
Setelah acara menangis itu selesai, kini giliran satu momen yang sangat sulit aku lakukan.
Harus berpura-pura baik-baik saja di depan Aksa, dengan senyuman yang lebar ku ucapkan kalimat yang begitu aku benci.
"Sayang, untuk sementara waktu kamu tinggal di rumah Opa sama Oma yah?!".
"Kenapa Mah?". Tanya Aksa.
"Mamah harus ke Bandung".
"Aksa Ndak di ajak Mah?".
"Kamu di sini aja yah?! Bandung itu jauh nanti Aksa sakit, Mamah gak mau Aksa sakit".
"Hm, telus kapan Mamah jemput Aksa lagi?".
Oh Tuhan ... aku tak sanggup jika harus membohongi lagi Aksa, dan berpura-pura baik-baik saja.
Aku segera memeluk Aksa dengan erat kemudian air mata kembali lolos tanpa izinku. Bunda yang melihat itu segera membujuk Aksa untuk ikut bersamanya.
"Sayang, ayo kita pulang kerumah Oma yah!".
Aku tak sanggup jika harus melihat wajah Aksa, dengan kondisiku yang seperti ini, kemudian tanpa disangka Junot menghampiri kami, dia berjongkok tepat di belakangku dan menghadap Aksa, tanpa satu patah kata apapun, dia berhasil membujuk Aksa untuk mau ikut bersamanya.
Junot mengisyaratkan untuk kemudian memangku Aksa, perlahan langkah kakinya berjalan semakin menjauh dariku.
Hingga akhirnya kuberanikan diri untuk melihat kepergian Aksa untuk terakhir kalinya.
Tak lupa kita semua satu persatu, bergantian saling berpamitan.
Aku terdiam membisu saat berada di dalam mobil Ayden, terlihat oleh ekor mataku Ibu sangat berusaha keras untuk tidak menangis.
Tapi dengan begitu, aku justru semakin merasa bersalah... aku telah gagal mengemban amanah Bapak dan Ibu.
Kita semua terpaku terdiam tenggelam dalam penyesalan diri kita sendiri.
Dan kalimat Andai saja... menjadi kalimat paling banyak dilafalkan saat ini.
Tetapi penyesalan tinggallah penyesalan, tidak merubah apapun, Justru semakin kita pikirkan, semakin membuat kita terlihat buruk.
Cukup, jangan lagi mengusik apa-apa yang sudah terjadi Nareta, Jika kamu tidak menikah dengan Junot, maka mungkin tidak akan pernah ada Aksa. Batinku.
Kita sampai di kosanku, tak lupa ku ucapkan terima kasih kepada Ayden karena seharian ini, ia telah ada menemaniku dan menguatkan ku.
Aku tahu apa yang ada di pikiran kalian, hah... tapi aku baru saja bercerai dan terluka habis-habisan, mana mungkin... hah... tidak sedikitpun terlintas di benakku mencari pengganti Junot, untuk saat ini dan 10 tahun kedepan.
__ADS_1
Ayden berpamitan untuk pulang kepada Bapak dan Ibu, sementara itu aku sudah lebih dulu berjalan memasuki gang kecil dan masuk ke dalam kosanku.
Rasanya sunyi... benar-benar sepi, terlebih lagi hati dan jiwaku.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur menghap dinding dengan cat yang sudah mengelupas, lagi-lagi dalam diam air mata lolos dari kendaliku.
Tubuhku bagaikan raga tanpa nyawa, rasanya sakitttt sekali dan aku tidak tahu harus berbuat apa.
***
Kita sudah sampai di pekarangan rumah Bunda sejak 20 menit yang lalu, tetapi Aksa tidak mau turun, dia merengek bertanya dimana Mamah nya, dan lagi dia tidak mau mendengarkanku.
Aku begitu prustasi menghadapi Aksa yang tiba-tiba berubah drastis seperti ini. Biasanya dia akan menuruti apa kataku, seperti saat tadi.
Hah, berbagai cara telah aku lakukan... tidak, kecuali satu cara yang tidak aku lakukan dan tidak boleh aku lakukan.
