
Jika hal buruk terjadi dengan bunda, pesan terakhirnya ialah, aku harus menjaga Juwita dan Nareta. Aku merasa bunda teramat mencintai mereka berdua melebihi dirinya sendiri.
Kondisi bunda semakin buruk dan ayah pergi entah kemana, mengingat jantung ayah yang juga bermasalah meskipun belum separah bunda, tetapi aku sungguh khawatir sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi pula pada ayah, dengan cepat aku mencari akan keberadaan ayah hingga keluar rumah sakit, hasilnya nihil tapi satu tempat yang belum sempat aku kunjungi yaitu mushola, aku segera berlari ke sana dan benar saja, ayah tengah menengadahkan kedua tangannya dengan air mata yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Jika sudah begini itu artinya ayah sudah sangat pasrah, satu-satunya hal yang bisa membuat ketidak mungkinan menjadi mungkin hanyalah pertolongan Tuhan. Aku segera pergi mengambil air wudhu, melaksanakan empat rakaat sholat tahajud. Setelahnya hal serupa yang sedang ayah lakukan kini tengah aku lakukan, ku minta pertolongan atas apa-apa yang menjadi keresahan dan ke takutanku.
Permohonan atas kesembuhannya bunda jelas itu yang utama aku minta, tapi tidak hanya itu aku pun meminta kesembuhan untuk Juwita, sebenarnya aku terbilang hamba yang jarang berdoa meminta apa-apa yang aku inginkan, karena ku pikir Tuhan sudah tahu apa inginku dan tahu apa yang ku butuhkan dari apa yang ku inginkan, tapi kali ini pengecualian.
Kulihat ayah masih konsisten dengan posisi yang terakhir kulihat, sembari berzikir dengan khusyu, kupastikan kondisi ayah baik-baik saja, maka kuputuskan kembali menunggu di depan ruang operasi bunda.
Setibanya di sana, aku tidak melihat adanya Nareta, apa dia pergi? kupikir dia benar-benar tulus mau menikah denga ku sampai-sampai menangis berjam-jam karena melihat kondisi bunda yang tengah berjuang di ruang operasi, heh ternyata dia sama saja dengan wanita-wanita lainnya.
Aku duduk di salah satu kursi sembari bersandar dan melihat handphone, aku terkejut dengan panggilan dari Aqila yang tidak ku dengar sebanyak 30 kali.
Aku segera menulis pesan meminta maaf serta mengatakan bahwa aku sedang sibuk dan benar-benar minta untuk jangan menghubungiku dulu.
Ku lihat name kontak Aqila di handphoneku, ku tekan tiga titik di samping kanan, lalu ku tekan tulisan edit, setelahnya ku simpan kembali.
Tak lama kemudian kulihat Nareta datang bersama seorang Suster.
"Kamu dari mana saja?". Tegur ku pada Nareta sedikit ketus, sementara suster sudah kembali ke ruangan operasi.
"Hem, tadi aku abis ambil darah". Ucapnya lemah.
"Buat apa?". Kulihat wajahnya memucat.
__ADS_1
"Persediaan darah B habis, Bunda terus menerus kekurangan darah, kebetulan golongan darah ku O positif". Aku menganga tak percaya, bukankah dia tengah menstruasi.
"Kenapa gak cari aku saja! kamu kan lagi menstruasi". Ucapku setengah membentak.
"Di situasi darurat seperti ini? aku harus cari kamu dulu?!". Ucapnya terlihat jengah namun benar-benar lemah.
"Kamu harus di rawat juga!". Perintahku namun ia tak mau mendengarkan.
"Gak usah". Tidak tega melihatnya yang terlihat kesakitan dan benar-benar lemas, tanpa pikir panjang ku gendong dia ala bridal style menuju ruang IGD.
"Kamu ngapain sih, turunin gak?!". Ucap Nareta mengancam, namun tak ku hiraukan, aku tak peduli meskipun Nareta merengek meminta untuk di turunkan.
