
"Tuan mobil itu berhenti di ujung jalan ini sekitar 38 menit dari sini ,terlihat dua orang tua menyambutnya dengan hangat dan beberapa pelayan di rumah itu" ucap pengawal yang diminta bracel mengikuti bayu.
pengawal itu juga menyerahkan sebuah foto yang ia ambil . Sebuah senyum terbit di bibir bracel kala melihat foto itu.
"Minta pengawal yang lainnya kemari secepatnya dan kau awasi bayu , jika ia sudah kembali segera kabari aku" ucap bracel lalu masuk kembali ke dalam kamar putrinya.
"Harus bagaimana aku memisahkan kalian? " batin bracel kala melihat wajah damai keduanya.
Di dalam hatinya muncul sebuah ide untuk membuat mereka berpisah tanpa secara langsung mengatakannya pada sang anak.
Miara sadar dari lelapnya , dia melirik ke samping tidak ada siapa siapa. Perasaan takut mulai menghantuinya dengan tergesa - gesa mia keluar mencari anak dan suaminya.
Awan tampa sedang menikmati kopi bersama bracel dengan santai.
pemandangan yang sangat mustahil bagi miara , bahkan ia berulang kali mengucek mata nya .
"Apa aku tidak sedang bermimpi?" ia pun mencubit tangannya sendiri dan sakit....
tentu saja karena ini memang kenyataannya.
entah kenapa dan bagaimana bracel bisa bersantai dengan awan menantu yang tidak di harapkannya.
"Mas awan" panggil mia
"Mia kau sudah bangun , kemarilah" ucap awan dengan lembut
"Kenapa kau menatap papamu dengan horor begitu, santai lah kami suda berbaikan" ucap bracel
"Meskipun masih sedikit" lanjutnya
__ADS_1
Awan tersenyum begitu damai dan mengangguk . Pesona yang tak bisa mia pungkiri memberikan sejuta ketenangan di hatinya.
"Dimana anak kita?" tanya mia
"Cucuku kembali ke kota , dia harus bersekolah di tempat yang sesuai dengannya bukan disini"ucap bracel
"Kenapa? disini dia juga bersekolah. Kenapa tidak meminta ijinku?" tanya mia dengan marah
"Tenang lah , kita semua juga akan ke kota sayang . Setelah semua urusanku selesai kita akan berangkat menemui anak kita" ucap awan
"Kau tahu?" tanya mia
" tentu saja" jawab awan.
"Baik lah papa akan kembali sore ini juga apa kalian akan ikut? tanya bracel
"Mia sayang kau bisa ikut lebih dulu , mas masih memiliki beberapa urusan tentang pekerjaan mas selama disini . Setelah itu mas akan menyusul" ucap awan
''Baiklah , jaga diri selama masih disini . Papa kembali dulu" ucapnya
Setelah kepergian bracel miara menatap awan penuh selidik. Sangat aneh rasanya jika sang papa tiba- tiba baik pada mereka.
"Aku masih ragu akam kebaikannya" ucap mia
"Ini lah takdir mia , jika tuhan sudah berkehendak maka semua akan baik- baik saja" ucap awan memeluk sang istri.
Malam hari terasa sepi di desa, namun suasana ini sangat menyenangkan .
miara tertidur pulas setelah makan malam bersama awan . namun tidak dengan laki laki bertubuh kurus itu.
__ADS_1
Awan sudah memakai pakaian serba panjang dan tertutup berwarna hitam di depan rumahnya sudah terparkir dua buah mobil dan sebuah sepeda motor
"Ayo " ucap awan
mereka menempuh perjalanan desa dengan pelan , waktu sudah menunjukan waktu tengah malam kini mereka terlihat mengintai sebuah rumah di sudut desa . Rumah yang terlihat sederhana namun paling megah diantara yang lainnya.
mereka menyelinap masuk ke pekarangan yang tampak sepi hanya dua orang penjaga di depan pagar.
Awan turun dari mobil dan mengendarai sepeda motor bersama rekannya.
tiba di depan rumah itu ia pun terjatuh dengan teriakan kesakita dua orang penjaga rumah keluar untuk membantunya.
namun bug bug ....
Sebelum mereka berjongkok untuk membantu sebuah pukulan kayu balok mendarat indah di punggung keduanya hingga mereka terkapar tak berdaya
awan pun bangun dan langsung menyelinap ke dalam rumah yang terlihat sepi
awan dengan sepuluh orang temannya berpencar di seluruh rumah terdengar sebuah baku hantam di sudut rumah Dengan langkah cepat awan mencari kamar utama .
Roman wijaya dan mila wijaya terlihat terlelap denga wajah damai. Kedua orang tua itu terlihat sangat bahagia meski sedang tertidur.
apa lagi yang membuatnya merasa sedih? anak anak nya bahagia bahkan bayu sebentar lagi akan memiliki anak
Sandra juga sudah memaafkan kesalahan terbesar dalam hidupnya , menikmati hari tua di desa terpencil tanpa uru hara dan juga pekerjaan sungguh sangat membahagiakan
Ada rasa tidak tega di hati awan tapi ini lah pekerjaannya yang harus ia lakukan.
awan mengeluarkan dua buah belati yang sudah berisi racun di setiap ujungnya.
__ADS_1
"Tolong maafkan aku , dan pergilah dengan tenang" ucap awan sebelum dua belati itu menusuk tepat di dada kiri roman dan mila
Roman dan mila menatap awan dengan tatapan pilu , benda tajam itu menusuk keduanya bersamaan hingga mereka memejamkan mata pun bersamaan.