Aksa

Aksa
part 41


__ADS_3

Selingkuh? tidak pernah ada di kamus hidup gua, tetapi setelah kembali gua telaah, mungkin memang iya tanpa gua sadari gua udah selingkuhi Aqila atau Nareta?


"Siapa yang selingkuh? gak ada yang selingkuh, hanya kenalan doang gak lebih, gua rasa kalian berdua orang yang paling tahu gimana gua, buat gua itu hal yang gak akan pernah mungkin terjadi". Bantahku.


"Heh, gua sih gak peduli kalau lu selingkuh sekalipun, toh kalian berdua tahu gimana brengseknya gua tapi gak pernah tuh lu pada tinggalin gua saat gua terpuruk". Ucap Zain sembari berlalu pergi.


"Gua harap, Junot yang gua kenal masih akan tetap sama. Terlepas dari kini dia yang merupakan CEO muda". Ucap Bagaskara yang kemudian menyusul Zain.


"Hah, hampir saja...". Ucapku sembari menghembuskan nafas berat.


"Hampir saja apa?". Suara yang tak asing lagi di telinga, Akram.


"Heh, lu sejak kapan di sini?". Ucapku tak percaya, sebab dia ada di balkon samping kanan gua, sedang duduk sembari menyulutkan sebatang rokok, dan setahuku Akram bukanlah perokok aktif, hanya sesekali saat otaknya terus berpikir tiada henti memikirkan apa-apa yang belum terpecahkan.


"Sebelum lu datang kesini, bertelepon dengan seorang wanita".


Akram merupakan orang yang sangat peka dan tidak mudah untuk di bohongi, yah meskipun kurasa Bagaskara dan Zain pun tidak sepenuhnya percaya akan perkataan ku, tetapi mereka berdua masih berusaha untuk percaya, tapi hal itu mungkin tidak akan berlaku untuk Akram.


"Siapa wanita itu?". Tanya Akram, dengan nada yang tak biasa.


"Nareta, wanita baik-baik yang tidak pernah gua sangka".


"Masuk ke hati lu?". Tanya Akram yang kini sudah berdiri.


"Harus masuk ke hati gua". Dan tiba-tiba saja, satu pukulan menghantam wajahku.


"Apa maksud dari ucapan lu? lu tahu kan apa alasan gua kenalin Aqila ke lu?". Gua diam membisu, karena percuma saja melawan Akram yang merupakan pemilik dari sabuk hitam.


"Karena gua pikir, lu adalah pria yang tepat untuk Aqila, pria yang gak mungkin nyakitin Aqila, tapi gua rasa penilaian gua salah, lu gak lebih baik dari Zain tapi lu lebih brengsek". Ucap Akram lalu pergi.


Kalian jangan berpikir yang tidak-tidak, aku bisa memahami kenapa Akram bisa begitu marah.


flashback

__ADS_1


Dua tahun yang lalu, saat Akram dan keluarganya berlibur ke Thailand dan tak sengaja bertemu dengan Aqila, katakanlah Akram jatuh cinta pada pandangan pertama. Satu tahun berlalu, dan selama itu juga Akram terus menerus berusaha meyakinkan Aqila tapi perjuangannya sia-sia. Aqila masih dengan pendiriannya yang tidak mencintai Akram sedikitpun, justru Aqila malah mengenalkan Akram dengan saudaranya yang bernama Aleta meskipun dia tidak kalah cantik tapi cinta tidak dapat di bohongi. Awalnya Akram menerima Aleta sebagai kekasihnya hanya alasan untuk bisa mengenal Aqila lebih dalam tapi hal itu malah menjadi boomerang. Aleta sungguh-sungguh mencintai Akram, dan pada akhirnya karena tidak ingin melihat Aqila terus menerus di sakiti oleh pria lain maka Akram mengenalkan Aqila pada Junot, dengan harapan Junot akan menjaga Aqila dan tidak akan pernah menyakitinya.


flashback off


"Kemana perginya Akram?". Tanyaku pada Zain dan Bagaskara yang asik bermain PS.


"Pergi". Jawab Bagaskara.


"Kenapa muka lu? ulah Akram?". Tanya Bagaskara.


"Gua kira lu berdua paling serasi dalam segala hal, gak nyangka bakalan adu hantam". Celoteh Zain.


