
Subagja
Setelah kepergian Nareta dan Junot untuk bekerja, pagi itu juga aku berjalan-jalan santai di komplek, sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan untuk sholat dzuhur akhirnya ku putuskan untuk sholat di masjid.
Tak berapa lama sesampainya aku di teras masjid setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur, seorang Marbot menghampiriku.
"Assalamualaikum". Ucap marbot itu padaku.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi"
"Bapak dari mana? rasanya saya baru lihat"
"Emm Iyah, Bapak betul saya merupakan tamu dari pemilik rumah nomor E2121".
"Oh Pak Junot, apa ke adaannya baik-baik saja? sudah cukup lama tidak kelihatan". Kenapa bapak itu berbicara demikian? seolah-olah Junot akrab dengan marbot ini.
"Alhamdulillah Nak Junot baik-baik saja, akan tetapi anggota keluarganya ada yang sakit".
"Innalillahi wa innaailaihi rajiuun, pantas saja jarang kelihatan".
"Memangnya sebelumnya sering bertemu Nak Junot?".
"Oh iyah, Pak Junot itu sering jama'ah subuh datang paling awal pulang paling akhir, belum lagi kalau ada apa-apa selalu jadi donatur nomor satu, kalau ada pengajian dan tidak ada kegiatan pasti menyempatkan hadir di majelis-majelis taklim, kadang jadi pembaca ayat suci Al-quran atau sekedar sambutan".
"Seperti itu?". Ahh, apa sungguh ini Junot yang aku kenal, Junot yang akan menjadi menantuku?
"Iyah Pak, dan lagi Pak Junot sering mengadakan acara-acara dan donatur utama untuk para pemuda-pemuda atau Remaja Islam Masjid, yang di singkat (RISMA)".
"Benarkah, kalau begitu Bapak bisa tolong antar saya ke sana?". Ucapku kemudian karena amat penasaran.
"Oh tentu boleh Pak, mari!". Aku dan marbot yang ternyata memiliki nama Samsul itu pun segera pergi ke tempat (RISMA).
***
"Ehm, baik terima kasih Dok, saya rasa cukup pemeriksaannya". Karena sedari tadi kulihat Dokter itu tak henti-hentinya menatap Nareta.
"Hm? Ahh... baiklah kalau begitu saya permisi Ibu Nareta, Pak". Dokter itu segera pergi, namun sebelum benar-benar pergi, sempat-sempatnya Dokter itu memberi senyuman yang kemudian di balas juga senyum oleh Nareta.
"Kamu kenapa?". Tanya Nareta, karena sikapku kini tengah tidak bersahaja.
"Gak apa-apa, mungkin karena efek ngantuk". Jawabku mengada-ngada, walaupun tidak sepenuhnya bohong.
"Kalau gitu, tidur sini!". Nareta menepuk kasur kosong sebelah kanan nya. Layaknya adegan di sebuah drama atau sinetron.
__ADS_1
"Gak usah". Kamu pikir aku mau melakukan hal menjijikan itu? tentu saja TIDAK. Dia terlihat sedih mendengar jawabanku.
"Meskipun kita sudah halal, menjadi Suami-Istri tapi bukan berarti kita bisa seenaknya melakukan hal-hal yang terlalu vulgar di tempat umum seperti ini, aku harap kamu mengerti!". Ucapku yang berhasil membuat Nareta sedikit memahami apa inginku.
"Iyah, aku ngerti kok".
***
"Assalamualaikum". Ucapku dengan Marbot yang bertugas di masjid komplek Junot, yang ternyata memiliki nama Samsul, bersamaan.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi". Jawab tiga orang remaja.
"Nak Ali, Afifa, Yusuf ini kenalkan Pak Subagja tamu dari Pak Junot". Semuanya silih berganti menyalamiku, Kita cukup lama berbincang-bincang yah kurang lebih membahas sosok Junot di mata merek.
"Pak, Bang Junot itu yang membiayai aku kuliah". Ucap Ali yang entah pembahasan apa awalnya tiba-tiba berucap begitu.
"Kita sering di beri uang saku untuk kuliah, apalagi waktu SMA kalau kita juara pasti Bang Junot traktir kita makan-makan iyakan?" Ucap Yusuf.
"Kita juga sering mengadakan acara pengajian dan seluruh biayanya di tangguh Bang Junot". Aku menganga tak percaya, semulia itukah calon menantuku?
