Aksa

Aksa
Part 89


__ADS_3


"Entah perasaan apa ini, ada rasa kesal juga sesal dalam waktu yang bersamaan".


Tidak bisakah Nareta berkata "Iyah" saja di depan Aksa, hanya untuk menyenangkan hatinya. Atau seberat dan sebesar itu dia terluka, hingga enggan untuk kembali bersama.


Yang pasti, setiap hari aku selalu memikirkan nya, isi kepalaku selalu di penuhi oleh namanya, setiap malam aku merindukannya, dan berharap... kita bisa kembali hidup bersama, dalam bahtera rumah tangga.


Tapi... kurasa tidak dengan Nareta, dia terlihat begitu bahagia tanpa kehadiranku di hidupnya. Beberapa kali seorang lelaki datang menghampirinya. Menawarkan sebuah cinta yang tulus nan suci, beruntungnya Aksa yang posesif bisa menghalangi lelaki itu untuk masuk mengisi hati Nareta yang kosong.


Terutama Ayden, kulihat dia masih setia menunggu Nareta, meskipun berungkali Nareta tolak karena Aksa melarangnya, tapi terlihat dia masih berjuang untuk mendapatkan restu dari Aksa. Entah itu mengajak Aksa main, makan, nonton dan lain sebagainya.


Tak kupungkiri Ayden memang lelaki yang baik, setia, penyayang, perhatian dan dia memiliki rupa yang cukup menawan, terlihat sangat serasi jika bersanding dengan Nareta, tapi... jujur saja aku cemburu dan pengakuain ini tidak akan pernah aku utarakan kepada keduanya sampai aku mati.


Sejujurnya aku ingin melihat Nareta hidup bahagia, dan menikah lagi, dengan pria yang baik-baik. Tapi... aku juga berharap Nareta tidak hidup lebih bahagia di saat ia masih bersamaku. Iyah, I know... aku masih pria egois yang tidak bisa melihat mantan istriku menikah dan hidup bahagia. Meskipun sebenarnya aku ingin melihat Nareta bahagia.


Aku sendiri bingung, harus bagaimana menjelaskan nya, yang pasti, untuk saat ini... tidak bisakah aku dan Nareta beserta Aksa hidup bersama dan bahagia? Apakah keinginan itu terlalu mustahil? atau... lagi-lagi apa aku yang terlalu serakah?


***


Satu minggu setelah kejadian hari itu, Aksa merajuk, dia marah terhadapku, kekesalan terlihat jelas di raut wajahnya pada hari itu.


Kini aku sedang bersantai, dan membuka sebuah sosial media ku di salah satu aplikasi di smartphoneku, jari jemari ku tak sengaja melihat story Junot yang di buat beberapa jam yang lalu.


Deg... seketika itu juga ada desiran sakit di dalam hatiku yang tak dapat aku terjemahkan, Sebenarnya ini bukan kali pertama. Tapi, tetap saja... aku masih tidak dapat mengendalikan rasa, rasa sakit itu datang secara tiba-tiba tanpa aku minta.


Iyah, memang sudah pernah beberapa kali kulihat, Junot dan Aksa membuat story atau update foto, bersama wanita yang ku ketahui dia adalah Dokter psikolog Aksa, namanya Diana ,wanita cantik berkulit putih serta tinggi semampai, terlihat serasi dikala bersanding dengan Junot, Banyak pujian yang membanjiri kolom komentar untuk keduanya.


Banyak yang mendoakan dan tak sedikit yang menjodoh-jodohkan, Netizen berharap keduanya menjalin suatu hubungan. Sebab teman Junot, temanku juga, dan kurasa Junot tahu bahwa aku tahu.

__ADS_1


Hah... Jujur saja, ada rasa dilema yang begitu dahsyat aku rasakan, tak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi, tapi hati kecilku tak dapat berbohong, ada rasa kecewa dalam seketika, ada rasa cemburu yang memburu menghujam jantungku.


Hati kecilku seolah berkata, dan merutuki perbuatanku yang tempo hari keras seperti batu, "harusnya aku Iyahkan saja tawaran Junot dan Aksa kala itu, keinginan keduanya, yang memintaku untuk kembali menjalani sebuah peran Istri serta Ibu dalam bahtera rumah tangga". Sayangnya egoku pada saat itu masih terlalu tinggi, dan lagi-lagi tidak mengikut sertakan pemilik langit dan bumi, sang pencipta. Alhasil kini aku kembali limbung di hujani rasa penyesalan yang bertubi-tubi tidak berkesudahan.


