Aksa

Aksa
part 95


__ADS_3

aku hanya ingin melihat senyumnya lebih lama, apa itu salah?


Jika aku tidak dapat memilikinya, maka laki-laki manapun tidak ada yang boleh memilikinya.


Satu minggu berlalu aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa aku merindukannya, Setelah kejadian Nareta hampir di lecehkan oleh Ayden, Aksa setiap saat selalu menemaninya.


Bohong kalau aku tidak cemburu, Iyah... aku tahu, Aksa adalah anakku bersama Nareta, tetapi dia tetap laki-laki bukan?


Apa itu terdengar aneh? Aku cemburu pada anakku sendiri. Aku rasa tidak. Sebab akulah Ayahnya dan akulah orang yang paling tahu bagaimana Aksa, baik buruknya dia aku sangat tahu, kenapa? karena dia 99,9% benar-benar mirip denganku.


Ber*ngsek-ber*ngseknya dia itu sama persis dengan diriku. Maka sangat wajar jika aku cemburu.



Cemburu, karena Aksa dapat 24jam bersama Nareta, sementara aku tidak bisa. Cemburu, karena Nareta sangat mempercayai Aksa, dan aku tidak sedikitpun mendapati kepercayaannya. Heh... kalian harus tahu?! Sekejam itu sikap Nareta terhadapku, tapi lebih besar dari pada itu rasa cintaku padanya.


Meskipun sebenarnya aku sangat tidak percaya diri bisa kembali bersamanya dalam bahtera rumah tangga. Terlebih lagi kini Aksa akan pergi, rasanya akan semakin sulit untukku bertemu dengan Nareta. Iyah... tidak ada lagi alasan klise Aksa merindukanmu atau aku merindukan Aksa.


Tapi jika tidak begitu sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa berada di sampingnya, yah meskipun itu hanya sekedar memandangi senyum tulusnya saja, yang kini sudah menjadi candu bagiku.



Dalam keadaan apapun, bagiku... dia selalu terlihat cantik dan menarik. Semenawan itu Nareta.


Sebenarnya aku ingin selalu berkata jujur dan mengutarakan apa-apa yang ada dalam isi kepalaku setiap kali aku memandangnya, akan tetapi aku sudah tahu akan jawabannya, dan aku sudah sangat lelah mendengar penolakannya.


Kini biarlah Nareta sendiri yang memutuskan, ingin seperti ini saja atau mendapati kemajuan? tapi jangan sampai mendapati kemunduran.


Yang pasti untukku Nareta akan selalu menjadi wanita nomor satu setelah Bunda. Jikapun Nareta tidak berkenan menjadi wanita nomor satu dalam hidupku, tidak apa, cukup untukku saja.


Sekarang aku tidak lagi membutuhkan pengakuan ataupun status, asalkan kita sama-sama bahagia, tentunya menurut versi kita masing-masing.


Aku akan turut bahagia atas kebahagiaannya.


***


Akhirnya hari ini datang juga, hari dimana aku harus mengikhlaskan Aksa pergi untuk menuntut ilmu. Hari dimana dalam sekejap hatiku terasa kosong, aku seperti layangan putus, terombang ambil oleh angin entah harus kemana? untuk kedua kalinya.


Aku seperti sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal di Jakarta apalagi untuk menghuni penthouses pemberian mantan suami, buatku itu terlalu berlebihan, dan lagi aku tidak membutuhkan itu.

__ADS_1


penthouses itu terlalu megah dan besar untukku tinggali sendiri. Lagi pula aku lebih suka hal-hal yang sederhana dan udara pedesaan. Rencanaku saat ini, setelah mengantar Aksa ke bandara... mungkin untuk beberapa hari atau minggu aku akan pulang kerumah orang tuaku.


Untuk memulihkan kembali rasa percaya diri, dan suport serta kehangatan sebuah keluarga, untuk saat ini... rasanya aku amat sangat membutuhkannya.


Sebab aku tidak tahu lagi harus pergi kemana? selain kembali kerumah, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.


***


Rasa haru dan tangis saat mengantarkan Aksa pergi tidak dapat di elakkan, beruntung Aksa tidak benar-benar pergi sendiri, Akan selalu ada Junot di sampingnya menemani ia untuk melebarkan sayapnya.


Sementara aku hanya dapat melihat dan mendoakannya dari jauh, apapun itu yang terbaik untuk Aksa Aku akan selalu mendukungnya. Bukannya aku tidak mau mengantarnya hingga Inggris, Melain karena keadaan ekonomiku yang tidak sebaik keadaan Junot, maka aku cukup mengantarnya sampai Bandara Soekarno-Hatta.


Iyah, kesenjangan sosial antara aku dan Junot benar-benar terjadi, meskipun yang kalian tahu perpisahan aku dan Junot bukan karena hal itu, akan tetapi... jika aku kembali melihat kebelakang aku merasa semua yang terjadi terasa seperti mimpi, bagaimana bisa aku menikah dengan seorang Junot Abraham? Jika bukan karena perjodohan itu, maka sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi.


Jangankan menikahiku hanya sekedar melirikku saja, aku meragukan hal itu, rasanya tidak mungkin Junot mau.


