
Ada rasa ragu yang membelenggu, wanita secantik itu bisakah menjaga dirinya sendiri?
Dia adalah wanita baik-baik, dia mandiri dan juga tangguh, tapi kekuatan laki-laki dewasa tentu saja tidak sebanding dengannya.
Hobinya membaca, dia... orangnya periang, selalu menampilkan senyuman terbaiknya, kepada siapa saja tanpa pandang bulu, sekalipun dalam kondisi hati dan pikiran yang tidak baik-baik saja.
Sulit rasanya untuk tidak mencintai wanita itu. Bodoh ataukah Aneh jika pria dewasa tidak tertarik untuk sekedar meliriknya saja.
Aku ingin menjaganya, aku ingin menjadi orang yang selalu ada dalam kondisi apapun itu dirinya, entah itu saat dia tengah bersedih, bahagia, terluka, atau hanya sekedar sedang lelah. Aku ingin selalu ada di sampingnya, mengusap peluh dalam dahinya, atau mengusap air mata dalam pipinya, menghiburnya dikala terluka, atau sekedar menjadi teman bercandanya. Sesederhana itu, tapi... aku tak mampu.
Lagi-lagi... jarak terus memisahkan kita, dalam jangka waktu yang mungkin akan cukup lama. Aku sama sekali tidak masalah jika aku yang di tinggalkannya. Tetapi kini aku yang meninggalkannya. Mulutnya berkata "tak apa" tapi aku tahu hatinya pasti tidak mudah, untuk baik-baik saja.
Kurenungkan lagi, "Iyah, baiklah... aku akan pergi atas seizin Mamah". Asal disini Mamah berjanji akan menjamin dan menjaga diri baik-baik, berusaha untuk selalu bahagia lahir maupun batinnya.
Satu hari sebelum pemberangkatan.
Aku benar-benar depresi, entah tindakanku ini benar atau salah? yang pasti aku sudah terlanjur memilih untuk pergi meninggalkannya.
Jam tidurku tidak beraturan, sudah satu minggu berlangsung... sejak Ayah pulang dari rumah sakit, dan aku memilih untuk tinggal bersama Mamah.
Hari-hariku terus di penuhi oleh rasa bersalah, entah kenapa ? Dan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Belum lagi mood ku yang berantakan, terlalu cepat berubah-ubah, tak jarang alih-alih aku yang ingin menjaga dan membahagiakannya, justru tanpa sengaja malah membuat goresan luka baru di hatinya.
Tapi... saat aku tersadar tindakkan ku salah, kupaksakan bibir ini untuk tersenyum lebar, hanya untuk bisa melihat kembali senyuman di bibirnya. Apa tindakanku itu salah?
Akhinya, aku tersadar bahwa Dewasa itu sungguh menyakitkan.
Entah seberapa lama Mamah memendam amarahnya, entah seberapa kuat ia bisa bertahan dalam kepura-puraan bahwasanya dirinya baik-baik saja.
Sebab tak jarang aku melihat tangis dalam tidurnya, semenyakitkan itu dewasa. Lalu apa yang bisa aku lakukan? kumohon katakan!
Aku tidak bisa melihatnya terluka, sungguh tidak bisa. Tapi... bagaimana jika penyebab lukanya adalah aku?
Kadangkala aku berpikir... bagaimana jika aku tidak terlahir kedunia, apa Mamah bisa lebih bahagia? atau tidak juga.
***
"Hei?". Ucapku. Kulihat wajahnya terlihat gundah-gulana. Entah apa yang tengah ia pikirkan.
"Hem?".
"Aksa... kamu lagi mikirin apa Nak?". Tanyaku hati-hati, sebab kuperhatikan Aksa akan merasa kesal jika aku berusaha ikut campur dalam pemikirannya.
"Em? tidak. Eum... maksud Aksa bukan apa-apa".
"Yakin?". Tanyaku meyakinkan.
__ADS_1
"Heh... keliatan banget yah bohongnya?". Jawabnya dengan polos.
"Hah? Haha...". Seketika aku tertawa mendengar jawabannya itu.
"Kenapa? kok malah ketawa?". Ucapnya terlihat kesal.
"Ehem. . . enggak, Mamah cuma merasa beruntung punya anak seperti kamu".
"Aksa juga merasa beruntung memiliki Mamah, seperti Mamah".
"Sungguh?". Tanyaku meragu.
"Enggak, Aksa cuma bercanda". Jawabnya dengan raut wajah kesal.
"Heh? Oke...".
"Entah harus dengan cara apa, Aksa membuktikan bahwa Aksa sungguh-sungguh". Ucapnya kembali.
