Aksa

Aksa
part 23


__ADS_3

"Selamat pagi, tapi maaf Pak kami belum buka". sapa seorang pelayan dengan ramah.


"Jun? ada apa sepagi ini ke sini?". Ah, beruntunglah Mas Marsel datang di waktu yang tepat.


"Sudah, dia tamu saya, kamu bisa pergi!". Seru Mas Marsel kepada pelayan pria itu.


"Maaf Pak, saya permisi". Pelayan itu menunduk kepadaku, lalu berlalu pergi.


"Duduk Jun?!"


"Iya, makasih Mas"


"Robby? tolong kemari". Pinta Mas Marsel kepada salah satu pegawainya.


"Iya Pak, ada apa?".


"Mau sarapan apa Jun?". Tanya Mas Marsel padaku.


"Hem, gak usah Mas, aku udah sarapan".


"Oh, kalau gitu mau minum apa?".


"Water Lemon!".


"Ada lagi Pak?" Tanya pelayan itu, aku hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Saya teh manis saja!". Seru Mas Marsel.


"Baik Pak, saya permisi".


"Jadi ada apa?". Wajah Mas Marsel terlihat tegang melihat kedatanganku yang tiba-tiba.


"Aku cuma mau bilang, malam nanti biar aku yang jaga Bunda, dan tolong bujuk Ka Juwita untuk pulang, dia juga butuh istirahat jangan sampai dia malah ikutan sakit". Juwita memang mudah terserang karena sedari kecil daya tahan tubuhnya lemah.


"Oh, Iyah Mas juga sudah bilang, kalau malam ini Juwita pulang saja ke rumah, biar Mas yang jaga Bunda".


"Enggak, Mas juga harus pulang dan istirahat!". Sama sekali tidak ada penolakan, Mas Marsel sudah paham akan sifat dan sikapku, jika bicara A yah harus A.


"Permisi Pak ini minuman nya".

__ADS_1


"Iyah, Makasih" Ucap Mas Marsel pada pelayan itu, kemudian pelayan itu berlalu pergi.


"Ada apa lagi?". Tanya Mas Marsel.


"Tidak ada, hanya itu".


"Hanya itu? Jun, kamu tidak perlu sampai datang kesini jika hanya itu". Iyah Mas Marsel benar, dia bukanlah orang bodoh.


"kamu bisa chat Mas, masih ada kan kontaknya? heh". Candanya di akhir kalimat, ia aku dan Mas Marsel cukup dekat, lebih dekat dibanding kedekatan ku dengan Juwita.


"Ada apa? kamu bicara sama Mas! barangkali Mas bisa bantu".


"Gak ada apa-apa, barusan aku habis antar ....". Aku tidak perlu menjelaskannya dengan gamblang, Mas Marsel sudah paham dengan anggukannya.


"Ah, Iyah Mas ngerti, jadi sudah sejauh mana perkembangannya?". Sebenarnya Mas Marsel tahu betul, kalau Nareta mudah untuk di taklukan tidak mungkin aku sampai mengantarnya ke kantor. Mas Marsel malah tertawa puas melihat wajahku yang kesal.


"Haha... tidak perlu malu untuk mengakuinya, wanita sekarang lebih suka pria blak-blakan dan di perjuangkan ketimbang pria sok cool dan pada akhirnya di tinggalkan karena tidak ada kepastian". Aku hanya mengangkat bahu dan meminum water lemon, sementara itu Mas Marsel malah senyum sinis padaku, sedangkan aku? tentu saja tidak mau ambil pusing.


***


Aku sedang berada di lift lantai 17 hendak turun ke bawah, jarum jam sudah menunjukan pukul 17:00 WIB seharusnya Nareta sudah pulang, tapi aku tidak memiliki alasan untuk menjemputnya.


Aku segera mengemudi dengan kecepatan tinggi sebelum harus berjalan merayap, dari kantor menuju rumah sakit, meskipun dalam Map hanya butuh waktu 20 menit saja, tetapi keadaan jalanan Ibu Kota yang selalu padat, apalagi di jam pulang kerja seperti sekarang, aku harus menghabiskan waktu sampai satu jam di perjalanan.


tiba-tiba saja aku teringat akan pesanan Bunda, katanya ingin di bawakan salad buah buatan Mas Marsel, akan tetapi di Restauran sudah habis. Maka aku harus mengambilnya di rumah mereka.