Membohonginya seolah-olah Aku dan Nareta baik-baik saja, menurutku dia harus tahu sejak dini bahwa aku dan Nareta sudah berpisah dan tidak bisa bersatu lagi, dengan bahasa yang mudah di mengerti oleh anak-anak tentunya,
Tentu saja sebelum hari ini terjadi, aku sudah berkonsultasi terlebih dahulu dengan psikiater sekaligus psikolog.
Begitupun kedepannya Aksa akan di bimbing oleh dua orang asing yang ku percaya dapat menjaga kesehatan mental Aksa.
Aku sudah memikirkan dengan matang, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepada Aksa kedepannya.
Maka, sebelum hal itu terjadi, aku akan mencegah hal itu terjadi.
"Aksa". Ucap Aksa singkat.
"Oh Aksa, wah nama yang bagus, kenalin nama Auntie Bella".
Ucap Bella sembari mengajak Aksa turun dari mobil.
***
Satu Minggu berlalu, Ibu dan Bapak masih ada disini, menemaniku yang terpuruk dengan begitu dahsyatnya. Aku sampai cuti kerja padahal aku baru aja masuk, Ayden memakluminya tetapi tentu saja tidak dengan yang lain.
Aku tahu kedepannya aku akan menjadi bahan gunjingan, aku tahu betul kedepannya hidupku tidak lebih mudah untuk di jalani dari hari ini.
"Bu, Pak, sebaiknya Bapak sama Ibu pulang ke Bandung kasian Nadim sendiri". Ucapku berusaha tegar.
"Kamu sendiri gimana? sepertinya keadaan kamu saat ini lebih mengkhawatirkan Na, Ibu sama Bapak gak bisa ninggalin kamu sendiri". Ucap Ibu blak-blakan.
"Hm, Nareta baik-baik aja kok, besok senin Nareta mulai kerja lagi".
__ADS_1
"Iyah, Bapak sebenarnya masih ingin lebih lama tinggal disini, tapi... kamu tahu sendiri pabrik Tahu tanpa Bapak gak berjalan dengan lancar".
"Iyah gak apa-apa, Nareta ngerti kok Pak".
"Atau... gimana kalau kamu ikut Bapak sama Ibu ke Bandung?".
"Enggak Pak, kalau Nareta di Bandung gimana dengan Aksa".
"Kamu kan bisa temui Aksa sebulan sekali". Ucap Ibu.
"Amit-amit, tapi kalau sewaktu-waktu Aksa sakit Bu yang Nareta khawatirin".
"Yaudah terserah kamu aja, Ibu sama Bapak enggak akan memaksa".
"Kamu hati-hati disini, jangan lupa makan". Ucap Ibu lagi.
"Na, kamu enggak sendirian, kalau terlampau sakit bilang Bapak yah?!".
Aku tak mampu berkata apa-apa, yang pasti pelukan hangatnya seketika mampu meredam sedikit amarah karena lelah dan sepi di hatiku.
"Ibu sama Bapak pulang yah?".
"Iyah, hati-hati di jalan, maaf Nareta gak nganterin Ibu sama Bapak ke Terminal".
"Enggak apa-apa, kamu di sini jaga diri baik-baik yah". Ucap Bapak.
"Bu kalau sampai kabarin yah?!".
"Iyah, Assalamualaikum". Ucap ibu dan bapak berbarengan.
"Waalaikumsalam". Dan kini, aku benar-benar sendiri.
***
Aksa benar-benar sulit untuk di taklukan, dia yang di paksa harus dewasa dari usia nya dengan kecerdasannya membuat ia enggan untuk bertemu wanita lain yang seusia Nareta.
Dia mengerti dengan penjelasan yang di jelaskan oleh Bella dokter psikiaternya hanya dalam waktu seminggu, bahwa Mamah dan Ayahnya sudah berpisah, dan Aksa tidak pernah bertanya apa-apa.
Dia hanya terdiam membisu dan menampilkan wajah arogannya.
"Oke, aku mengelti, mulai besok Ndak pelu datang lagi kesini!". Ucap Aksa kemudian berlalu pergi.
Bella bisa mengerti dengan kondisi Aksa saat ini, ia takut orang baru menggantikan posisi Mamahnya jika terlalu sering bertemu dengan Ayahnya.
"Hah, dia benar-benar cerdas". Batinku.
__ADS_1
Bersambung...