
Hari ini aku diminta Mama Kak Restu untuk menemani Kak Restu dirumah sakit karena kedua orang tuanya ada kepentingan mendadak, Kak Gibran juga ada meeting penting.
"Kamu kenapa Del dari tadi kakak lihat ngelamun aja!"Menatapku.
"Ga gapapa kok kak!"Jawabku dengan senyuman.
"Kamu ada masalah sama Mas Adam ?"Tanyanya santai.
"Ga...aku gak ada masalah sama Mas Adam!Emang lagi kangen aja sama bapak mungkin,tadi malam mimpi bapak!"Aku beralasan.
"Kirim doa dong kalau kangen!"Nasehatnya.
"Udah kalau shalat pasti doa in bapak! Kangen aja hampir empat puluh hari bapak meninggal!"Aku menerawang wajah bapak.
"Sabar... bapak udah tenang disana!"Kak Restu menenangkan ku.
"Masih belum percaya aja, bapak udah ga ada!Baru kemarin bapak selalu ngingetin buat sekolah yang benar shalat jangan ditinggalkan, kalau pagi selalu masakin buat aku dan ibu! setiap subuh kita jama'ah bareng!"Air mataku menetes.
"Kok jadi nangis!"Kak Restu mengelus pundakku.
"Kok jadi melankolis!maaf ya Kak!"Aku menghapus air mata.
"Gapapa kamu sedih tapi jangan lama-lama! Kalau mau cerita, cerita aja sama kakak! Kak Restu siap dengerin semua cerita kamu!"Tersenyum.
"Makasih kak !"
Sebenarnya ga cuma kangen sama bapak tapi masih nyesek juga tentang masalah kemarin!Mama Sari dan Mas Adam bisa bohongi aku.Masih ga ngerti aja,Mas Adam sampai saat ini belum bisa terbuka sama aku padahal aku selalu jujur sama dia.
"Kata dokter kalau progres kondisi kakak membaik besok Kak Restu boleh pulang!"Kak Restu semangat saat mengatakan itu.
Kak Restu kulihat memang jauh lebih baik, sekarang dia sudah bisa setengah terduduk walau harus bersandar.Alat-alat yang kemarin terpasang di badannya kini hanya tinggal selang infus.Sekarang dia juga sudah mulai banyak makan.Badannya yang tadinya sedikit berisi terlihat lebih kurus sejak sakit.
"Alhamdulillah kalau gitu!lebih cepat sembuh lebih cepat bisa aktifitas lagi! seperti dulu."Memberinya semangat.
"Amin...!"Mengusap kedua tangannya ke wajah.
"Gimana Rifi,sudah melahirkan ?"
"Sudah cowok anaknya!"
"Wah...seneng ya!Rifi sekarang sudah menjadi ibu...kamu juga pasti lulus langsung menikah sama Mas Adam!"Tiba-tiba Kak Restu membahas itu.
"Haaaa!"Aku terbelalak kaget.
"Iya dong masa iya pacarannya sama Mas Adam nikahnya sama aku kan ya aku bersyukur!"Kak Restu bercanda.
"Ada aja kak Restu ini!Aku terserah Gusti Allah aja mau dijodohkan dengan siapa berarti itu yang terbaik buat aku!"Aku yang tadinya yakin dengan Mas Adam kini berangsur memudar.Aku yang terlalu berharap atau memang Mas Adam yang terlalu sempurna memerankan peran.
"Sudah hampir ashar kok mama belum datang ya Del?"Memandangi jam dinding.
"Mungkin belum selesai Kak!"aku santai.
__ADS_1
"Harusnya sih udah selesai!Bisa minta tolong hubungi Mama!"Meminta.
"Oh ya...aku telpon Tante ya Kak !"Aku merogoh ponselku.
Bersamaan suara pintu terbuka.Kak Gibran datang.
"Hay...Del!"Menyapa ku.
"Hay Kak!"Balasku.
"Maaf ya ngrepotin kamu, gara-gara ini nih cowok manja!mau ditemenin art dari rumah ga mau! Maunya sama kamu !"Menggoda kak Restu.
"Apa sih Kak!Mama yang ga ngebolehin,art dirumah kan bantu kak Nisa juga!"Membela diri.
"Iya...manja!"Mengacak rambut Kak Restu.
Mungkin terlihat aneh kedua kakak beradik ini, hingga dewasa masih saling jahil.Tapi terlihat sangat hangat.Kak Restu yang tadinya cool terlihat manja dan kekanak-kanakan setiap bersama Kak Gibran.Semenjak kesalahpahaman tentang Kak Desti hubungan mereka jauh lebih baik sekarang.
"Berhubung Kak Gibran sudah datang aku pamit deh Kak, kasihan ibu dirumah sendirian!"Pamitku.
"Oh gitu! Makasih ya Del ngrepotin kamu terus!"Kak Gibran.
"Biar diantar Kak Gibran Del!"Kak Restu menawarkan.
"Ga usah Kak!Adel bisa naik angkot, Kak Gibran juga pasti capek! Kalau gitu,aku pamit ya kak!"Aku segera pamit.
Dilobi rumah sakit kulihat seseorang yang familiar sedang ngobrol.Berpakaian dokter berkalung stetoskop.
Tak lama perempuan itu menyudahi obrolan nya.Dan berjalan,aku sengaja mengikutinya karena setahu ku dia tidak praktik dirumah sakit ini.
Dia berjalan menuju sebuah food court.Menemui seseorang disana.Akupun mengikutinya.
