Aksa

Aksa
part 92


__ADS_3


Kulihat mata sembab nya tanpa kata, ada rasa iba menerpaku melihat kondisinya yang seperti ini. Tapi entah kenapa pikirkan dan tindakanku tidak selaras, saat kedua mata kita bertemu aku seolah sedang memusuhinya.


Aku segera masuk keruangan Ayah. Sementara Oma dan Opa menyempatkan diri menyapa Mamah terlebih dahulu yang kini sedang duduk di ruang tunggu.


"Hey, pagi sekali sudah kemari". Ucap Ayah dengan senyum yang terus menerus mengulum sejak semalam tadi. Padahal aku tahu, saat ini dia tengah kesakitan.


"Kok diam aja? kemari!". Perintah Ayah, tak banyak kata aku segera menghampiri dan duduk di tepi ranjang.


"Kamu kemari dengan siapa?".


"Oma dan Opa". Jawabku singkat.


"Hem, kamu sudah bertemu Mamah?".


"Sudah". Jawabku lagi lebih singkat.


"Kamu sapa tidak?". Tanya Ayah dengan wajah penasaran. Tidak langsung ku jawab, karena pikirku... Ayah akan kecewa dengan jawabanku. Tapi ternyata keterdiamanku sudah pasti dapat Ayah pahami.


"Aksa, please listen to me!". Ucap Ayah dengan serius.


"Berhenti memusuhi Ibumu!". Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku juga tidak ingin, batinku.


Tapi Aku kesal, bukan karena kejadian semalam, melainkan karena penolakan yang Mamah lakukan terhadap Ayah dan juga Aku. Padahal kulihat-lihat Ayah tidak sepenuhnya bersalah, Yah untuk saat ini kulihat Ayah masih sangat mencintai Mamah dan seringkali memikirkannya. Ayah sudah sangat berubah, jika di masa lalu mungkin Ayah memang bersalah maka tidak bisakah Mamah memaafkannya?


"Aksa?! kamu kenapa ? malah bengong, jawab pertanyaan Ayah?!".


"Hm, Baiklah Ayah, demi Ayah aku akan berdamai dengan Mamah".


"Iyah, memang sudah seharusnya begitu!". Ucapnya sembari memelukku.


"Tapi?". Ragu-ragu ku ucapkan.


"Apa lagi?". Ucap Ayah sembari melepaskan pelukannya padaku.

__ADS_1


"Bukan berarti aku akan melupakan semua kejadian yang terjadi".


"Hm, terserah kamulah". Ucap Ayah sembari mengacak-acak rambutku. Tak lama Oma dan Opa masuk ke ruangan.


"Hm, maaf yah Bunda tahu ini belum waktunya jadwal besuk, tapi... kamu tahu sendiri bagaimana sifat Aksa".


"It's okay Bun". Ucap Ayah sembari menyalami satu persatu tangan Oma dan Opa.


"Gimana keadaan mu sekarang?". Tanya Opa.


"Yah, seperti apa yang Ayah lihat?". Ucap Ayah dengan mengedarkan pandangannya pada tubuhnya yang terbaring.


"Besok juga udah boleh pulang kok". Ucap Ayah melanjutkan.


"Gak sakit?". Tanya Oma, seakan tidak peduli, pertanyaan itu seakan pertanyaan basa-basi.


"Hem, tidak terlalu".


"Bunda harap laki-laki yang bersikap kurang ajar terhadap Nareta, menantu kesayangan Bunda di adili". Ucap Oma penuh emosi.


"Mantan menantu Oma". Ucapku dengan santai. tapi sepertinya yang lain tidak senang mendengar ucapan ku barusan.


"Iyah, memang begitu kenyataannya Oma".


"Aksa! kamu sudah berjanji sama Ayah barusan". Potong Ayah.


"Iyah, tapi Aksa sudah katakan juga untuk tidak bisa melupakan".


"Stop, untuk berdebat dengan Ayah". Ucap Junot sedikit kesal.


"Kalau kamu tidak bisa memaafkan kesalahan Mamah, lalu apa bedanya kamu dengan Mamah, yang sama-sama tidak bisa memaafkan kesalahan Ayah di masa lalu, Heh?". Ucap Junot panjang lebar.


Sementara Oma dan Opa terlihat bingung atas apa yang tengah di perbincangkan oleh Anak dan Cucunya. Sementara Aksa sendiri, kini tengah membeku atas apa yang di lontarkan Junot.


