Aksa

Aksa
part 70


__ADS_3

Sebelumnya...


"Heh, gak usah deh lagian kita mau kerumah Bunda gak akan ada cowok lain, selain aku". Jawabnya.


Iyah setahuku Ayah memang masih di luar kota, dan Mas Marsel pastinya sedang di restoran, hanya akan ada Bunda dan Kak Juwi, selebihnya paling hanya akan ada beberapa pegawai.


Aku sudah sangat siap, Aksa pun sudah ku dandani dengan rapi, tidak banyak barang yang aku bawa sebab apa yang aku butuhkan sudah pasti tersedia di rumah Bunda, maka hanya tas Selempang kecil dan tas susu Aksa saja yang ku bawa.


Kupikir hanya akan ada aku, Aksa dan Junot ternyata aku salah wanita itu juga akan ikut bersama kita menemui Bunda.


Mirisnya lagi aku dan Aksa akan menjadi obat nyamuk, Yap... aku duduk di kursi penumpang sementara wanita itu duduk di kursi depan bersanding bersama Junot, selayaknya Tuan dan Nyonya yang sedang jatuh cinta.


Oke... aku akan menjalankan peran ini sesuai keinginanmu Junot, batinku. Bukan berarti aku tidak marah, sedih atau kecewa akan tetapi aku tidak mempunyai alasan untuk memaki wanita itu. Sebab bukankah aku yang telah merebut Junot dari wanita itu.


Di sepanjang perjalanan aku tidak bersuara sedikitpun, sesekali justru Junot terlihat mengawasiku dari kaca spion depan, beruntungnya... lagi-lagi Aksa tidak pernah rewel, dia seakan mengerti akan kondisi ibu nya saat ini yang tengah terluka.


Beberapa kali Aqila mencari-cari topik yang dirasa akan disukai oleh Junot, tetapi ternyata tidak di tanggapi oleh Junot, ia hanya menjawab sekenanya seperti deheman atau Oh dan Iya.


"Mah mimi cucu". Ucap Aksa gemas


"Heh, mau minum susu? oke bentar yah". Ucapku pada Aksa.


"Kamu bawa botol susunyakan?". Tanya Junot sembari melihat ku dari spion.


"Hm, kamu bisa melihat nya kan?". Jawabku acuh tak acuh.


"Aksa mau tidur ?". Tanyaku lagi pada Aksa.


"No no". Maksudnya tidak-tidak, hehe di situasi seperti ini ada saja tingkah Aksa yang berhasil membuat aku tersenyum.


"Udah berapa usianya?". Tiba-tiba Aqila menanyakan usia Aksa.


"Dua tahun". Jawabku singkat. Bohong kalau aku tidak kesal padanya, jujur saja ini semua masih terasa seperti mimpi buruk bagiku.


Dengan kenyataan aku bersedia di madu, dengan kenyataan aku tidak bertindak seperti wanita pada umumnya. Aku menerima kehadiran wanita itu dengan terbuka, padahal tidak juga, iyah aku sedang menahan amarah, melatih kesabaran dan ke ikhlasan. Entah sampai kapan aku kuat dengan kenyataan yang pahit ini.


Perjalanan yang sangat membosankan sekaligus memilukan akhirnya berakhir, kita tiba di pekarangan rumah Bunda, beberapa ART menyambut kehadiran ku dengan Aksa dengan antusias.


Iyah, memang cukup lama aku tidak datang kesini, selain Bunda yang lebih sering mengunjungi aku. Rumah ini memang terkesan sepi apalagi jika malam tiba, sebab area rumah yang terlalu luas membuat kehangatan di rumah ini terasa sangat kurang.


Sejujurnya aku lebih nyaman tinggal di rumah yang saat ini tengah kita tempati, meskipun terlihat kecil dari luar akan tetapi begitu luas untuk ditinggali berdua oleh ku dengan Aksa, jika ada tamu maka rumah terasa hangat.

__ADS_1


Aku hendak ingin turun dari mobil, tetapi belum sempat aku membuka pintu Junot sudah lebih dulu membukakan pintu mobil untukku dan Aksa.


Bisa kupastikan saat ini wajah Aqila begitu kesal melihat sikap Junot yang lebih mementingkan aku ketimbang dirinya.


Junot mengambil alih Aksa dariku ia hendak ingin memangku, kemudian di susul olehku dengan membawa tas yang ku bawa, dan tak lama kemudian Bunda datang dengan melambaikan tangan ke arah kami.


Aku hanya bisa memberikan senyuman, tetapi kali ini bukan kebahagiaan melainkan kegetiran. Maaf Bun aku tidak bisa menjaga hati Junot, maaf aku tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk Bunda.


