Aksa

Aksa
part 24


__ADS_3

Hati dan pikiran ku terus menerus beradu, tak ku sadari aku telah berjalan sejauh ini, tempat pengistirahatan ku sudah jauh terlewati. Alhasil ku putuskan untuk menepi menenangkan hati dengan mengadu pada pemilik hati.


Sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan ku, jika hati dan pikiran terlampau lelah dengan semua masalah, hanya satu yang mampu meredam amarah, iyah... apalagi kalau bukan menangis, tanpa kusadari kini mataku sudah sembab, aku memutuskan duduk di teras Masjid sembari melepas heels yang membuat kaki ku terasa pegal dan nyeri, padahal tadi rasanya kaki ku baik-baik saja, apa mungkin karena tadi aku tengah emosi yah?


Tak berapa lama datanglah dua orang anak kecil tengah mengamen tak jauh dariku. Sepertinya mereka Adik dan Kakak, rasanya nelangsa ada rasa kasihan bercampur malu, di saat anak kecil itu berlelah-lelah mencari nafkah untuk bisa makan hari ini, aku justru malah lelah dengan masalah yang tidak seharusnya ada, akhirnya ku panggil mereka.


"Dek sini?!". Mereka berdua berjalan menghampiriku.


"Iyah Kak, ada apa?".


"Ini ada uang gak seberapa buat Ade". Anak kecil perempuan itu mengambil uang yang ku ulurkan.


"Makasih Kak, semoga Allah membalas kebaikan Kakak". Jawab sang kakak berjenis kelamin pria.


"Aamiin". Jawabku


"Kak boleh tidak, aku titip adikku?". Tanya sang kakak padaku dengan ragu-ragu.


"Hm? memangnya kamu mau kemana?".


"Aku mau sholat berjamaah Kak".


"MasyaAllah, oh tentu boleh dong, kebetulan Kakak juga mau sholat kok, Kakak bawa saja Adiknya ke Masjid di lantai dua gimana boleh gak?"


"Iyah Kak boleh".


"Zahra kamu jangan nakal yah?!". Pesan sang kakak kepada sang adik yang ternyata bernama Zahra.


"Kalau kamu namanya siapa?"


"Akbar Kak".


"Oke Akbar, nanti setelah sholat kita bertemu lagi di sini"


"Iyah Kak".


***


"Permisi Pak, Saya mau wudhu". Sudah beberapa kali ku perhatikan anak kecil itu mau mengambil wudhu, akan tetapi terus di salip oleh orang dewasa atau bapak-bapak yang terlihat baru datang.


"Maaf Pak ini bagian anak kecil ini, tolong mengantri?!". Ucapku sedikit geram.


"Makasih Bang". Ucapnya dengan senyum yang mengembang.


"Hm". Aku berlalu pergi meninggalkannya, akan tetapi saat tiba waktu sholat dan sang Imam meminta merapihkan shaf, anak itu ada di shaf paling depan sebelah kiri ku. Selepas sholat dia berdoa dengan begitu khusyuk entah apa yang ia minta, kemudian pergi dengan terburu-buru.


***


"Nah itu Kak Akbar udah datang". Ucapku pada Zahra karena selepas sholat dia merengek ingin segera bertemu kakaknya.

__ADS_1


"Maaf Kak nunggu lama yah? Zahra kamu gak nakal kan?". Ucap sang kakak dengan nafas tersengal-sengal, sementara sang adik tengah diam terpaku.


"Enggak kok, Zahra nurut apa kata Kakak". Jawabku.


"Hm, makasih Kak".


"Sama-sama, sekarang kamu mau kemana?". Tanyaku.


"Mau lanjut ngamen Kak".


"Sekarangkan udah malem, kamu gak di cariin orang tua kamu?".


"Kita yatim piatu Kak". Seketika mendengar kalimat itu mata ku berkaca-kaca, bagaimana bisa masalah dia jauh lebih berat di bandingkan aku, tapi dia tidak mengeluh tidak pula menangis. Heh... aku benar-benar malu dengan diriku sendiri.


"Kamu udah makan?". Akbar hanya tersenyum, sementara sang adik Zahra dia menggelengkan kepala.


"Kita makan yuk?!". Pintaku.


"Enggak usah Kak, tadi Kakak udah ngasih kita uang".