"Tidak perlu pembuktian apa-apa, Mamah tahu kok kamu sungguh-sungguh, hanya saja... terkadang Mamah ngerasa gak pantes".
"Hah? kenapa?".
"Karena... Mamah gak selalu ada untuk kamu".
"Mamah tahu itu... Dan".
"Enggak, itu gak bener, Aksa gak pernah ngerasa kekurangan kasih sayang apapun kok, tidak seburuk itu menjadi anak broken home".
"Iyah, lagi pula... Mamah sama Ayah selalu Kompak ada di hari-hari istimewa bagi Aksa".
"Tapi...".
"Tapi apa sayang?".
"Tapi... alangkah sempurnanya jika kalian kembali bersama". Batinku.
"Mmm... enggak, bukan apa-apa".
"Aksa, Aksa bisa mengerti kenapa Mamah gak bisa kembali bersama dengan Ayahkan?".
"Karena Ayah pernah membuat kesalahan di masa lalu?".
"Iyah, tapi tidak hanya itu...".
"Heh? lalu apa?".
"Karena cinta tidak harus memiliki, karena tinggal serumah bukan berarti singgah. Mamah dan Ayah sudah pernah mencoba hal itu, berusaha mempertahankan. . . tapi takdir berkata lain".
"Bukan... karena Mamah trauma?".
__ADS_1
"Dan... enggan untuk memulai kisah cinta yang baru, apalagi dengan orang yang sama?".
"Mamah gak mati rasakan?"
"Mamah enggak kecewa dan menilai semua pria itu samakan?".
"Mah... Aksa ngerti kok, tapi... kalau Mamah butuh pria tangguh, bertanggung jawab, butuh pundak untuk bersandar, butuh teman untuk mendengarkan semua cerita keluh kesah Mamah atau bahkan cerita bahagia penuh canda dan tawa, Aksa siap. Aksa akan selalu ada untuk Mamah, kapanpun itu".
"Hah?". Tiba-tiba saja sebulir cairan bening lolos dari tempatnya.
Aku sama sekali tidak berekspektasi Aksa akan berkata seperti itu... tidak, tidak sama sekali.
"Mah, Mamah janji akan baik-baik saja kan, jika Aksa pergi?".
"Iyah, Sayang... Mamah janji akan menjaga diri Mamah dengan baik, tanpa kurang satu apa-pun, sampai kamu kembali".
"Promise?". Ucapnya kembali meyakinkan.
"Promise". Ucapku sembari kudekap tubuh kecilnya ke dalam rengkuhan tubuhku.
"Ingat, kalau Mamah gak kuat bilang?!".
"Lambaikan tangan?!".
"Heh? Haha... ada-ada saja kamu". Ucapku kembali di buat tertawa dalam sekejap oleh tingkah lakunya.
"Nah gitu dong, jangan nangis mulu". Ucapnya Kemudian menghapus jejak air mata dalam pipiku.
"Heh... beruntungnya wanita yang bisa dapetin kamu nanti". Ucapku dengan senyum tulus.
"Hah? Euh... apa itu tidak terlalu dini? Aksa baru berusia tujuh tahun, baru mau masuk Sekolah Dasar kalau di Indonesia".
"Hehe... Iyah gak apa dong, Mamah gak akan ngelarang kok, kalau ada wanita yang Aksa suka".
"Asal enggak ngelakuin hal-hal yang negatif dan di luar norma-norma". Ucapku memperingati.
"Ahhh... enggak-enggak... Aksa gak tertarik menjalin suatu hubungan".
"Heh? kok ngomongnya gitu sih? gak boleh gitu sayang, bukan enggak tapi belum". Ucapku tegas.
"Euh... Iyah maksud Aksa gitu, Aksa kan masih kecil masih bau bawang, masa iyah udah cinta-cintaan".
"Haha... Iyah-iyah maaf deh, Mamah yang salah, kecepatan yah ngomongin cinta atau pacar, tapi masa iyah sih seorang Aksa gak pernah naksir sama perempuan, atau perempuan gak naksir sama Anak Mamah yang ganteng ini". Godaku.
"Mah...". Haha... kalau sudah mengeluarkan kalimat ini, sudah deh... mode kesal Aksa akan menyala, ia akan mendiamkanku beberapa jam.
Tapi... Aku sudah tahu bagaimana cara menghibur dan membujuknya untuk kembali mau bicara... yaitu dengan membuatkan ia cemilan atau sekedar selengean di dekatnya. Aksa pasti akan kembali tertawa.
__ADS_1
Next?