"Oh ya ampun lama banget sih, Bunda udah nungguin tahu". Tutur Bunda dengan gaya khasnya.


"Oma". Ucap Aksa gemas.


"Assalamualaikum Bun?". Ucapku.


"Waalaikumsalam, Ayo Na masuk?!".


"Iyah, Bun". Ucapku pelan, sebab ekor mataku tidak melihat keberadaan Aqila, kenapa dia tidak turun? tanyaku dalam hati.


"Nyari apa kamu?". Suara Kak Juwi yang tiba-tiba membuat aku terkejut.


"Hah? Ah... enggak. Ayo masuk Kak?!".


Waktu berjalan begitu lambat di saat degub jantungku sudah tidak dapat di kontrol dengan baik. Kapan kira-kira Junot akan memulai membicarakan tentang Aqila kepada Bunda dan Kak Juwita.


"Hah? mau bobok? yaudah yuk mamah gendong".


"Biar aku aja". Ucap Junot sembari menggendong Aksa.


Sementara itu wajah Aksa begitu senang menerima uluran tangan kekar yang sudah lama tidak pernah menggendong tubuh mungilnya.


"Jun, kayanya kamu mesti sering-sering kaya gini, lihat tuh Aksa senang banget kamu gendong". Ucap Bunda sependapat dengan ku.


"Hem? Iyah Bun".


10 menit kemudian, sepertinya Aksa sudah pergi ke alam mimpi. Aku, Bunda, Kak Juwi dan Junot sudah berkumpul di ruang tamu kedap suara, Bunda yang penasaran langsung bertanya ada apa sebenarnya Junot meminta kita berkumpul di ruangan khusus ini.


"Apa yang mau kamu sampaikan? kenapa kita ke ruangan ini?". Tanya Bunda.


"Eum... aku mau ngomong sesuatu yang penting".


"Apa itu?" Tanya Kak Juwi dengan nada sinis.

__ADS_1


"Hem...". Ucap Junot seperti sedang berpikir dan ragu-ragu.


"Hem... hem.. apa? to the point aja deh". Desak Kak Juwita


"Aku mau menikah lagi".


"APA?" Ucap Bunda dan Kak Juwi bersamaan.


"Kamu udah gila yah?". Ucap Kak Juwita lagi dengan nada tak percaya.


"Astagfirullah, Istigfar kamu Jun, apa yang barusan kamu ucapkan itu hanya candaankan?". Ucap Bunda masih positif thinking.


"Enggak! aku serius".


"Heh? apa alasan kamu mau nikah lagi, Hah?". Tanya Kak Juwi membara.


"Jun, kamu salah makan? atau apa? bercanda nya gak lucu". Ucap Bunda jutek.


"Bun, aku gak becanda aku serius".


Setelah meyakinkan bahwa Junot tidak sedang bercanda, barulah Bunda melihat aku, Aku yang tengah terpaku kaku, berusaha tersenyum untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja.


"Na? kamu gak terkejut Junot bicara seperti itu?".


"Heh? Aku sudah tahu kok Bun". Ucapku sebisa mungkin untuk tidak bergetar.


"APA? dan kamu menerimanya?". Tanya Kak Juwi semakin emosi.


"Kak, stop ini urusan rumah tangga aku, Kakak gak perlu ikut campur!". Ucap Junot dengan tegas.


"Kakak gak akan ikut campur seandainya Istri kamu itu bukan Nareta, ngerti?!".


"Jun, apa alasan kamu mau menikah lagi? sepertinya Bunda dan Ayah selama ini sudah benar mendidik mu, untuk menghormati seorang wanita, untuk menyayangi istri, dan menjaga ibu dari anakmu". Ucap Bunda tertatih-tatih.


"Bun, aku ikhlas jika Mas Junot ingin menikah lagi, Mas Junot telah melakukan apa-apa yang menjadi pesan Bunda dan Ayah kok".


"Enggak-enggak... mana mungkin dia memperlakukan kamu dengan baik, jika saat ini dia ingin menikah lagi tanpa alasan yang jelas pula".


"Stop Kak jangan kompor bisa gak?!". Bentak Junot.


"Hentikan. Terserah Jika kamu ingin menikah lagi, yang pasti Bunda tidak akan pernah merestui kamu, dan sampai kapanpun menantu perempuan Bunda hanya satu, yaitu Nareta camkan itu!". Ucap Bunda sembari meneteskan air mata kemudian segera pergi, dan di susul oleh Kak Juwita.

__ADS_1


Aku tidak tahu harus berbuat apa? dalam waktu yang bersamaan Aku merasa kesal juga sedih.


Bersambung...


__ADS_2