Aksa

Aksa
part 49


__ADS_3


Sore hari yang benar-benar cerah, dengan pemandangan yang sungguh indah, aku melihat Nareta yang gembira, sesekali dia melemparkan senyuman menawannya padaku. Beruntungnya hari ini tidak begitu banyak pengunjung datang turis ataupun lokal.


Di satu sisi aku tengah mempersiapkan diri, sewaktu-waktu Nareta tahu bahwa semua yang aku lakukan ini hanyalah pengalihan, aku harus menerima semua keputusannya, dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, kemungkinan terburuk sekalipun.


Meskipun hati kecilku berharap Nareta tidak melakukan hal itu, dan menurut penilaian ku Nareta bukanlah wanita seperti itu, akan tetapi aku tidak pernah tahu cerita hidupku akan berakhir seperti apa, entah itu happy atau sad kita tidak pernah tahu bukan? aku hanya bisa berusaha melakukan apa-apa dengan sebaik mungkin.


"Junot, aku lapar". Ucap Nareta setelah puas bermain air.


"Ayoh, kita pulang?!".


Sembari melihat sunset kita berjalan di pesisir pantai menuju mobil, tidak ada percakapan apa pun, hanya desiran ombak dan pasang surut air laut yang mengenai kaki kita, dan entah sejak kapan tangan kita sudah saling bertautan.


Kita akhirnya makan malam tak jauh dari pantai ada sebuah restauran seafood sederhana namun sudah terkenal kemana-mana, dan tak lupa untuk menunaikan sholat magrib juga.


Awan hitam tanpa bintang menemani makan malam kita, entah kenapa aku enggan beranjak dari tempat ini, padahal sedari tadi Nareta sudah berhenti makan, bahkan sudah sangat kekenyangan begitupun dengan aku.


"Aku ngantuk, pulang yuk?". Ajak Nareta dengan nada lembut.


"Tidak, kita bermalam di sini".


"Apa? tapi...".


"Ayoh, kita cari penginapan". Ucapku sembari menjulurkan tangan.


"Hem". Tanpa bantahan Nareta segera bangkit dengan menggapai jemari tanganku kemudian berjalan di sampingku.


"Kenapa tidak pulang, besok aku harus kerja". Tanya Nareta hati-hati.


"Aku hanya ingin berduaan denganmu lebih lama, tidak boleh?".


"Heh, boleh, tapi.... di rumah pun kita hanya tinggal berdua".


"Tidak".


"Maksud kamu? apa di rumah itu ada hantu?". Ucapnya dengan nada terkejut dan takut.

__ADS_1


"Heh, bahkan lebih parah dari itu". Ucapku menjahili.


"Hah? sungguh? aku gak mau pulang ke rumah itu lagi, kita pulang ke rumah Bunda aja yah!?".


"Heh... ayolah Nareta mana ada hantu?". Ucapku menahan tawa.


"Ish... jadi kamu cuma isengin aku? JUNOT!!! ". Teriaknya penuh kekesalan, sementara itu aku tidak dapat lagi menahan tawa.


Kita sampai di penginapan dengan harga Rp. 350.000 semalam, tidak ada pilihan lain karena tempat lain sudah berpenghuni. Kemudian kita berdua silih berganti untuk mandi, tentunya dengan pakaian yang masih sama, tidak ada pasilitas apa-apa hanya ada sebuah tikar dengan dua bantal lalu selimut tipis berukuran kecil.


"Kamu tidak apa tinggal di tempat seperti ini?" Tanyaku, karena nampaknya Nareta biasa saja.


"Heh, kamu mengkhawatirkan ku?". Ucapnya yang terkesan meledek.


"Aku tidak kenapa-kenapa, jangan khawatir! aku bisa tinggal dimana saja kok, bahkan aku pernah berada di tempat yang jauh lebih buruk dari tempat ini".


"Heh? syukurlah".


"Kamu sendiri? aku sangat yakin... sebelumnya kamu tidak pernah tinggal di tempat kumuh seperti ini bukan?".


"Hem, tidak perlu aku jawab bukan".


"Tidak perlu". Ucapku masih dengan angkuh dan acuh.


"Dulu pertama kali aku datang ke Jakarta, semuanya tidak mudah, aku sempat tidak punya tempat tinggal".


"Lalu kamu tinggal dimana?". Tanyaku penasaran


"Di masjid ke masjid". Jawabnya dengan santai.


"Aku baru tahu, tempat ibadah di Ibu Kota tidak 24 jam buka".


"Lalu bagaimana kamu bisa kerja di tempat Ayden?". Seketika saat aku menyebut nama Ayden dia terlihat berpikir.


"Ceritanya cukup panjang dan rumit, yakin mau mendengarkan?".


"Tentu!".

__ADS_1


"Hem, baiklah".


