AKU YANG TERPILIH

AKU YANG TERPILIH
Hilang kontak


__ADS_3

Hampir seharian menemani Kak Restu .Seharian ini aku sama sekali tidak membuka ponselku.Ada beberapa panggilan dari Mas Adam.Beberapa pesan juga,


Del kamu lagi ngapain?


Adel kenapa ga jawab telpon Mas?


Adel...bisa ga bikin Mas Adam khawatir?


"Kamu kenapa?"Kak Restu ketika aku termangu melihat pesan-pesan dalam ponselku.


"Gapapa Kak!ini udah malem juga Adel pulang ya! kasihan ibu dan bapak!"Alasanku.


"Iya...biar Kak Gibran antar kamu pulang,jam segini pasti udah jarang angkot!"


"Iya Del...biar Gibran antar pulang!"Mama Kak Restu menyambung.


"Ga usah Tante, Kak...ini mau bareng Rifi juga kebetulan dia habis cek up dirumah sakit ini juga!"Aku terpaksa berbohong karena aku meminta Deni menjemput ku.Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya.


"Beneran Rifi?bukan Deni kan!"Kak Restu meyakinkan


"Iya Kak,ini dia baru nge-chat aku lagi cek up kandungannya!"


"Ya udah, hati-hati pulang langsung tidur kamu pasti capek banget disini!Besok kalau capek ga usah kesini, kakak ga mau kamu sakit!"Menatapku penuh perhatian.


"Iya Kak,kakak juga jangan lupa makan minum obat!biar cepat pulih, kasihan Tante sama kak Gibran!"aku menyemangatinya.


Sampai di Loby rumah sakit aku menghubungi Deni.Tiba-tiba,


"Kamu pulang dijemput assisten Adam!"Suara Kak Gibran yang sudah berada di belakang ku.


"Kak Gibran!"Berjingkat kaget yang ternyata mengetahui rencana ku.


"Kamu beruntung mengenal Adam,dia laki-laki yang baik bertanggung jawab!Itu Deni datang!"Memandang Deni yang berjalan kearah kami.


"Selamat malam Mbak Adel pak Gibran!"Sapa Deni pada kami.


"Selamat malam Den,antar pulang Adel dengan selamat sampai rumah!Jangan ada yang menyentuhnya sedikitpun!Jika kamu tidak bisa menjaganya katakan pada Adam,Adel akan menjadi adik ipar ku!"Kak Gibran pada Deni.


"Baik pak,saya permisi!"


"Adel pulang dulu Kak!"Pamitku.


Kak Gibran mengangguk dan tersenyum.


"Mas Deni bisa minta tolong hubungi Mas Adam?"Ketika kami baru saja masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Bisa mbak... sebentar!saya coba menghubungi pak Adam!"Deni mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya,kemudian sibuk menekan nomor yang pasti itu nomer Mas Adam.


Beberapa kali dia mencoba menghubungi tapi tidak ada jawaban sepertinya.


"Maaf mbak,Pak Adam tidak mengangkat telepon saya mungkin beliau sedang sibuk!"Menjelaskan.


"Ya udah gapapa Mas,tapi tolong hubungi Mas Adam aku ingin bicara penting padanya!"Mungkin kali ini aku memaksa Deni, karena aku takut Mas Adam salah paham.


Semalaman aku tak bisa menutup mata sama sekali.Aku berusaha mengirim pesan pada Mas Adam hingga puluhan kali namun tak ada balasan.


Aku merasa bersalah,harusnya aku meminta ijin padanya kalau aku mau jenguk Kak Restu tadi!Aku begitu khawatir ketika dulu dia tak bisa dihubungi saat tugas.Tapi kini aku malah mementingkan orang lain.


Adzan subuh berkumandang,aku masih belum bisa memejamkan mata.Ku ambil air wudhu dan memenuhi panggilan shalat.


Belum sempat aku melepas mukena rasa ngantuk menyergapnya ku.


Ponselku berdering,aku sangat terganggu namun aku berpikir bahwa yang menghubungi ku adalah Mas Adam.


"Pagi...!"Sapa suara disebrang sana.


"Wallaikumsalam!"Jawabku.


"Belum bangun ya!"Suaranya lembut,tapi bukan seseorang yang ku tunggu.