"Bun, Yah, tolong bawa Aksa pulang, dia harus banyak merenung atas apa yang baru saja Junot ucapkan".Ucap Junot tanpa berniat menatap Aksa.

__ADS_1


Iyah, seperti itulah cara Junot mendidik Aksa, Agak sedikit keras dan terkesan cuek atau bahkan tidak peduli dengan perasaannya. Tapi bagi Junot... itu cara terbaik mendidik anak lelaki. Iyah tanpa Junot sadari ternyata didikan Bunda nya dulu yang keras juga ia terapkan pada Aska.


Tapi tidak melulu Junot bersikap keras, kadang kala ia memperlakukan Aksa selayaknya Anak, teman bahkan raja. Tidak seperti dirinya dulu, karena Junot sadar betul, didikan Bundanya dulu terhadapnya, sedikit banyaknya mempengaruhi mental juga memicu kebencian.


"Yaudah pamit dulu sama Ayah!?". Ucap Oma kepada Aksa.


"Ayah, Aksa pulang dulu ya". Ucapnya sembari menundukkan kepalanya.


"Oke, pikirkan dan renungkan apa yang Ayah ucapkan tadi, paham?". Ucap Junot tegas.


"Ok, Ayah" Jawab Aksa sembari mencium punggung tangan Junot, yang kemudian di rengkuhnya tubuh Aksa masuk kedalam pelukannya.


"Ingat, nanti di luar kalau ketemu Mamah, Peluk seperti ini juga yah?!". Ucap Ayah tepat di telingaku, yang kemudian, ku angguki. Tak sadar ku balas memeluk Ayah dengan erat.


"Jagoan Ayah udah besar yah?!". Ucap Junot kemudian mencium kening Aksa dengan tulus.


***


Aku tengah terduduk di bangku tunggu, sejak subuh tadi, setelah menunaikan sholat subuh, aku enggan masuk kembali ke ruangan Junot, bukan apa-apa... hanya saja aku merasa malu dan wajahku serta mataku saat ini pasti akan membuat ia kembali terluka.


Pasalnya malam tadi aku sama sekali tidak bisa tidur, hanya mampu memejamkan kedua mataku, tapi air mata terus menerus mengalir tanpa diminta, Apa kalian juga pernah mengalami hal serupa?


Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menimbulkan suara, tapi aku tidak bisa... Isakan tangis berhasil lolos dari mulutku, suaranya seakan nyaring karena malam semakin larut dan suasana semakin hening.


Akhirnya Pukul 02:00 Dini hari, kuberanikan diri keluar dari kamar, Tujuanku hanya satu... Mushola. Tempat terbaik dari semua tempat, dalam sujud di persegi malam, ku curahkan segala keresahan hati kepada pemilik hati.


Tanpaku sadari aku tertidur di Mushola, entah sejak kapan, yang pasti aku melihat selimut yang sebelumnya aku pasangkan pada tubuh Junot. Tangis seketika kembali pecah... lagi-lagi aku hanya mampu menyusahkan orang lain, terutama dia itu adalah mantan suamiku.


Aku hendak ingin mengembalikan selimut yang dimiliki Junot, tapi... saat aku membuka pintu dan melihat selimut yang utuh masih menempel pada tubuh Junot. Maka seketika aku berpikir selimut siapa ini? siapa yang memakai selimut ini pada tubuhku?


Jujur saja aku berharap bahwa orang itu adalah Junot, dan sudah pernah ku katakan sebelumnya... bahwa hatiku sampai saat ini utuh masih dimiliki oleh Junot, tetapi kenyataan yang terjadi sekarang menimpaku, sungguh sangat melukai dan mengecewakan hatiku.


Seketika aku teringat akan Ayden, tidak mungkin kalau selimut ini miliknya. Batinku menolak kemungkinan besar memang dialah yang akan melakukan semua ini.


Aku segera berlari menuju ruangan Ayden, dan benar saja, saat aku lihat dia tengah meringkuk kedinginan. Ohh... tidak. Apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


Haruskah ku maafkan? seolah-olah kejadian yang hampir menjijikkan tidak pernah terjadi. Atau menuruti saran Junot, untuk memberikan Ayden pelajaran? Aku bingung, yang pasti kini aku sedang berusaha kembali menata hati. Sebab kekecewaan kembali kurasakan.


Next?


__ADS_2