ADS_1
***
Nareta
Aku segera masuk ke dalam mobil, sebelum dia kembali membuat ulah, seperti tadi menekan klakson dengan begitu kencang nya, dan berhasil membuat orang di sekitar melirik dengan sinis kepada kami.
Aku duduk di kursi belakang, tetapi hal itu tidak membuat dia segera melajukan mobil, justru ia kembali menggerutu, kata nya dia bukan supir maka dari itu dia menyuruhku untuk duduk di samping nya.
Tidak sampai di situ, dia kembali membuat ku kesal, dengan mengendarai mobil dengan kecepatan di atas normal. Aish ... dia pikir ini jalan tol dan milik nya sendiri apa?
Aku memintanya untuk menurunkan kecepatan, tapi dia kembali menghiraukan ucapakan ku. Tak ada pilihan lain selain berpegangan dengan kuat dan merapalkan doa-doa pikirku.
Sudah dapat ku pastikan, wajahku saat ini pasti pucat pasi karena keringat dingin pun sudah membanjiri sekujur tubuh ku. Namun tak pernah ku sangka dia akan mengeluarkan kalimat yang terlihat penasaran dan khawatir dari mulut nya.
"Are you okay ? ". Tidak, tidak sama sekali jawabku dalam hati, tapi aku urungkan.
"Hah? bisa pelankan kecepatan nya?!". Ucapku sedikit memohon.
Syukurlah tanpa berpikir panjang atau bertanya lagi, dia segera menuruti keinginan ku. Setelah memperlambat kecepatan menjadi lebih stabil, aku mulai bersuara tanpa dia minta.
***
"Hm? oke aku gak akan ngebut lagi". Ucapnya penuh rasa penyesalan.
Sesampainya kita di RS aku di bawa nya ke ruangan ICU yang terlihat mewah, mungkin ini kelas VIP pikirku. sampai di sini, dia masih belum juga menjelaskan apapun, aku bingung dengan apa yang sebenar nya terjadi. Sementara itu aku melihat seorang wanita cantik tengah terduduk lesu sembari menyenderkan kepala nya di bahu seorang pria.
Tak lama kemudian keduanya menyadari akan kedatangan kami, dan mereka segera berdiri kemudian berjalan menghampiri kami.
"Nana". Sahut nya dengan senyuman hangat. Alih-alih senang, justru aku lebih-lebih terkejut dengan ucapan nya, bagaimana bisa orang itu mengetahui nama ku?
"Iyah?". Jawabku penuh dengan keraguan.
"Ini Juwita kakak ku". akhir nya Junot angkat suara, mungkin ia akan mencoba menjelaskan apa yang sebenar nya terjadi di sini.
Wanita yang bernama Juwita itu kembali tersenyum kepada ku, akan tetapi kali ini tidak hanya senyuman, tangan nya bergerak memegang kedua tanganku dengan erat, yang kemudian ku balas dengan senyuman yang tak kalah hangat nya. Tak lama kemudian kedua mata ku beralih pada pria yang ada di sebelah wanita yang bernama Juwita itu.
__ADS_1
"Lalu siapa pria itu?". Tanya ku dalam hati.
"Dia suami nya, Mas Marsel". Ucap Junot kembali, aku tersenyum sembari mengangguk tanda mengerti. Kemudian aku melirik Junot dengan dahi berkerut.
"Hah?". Bagaimana bisa, dia bersikap seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran dan hati ku saat ini?
"Syukurlah, kamu mau datang kesini". Ucap Kak Juwita dengan tangan yang masih belum juga melepaskan tangan ku.
Sementara pria yang di sebelah Kak Juwita yang ternyata suami nya, segera menyuruh ku untuk masuk ke dalam ruangan.
"Ayo, sebaiknya kamu segera masuk?!". Yang di timpal Junot.
"Ah, Iyah"
"Siapa yang sakit ?". Ucapku kemudian.
"Bunda" jawab Kak Juwita sembari berjalan menghampiri pintu.
"Bunda? kenapa ?". Saat mendengar kata Bunda, Aku benar-benar khawatir. Pantas saja tadi di sepanjang perjalanan Junot terlihat kacau.
"Iyah, Bunda jatuh dari toilet karena terkena serangan jantung ringan, sampai saat ini Bunda masih belum juga siuman, tapi sedari tadi Bunda terus memanggil nama kamu". Ucap Kak Juwita kembali.
"Kalian langsung masuk aja!". Seru Mas Marsel.
"Kakak gak masuk?"
"Enggak, bukan nya gak mau, tapi gak boleh". Jawab Kak Juwita dengan lesu.
"Hah? kenapa?. Aku merasa bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Ayo, jangan banyak bertanya, masuk saja?!" jawab Junot berbisik di telinga ku, tatapan nya terlihat kesal atas pertanyaan-pertanyaan ku.
Kali ini aku menuruti perintah nya, tanpa banyak bertanya. Aku masuk dan duduk di kursi samping kanan Bunda, dan Junot berdiri di samping ku.
lima menit kami saling diam, melihat keadaan Bunda yang banyak sekali dipasangi alat medis. perlahan tangan ku menyentuh tangan Bunda.
__ADS_1
Next ?