Tak kusadari sebulir cairan bening menetes di pipi, Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aksa kini seolah menjaga jarak denganku, meskipun sebenarnya mungkin tidak, karena akhir-akhir ini ... yang kutahu masih banyak hal yang harus Aksa persiapkan untuk tinggal di luar negeri, Dan apalagi nanti jika Aksa sudah benar-benar tinggal di luar negeri, akan semakin jarang dan sulit sekali untuk aku temui, pikirku dalam hati.


Suara Adzan magrib berkumandang, Aku segera bangkit dan mengambil air wudhu, ingin mengadukan semua kegelisahan yang kini tengah hatiku rasakan.


Setelah selesai solat magrib, belum sempat aku menengadahkan kedua telapak tangan, mengadu, meminta petunjuk, apa sekiranya yang harus aku lakukan? serta meminta ke tenangan. Tiba-tiba suara pintu bel berbunyi, aku segera membuka mukena dan berjalan menuju pintu.


Dan saat pintu itu ku buka, seorang pria yang sangat aku kenal berdiri di ambang pintu, raut wajah yang terlihat sangat lelah.


"Ayden?". Ucapku dengan wajah bingung.


"Boleh aku masuk?". Ucapnya dengan sendu.


"Dia tidak banyak berkata apapun, matanya terlihat kosong dan linglung".


"Mau minum apa?". Tawar ku, dan berharap dia tidak meminta yang aneh-aneh.


"Tidak perlu". Jawabnya lalu tanpa aba-aba dia memelukku.


"Nareta, kumohon menikahlah denganku?!". Ucapannya seketika itu juga berhasil membuat aku terkejut, mataku membelalak, membulat dengan sempurna.


"Apa yang kamu ucapkan? Hehe... jangan bercanda". Jawabku masih berpikir itu hanya candaan. Sementara itu Ayden segera melepaskan ku dalam pelukannya.


"Aku sungguh-sungguh!". Ucap Ayden kemudian menyoroti kedua mataku dengan tajam.


"Kamu sudah tahu jawabannya!". Ucapku sembari berbalik dan berjalan membukakan pintu, mempersilahkan Ayden untuk keluar tanpa kata.

__ADS_1


Kulihat wajahnya begitu frustasi, tapi lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku takut, jika aku kembali membuka hatiku untuk Ayden, Aksa akan benar-benar marah dan enggan untuk bertemu denganku.


Belum lagi, sebenarnya... hatiku masih utuh di miliki oleh Junot, rasa cinta dan sayangku padanya terlihat jelas oleh mata tanpa harus di utarakan dengan kata-kata. Kurasa begitu, tapi ntahlah orang lain menyadarinya atau tidak.


Kulihat Ayden berjalan menghampiriku dengan lunglai, tatapannya teduh dan seketika menggelap.


"Mau atau tidak, aku tetap akan menikahimu". Ucapnya tepat di telingaku. Seketika itu juga aku bergidik ngeri, ucapannya terdengar ancaman di telingaku.


Sayangnya belum sempat aku kabur, Ayden sudah lebih dulu mengurungku. Aku berteriak sekuat tenaga meminta tolong, berharap siapa saja mendengar dan menolongku.


Ayden tersenyum smirk kepadaku, sebelum terjadi hal yang tak di inginkan aku segera berlari mengurung diri di dalam kamarku.


"Buka Pintunya!". Teriak Ayden.


"Aku bilang Buka!". Teriaknya lagi.


"Enggak, aku mohon jangan melalukan apapun terhadapku".


"Bukankah ini yang kamu inginkan dariku?".


"Tidak sama sekali". Teriakku.


"Jangan berbohong Nareta, Aku tahu...".


"Tidak, kamu salah!". Ucapku lagi sembari air mata ketakutan membanjiri pipiku entah sejak kapan.


"Diamlah, Aku akan melakukan apapun agar kamu mau menikah denganku, dengan atau tanpa persetujuan darimu!". Ucap Ayden sembari mencoba mendobrak pintu kamarku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2