
Setelah pengumuman yang mengejutkan itu makan malam dengan rasa syukur dan bahagia yang tak terkira pun berjalan dengan lancar.
Hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB akhirnya kita memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.
Sementara itu aku dan keluargaku akan pulang ke apartemen yang aku miliki dari Junot, sedangkan untuk kendaraan aku membelinya sendiri satu tahun yang lalu.
Meskipun sebenarnya agak terpaksa, sebab alasan utamaku membeli mobil agar tidak ada lagi alasan untuk Ayden mengantarkan aku pulang ngantor
Alasan kedua... aku tidak ingin merepotkan terus orang lain terutama Lisda yang sering mengantar jemput aku walaupun sebenarnya aku tidak pernah meminta, tapi... di keadaan genting seperti dari pada aku di antar oleh Ayden yang akan berujung perdebatan hebat antara aku dan Aksa yah lebih baik aku pergi bersama Lisda saja, iya kan?
Satu persatu orang-orang pergi tidak ada lagi penghuni di restoran ini, sementara itu Junot, Aksa dan aku baru akan beranjak pergi, kita berjalan beriringan menuju basemen.
"Hm, Ayah aku pulang sama Oma dan Opa saja yah?".
"Loh kenapa? Memangnya sehabis ini kamu ada acara lain lagi?". Tanyaku penasaran sembari menghadap wajah Junot.
"Heh? tidak ada". Jawab Junot singkat sembari menatap wajahku dan menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa Aksa mau pulang sama Opa dan Oma?". Tanyaku kemudian kepada Aksa yang kini berjanji lebih dulu.
"Hem, Sepertinya ada sesuatu yang harus Ayah dan Mamah bicarakan". Ucap Aksa sembari berjalan mundur karena menatap Aku dan Junot.
"Hah? tidak". Ucap keduanya bersamaan.
"Hati-hati sayang jalannya menghadap kedepan!". Perintahku.
"Hem... sepertinya ada yang harus di bicarakan, mungkin mengenai aku!". Ucap Aksa, lalu kembali memunggungi kami dan berjalan dengan seharusnya.
"Hah? mengenai kamu?". Ucap Nareta agak bingung.
"Ahhm.. Iyah baiklah, sepertinya sekarang memang ada yang harus aku bicarakan ke kamu Nareta, mengenai Aksa". Ucap Junot kemudian.
"Hah? Benarkah, Iyah baiklah jika memang begitu?". Ucap Nareta pada akhirnya.
Sesampainya di Basemen Bunda dan Ayah sudah duduk di mobil mereka bersama Supir tengah menunggu kedatangan kami. Dan di lain sisi Keluargaku tengah menungguku.
"Bun, Yah. Aku titip Aksa yah?!".
"Iyah sayang jangan khawatir Aksa aman kok dengan Bunda dan Ayah". Ucap Bunda.
__ADS_1
"Pak Amir hati-hati yah, jangan ngebut-ngebut?! Pak Amir gak ngantukkan?". Tanya Junot memastikan akan keamanan untuk keluarganya.
"Baik Mas. Insyaallah Mas, Bapak gak ngantuk". Ucap Pak Amir supir pribadi Ayah yang sudah bekerja -/+ 10thn.
"Yaudah Kita pulang dulu, kamu hati-hati yah?". Ucap Bunda padaku.
"Iyah, Bun, makasih untuk hari ini". Ucapku sembari cipika-cipiki dengan Bunda, Salim kepada Ayah serta kecupan mendarat di kedua pipi Aksa.
Kini giliran aku meminta izin kepada Bapak dan Ibu serta Nadim.
"Pak, Bu, Teteh teu ngiring uih nya, Aya anu Bade di carioskeun Mas Junot".
"Tentang Naon?". Tanya Ibu agak sewot.
Iyah, Meskipun Kedekatan kedua keluarga kami cukup dekat dan sering berkumpul bersama, tapi itu semua di dasari karena Aksa, di luar itu sebenarnya Bapak dan Ibu masih belum bisa menerima Junot kembali.
Iyah, sekedar mengizinkan aku dan Junot mengobral berdua. Rasanya masih berat, terutama untuk Ibu.
Ekspektasi Ibu mengenai Junot teramat tinggi, dan sudah terlanjur mengagung-agungkan Junot sebagai menantu idaman kepada teman-teman sosialitanya namun kenyataan di luar ekspektasi, pada akhirnya Ibu hanya bisa mengelus-elus dada.
