
Setelah ikatan di tangan ku dilepaskan aku berpura-pura makan,untuk meyakinkan penjaga itu.
Aku memikirkan cara bagaimana agar bisa keluar dari tempat ini.Setelah kurasa aman,ketika penjaga itu keluar dan mengunci pintunya lagi aku mencari celah namun sulit,karena ruangan ini tidak ada jendela hanya ada lubang angin-angin saja.
Satu-satunya hanya lewat pintu itu.
Ku tempelkan telinga ku untuk meyakinkan bahwa keadaan aman.Tak kudengar apapun dari luar hingga kurasa aman aku mencoba membuka pintu itu.
ADAM POV
Saat semakin mendekati sebuah kamar itu aku mendengar ada yang sedang mengobrol.
Aku memberi isyarat pada Erda untuk berhenti.Dan mendekati sumber suara.
"Kata pak bos besok perempuan itu mau dijual!"salah satu seseorang dari tiga yang berada di dalam kamar itu.
"Di jual?"seseorang yang lain nya sepertinya terkejut mendengar itu.
Aku sendiri terkejut dengan maksud dari perkataan laki-laki itu.
Rasanya emosiku ingin meledak.Ingin ku patahkan semua tulang orang yang ingin menjual Adel.
"Malam ini rumah ini akan tambah diperketat lagi anak buah pak bos akan dikirim kesini!"sepertinya orang tersebut orang kepercayaan Desti atau suaminya.
"Aku keluar dulu,mau kebelet!"salah satu dari mereka keluar dari kamar itu.
Kami langsung menggeser agar tidak ketahuan.
"Bos...di sebelah sana tangganya ayo Lo ke sana Gue urus mereka!"bisik Erda.
Aku mengangguk!Dan langsung berhati-berhati-hati menuju tangga untuk ke lantai dua.Setelah berada dilantai dua rumah itu ada beberapa kamar namun hanya ada satu kamar yang terang.Aku yakin Adel ada di sana.
Baru aku ingin membuka knop pintu sudah ada yang memutar pintu knop nya dari dalam,aku sedikit terkejut namun pintu itu tak kunjung terbuka.
Suara berisik terdengar dari lantai bawah.Sudah kuduga Erda pasti tak sabar ingin menghajar mereka.
"Erda...Lo tu ya!sabar dikit Adel aja belum ketemu udah rame!"gerutuku.
__ADS_1
Dan aku kembali memperhatikan knop pintu yang sejak tadi dicoba untuk dibuka oleh seseorang dari dalam tapi tak bisa.
Ku coba ku ketuk,dan ku panggil nama Adel.
"Del...Adel!"panggil ku dari luar.
Tak ada jawaban,hingga aku panggil beberapa kali baru ada sebuah suara dan ku yakin itu suara Adel.
"Del...ini Mas Adam!"seruku dari luar sambil mengetuk-mengetuk pintu.
"Mas Adam!Mas aku di dalam Mas!"Teriaknya dari dalam.
"Kamu sekarang minggir biar Mas dobrak pintunya!"aku menyuruh nya menjauh dari pintu itu.
Braaaaaakkkkkk!dua kali tendangan pintu itu terbuka.Kulihat Adel dan langsung berlari memeluknya.
"Mas!Aku takut!"dia memeluk ku erat.
"Tenang ya Mas ada disini,Mas akan lindungi kamu!"aku mencoba menenangkan nya.
Tiba-tiba bruuuukkk!seseorang menedang ku dari belakang hingga aku dan Adel jatuh tersungkur.
Aku menoleh!seseorang dengan badan tinggi besar berdiri di belakang ku.Dia melotot kepadaku dengan penuh amarah.
"Lo ga akan bisa keluar dari sini hidup-hidup!"katanya.
Aku membantu Adel berdiri!
"Wah...ada drama korea nih disini!"suara seorang wanita yang sangat familiar.
Kulihat Erda sudah berada di depan kamar itu dan seorang laki-laki menodongkan senjata api di pinggang Erda.
"Selamat datang kapten Adam Mahesa!"Seorang laki-laki yang baru kali ini aku melihatnya.
Tubuhnya tidak tinggi tapi badannya cukup berisi,berumur sekitar empat puluh tahunan.
Dan wajahnya terlihat sangat familiar di dunia perpolitikan.
__ADS_1
"Gimana?baru aja berpisah sudah kangen,wah cerita cinta kalian ini seperti drama korea!"Desti tertawa menghina.
"Bos!udah biar mereka Gue yang urus Lo bawa Adel dari sini!"Erda dengan santai nya,padahal dia sedang dalam kesulitan.
"Tapi Er!kita harus keluar dari sini sama-sama!"Adel terlihat sangat khawatir dan takut.
"Yakin mau keluar dari sini?kalian akan keluar dari sini setelah menjadi mayat!"sahut Desti menakuti kami.
"Ga papa asal aku mati bersama dia!"aku menggenggam tangan Adel erat."Toh aku akan melakukan apapun untuknya!"jawabanku tak kalah sombong.
"Bagus kalau kalian mati bersama!aku akan dengan mudah menghancurkan semua perusahaan kamu dan mempermudah urusanku juga untuk tidak susah-susah menggelincirkan mu dari jabatan mu!"Suami Desti penuh keangkuhan.
"Tidak semudah itu pak Devan Dermawan!aku tahu semua yang kamu lakukan,aku juga memiliki semua bukti kejahatan mu!"aku menekannya.
"Wah!ternyata anak dari Budi Pradipta lebih pintar dan licin dibanding papa dan mamanya!"tersenyum angkuh.
"Bagaimana kamu masih mau main-main denganku?"Aku menantangnya.
Erda mengedipkan sebelah mata nya diiringi senyuman memberi ku isyarat untuk mulai beraksi.
Lalai dengan perdebatan Devan suami Desti termakan taktik ku dan Erda.
Dengan cepat Erda memutar badan dan merampas senjata api dari tangan Devan.Dan kini Devan dalam genggaman Erda.Namun tak ku kira ada seseorang yang menembakan senjata kearah kami,hingga pecah konsentrasi.
Ya akhirnya semua anak buah Devan mengepung kami.Perkelahian pun tak terelakan.
Aku selalu berada di samping Adel untuk melindunginya,namun tak ku sangka kejadian ini membuatnya menjadi berani dia juga ikut berkelahi.
Kami saling melindungi.Ini menjadi sebuah kekuatan untuk ku.
Aku Erda dan Adel melawan anak buah Devan.
Erda mengejar Devan dan Desti yang berusaha kabur.
Salah satu anak buah Devan berusaha mengarahkan senjata api kearah ku namun,Daaaaaaaaaaarrrrrrrr!!!!!!! Adel memeluk ku hingga dia yang akhirnya terkena peluru itu.
Darah segar mengalir dari punggung Adel yang melemah karena tembakan senjata api.Tubuh Adel lemas dan hampir terjatuh namun Aku langsung meraihnya dan memeluknya.
__ADS_1
Dan bersamaan dengan itu polisi datang.