"Bisa diem gak?!". Ucapku kemudian saat Nareta terus menerus memukuli dada bidangku dengan lemah, bukan karena sakit, tapi aku benar-benar tak tega melihat kondisinya yang sangat lemah harus melakukan pergerakan yang tak berarti, hanya buang-buang energi.
Tak di sangka ucapanku berhasil menghentikan pergerakannya, dia terlihat takut tapi juga malu, karena ucapan ku dan tatapan orang-orang sekitar yang melihat ke arah kita.
"Baik, Pak".
***
"Suster, kali ini apa yang terjadi?". Ucapku panik saat kembali melihat Suster datang tanpa membawa apa-apa.
"Maaf Bu, apa keluarga Ibu ada yang memiliki golongan darah B? stok kami habis, dan Ibu Maharani masih membutuhkan darah sekitar dua kantung lagi". Tanpa pikir panjang, aku segera mengatakan apa yang ada di pikiranku.
"Ambil darah saya saja Sus, kebetulan golongan darah saya O positif".
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, mari ikut saya!". Aku segera mengekor Suster itu.
Jujur saja meskipun baru beberapa kali aku bertemu bunda, tapi rasanya... seperti sudah sangat lama sekali aku mengenalnya. Perlu kalian ketahui, aku benar-benar takut akan jarum suntik, meskipun ini bukan kali pertama aku mengambil darah, karena saat SMA dan Kuliah aku rutin donor darah, yah meskipun dengan drama teriak-teriak, tapi kali ini pengecualian, tidak terasa sakit sedikitpun dan tidak ada drama teriak-teriak lagi.
Dua kantung darah sudah di dapatkan, aku dan suster kembali ke ruangan bunda, kulihat Junot sudah ada di kursi tunggu sendirian sembari mengutak-atik handphone, di saat ke beradaanku sudah mulai mendekat ia kembali menyimpan handphone itu di saku celananya.
Dia menanyakan kemana perginya aku, meskipun sedikit ketus tapi entah kenapa, justru aku merasa senang, layaknya seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya, hehe...
Dan lagi aku baru menyadari itu pun karena Junot yang mengatakan apa yang membuat aku merasa lemas setelah mengambil darah, padahal dulu rasanya tidak selemas ini, ternyata aku tengah menstruasi hari pertama yang benar-benar banyak sekali menguarkan darah kotor, maka dari itu tak heran saat aku mengambil darah dua kantung, tubuhku benar-benar terasa lemas sekali.
Junot menyuruhku untuk segera di rawat juga, tapi aku tak ingin meninggalkan bunda seorang diri, namun Junot yang tak terima penolakan segera menggendongku ala bridal style menuju ruang IGD.
Aku malu sangat malu, atas apa yang tengah di lakukan Junot terhadapku, meskipun kita memang sudah halal, tatapi tidak untuk dilakukan di rumah sakit juga kan!?
Aku pikir menghadapi manusia seperti Junot harus tegas, sedikit ancaman atau kekerasan, tetapi hasilnya nihil, alhasil Junot Justru lebih marah atas tindakanku yang memukuli dada bidangnya.
Tak berapa lama kita sampai di tuang IGD, Junot berteriak memanggil Suster. "Sus, tolong rawat istri saya!". Ucapannya itu berhasil membuat aku terdiam membisu, Apa semudah itu mengakui aku sebagai istrinya?
"Baik, Pak". Suster itu pun segera merawat ku, dan memasangkan selang infus pada tangan kiri ku. aku masih terdiam tak percaya atas apa yang baru saja aku dengar.
"Nana? kamu gak apa-apakan?"
"Nareta?". Tanya Junot terlihat khawatir.
"Hm...". Tapi rasa sakit itu, tidak dapat aku kendalikan, maka beberapa menit kemudian aku pingsan.
__ADS_1
Maka kalimat yang aku ingat sebelum pada akhirnya aku pingsan adalah, ungkapan... Junot, tolong rawat istri saya! ucapan itu selalu terngiang-ngiang dalam benakku.
Next?