Aksa

Aksa
part 53


__ADS_3

Malam pertama yang ku tunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba, tetapi bukan perasaan bahagia yang menyelimuti diriku akan tetapi rasa hampa, persoalannya Junot melakukan semu itu tanpa aba-aba dan rasa cinta.


Semua itu terjadi kerena amarah yang membara, karena nafsu tanpa sedikit pun adanya kesadaran, menunaikan kewajiban sebagai suami atas hak istri atas dasar ibadah, jujur saja aku sedikit kecewa.


Anehnya lagi setelah kejadian itu hubunganku dengan Junot bukannya membaik melainkan semakin parah, kemanapun aku pergi Junot harus ikut, jika tidak dia akan menuduhku yang tidak-tidak, kecuali saat kerja, itu pun aku dan Mas Ayden tidak boleh berbicara apabila bukan tentang pekerjaan, kalau aku lupa tidak meminta izinnya terlebih dahulu kemudian ketahuan oleh Junot pasti dia menyangka aku berselingkuh.


Kalau boleh jujur aku senang di perhatikan, tapi rasa-rasanya aku bukan tengah di perlakukan dengan penuh perhatian akan tetapi aku merasa menjadi tawanan, ruang gerakku terasa sempit, kalian yang pernah mengalami hal serupa pasti paham, tetapi meskipun begitu Junot bukan parasit dia suamiku maka dari itu aku mencoba bersabar mungkin ini ujian dari sebuah pernikahan, aku turuti apa pun maunya, selagi itu masih di batas wajar.


Satu bulan berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Junot di sisiku, dengan sikapnya yang mudah berubah-rubah, kadang manja, kadang juga tegas berwibawa, semua orang di komplek ini sangat menghormatinya, tak heran jika dalam berbagai kegiatan Junot selalu dilibatkan, malah menjadi orang yang di spesial kan.


Jujur saja aku mulai ketakutan, bagaimana tidak? Junot selalu menjadi pusat perhatian, tidak untuk para kaum wanita tapi juga pria, jika di bandingkan denganku maka aku jauh di bawah mereka, pemahamanku tentang agama tidak seberapa, pun dengan kewajiban dan ke ta'atan ku sebagai seorang muslim yaitu untuk memakai hijab dan yang lainnya masih belum mampu aku laksanakan.


Beruntungnya Junot memang tidak pernah menuntut apalagi memaksaku untuk berpenampilan ini itu, katanya kewajiban dia sudah ia laksanakan, memberi penerangan tentang kewajiban seorang wanita muslim memakai hijab, urusan aku mau berhijab istiqomah atau lepas pasang, kembali lagi itu hak ku.


Sebenarnya aku memang mempunyai keinginan untuk berhijab sedari dulu, tapi entah kenapa, sampai saat ini hal itu masih belum juga terlaksana. Tapi beruntungnya aku memiliki Junot sebagai suami, lagi-lagi Junot selalu menguatkan ku, katanya niatnya sudah bagus, perlahan-lahan saja jangan terburu-buru.


Seminggu sekali aku dan Junot sering berkunjung ke rumah Bunda, menghabiskan hari weekend bersama-sama, kadang kita jalan-jalan ke mall tetapi kita lebih sering diam di rumah, belajar memasak, membuat kue, puding, apa pun itu.


Kadang aku ikut menemani Bunda arisan, kajian, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang Bunda lakukan bersamaku dan juga Kak Juwita, dan apa kalian tahu ada hal yang mengejutkan untukku, bahwa restoran favorit yang sering aku kunjungi bersama Mas Ayden di masa lalu ternya CEO nya adalah Kak Juwita sementara Chef nya sendiri adalah Mas Marsel.


Pantas saja rasa-rasanya masakan Mas Marsel sangat familiar di lidahku, dan yang lebih mengejutkannya lagi entah sejak kapan Akbar dan Zahra ternyata saling mengenal dengan Junot dan mereka juga sering makan di restoran Kak Juwita dan Mas Marsel.


Tak terasa sebentar lagi sudah mau memasuki bulan suci ramadhan saja, ini merupakan tahun pertama untukku setelah menyandang status baru yaitu istri, dan di tahun ini aku berkeinginan untuk melakukan semua ibadah lebih khusyu dengan suami.