"Mm, begitu yah... kalau begitu terima kasih banyak atas cerita-ceritanya, Bapak pamit pulang dulu, Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam Warahmatullahi"
***
"Gak apa, kamu tidur lagi!". Ucapnya sembari membenarkan selimut pada tubuhku.
"Kamu butuh asupan makan, minum dan tidur Jun".
"Iyah, aku tahu tapi aku minta jangan mengkhawatirkan kondisiku, aku bisa urus diriku sendiri". Seketika aku merasa tidak berarti tidak di perlukan dan Junot tidak menganggap aku sebagau istri.
"Iyah, baiklah jika itu mau mu". aku segera menyamping, memunggungi Junot yang ada di sebelah kananku.
"Kamu tersinggung?". Aku mengabaikan pertanyaannya.
"Nareta? tidak begitu maksudku". Aku masih tidak ingin peduli.
"Nareta?". Ucapnya melemah, hampir saja aku ingin kembali berbalik melihat keadaanya, tapi sebelum hal itu kulakukan, Junot lebih dulu duduk di pinggiran ranjang dan mengelus-elus rambutku.
"Aku tidak ingin, melihat wanitaku jatuh sakit karena kelalaian ku, tolong pahami itu..."
"Aku jatuh sakit bukan karena mu!"
__ADS_1
"Tetap saja, jika kamu jatuh sakit itu artinya aku sebagai suami tidak mampu menjagamu". Apa aku tidak salah mendengar? apa kalian tahu, itu adalah kalimat termanis yang pernah aku dengar.
***
Tak sampai di situ keyakinanku akan Junot untuk bersanding dan menjaga putriku Nareta.
Keesokan harinya setelah peristiwa-peristiwa berat yang ia alami, dan permintaan dari kedua orang tuanya untuk segera menikah dengan Nareta, dia tidak pernah sekalipun luput meninggalkan Tuhan-nya.
Justru ku perhatikan memang benar apa kata Pak Samsul, dia selalu menyempatkan untuk sholat subuh berjama'ah semalam apa pun dia pulang dan tidur. Terkadang ku dengar gemercik air pukul tiga dini hari, mungkin dia tengah ingin menunaikan sholat tahajud atau istikharah.
Beberapa kali saat kita satu mobil aku tidak pernah merasa bosan, selalu ada saja pembahasan yang menarik untuk di perbincangkan, dan jika di lampu merah ia melihat anak kecil mengamen atau asongan pastilah dia akan memberi uang.
Saat aku tak sengaja mendengar percakapannya, dengan temannya, tidak pernah sekalipun ia bersikap tidak sopan atau kasar.
Semakin hari maka aku semakin yakin, kalau Junot lah yang selama ini aku cari, untuk menjadi menantuku, tidak ada sedikitpun keraguan.
Dan pemandangan saat ini, sungguh aku amat sangat bahagia, rasanya amat lega menitipkan anak perempuan ku pada lelaki yang tepat, ku yakin Junot tidak akan menyakiti hati putriku Nareta apalagi melukai tubuhnya seperti kebanyakan pemberitaan yang akhir-akhir ini sering ku lihat di televisi.
***
"Ehm, apa tidak sebaiknya kalian pulang saja?". Ucap bapak yang datang tiba-tiba, mengejutkanku dengan Nareta.
"Enggak usah Pak, lagi pula keadaan Bunda masih koma, Tapi jika infusannya Nareta sudah boleh di lepas, sebaiknya Nareta, Ibu dan Bapak pulang saja!".
"Begitu yah? tapi keadaan Ayah baik-baik saja? karena setahu Bapak, Mas Abraham memiliki riwayat jantung juga".
"Alhamdulillah keadaan Ayah baik, sekarang sedang menunggu Bunda di ruang ICU, Iyah itu dia yang Junot juga sempat khawatir Pak, tapi besar rasa cinta Ayah untuk Bunda berhasil mengalahkan segala takut dan yang lainnya Pak".
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu".
"Iyah, kalau begitu Junot titip Nareta yah Pak, Ibu".
"Iyah, kamu gak usah khawatir Nak Jun, Ibu dan Bapak pasti akan menjaga Nareta dengan baik untuk kamu".
"Makasih Bu, kalau begitu Junot pamit, mau ke ruangan Bunda dulu".
"Nana, inget jangan banyak nangis, apa kata Dokter? kamu harus banyak istirahat!".
"Iyah". Sebelum pergi, Junot sempatkan mengecup tangan bapak dan ibu lalu mengelus rambutku dan berlalu pergi.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam Warahmatullahi". Ucap kami bersamaan.
__ADS_1
Next?