"Capek pasti kamu!ya udah bobok lagi, kakak ga akan ganggu!Love you!"Tutup nya.


Ya itu Kak Restu, bukan Mas Adam.


Aku merebahkan tubuhku di kasur, memandang fotoku bersama Mas Adam.


"Mas... maafin Adel,Adel sayang sama Mas!jangan lost contact lagi.Adel khawatir Mas!"


Aku masih mencoba menghubungi Mas Adam kembali tapi masih belum bisa.Semua pesan yang ku kirim juga satu pun tak ada yang dibuka.


Hari ini aku memutuskan untuk tidak kerumah sakit.Karena suasana hatiku sedang tidak ingin diganggu.


Hampir jam empat sore tapi aku masih belum bisa menghubungi Mas Adam.


Aku meraba sebuah kalung yang melingkari leher ku,air mata mengalir begitu saja.


...*****...


Ini hari keempat aku belum bisa menghubungi Mas Adam.Kutanyakan pada Deni dia juga belum bisa menghubunginya.


Hari ini Kak Restu diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Aku pun menemaninya lagi.

__ADS_1


Di mobil Kak Restu menyenderkan kepalanya di bahuku, matanya terpejam.Sejujurnya aku ingin menolaknya beradegan seperti ini tapi dia sepertinya tidak mau ada penolakan,dan nyaman berada disampingku.


Otak ku sedang tidak berfungsi,hanya ada nama Mas Adam dan Mas Adam.Harusnya aku sudah bisa memilih dan menentukan pilihan hati ku tapi aku mengecewakan seseorang yang telah memberiku waktu nya, kesungguhannya, semua orang dimilikinya tapi aku masih saja mengecewakannya.Aku tidak pantas untuk nya.


Kubuka ponselku, notifikasi semua pesan yang ku kirim terbaca.


Mas Adam sudah membaca pesanku. Ada perasaan yang berharap jika Mas Adam membalas pesan ku.


Namun hingga malam tiba dia tidak sama sekali menghubungi ku, jangankan menghubungi ku membalas pesan ku saja tidak.


Keesokan harinya seperti biasa Mama Kak Restu memintaku untuk menemani Kak Restu karena Kak Restu yang meminta.


Aku menyuapinya karena Kak Restu selalu beralasan tangannya belum bisa kembali normal.


"Kamu kenapa kok sedih banget kayak nya?"Kak Restu bertanya-tanya ketika aku melamun.


"Gapapa Kak!aku agak sedikit ga enak badan,hari ini!"Alasanku.


"Kamu sakit?"Dan tangannya meraih keningku, mengukur panas tubuhku.


"Kamu istirahat aja kalau sakit!Tiduran di kamar tamu ya,biar aku panggilkan mama!"Kak Restu membujukku, menatapku dengan khawatir akan kesehatan ku.


"Ga usah Kak! Adel pulang aja,ga enak dilihat orang kalau Adel tidur disini nanti apa kata orang!"Aku memberi penjelasan,toh aku juga tidak sedang mood untuk menemaninya hari ini karena pikiran ku tertuju pada Mas Adam.


"Ya udah,kamu istirahat ya biar dianter supir pulang!kalau ada apa-apa telpon Kakak oke!"Mengelus pucuk kepalaku.


Sampai di depan rumah ada Deni yang sudah menunggu disana.


"Terimakasih pak!"pada supir Kak Restu yang mengantar ku pulang.


Deni berdiri ketika melihatku berjalan kearahnya.


"Mas Deni,kesini kok ga hubungi aku?Aku bisa pulang dari tadi!"Saat ku mendekatinya.


"Iya Mbak!Maaf,saya pikir Mbak Adel sibuk jadi saya tidak berani menghubungi Mbak Adel!"


"Mari masuk Mas,kita bicara di dalam!"Aku mempersilakannya masuk.


Sekarang kami duduk berhadapan.Deni sibuk dengan ponsel yang berada di tangannya.


"Maaf Mbak,ini ada surat dari Kementerian Pertahanan untuk Mbak Adel!"Memberikan sebuah surat.


"Surat apa ya Mas?"Tanya ku dengan semua kebingungan.


Ku buka perlahan,Ku membacanya tanganku lemas tak berdaya.Tubuh ini rasanya mati, kertas itu terjatuh dan air mata tak terbendung.

__ADS_1


__ADS_2