
Aku bersyukur Junot datang di waktu yang tepat, Seolah-olah Junot tahu, bahwa aku tengah mendapati masalah. Meskipun aku masih bingung bagaimana cara Junot masuk. Biarlah jangan dulu di bahas, kini kondisi nya lebih penting, karena menolongku dia harus bertengkar dengan Ayden, saling pukul dan di larikan ke rumah sakit terdekat, beruntunglah keadaan Junot lebih baik dari pada Ayden yang benar-benar babak-belur.
~
Aku yang panik segera membuka pintu kamar, dan saat keluar aku sudah mendapati dua pria terbaring di lantai, Ayden sepertinya sudah lebih dulu pingsan, sementara Junot ia terkapar, tapi dia sempat melihat kehadiranku, kemudian menyusul Ayden yang pingsan.
Aku berteriak memanggil nama Junot, dan segera minta pertolongan dari satpam setempat, kemudian menghubungi teman-teman Junot.
Berkat mereka, kini aku sudah berada di suatu ruangan dengan selang infusan berada di tangan Junot. Sejak tadi air mataku tidak mau berhenti barang sejenak.
Bagaskara sudah berusaha menghiburku, dia bilang kejadian ini bukan salahku, jadi berhentilah menangis, tetapi bukannya berhenti, justru air mataku mengalir semakin deras.
Sementara itu sebuah nama bertuliskan Dr. Bella berusaha menghubungi Junot lima menit yang lalu, tapi belum sempat aku jawab. Dan sekarang beliau kembali menghubungi Junot, dengan terpaksa Aku menyuruh Bagaskara untuk menjawabnya, kemudian Bagas pamit keluar untuk menjawab panggilan itu.
Sementara Zain dia sedang di perjalanan menuju kemari, dan Akram dia sedang mengurus administrasi, Betapa beruntungnya Junot memiliki teman yang setia kawan dan Care. Seketika aku menjadi iri.
Sementara itu pihak keluarga Ayden sudah di beritahu dan sedang dalam perjalanan, sementara itu segala kebutuhan Ayden sudah di urus oleh Tania. Karena hanya dialah yang dapat aku hubungi.
~
Sepi... hanya detak jarum jam yang kini aku dengar, Aku duduk di kursi menghadap Junot, kulihat luka lebab yang mulai membiru di area tulang pipinya, kembali air mataku menetes di pipi. Aku benar-benar merasa bersalah atas apa yang menimpa Junot, yang di sebabkan olehku. Tanpaku sadari kini tanganku sudah memegangi tangannya, kusebut namanya beberapa kali.
"Junot... Junot... Junot...".
"Nareta?". Tak kusadari kini Junot sedang menatapku lekat, aku yang terkejut segera berdiri sembari kembali menarik tanganku yang sebelumnya memegangi tangan Junot. Tapi... tanganku kembali di tarik oleh Junot.
"Jangan pergi, kumohon!". Ucapnya kemudian kembali memejamkan kedua matanya. Aku bingung harus berbuat apa, tapi aku tidak bisa kemana-mana karena tanganku kini di pegang begitu erat olehnya. Akhirnya aku kembali duduk di kursi semula.
"Mas? kamu mau minum?". Tanyaku ragu-ragu. Tidak ada jawaban, kemudian kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan. Aku kembali terdiam, membeku di tempatku, sesekali kulirik tanganku yang kini sedang di pegang Junot.
Tanpa aba-aba Junot kembali membuka kedua matanya, kemudian melihat ke arahku.
"Dimana Aksa?". Tanyanya yang tidak aku pahami.
"Hah? aku belum memberi tahu keadaan Mas ke orang rumah, hanya teman-teman Mas saja yang kuberi tahu". Jawabku apa adanya.
"Tidak, maksudku... tadi aku sedang bersama Aksa, dia ada di klinik untuk melakukan terapi bersama Dr. Bella".
"Heh? pantas saja tadi Dr. Bella menghubungi handphone Mas, tapi kusuruh Bagas untuk menjawab".
"Lalu sekarang kemana?".
__ADS_1
"Ntahlah, tadi dia pamit keluar untuk menjawab panggilan itu, tapi sudah lebih dari 30 menit dia belum kembali".
"Hm, Syukurlah, kurasa Aksa pasti aman jika bersama Bagas".
"Iyah, Aku rasa juga begitu". Kulihat pandangan Junot beralih ke jam dinding yang terpasang tepat di hadapan ranjangnya.
"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur... jadwal kita besok akan sangat padat". Tuturnya... sembari tangan kanannya menepuk sisi ranjangnya.
"Hah? aku tidur di sampingmu?". Tanyaku memastikan atas apa yang barusan ia pragakan.