"Hay Rin maaf ya agak lama ada pasien yang konsultasi jadi ya gitulah!"Berpelukan dengan seorang perempuan yang mungkin itu adalah temannya.
"Iya...aku ngerti kamu!Kamu selalu loyal sama profesi kamu, sampai Adam aja kamu tinggalkan demi menjadi seorang dokter spesialis."Celoteh temannya.
Maksudnya apa ninggalin Mas Adam?Apa sebelumnya mereka punya hubungan!Rasa keingintahuan ku semakin besar.Aku yang duduk tak jauh dari tempat mereka ngobrol membuka kuping ku lebar agar mendengar apa yang mereka obrolkan.
"Bisa aja kamu Rin!Adam itu cuma cinta monyet aku! Sekarang dia udah punya pacar!"
"Oh ya! Hebat dong cewek yang berhasil ngeluluhin hati seorang Adam yang kaya es setelah kamu tinggal kuliah diluar negeri dulu!"
"Ya mungkin memang sudah jalan Tuhan kali Rin!"Cewek yang kuingat bernama Erli yang bertemu dengan ku dan Mas Adam waktu dirumah sakit waktu Rifi sakit dulu.
"Jadi kamu udah ga ada rasa sekarang ? bukannya kamu dulu pernah bilang kalau kamu akan mengejar Adam setelah kamu mengejar impian kamu!"Temannya terlihat sangat serius.
"Itu dulu Rin... sekarang aku lihat dia sudah bahagia, apalagi Tante Sari juga udah menganggap cewek Adam itu seperti anaknya sendiri,ga ada yang perlu diperjuangkan lagi."Suaranya melemah.
"Selama janur kuning belum melengkung sebelum para saksi bilang sah masih ada harapan non!"Semangat temannya.
"Ada aja kata-kata kamu! udah kenapa jadi bahas Adam,kamu kesini katanya mau ngantar baju bridesmaids buat aku mana?"
__ADS_1
Jadi dulu Erli adalah cewek yang pernah dicintai Mas Adam ? Banyak yang aku sama sekali tidak tahu.
Erli dia cewek yang sempurna untuk seorang Mas Adam yang mempunyai segalanya.Erli yang berprofesi sebagai seorang dokter,cantik,pintar juga ramah dan yang pasti dari keluarga yang setara dengan Mas Adam.
Jauh dari aku yang seorang anak yatim.Hidupku ditopang oleh Mas Adam.Apalah aku ini ga pantas untuk seorang Adam Mahesa Pradipta yang sangat sempurna.
Aku berjalan keluar dari kawasan rumah sakit.Dengan pandangan kosong dan entah ingin berjalan kearah mana aku tidak tahu.Aku memikirkan semua yang terjadi pada diriku.Kehilangan bapak secepat ini, dibohongi oleh orang-orang yang aku sayangi.Inilah takdir yang Allah berikan padaku? terlalu berat.
Ponselku berdering satu panggilan dari Rifi.
"Assalamualaikum Fi !"Sapaku.
"Wallaikumsalam! Ngapain kaya orang hilang dipinggir jalan ga jelas ?"Rifi tiba-tiba.
"Maksudnya ?"Aku bingung dengan maksud Rifi.
"Disitu aja jangan kemana-mana!aku kesitu!"Rifi langsung menutup telepon.
"Maksudnya apa sih ini bocah!"Aku Menggeleng-gelengkan kepala.
Tak lama ada yang menepuk bahuku.Ketika aku berbalik badan dia langsung memelukku.
"Ngapain disini?"Dan dialah Rifi yang memelukku.
"Aku gapapa lah kamu sendiri ngapain disini?"Aku melepaskan pelukannya.
"Aku baru imunisasi Mahes! Lihat kamu seperti orang hilang disini, ngapain?"Dia menatapku penuh tanya.
"Oh...aku baru temenin Kak Restu!Tadi Kak Gibran dan Mamanya ada keperluan jadi aku dimintai tolong buat temenin Kak Restu!Aku baru nunggu angkot!"Aku berusaha untuk menutupi semua perasaanku saat ini.
"Aku antar pulang ya!"Rifi langsung menarik tangan ku.
Didalam mobil Rifi ada Alfian dan si kecil Mahes yang tertidur.
"Assalamualaikum ganteng!"Aku mencolek pipi gembul Mahes yang tertidur dipangkuan Alfian.
"Baru aja nangis tadi habis imunisasi setiap digendong Ayahnya langsung diam!"Rifi yang gantian memangku Mahes karena Alfian harus menyetir.
"Namanya juga bapaknya masa iya maunya sama aku kan ga lucu!"Aku melirik Rifi yang duduk disebelah Alfian.
"Tapi ada enaknya juga,jadi aku bisa tidur!"Rifi tersenyum sambil melirik Alfian.
"Iya...Bunda juga harus cukup istirahat!Biar produksi ASI nya juga lancar!"Alfian mengusap kepala Rifi dan menatapnya penuh cinta.
"Ehemmmm!Ada orang disini, belum cukup umur juga lihat adegan delapan belas keatasa."Aku menggoda Rifi dan Alfian.
Mereka melihatku dengan tertawa.
Setidaknya aku bisa sedikit mengurangi beban di dadaku.
Semoga Rifi dan Alfian menjadi keluarga yang harmonis selamanya.Mereka menikah karena sebuah kesalahan, mungkin dengan kesalahan itu yang akan menyatukan mereka selamanya.
__ADS_1