"Enggak apa-apa kan gak sering, mau yah?". Sang adik menatap wajah sang kakak dengan nanar dan akhirnya sang kakak mengalah.


"Iyah".


"Ya udah Kakak pesan dulu gocar yah".


"Kak, kita jalan saja jalanan macet". Ucap Akbar.


"Gak apa". Jawab Zahra menggemaskan.


"Ya udah yuk kita jalan". Akhirnya kita bertiga berjalan kaki, niat ku ingin membawa mereka ke restoran kenanga tempat favorit aku bersama Mas Ayden.


***


Aku segera keluar Masjid dan berjalan menuju parkiran tiba-tiba saja Handphone ku berbunyi bertuliskan Ka Juwita.


"Jun kamu dimana?". Tanya juwita dengan suara paniknya.


"Masih di jalan, kenapa?".


"Barusan Bunda ngeluh nyeri dada, terus tiba-tiba sesak nafas Jun, hik... hik...".


"Kakak yang tenang, hubungi Mas Marsel aku segera kesana". Ku matikan sambungan telpon, dan segera mengemudi menyalip tiap kali ada celah.


***


"Mas? kamu dimana? hik hik..."


"Aku udah di depan rumah sakit, kamu kenapa?"

__ADS_1


"Bunda Mas... barusan sesak nafas dan gak sadarkan diri, hik.. hik"


"Apa? Ahh... iyah-iyah aku segera kesana". Aku segera berlari dari parkiran menuju ruangan Bunda.


***


"Selamat datang Ka". ucap seorang pelayan dengan ramah


"Malam".


"Mau pesan apa Mbak? tumben gak datang bersama Pak Ayden". Tanya pelayan pria itu, yang memang sudah biasa melayani aku dan Mas Ayden.


"Hm... saya yang biasa saja, Pak Ayden sedang sibuk, maka di gantikan oleh dua anak ini, tolong di layani dengan baik juga yah?!". Pintaku sebab sedari tadi dia hanya tersenyum ramah kepadaku, tidak dengan Akbar dan Zahra.


"Ah, baik Mbak, Adek mau makan apa?". Zahra menunjuk sebuah gambar paket komplit, nasi beserta ayam goreng dan minuman. Sementara Akbar dia memilih sesuatu yang tidak ada di menu.


"Aku nasi sama telor dadar saja". Pelayan itu akan tertawa tapi ia urungkan saat melihat tatapan tajam dari ku.


"Disini ada telurkan? tolong buatkan yah?". Pintaku sedikit memaksa.


"Baik, saya permisi tolong di tunggu sebentar".


***


Sesampainya di rumah sakit aku segera berlari menuju ruangan bunda.


"Gimana keadaan Bunda?". Kulihat Juwita sudah sangat kacau.


"Mas, lebih baik Mas bawa Juwita pulang!"


"Tapi..." Ucap Mas Marsel tapi segera ku potong.


"Bunda biar aku yang jaga"


"Yaudah kalau gitu". Baru saja Mas Marsel berdiri sembari memapah Juwita untuk berdiri, tiba-tiba saja Juwita pingsan.


"Juwita, hey Juwi?". Tanya Mas Marsel dengan panik.


"Sus, suster, tolong siapkan ruangan?!". Pintaku.


"Udah kamu di sini saja, Biar Mas yang urus Juwita". Aku hanya mengangguk dan Mas Marsel segera memangku Juwita menuju ruang rawat inapnya.


***


Aku sangat gelisah, meskipun aku dan mereka suka bertengkar, akan tetapi Bunda dan Juwita adalah dua orang wanita yang sangat aku sayangi, melebihi diriku sendiri. Tuhan tolong jaga mereka jangan ambil mereka dariku.


Waktu berputar begitu cepat dan selama itu juga aku tidak mendengar kabar baik ataupun buruk, aku hanya dapat duduk dengan tidak tenang sembari menunduk, hatiku benar-benar gelisah tak menentu dan tiba-tiba saja satu pasang heels berdiri tepat di hadapanku. Ku menengadahkan wajahku... "Nareta?". Tanpa ku sangka air mata menetes di pipiku, dia menatapku dengan sendu, aku segera menghapus air mataku. dan tiba-tiba saja ia bergerak, tubuhnya masih berdiri akan tetapi kedua tangannya menghampiri dan menangkup kedua pipiku.


"It's okay, semuanya akan baik-baik saja!".

__ADS_1


Next?


__ADS_2