Tapi entah kenapa aku merasa bersyukur... tentu saja bukan bersyukur karena aku pernah berada di keluarga Abraham yang benar-benar creazy rich, akan tetapi... aku bersyukur karena semua hal yang terjadi dalam hidupku, terutama atas keberadaan Aksa Abraham yang sangat luar biasa dalam hidupku.


Semua hal yang terjadi dalam hidupku adalah hal-hal yang tidak pernah aku rencanakan, dan tidak pernah sedikipun aku impikan, semuanya berjalan atas rencana dan skenario Allah SWT.


Selebihnya aku hanya bisa berikhtiar dan menjalankan, jikapun pada akhirnya aku harus menjalani kehidupan yang tidak mudah, tapi aku amat sangat yakin... kesulitan tidak hanya menimpa padaku saja, atau mungkin orang lain mengalami kesulitan yang lebih, dari pada yang aku alami, siapa yang tahu?


Tetapi sedikitpun tidak ada hal yang pernah aku sesali. Atas luka yang pernah menancap di d*da, atas bahagia yang tak terkira, yang tak dapat dibeli dengan angka. Semuanya amat sangat berharga tak ternilai.


Meskipun memang benar aku pernah jatuh cinta, cinta sedalam itu... hingga aku tidak dapat membedakan cinta dan luka. Benar aku pernah berada di antara Junot dan Aksa, hingga aku lupa aku bukanlah siapa-siapanya lagi Junot sementara untuk Aksa sampai kapanpun Aku adalah Ibunya.


Dan keberadaanku untuknya tidak akan pernah dapat tergantikan oleh siapapun.


***



Apa yang bisa dilakukan oleh anak lelaki berusia tujuh tahun? disaat aku tahu Ibuku tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Dia adalah wanita dewasa yang ceroboh, dan terlalu baik, pintar dan juga mempesona. Tapi sialnya dia harus menikah dengan lelaki yang tidak sebaik dirinya, dan lelaki itu adalah Ayahku. Sialnya lagi dia harus melahirkan anak dan anak itu adalah aku.


Sampai disini apa kalian paham apa maksud dari cerita ini?


Aku Aksa Abraham tidak seharusnya terlahir kedunia jika pada akhirnya aku merasa tidak di inginkan, aku merasa bersalah atas kekecewaan dan luka yang Ibuku rasakan. Dan sialnya lagi, aku merasa dalam diriku darah Ayahku mengalir begitu dominan, terbukti dengan sifat dan tindak tandukku yang nyaris sama seperti dirinya. Haruskah aku bersyukur? atau memakai diriku sendiri?

__ADS_1


Tidak ada kata terlambat untuk berubah pikiran, detik-detik pemberangkatan... kupeluk tubuhnya yang ringkih dalam dekapan tubuhku yang tidak lebih besar dari tubuhnya.


Ku ucapkan kata yang nyaris membuat semua orang tak percaya dan tak berdaya.


"Mah, Aksa disini aja yah? Aksa mau nemenin Mamah aja, kemanapun Mamah mau pergi".


"Apa?". Semua orang tak terkecuali Ayah terlihat terkejut atas penuturanku.


"Kamu gak boleh ngomong kaya gitu?". Ucap Mamah.


"Aku serius Mah".


"Enggak, kamu harus pergi... gapai semua keinginan Aksa, Mamah janji akan nunggu kamu sampai kamu kembali".


"Tapi... Mamah harus janji akan tetapi sendiri!?". Ini yang aku maksud, dalam tubuhku mengalir darah Ayah yang begitu dominan, Keegoisanku yang tak menginginkan Ibuku sendiri bahagia melebihi kebahagiaan yang ia rasakan di saat bersamaku.


Meskipun di satu sisi aku ingin sekali melihat ia bahagia, tapi aku seolah tak rela jika ia bahagia tidak bersamaku.


"Heh? oke... i'm promise!".


"Sampai tua?".


"Iyah, bahkan sampai kamu menikah dan memiliki anak, Mamah gak akan pernah menikah lagi".


"Meskipun ada pria tampan, baik, kaya raya dan ia ingin menikahi Mamah?".


"Iyah, Mamah akan menolaknya!".


"Aksa pergi". Ucapku kemudian mencium pipinya bergantian, dan pergi tanpa sedikitpun kembali menoleh kebelakang, sebab aku tahu, jika aku kembali berbalik... Aku tidak akan pernah pergi ke Inggris hingga detik ini.


14thn Kemudian...



Aksa Abraham.


TAMAT


Hai? plis jangan minta next? kalau mau, minta part 2 dari cerita Aksa, Ehehe...

__ADS_1


Terima Kasih Author ucapkan atas apresiasi para pembaca yang setia menunggu Author update. Maaf yah kalau gak sesuai ekspektasi kalian, tapi buat Author cerita hidup yang sesungguhnya yah memang begitu tidak ada kesempatan kedua, yah meskipun ada tapi memang sangat langka. Jadi pesannya;


"Jalani kehidup masing-masing meskipun tidak dapat lagi hidup bersama dalam satu atap yang sama, tapi bukan berarti tidak akur dan harus bermusuhan".


__ADS_2