
Angin malam pantaii terasa begitu dingin , namun tidak menyurutkan tekad sandra untuk menyelamatkan sang pujaan hati.
"Tuhan aku hanya berharap semoga inj menjadi cobaan mu yang terakhir." batin sandra menatap hamparan bintang dan rembulan yang penuh sempurna.
dev sudah memberi tanda jika dia sudah di lokasi, tak berselang lama seorang laki- laki berkumis menghampiri nya.
"Ada apa?" tanya nya pada devan
"Aku kekurangan uang" jawab devan.
"Kau ingin memerasku?" tanya laki- laki itu.
"Ayolah bos, aku hanya meminta sedikit kali ini. Bukan kah tawanan mu itu adalah orang kaya?" ucap devan tersenyum licik.
"Aku tidak menginginkan harta nya, aku hanya ingin membuat wanita gila itu menderita" jawab laki- laki itu
"Maksudmu ibu nya?" tanya devan
"Bukan, tapi istrinya. Ibu nya sudah aku kirim ke neraka. " jawab laki- laki itu.
"Ow iya? anda memang hebat bos. Apa aku boleh bertemu dengan tawanan mu? aku ingin tahu seperti apa wajah nya . Mungkin aku bisa menemukan istrinya untuk ku mintai uang" ucap devan
"Kau tidak bisa menemui nya , dia sudah berada di kapal dan siap untuk berlayar menuju pulau terpencil. Ini uang yang kau minta , dan ingat jangan beritahu siapa pun tentang diriku" ucap laki- laki berkumis itu lalu pergi
Sandra yang mendengar percakapan itu melalui alat sadap nya pun segera meminta anak buahnya beserta nino dan reza pergi ke pelabuhan untuk menyelamatkan bagas ..
Sandra masih berdiri di sisi pantai sambil melihat devan yang terduduk di pasir.
"Dia memang bersalah karena menculik suamiku, tapi dia melakukan itu karena pekerjaan. tapi kali ini musuh lah yang membantu ku untuk mencabut akar nya" ucap sandra.
Di dermaga nino dan reza sampai lebih dulu dari laki- laki berkumis.
Reza segera masuk dan menebar racun di tempat penyimpanan air untuk kelompoknya . Sama dengan yang dilakukan reza pada kelompok devan .
tak berselang lama reza menekan sebuah tombol di remot kecil yang ia pegang. semua penjaga di dermaga itu pun merasa gatal- gatal.
Senjata itu sebenarnya di miliki oleh sebuah oraganisasi di negara china. reza membeli nya untuk melindungi kelompoknya dari bahaya.
zat yang terkandung dalam racun itu bisa di deteksi dengan sebuah remote kecil, hingga bisa di gunakan saat tergenting sekalipun.
Nino segera menyusup ke ruangan kapal yang sudah siap melaut.
Nino memeriksa setiap kamar yang ada hingga kamar terakhir ia menemukan adik iparnya yang tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
Reza melihat jika pria berkumis itu sudah tiba, segera reza memberi sinyal pada nino untuk bersembunyi.
pria berkumis pun merasa terkejut akan kondisi anak buahnya.
Melihat reza di dalam kapalnya keluar dengan santai pria itu terkejut.
"siapa kau? apa kau mau membajak kapal ku?" ucap laki laki berkumis.
"kapal mu sangat murahan ,aku tidak tertarik membajaknya" ucap reza.
"lalu apa maumu?" tanya nya.
"Dirimu" jawab reza.
Empat pengawal yang di bawa pun tiba- tiba menyerang nya. pria berkumis itu merasa takut tapi dengan kemampuan bela diri yang ia pelajari selama masa pengasingannya membuat nya memiliki sedikit keberanian.
Satu lawan satu, tapi anak buah reza berhasil di lumpuhkan.
"Wow tenaga mu boleh juga" puji reza.
Tanpa fikir panjang keduanya pun mengadu kekuatan otot, reza yang memang sangat pandai berkelahi pun merasa senang mendapat lawan yang sama hebatnya.
"Aku rasa kau sudah tua? " tanya reza di sela - sela pukulannya.
"Sayangnya tidak" jawab reza menendang perut pria berkumis hingga ia terjatuh.
Tepat saat itu sandra tiba di dampingi devan di sampingnya.
pria berkumis terkejut melihat sosok sandra di depannya selebihnya mengajak sandra.
"Kau berhianat?" teriak pria berkumis.
"Diam, kau yang tidak tahu terimakasih. Apa lagi mau mu?" ucap sandra.
"Aku tidak suka melihat mu bahagia" jawab pria itu.
reza segera mengikat tangan pria itu dan juga mengikat kaki nya.
Sandra maju dan membuka topi pria itu, menarik kumis palsu yang di pasang untuk mengelabuinya.
"Aku sudah menduga paman lah dalang di balik preman pasar ini" ucap sandra menatap tajam laki- laki di depannya.
"Aku sudah bodoh memberikan mu hidup bahagia di luar sana . Harus nya aku melenyapkan mu saat itu juga" ucap sandra.
__ADS_1
Sandra mengambil sebuah botol obat di dalam tas kecil yang dia bawa dan sebuah jarum suntik yang terlihat kecil.
" Ini sebagai pelajaran untukmu paman, aku sungguh ingin membunuh mu sekarang juga tapi itu terlalu mudah untukmu" ucap sandra sambil menusukan jarut itu di leher pria itu.
Nino datang memapah tubuh lemas bagas yang terlihat pucat.
Hati sandra tersayat melihat kondisi sang suami. Tanpa bisa di bendung lagi sebuah pukulan mendarat di bibir pria itu hingga membuat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Tuan billy hermawan, kau sudah sungguh keterlaluan . pukulan ku tidak ada apa - apa nya di banding rasa sakit hatiku padamu" teriak sandra.
"Reza , suntikan obat kedua dan tambah dosis nya. Aku ingin dia membusuk secepatnya." ucap sandra lalu memeluk tubuh bagas yang terlihat lemah.
"Bunuh saja aku sekarang" teriak billy
"Tidak sekarang" jawab sandra tegas.
"Bagiaman kau bisa keluar dari negara itu?" tanya sandra
"Aku ini pintar jadi apa pun bisa aku lakukan" jawab billy bangga.
"Kepintaranmu hanya sebatas dengkul" jawab nino geram sambil terus memapah tubuh bagas.
Billy dikirim kembali ke negara tempatnya di asingkan sekaligus melihat kondisi citra dan ibunya.
Reza yang bertugas mengawal penjahat seperti Billy.
Sandra dan nino segera pergi ke rumah sakit terdekat membawa bagas yang masih menutup mata.
sesekali air mata nya terjatuh melihat suaminya tertidur sudah cukup lama.
Unit gawat darurat*
Sandra berjalan kesana kemari dengan wajah khawatirnya. Nino yang beberapa kali menenangkannya pun menyerah karena sandra yang keras kepala.
beberapa saat dokter pun keluar ,
"Keluarga tuan bagas" panggil dokter
"Saya dok, bagaimana suami saya?" tanya sandra dengan wajah panik.
"Tenang nyonya,tuan sudah baik- baik saja .
Sebentar lagi akan di pindah kan ke ruang rawat jadi ibu bisa melihatnya" ucap dokter itu.
__ADS_1
"Syukurlah" ucap nino dan sandra bersamaan