"Kenapa? tidak mau?".
"Bukan begitu, hanya saja...". Belum sempat aku menjelaskan, tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan menampilkan Aksa yang berjalan setengah berlari menghampiri kami.
"Ayah? Are you okay?". Ucapnya dengan raut wajah khawatir, dan sorot matanya berkaca-kaca.
"I'm okay". Jawab Junot tak lupa senyuman menghiasi bibirnya yang lebam.
"Hey, sayang?". Ucapku, yang tidak mendapati jawaban apapun. Mata Aksa menatap mataku tajam seolah meminta penjelasan.
"Hei, sudah malam, cepat pulang". Ucap Junot di keheningan.
"Tidak Ayah, Aku ingin disini!". Ucap Aksa kemudian duduk di tepi ranjang dengan sedikit kesulitan.
"Hei, tidak-tidak... pulang di antar Om Bagas yah?!". Ucap Junot tidak ingin di bantah.
"Hm, besok aku kembali kesini". Ucapnya kemudian turun dengan sedikit hentakan, Sepertinya Aksa kesal, dia bahkan sama sekali tidak menatapku.
"Aish... sifat jeleknya itu... benar-benar". Gumam Junot kemudian memegangi tanganku.
"Jangan terlalu di pikirkan, Aksa memang begitu, mungkin dia menuruni sifat jelekku". Ucapnya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
Jujur saja ini kali pertama aku melihat sifat Aksa yang seperti itu. Aku sedikit terkejut, dan aku merasa menyesal, sedih juga kesal, ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui mengenai Aksa.
Lalu terlintaslah di benakku, pantaskah aku di sebut Ibu? Aku benar-benar merasa malu. Tanpa kusadari Junot sudah beranjak dari tidurnya lalu memelukku.
"Sudahlah ini semua bukan salahmu". Ucap Junot tepat di telingaku.
"Aku tidak bisa Mas, jelas-jelas ini semua salahku, gara-gara aku kamu terluka dan Aksa... dia membenciku".
"Enggak Aksa tidak membencimu, mana mungkin seorang anak membenci Ibunya, akan ku pastikan perkataanmu salah, kamu keliru".
__ADS_1
"Kuharap juga begitu, tapi... kamu lihat sendirikan tatapannya padaku tadi?".
"Iyah, itu hanya emosi sesaat, akan ku jelaskan semuanya nanti, supaya dia dapat memahami situasi dan kondisi yang terjadi, yang menimpamu".
"Hey?! dengarkan perkataanku". Ucapnya sembari menangkup kedua sisi pipiku.
"Akan kupastikan Aksa menjadi anak yang patuh serta penuh kasih dan sayang dan juga hormat kepadamu, selaku Ibu yang telah melahirkannya". Ucap Junot sungguh-sungguh.
"Hm, terima kasih Mas". Ucapku sembari terisak.
"Sudah yah, jangan menangis lagi, biarkan kedua matamu beristirahat!". Ucapnya sembari menghapus cairan-cairan bening yang mengalir deras di pipiku.
"Hmm...". Gumamku, kemudian merebahkan diri dari dekapan Junot , lantas menghapus air mataku sendiri.
"Aku bisa sendiri kok".
"Yasudah, Aku kembali berbaring kalau begitu". Tak ku jawab, hanya mengangguk saja sebagai jawaban Iyah.
"Rencanamu besok apa?". Tanya Junot serius.
"Maksudnya?".
"Apa kamu mau melaporkan Ayden ke pihak berwajib, atau memaafkannya? seolah tidak pernah terjadi apa-apa". Aku terdiam sejenak, berpikir keras, kemudian aku menatap kedua mata Junot, matanya seolah berbicara dan seakan mengharapkan aku akan mengambil jalan Pertama, memperkarakan kejadian yang baru saja terjadi menimpaku.
Tetapi sepertinya jawabanku sedikit mengecewakan nya. "Aku gak tahu".
"Menurutmu aku harus bagaimana?".
"Hm? menurutku... sebaiknya kamu beri dia pelajaran, tetapi itu semua terserah padamu".
"Akan aku pikirkan, sekarang sebaiknya kamu istirahat". Ucapku kemudian meraih selimut yang ada di bawah kakinya dan menyelimuti Junot.
"Kamu? Em... kamu juga istirahat yah". Ucapnya agak sedikit sendu.
"Iyah, Aku gak akan kemana-mana kok, Aku akan tidur di sofa menemanimu". Ucapku seolah-olah tahu apa yang sebelumnya ingin ia tanyakan.
"Hm, Good night!". Ucapnya lagi dengan senyum yang kembali menghiasi bibirnya yang lebam.
"Too"...
next?
__ADS_1