Aksa

Aksa
part 46


__ADS_3

Kita sampai di rumah Junot, aku merasa separuh hatiku kelabu, di lain sisi aku bahagia akhirnya Junot mau membuka hatinya untukku, tapi tidak ingin orang lain tahu bahwa kita suami istri.


Aku tidak tahu apa tindakanku ini benar atau salah? menyetujui syarat yang di berikan oleh Junot, dengan alasan bahwa ini semua demi perusahaan.


***


"Ayok turun!". Pinta Junot, entahlah di telingaku rasanya seperti perintah.


Aku segera masuk ke dalam rumah, duduk di sofa menghadap televisi, dan tenggelam dalam lamunanku sendiri, sementara Junot sudah masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk membuyarkan semua rencana yang ada di otakku.


"Halo, Waalaikum'salam Bunda".


"Aku ada di rumah".


"Iyah, rumah Junot Bun".


"Junot ingin kita lebih mendiri, gak apa-apa kan Bun?".


"Gak, gak ada masalah apa-apa, gak ada sama sekali Bun".


"Iyah, sesekali kita pasti mengunjungi Bunda kok, atau Bunda yang datang ke sini".


"Ya sudah kalau gitu Nana matiin dulu yah Bun panggilannya, Nana mau masak, hehe".


Maaf bunda, aku sendiri bingung ini masalah atau bukan yah? seperti apa kataku pada bunda, aku segera menaruh barang-barang ku dan segera memasak.


19:30


Junot baru saja pulang dari masjid menunaikan sholat isya, dan aku sudah menyiapkan hidangan makan malam untuk kita, ini adalah makan malam pertama kita setelah menjadi suami istri dan tinggal hanya berdua, seperti apa yang sudah Junot janjikan, dia tidak menolak sama sekali dan yang paling membuat aku bahagia adalah dia makan dengan begitu lahap, menghabiskan semua makanan yang aku buat tanpa bersisa.


"Terima kasih, atas makanannya, aku masuk kamar lebih dulu".


"Sama-sama". Ucapku sembari tersenyum.


Hem, tidak perlu membantu membereskan meja kotor, kalimat terima kasih sudah lebih dari cukup untuk membuat istri bahagia.


Setelah semuanya selesai, aku bingung sendiri harus masuk ke kamar mana? beruntungnya Junot itu sangat peka, ia keluar mencariku yang masih duduk di sofa.


"Belum ngantuk? ini udah jam sembilan malam loh! bukannya ini jam tidur kamu?!".


"Hem, Iyah". Aku segera mematikan televisi dan mengikuti langkah Junot.


Entah kenapa aku merasa canggung, ini seperti malam pertama yang sesungguhnya, mungkin karena kita hanya tinggal berdua, dan kita berada di bawah selimut yang sama.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, tidurlah yang nyenyak! aku tidak akan berbuat apa-apa". Ucapan Junot seketika membuat aku tersadar, bahwa mungkin ini terlalu cepat untuk kita berdua.


Satu Minggu berlalu, selama itu juga aku merasa kita sudah selayaknya suami istri yang sesungguhnya utuh, harmonis, setiap hari penuh dengan canda tawa selalu bahagia mungkin inilah yang dinamakan pengantin baru.


"Jun?".


"Kenapa?".


"Kamu sibuk gak?"


"Sekarang kan hari Sabtu, aku gak ke kantor, ada apa?".


"Bahan makanan udah mulai habis, mau gak nemenin aku ke supermarket?". Ucapku penuh hati-hati.


"Oke, aku ganti baju dulu yah!".

__ADS_1


"Iyah". Ucapku sumringah.



"Ayok?!".


"Hem? ... oke". Ahhh kenapa dengan ku? kenapa jantungku berdebar tak menentu? juga aku sempat terperangah melihat suamiku sendiri?


Kita sampai di supermarket, yah memang tidak begitu jauh dari rumah.


"Ayok?!". Ajak Junot, kita berdua pun segera turun bersamaan.


"Hem, kamu jalan duluan aja". Pintaku.


"Hem? kenapa?". Tanyanya dengan heran.


"Emm, aku...malu". Karena aku lebih pendek dari nya, maka dia berusaha mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.


"Kamu malu? karena aku jelek?". what? jelek katanya, jelek dari mananya sih, dasar Junot terlalu merendah.


"bukan kamu tapi aku".


"Hem, kamu merasa diri kamu jelek? jangan pernah lagi berpikir begitu!".


"Yah, kenyataannya memang be...".