"Dulu aku bekerja di perusahaan yang sekarang, hanya sebagai staf biasa, singkat cerita Bos ku yaitu Ayah dari Ayden meninggal, padahal aku baru bekerja dua minggu, hal itu membuat perusahaan terguncang mau tidak mau Ayden harus menggantikan posisi Ayahnya dengan ketidak tahuannya tentang perusahaan. Perusahaan banyak mengalami kerugian salah satunya karena ada beberapa oknum yang memanfaatkan keadaan dengan korupsi. Cukup lama untuk Ayden menyadari akan hal itu, kemudian sistem pun di ubah, entah apa yang membuat Ayden menunjukku sebagai sekretaris pribadinya, tetapi mulai hari itu hingga detik ini aku menjadi sekretarisnya". Tuturnya secara singkat.


Entah bagaimana mulanya, kegigihan Nareta yang terus-menerus berbicara mengenai banyak hal, berhasil membuat aku menjadi pendengar setia yang kepo dan berhasil membuat aku ketagihan, rasanya ingin terus mendengarkan tanpa sedikitpun merasa bosan, hingga sampailah pada cerita yang menguras air mata, mengenai kedekatannya bersama pria yang ia panggil bapak.


Meskipun sedih untuk Nareta tetapi untukku ceritanya berhasil membuat aku iri, entah dengan bunda atau ayah aku rasa kita tidak pernah melakukan hal-hal sederhana yang berkesan seperti itu, dan salah satunya adalah cerita tentang 'tahu sumedang bumbu rendang'.


"Apa kamu pernah makan rendang tahu sumedang?". Tanyanya.


"Heh, tidak".


"Hem, suatu saat kamu harus coba, saat berkunjung ke Bandung, tatapi hanya ada di rumahku saja, hehe". Nareta terlihat menarik nafas panjang terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya melanjutkan ceritanya.


"Saat itu, hari raya Idul Fitri setiap rumah sepertinya memasak hidangan istimewa, kecuali rumahku". Kedua mata Nareta mulai berkaca-kaca.


"Kita hanya tinggal di sebuah kontrakan kecil, tak jarang kita mengalami pengusiran karena tidak dapat membayar, kegiatan Bapak saat itu hanyalah berjualan tahu sumedang keliling saat menjelang buka puasa". Nareta berhenti sejenak dan menarik nafas berat, kemudian kembali bercerita.


"Hari itu Bapak tidak berhasil menjual satupun tahu sumedang, alhasil Ibu yang sudah menyiapkan bumbu rendang memasukkan satu persatu tahu sumedang itu". Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Hingga saat ini setiap kali aku pulang ke Bandung, tahu sumedang dengan bumbu rendang menjadi menu wajib yang harus ada". Nareta sudah tak mampu menahan, satu tetesan berhasil lolos di pelupuk matanya.


"Hah, bumbu rendang dangan tahu sumedang saat itu adalah penyemangat dikala aku benar-benar putus asa dengan hidup". Kesedihan mendalam begitu terasa, saat Nareta mengingat-ingat kembali masa sulit itu, tapi dengan begitu Nareta tumbuh dengan baik, tidak menjadikannya manusia sombong ataupun serakah.


"Aku tahu betul perasaan Bapak dan Ibu saat itu, tapi kita hidup di perantauan, tidak ada sanak saudara yang bisa di pinjami uang, satu-satunya hal yang membahagiakan saat itu adalah berkumpul bersama sembari makan malam dan bercerita tentang hidup Putri Nahla, sebuah dongeng yang Bapak karang sendiri, ceritanya yang kurang lebih sama seperti hidup keluarga kita saat itu, dengan akhir yang tentunya bahagia". Ucapnya sembari sesegukkan.


"Ke marilah!". Perintahku, kemudian Nareta menangis di dalam dekapanku.


"Kamu tahu? aku bicara seperti ini hanya kepadamu".


"Hem, Kamu tahu? kesedihanmu di masa lalu menjadikan kamu wanita yang kuat seperti sekarang! aku tidak lagi heran".


"Aku tidak kuat, aku hanya tidak ingin kalah terhadap dunia".


"Heh, tenanglah tidak hanya kamu, aku pun sama, tidak ingin kalah terhadap dunia". Dan malam itu semua keraguanku terhadap Nareta musnah.


Tak heran jika Nareta tumbuh dengan penuh ambisi dengan tujuan yang jelas, Nareta adalah wanita sempurna, dan tidak semestinya aku melukai hati dan harapan-harapannya.

__ADS_1


Malam ini aku tahu kenapa bintang tak menampakkan dirinya, mungkin karena dia merasa tak percaya diri, sebab di sampingku ada wanita bernama Nareta yang begitu bersinar?


Next?


__ADS_2