"Kenapa bisa nasib Nareta menyedihkan sekali, padahal Anak kita itu wanita baik-baik Pak, tapi malah di nikahi oleh pria yang tidak jujur, tulang selingkuh dan sekarang malah bercerai". Ujar Ibu dikala hatinya terluka melihat menantu-menantu dari sahabatnya yang beruntung dan baik.
"Ibu, Pak ada yang mau Junot bicarakan ini mengenai Aksa".
"Enggak bisa besok-besok aja? Hah?". Tanya ibu lagi dengan nada yang tidak bersahaja.
"Udahlah Bu, gak apa-apa, lagian ini mengenai Aksa, dan Ibu tahu sendiri Nana pasti gak akan bisa tidur kalau ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Nana".
"Yaudah, kamu hati-hati yah!". Ucap Bapak kemudian menyuruh Ibu untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Tapi Pak?".
"Udahlah Bu, Nana kan sudah dewasa dia tahu mana yang baik untuk dirinya, kita gak usah ikut campur, Cepetan masuk!".
"Hah, Bapak ini...". Kemudian Ibu mengikuti apa yang Bapak perintahkan.
"Nadim, hati-hati di jalan nya jangan ngebut-ngebut!". Ucapku.
"Hm, Teteh yang harus hati-hati!". Ucap Nadim menatap Junot tak suka, kemudian menutup kaca. Kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Yang lain sudah benar-benar pergi, kecuali aku dan Junot masih berada di basemen hotel bintang lima itu.
"Heh, Anak sama Ibu sama aja". Ucapku kemudian.
"Yah wajarlah, mereka begitu karena sayang sama kamu". Ucap Junot kemudian mempersilahkan aku untuk berjalan lebih dulu menuju mobilnya.
"Hmm..." Akhirnya aku berjalan lebih dulu sementara itu Junot berjalan satu langkah di belakangku.
Junot membuka kunci mobil dan suara mobil berbunyi dia berjalan lebih dulu hanya untuk membukakan pintu untukku kemudian ia memegangi atas mobil supaya kepalaku tidak terpentok.
Tak lupa ku ucapkan terima kasih atas perlakuannya yang baik terhadapku.
Jujur saja Aku agak sedikit baper atas perlakuannya Junot terhadapku yang selalu baik dan sweet, tapi... ku ingatkan lagi pada diriku sendiri bahwa sikap baik Junot begitu tidak hanya padaku saja, tapi... kesemua wanita mungkin termasuk Aqila dan juga Dokter psikiater yang menangani Aksa.
Ntah itu sikap wajar atau tidak, sudahlah, toh itu bukan lagi urusanku. Mau cemburu? lahhh... aku ini siapa? kedudukanku hanya mantan istri untuk Junot.
***
Untuk pertama kalinya setelah kita bercerai selama tiga tahun, ini kali pertama aku dan Nareta berada di satu mobil yang sama hanya berdua saja tanpa Aksa atau orang lain.
Malam ini Nareta berpakaian cukup terbuka, yah... berhasil menggoda imanku. Ah... tidak-tidak, dia Ibu dari Aksa anakku. Jangan sampai aku melukainya untuk kesekian kalinya. Batinku.
"Mas? kita mau kemana?". Tanya Nareta tiba-tiba berhasil membuyarkan lamunanku.
"Heh? Ke tempat yang... bagus dan tenang". Ucapku asal bicara.
Jujur saja aku masih belum kepikiran mau bawa Nareta kemana, yah namanya juga acara dadakan.
Iyah, hal yang terjadi saat ini tidak pernah di rencanakan sebenarnya olehku, hanya saja otak Aksa yang benar-benar brilian menjadikan aku dan Nareta bisa berduaan saat ini.
Untung saja aku yang paham maksud Aksa tadi segera menimpali kalau tidak... entahlah aku tidak cukup mempunyai keberanian untuk memulai suatu hubungan yang serius dengan Nareta apalagi dengan wanita lain.
Meskipun tidak kupungkiri banyak wanita-wanita yang wara-wiri di sekitarku, tapi.. tidak satupun yang berhasil membuat aku tertarik kepada mereka, justru aku malah menyesali keputusanku yang memilih bercerai dari Nareta.
Sementara itu teman-temanku seringkali mengejekku dengan ucapan "wajah boleh tampan tapi keberaniannya enggak seujung kuku pun". Memang brengsek teman-temanku itu, bukannya membantu malah mengolok-olok.
Junot Abraham
__ADS_1
Next?