Hari pertama sahur, tadarus, buka puasa, sholat magrib, isya dan taraweh bersama, nikmat tuhan yang mana lagi yang aku dusta kan? Aku benar-benar malu atas apa yang telah Allah SWT berikan untukku sementara untuk ibadah dan ke ta'atan ku Pada-Nya tidaklah seberapa, kadang masih semaunya.


Satu Minggu berlalu, yah hanya satu Minggu, karena Minggu kedua aku berhalangan, tapi aku tetap menyiapkan hidangan makan sahur untuk Junot kok, hari-hari sebelumnya aku sering menemani Junot ke berbagai acara amal di kantornya begitupun sebaliknya, dan tentu saja dengan jadwal buka puasa bersama dan untuk 20 hari kedepan pun sudah terisi penuh, entah itu dengan teman kantor, kuliah, teman dekat Junot, teman dekatku, dengan kolega, keluarga, dengan masyarakat setempat dan lain sebaginya.

__ADS_1


Sementara itu sore ini adalah jadwal buka puasa dengan tiga kawan Junot yang sudah seperti saudara kembar, dan tak lain mereka adalah Akram, Bagaskara, dan Zain. Yah meskipun Akram dan Zain tidak berpuasa karena berbeda iman tetapi hal itu tidak pernah melunturkan rasa kebersamaan di antara mereka.


17:00 WIB


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam, jawabku sembari membuka pintu".


"Hey?".


"Hem, ehh... cari Junot?". Ucapku basa-basi.


"Mm, Iyah".


"tapi Junot nya baru aja pergi".


"HM, untuk itu aku udah tahu kok, tapi kalau pergi kemana aku kurang tahu juga sih, tapi katanya sebentar".


"OHH, kalau gitu aku boleh nunggu kan?".


"Heh? oh iyah boleh, silahkan masuk". tawar ku, bukannya aku tidak tahu hukum laki-laki dan perempuan bersuami dalam satu ruangan itu tidak boleh tapi masa iyah aku melarang dia untuk menunggu.


Tetapi aku jadi serba salah karena aku tak ingin di salahkan dan di sangka yang enggak-enggak oleh Junot nanti, maka aku membuka pintu rumah kemudian meninggalkannya sendirian.


"HM, aku tinggal yah gak apa-apakan?".


"Heh? mau kemana?".

__ADS_1


"Mau buat es rujak untuk buka puasa nanti". Ucapku.


"Oh, ya udah aku bantuin yah?". Ucapnya.


"Hem, gak usah!". Ucapku tegas


"Heh, ma.. maksudku masa tamu di suruh-suruh sih, hehe gak usah yah? duduk aja!". Ucapku buru-buru dengan nada yang lebih lembut.


"Hehe, gak apa-apa biar aku gak bosen juga, bolehkan?!". Karena Bagaskara terus memaksa, aku tak bisa apa-apa.


"Aku kupas mangga kamu timun suri yah!". Pintaku.


"Oke". Ucapnya bersemangat


"Haha..."


"Kenapa?" Tanyanya heran


"Kamu gak perlu kupas timun suri nya, kamu cukup belah memanjang terus keluarin deh bijinya kemudian pakai alat ini biar jadi bulat-bulat kemudian taruh di baskom". Ucapku sembari mempraktekan


"Udah deh, gampang kan?". Ucapku di akhir kalimat, sembari menatapnya, tetapi aku merasa dia tidak sedang memperhatikan apa yang tengah aku terangkan, melainkan dia tengah menatapku tanpa sedikitpun berkedip, hal itu berlangsung sampai akhirnya aku menjentikkan jari-jari ku di depan wajahnya, barulah dia tersadar.


"Heh? Oh gitu yah". Ucapnya kemudian, dan kedua mata kita saling bertemu, tak berapa lama Junot datang dengan wajah yang tak bersahaja, persis seperti saat itu, saat aku pulang malam di antar oleh Mas Ayden.


"Sedang apa kalian berdua?"


Next?

__ADS_1


__ADS_2