"Hah, untuk malam ini aja, gua numpang tidur". Tak ingin berdebat apa pun lagi, aku putuskan untuk segera pergi ke kamar, menyimpan handphone di atas nakas dan mengecilkan volume panggilan atau chat.


Pikirku, masalah yang satu belum terselesaikan masalah lain sudah datang, jika aku tidak tidur maka besok pagi masalah baru mungkin akan datang lagi.


03:30


Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak, kulihat panggilan dari Nareta sebanyak 20 kali, dari Juwita sebanyak 30 kali, lalu panggilan dari mas Marsel sebanyak 10 kali dan tak lama kemudian, mas Marsel kembali melakukan panggilan masuk.


"Aku di rumah, kenapa Mas?"


"Bisa segera ke rumah sakit?"


"Apa yang terjadi dengan Bunda Mas?". Tanyaku panik.


"Kamu akan tahu setelah sampai di sini". Ah, sial Mas Marsel tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Tanpa pikir panjang lagi, aku segera pergi ke rumah sakit, kulihat Zain dan Bagaskara tertidur saat bermain PS. Meskipun mereka menyebalkan tapi kurasa hanya merekalah yang ada buat gua dalam situasi terburuk sekalipun.


Saat di perjalanan ku coba menghubungi Nareta tapi bukan si pemilik yang menjawab melainkan...


"Suami macam apa kamu? membiarkan istrimu sendirian datang kemari, dengan alasan yang tidak masuk akal, kamu...". Hah... syukurlah jika Nana sudah di rumah sakit, ternyata dia cukup mandiri, aku tidak perlu menjemputnya untuk datang ke rumah sakit. Setelah mendengar kalimat makian dari Juwita aku segera mematikan sambungan telpon itu secara sepihak.

__ADS_1


"Aish... adik kurang ajar, bisa-bisa nya dia matiin di saat kakak lagi ngomong".


"Hem, Kak ingat, kakak harus banyak istirahat, duduk yuk?!". Pintaku.


"Nana, maaf?". Ucap Kak Juwita.


"Hah? maaf untuk apa Kak? Kakak gak ngelakuin kesalahan apa-apa". Ucapku yang saat ini Kak Juwita sedang memegangi tanganku.


"Kakak tahu, kamu bukanlah wanita bodoh, maaf untuk semua kelakuan yang sudah Junot lakukan untuk kamu".


Heh, aku juga tahu banyak sikap dan tingkah laku Junot kalau sedang berbohong dari buku catatan yang bunda berikan, di dalam buku itu tertulis jika Junot sedang berbohong maka dia tidak akan berani menatap mata lawan bicaranya, tidak betah tinggal di rumah akan ada saja alasan-alasan yang terkesan masuk akal ia utarakan.


Aku hanya mampu tersenyum, bagaimana pun kini dia adalah Kakak ipar ku.


"Hem, tidak apa Kak, aku percaya Junot punya alasan kuat kenapa dia sampai berbohong".


Tidak berapa lama kemudian Junot datang, dengan perasaan yang menegangkan aku ada diantara Junot dan Kak Juwita.


"Dari mana saja kamu?". Tanya Kak Juwita, masih dengan amarahnya yang meledak-ledak.


"Menurut Kakak?". Jawab Junot terkesan santai tapi dia tak berani menatap mata Kak Juwita.


"Ikut Kakak! ada yang mau Kakak bicarakan sebentar?!". Ucap Kak Juwita masih dengan nada meningginya, sementara itu Junot tak banyak bicara ia segera mengekor.


Tinggallah aku sendiri, mas Marsel dan ayah ada di dalam ruangan bunda, dan tak berapa lama seorang Dokter keluar dari ruangan bunda. pandangan kita bertemu aku yakin sekali bahwa Dokter itu terasa tidak asing untukku.


"Kamu keluarga dari Ibu Maharani?". Tanya Dokter itu menghampiriku.


"Hah? Ah, Iyah". Jawabku singkat, sebenarnya aku nyaris tak percaya bahwa Dokter itu akan mendekatiku.


"Kamu tidak perlu khawatir, Ibu Maharani sudah dapat di pindahkan ke ruangan IGD".


"Alhamdulillah, terima kasih Dok". Ucapku tulus.

__ADS_1


"Hem, saya anak dari Ibu Maharani, jadi kalau ada apa-apa bisa di bicarakan dengan saya?!". Ucap Junot yang entah sejak kapan ada di antara aku dan Dokter.


Next?


__ADS_2