Alhasil aku harus memutar balik arah mobil, beruntungnya jalanan hari ini tidak terlalu padat, aku hanya perlu waktu 30 menit saja, untuk sampai ke rumah Juwita.


Rumah dua lantai yang tidak begitu luas dengan dekorasi bergaya retro ini di huni oleh seorang IRT bernama mbok Minah, usianya kira-kira 45 tahunan.


"Assalamualaikum, Mbok ?"


"Waalaikum'salam, eh Masuk Mas?"


"Saya gak lama kok Mbok, cuma mau ngambil pesanan Bunda saja"


"Oh iya Mas, Mbok ambil dulu". Aku hanya mengangguk kemudian duduk di sofa tamu.


"Maaf Mas nunggu lama, ini pesanan Ibu nya".

__ADS_1


"Iya, sudah semuanya kan Mbok?"


"Sudah kok Mas, InsyaAllah gak ada yang kelewat"


"Yasudah makasih Mbok, saya langsung pergi lagi"


"Iya Mas hati-hati"


"Hm... Assalamualaikum"


"Waalaikum'salam"


***


Langit sudah berubah warna menjadi kelabu menuju gelap, adzan magrib berkumandang seolah saling bersahut-sahutan, jalanan mulai padat merayap. Aku memilih melipir untuk menunaikan tiga rakaat terlebih dulu karena waktu nya yang sebentar.


Tak pernah ku sangka akan bertemu dengan Nareta, dari sekian banyak Masjid yang ada, aku dan dia bertemu di tempat ibadah ini. Sembari menunggu antrean kartu parkir, ku lihat dia tengah terduduk sembari melepas sepatu heels kulihat wajahnya terlihat sembab seperti orang habis menangis, perlahan ia kibaskan rambut yang terurai menghalangi pandangannya.


tiba-tiba saja ada dua orang anak kecil yang mengamen tak begitu jauh dengannya, kulihat Nareta mengambil uang di saku celananya dan memberikan uang kepada anak kecil itu.


Tiba-tiba saja sebuah klakson dari mobil belakang mengagetkanku, ternyata sekarang sudah giliran ku, akhirnya aku meninggalkan Nareta dan dua bocah itu.


***


-Nareta-


Aku berjalan setengah berlari, tidak pernah ku sangka hari ini akan terjadi, meskipun sebenarnya aku sudah mewanti-wanti pada diriku sendiri, tapi tidak pernah ku duga akan datang secepat ini.


Mungkin hari ini pikiranku tengah letih terutama hatiku, di situasi seperti ini aku ingin sekali ada kamu yang menguatkan ku bukan sebaliknya memintaku pergi secara perlahan.


dengan tidak perlunya aku meminta izin untuk pulang, apa itu artinya kamu memang sudah tidak mau peduli lagi akan ke beradaanku?


Aku tidak tahu apa maksud dari perkataan mu, yang ku tahu kini hatiku tengah lelah, apa mungkin kamu juga? akan lebih baik jika aku tidak terlalu berspekulasi sendiri, toh hal itu tidak menjamin apa yang aku pikirkan saat ini, sama dengan apa yang kini tengah di pikirkan oleh Mas Ayden.


Aku segera menepis pemikiran negatif dari benakku, lebih baik besok aku tanyakan secara langsung kepada Mas Ayden, apa maksud dari perkataannya? barangkali ada sesuatu yang tidak berjalan dengan beres saat kemarin bertemu client karena dua hari ini aku tidak ada di sampingnya, kini posisiku terasa sudah di gantikan oleh Tania.


Ah, tidak... tidak... mungkin saja kebalikannya, Mas Ayden tengah marah padaku? maka dari itu dia meminta Tania menggantikan tugasku, hanya untuk sementara, sebab ini bukan kali pertama Mas Ayden bersikap begini, tapi kenapa? apa salahku ?


Next?

__ADS_1


__ADS_2