"Enggak sama sekali". Potong Junot. Aku benar-benar bahagia ucapan Junot barusan berhasil membuat aku sumringah.


"Hem, aku jadi nyesel ajak kamu ke supermarket". Ucapku cemberut.


"Kenapa lagi sih?".


"Tuh lihat, orang-orang pada ngeliatin kamu!".


"Heh? yah gak gitu juga, tapi... tatapan mereka pada keterlaluan tahu gak".


"Ya udah deh, kalau kamu cemburu, biar aku pakai masker aja, orang lain gak lihat aku hanya kamu". Ucap Junot sembari mengambil masker dan memakainya.


"Hah, gak usah, yah gak segitunya juga". Ucapku terkejut sembari melarang.


"Udah gak apa-apa! demi kamu apa pun akan aku lakukan". Aku benar-benar tersipu malu, Aaaa... rasanya aku ingin terbang.


Setelah itu penonton sedikit berkurang, karena kecewa Junot memakai masker.


"Kaya OPPA Korea yah". Ucap seorang anak remaja.


"Iyah, kaya artis Korea gitu".


Tindakan Junot itu seketika berhasil meluluhkan hatiku, sekarang aku bisa berbelanja dengan tenang.


"Aku mau cari kebutuhanku di sebelah sana yah!". Ucapku.


"Iyah, jangan lama!".


"Hem". Aku segera mengambil beberapa keperluan wanita, seperti pembalut, sabun khusus wanita dan yang lainnya. Tiba-tiba saja seorang pria remaja menghampiriku.


"Mbak artis yah?"


"Hah? bukan".

__ADS_1


"Ah masa sih, kayanya mbak artis deh".


"Enggak, beneran saya bukan artis". Tapi tetap saja pria remaja itu tidak percaya, alhasil terjadilah cek-cok antara kita berdua, Junot yang mendengar hal itu segera datang, di beberapa kesempatan Junot memang selalu menjaga aku agar tetap aman dari gangguan apa pun.


"Kenapa?".


"Mas dia artis kan?".


"Bukan!"


"Iyah udah pasti dia artis, buktinya dia di jagain bodyguard".


"What? maksud kamu, saya bodyguard?".


"Ya, iya".


"Kamu jangan kurang ngajar yah, saya ini su..."


"Iyah, dia bodyguard saya, tapi saya benar-benar bukan artis". Ucapku kemudian, meskipun Junot memakai masker aku tahu pasti saat ini dia tengah merasa kesal.


"Oh gitu, ya udah deh". Akhirnya pria remaja itu pun pergi.


"Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?". Tanya Junot dengan nada ketus.


"Loh, bukannya itu yang kamu minta dari aku? merahasiakan hubungan kita".


"Iyah, tapi gak... yasudahlah aku tunggu di mobil, jangan lama". Heh, lucunya tingkah Junot yang kesal.


Aku segera ke kasir, meskipun sebenarnya kebutuhan yang lain masih belum aku beli, tapi tak apa lah, aku takut Junot menunggu terlalu lama dan akan semakin kesal terhadapku.


"Mbak maaf saya mau nanya?". Tanya seorang kasir perempuan.


"Iyah boleh, mau nanya apa?"


"Yang barusan sama Mbak itu orang Korea yah?".


"Heh? bukan, dia orang Indonesia kok, yah memang keturunan Korea sih".


"Oh, gitu yah, ini Mbak belanjaannya".


"Iyah, Jadi berapa?".


"Totalnya jadi 450,200". Aku segera memberikan uang lima lembar berwarna merah.


"Uangnya 500.000 yah Mbak".


"Iyah, kembaliannya buat Mbak aja".


"Hah? seriusan Mbak?"


"Iyah, makasih".


"Lah, saya yang harusnya bilang makasih, makasih yah mbak, hati-hati di jalan".


"Iya, sama-sama". Ucapku dan berlalu pergi.


Baru saja kasir itu bilang hati-hati di jalan, aku yang sibuk menaruh dompet ke dalam tas dan membawa beberapa kantong hasil belanjaan tidak melihat ada orang dari arah depan,


Akhirnya kembali menabrak seseorang, beruntungnya tidak ada barang yang jatuh berceceran karena memang pelan, tapi kali ini tidak sepenuhnya salahku, pria itu memang sengaja berdiam diri di tengah jalan, awalnya aku ingin marah tapi belum sempat berucap pria itu lebih dulu bersuara.

__ADS_1


"Hai?"


Next ?


__ADS_2